<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590</id><updated>2012-02-12T21:38:00.522+08:00</updated><category term='Bagan Silsilah'/><category term='Purana-11'/><category term='Babad'/><category term='Peta denah palinggih dan bangunan'/><category term='Berita'/><category term='Purana'/><title type='text'>Kubontubuh-Kuthawaringin</title><subtitle type='html'>Komunikasi antar sameton Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin diharapkan dapat merupakan media tukar informasi/pendapat yang bersumber dari apa yang diketahui/dialami yang perlu disebarluaskan untuk sebesar kemungkinan manfaat terutama bagi para sameton khususnya dan para peminat pada umumnya terhadap topik-topik yang terkandung dalam substansi informasi termaksud.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-4532313504105539071</id><published>2012-02-12T18:46:00.001+08:00</published><updated>2012-02-12T21:38:00.613+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana-11'/><title type='text'>PURA PADHARMAN ARYA KUBONTUBUH ATAU ARYA KUTHAWARINGIN MEMANG BUKAN DI BESAKIH</title><content type='html'>Memang pernah ada (beredar) beberapa tulisan (publikasi) yang menyebutkan adanya Padharman Arya Kubontubuh di kompleks Pura Besakih. Tetapi penelusuran terhadap kebenaran isi tulisan tersebut menghasilkan kesimulan seperti disajikan dalam uraian berikut.&lt;br /&gt;Menjelang Karya Eka Dasa Rudra di Besakih, telah diterbitkan buku yang berjudul “Menyongsong KARYA EKA DASA RUDRA di PURA BESAKIH”. Buku tersebut disusun oleh I Wayan Surpa dengan kata sambutan tertanggal 3 Pebruari 1979 dari PARISADA HINDU DHARMA PUSAT yang ditandatangani oleh Tjokorda Rai Sudharta selaku Ketua III.&lt;br /&gt;Pada halaman 105 Buku tersebut disajikan Bagan Denah Pura-Pura Padharman di kompleks Pura Besakih beserta keterangan Bagan Denah Pura-Pura tersebut pada halaman 106. Pada butir III dalam keterangan Bagan Denah itu tercantum “Pedarman Kebontubuh”, sedangkan dalam Bagan Denahnya lokasi Pedharman termaksud nampak bersebelahan dengan “Pedarman Sukewati.” Darimana informasi yang mendasari Bagan Denah beserta keterangannya itu diperoleh, dapat disimak dari uraian “PENJELASAN TENTANG PURA-PURA PEDHARMAN” pada halaman 69-70 buku tersebut diatas dimana antara lain terdapat pernyataan seperti kutipan kalimat berikut : “….. uraian tentang Pura-Pura Pedharman tersebut diatas hanya disusun berdasarkan keterangan-keterangan yang diperoleh dari Pemangku-Pemangku di Pura itu, yang mungkin saja belum benar seluruhnya, akan tetapi minimal dapat memberikan petunjuk dasar bagi para penyiwinya dalam menyempurnakan riwayat Pura-Pura Pedharman yang menjadi penyiwiannya, ……………… .” Selanjutnya uraian penjelasan termaksud diakhiri dengan kalimat berikut : “Akhirnya saya memohon maaf bila dalam uraian tentang Pura-Pura Pedharman tersebut diatas terdapat kekeliruan serta mohon untuk diperbaiki dan disempurnakan dikemudian hari.” &lt;span style="color: #333333;"&gt;Dari dua kalimat kutipan diatas dapat diduga bahwa sipenulis masih belum sepenuhnya yakin akan kebenaran dari apa yang telah ditulisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut diuraikan pula bahwa diareal pura tersebut antara lain terdapat &lt;i&gt;Meru Tumpang Lima&lt;/i&gt; yang dinyatakan sebagai palinggih Ida Sri Mpu Bujangga dan padharman ini disungsung oleh keluarga dari Banjar Sengguan Klungkung (Wayan Windia, 1980 : 56). Informasi tersebut sudah tentu mengandung kerancuan karena antara nama padharman (Arya Kubontubuh) dan yang disungsung/&lt;i&gt;dinharma&lt;/i&gt; (Ida Sri Mpu Bujangga) sama sekali tidak sesuai. Nampaknya informasi yang rancu tersebut terus-menerus dijadikan acuan untuk beberapa publikasi berikutnya tanpa membandingkan dengan sumber informasi dalam kepustakaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian DR. R. Goris (1937) tentang Pura Besakih yang dilengkapi dengan denah Pura Besakih yang digambar oleh J. Hooykas, menyatakan pura tersebut adalah padharman I Gusti Bendul. Sedangkan hasil penelitian David J. Stuart- Fox (1987 : 145), menyimpulkan bahwa petak tersebut, yang terpisah namun masih berada dalam lingkungan tembok Padharman Sukawati adalah Padharman Ida Sri Mpu Bujangga yang disungsung oleh kelompok kecil sekitar 60 keluarga yang berasal dari Banjar Celepik, Tojan (Gelgel). Kesimpulan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa &lt;i&gt;Meru Tumpang Lima &lt;/i&gt;yang ada disana adalah palinggih Ida Sri Mpu Bujangga.&lt;br /&gt;Cara pandang yang juga memperkuat kesimpulan bahwa pura tersebut bukan Padharman Arya Kubontubuh adalah metode penarikan kesimpulan yang disepakati dalam Pesamuan Pusat Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali yang diselenggarakan di Nusa Dua pada tanggal 24 Juni 1984, dengan menerapkan pengkajian berdasarkan konsep &lt;i&gt;tripramana&lt;/i&gt;, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dengan pramana &lt;i&gt;Sastra tah&lt;/i&gt;, dikaji adakah tersurat dalam rontal atau prasasti tentang keberadaan Padharman Arya Kubontubuh di kompleks Pura Besakih ? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan pramana &lt;i&gt;Loka tah (loktah)&lt;/i&gt;, dikaji adakah diantara warga pratisentana Sira Arya Kubontubuh mengatakan (mengetahui) tentang keberadaan padharman termaksud di kompleks Pura Besakih ? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan pramana &lt;i&gt;Swah tah&lt;/i&gt;, dikaji adakah diantara keluarga/warga pratisentana Sira Arya Kubontubuh sendiri pernah &lt;i&gt;pedek tangkil &lt;/i&gt;(sembahyang) ke pura padharman termaksud ? &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Ternyata hasil pengkajian/penelusuran yang dilakukan menemukan jawaban : &lt;strong&gt;TIDAK&lt;/strong&gt; terhadap ketiga pertanyaan tersebut diatas, sehingga Pesamuan Pusat tersebut menyimpulkan bahwa Padharman yang berada di kompleks Pura Besakih termaksud, &lt;b&gt;BUKAN&lt;/b&gt; Padharman Arya Kubontubuh.&lt;br /&gt;Disamping keberadaan informasi berdasarkan tulisan (publikasi) seperti yang telah dibahas diatas, konon pernah ada pula beredar informasi atau petunjuk lisan yang sampai kepada beberapa orang dari beberapa warga (termasuk beberapa orang dari Warga Kubontubuh) yang tidak memiliki Pura Padharman di kompleks Pura Besakih, yang mengatakan bahwa Pura Padharman Warga termaksud bersama-sama dengan Pura Padharman dari suatu Warga (Clan) tertentu di Pura Besakih.&lt;br /&gt;Informasi seperti itu tentu saja berpotensi dapat menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang kurang memahami tentang historis keberadaan pura-pura Padharman di Besakih. Untuk menghindari hal tersebut, kepada Warga Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin, dianjurkan untuk berpedoman pada Pasal 7 Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali Nomor I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004, yang antara lain menyatakan:&lt;br /&gt;Bertolak dari pemahaman dan keyakinan bahwa Pura Padharman adalah salah satu jenis pura yang tergolong pura keluarga (clan), tidaklah logis bila ada anggapan yang meyakini adanya kemungkinan bahwa dua atau lebih tokoh dari warga (clan) yang berasal dari kawitan yang berbeda disthanakan/dilinggihang pada suatu Palinggih dalam suatu Pura Padharman.&lt;br /&gt;Selanjutnya dari sejarah tahun &lt;span style="color: #333333;"&gt;awal dari&lt;/span&gt; berdirinya Pura-Pura Padharman di kompleks Pura Besakih, tercatat tahun 1478 M. menurut Rontal Padma Bhuwana, tahun 1543M. menurut Babad Sukahet, atau bahkan tahun 1840-an menurut tulisan dalam Harian Bali Post yang terbit pada tanggal 16 September 1998 yang ditulis oleh I Gusti Made Warsika S.H. (seperti sudah dimuat dalam postingan yang lalu yang berjudul : Keberadaan Pura Padharman Tidak Harus Di Besakih).&lt;br /&gt;Bila ketiga tahun itu dibandingkan dengan tahun wafatnya Sira Arya Kuthawaringin, yang diikuti dengan upacara &lt;i&gt;palebon – baligia – atmapratista&lt;/i&gt;/&lt;i&gt;dinharma&lt;/i&gt; (disthanakan) di Pura Dalem Tugu,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yaitu pada tahun-tahun akhir dari periode pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu 1352-1380, maka logislah kalau memang tidak ada Pura Padharman Sira Arya Kuthawaringin di kompleks Pura Besakih, oleh karena pembangunan Pura Padharman di kompleks Pura Besakih itu baru dimulai lebih dari 100 tahun setelah penyelenggaraan upacara mensthanakan (&lt;i&gt;dhinarma)&lt;/i&gt; roh suci Sira Arya Kuthawaringin di Pura Dalem Tugu &lt;span style="color: #333333;"&gt;seperti diuraiakan dalam buku Alih Aksara Dan Terjemahan dari Raja Purana Pura Dalem Tugu Pura Kawitan/Padharman Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Demikianlah berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada Pura Padharman Sira Arya Kuthawaringin atau Sira Arya Kubontubuh di kompleks Pura Besakih dan tidak pula bersama-sama dalam suatu Pura Padharman dari suatu warga (Clan) tertentu di kompleks Pura Besakih. Pura Dalem Tugu di Gelgel, Klungkung adalah Pura Kawitan/Padharman Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Lampiran V Buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007, halaman 132-135 beserta buku-buku acuan yang sudah disebutkan dalam uraian diatas.&lt;br /&gt;P&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; e&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; n&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; u&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; l&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; i&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/278/8AB017F69AED65E846D8A934566E512A.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-top-width: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;I Made Pageh Suardhana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-4532313504105539071?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/4532313504105539071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2012/02/pura-padharman-arya-kubontubuh-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/4532313504105539071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/4532313504105539071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2012/02/pura-padharman-arya-kubontubuh-atau.html' title='PURA PADHARMAN ARYA KUBONTUBUH ATAU ARYA KUTHAWARINGIN MEMANG BUKAN DI BESAKIH'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-5300600405376563721</id><published>2011-10-14T12:55:00.000+08:00</published><updated>2011-10-14T12:55:12.791+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>KEBERADAAN PURA PADHARMAN TIDAK HARUS DI BESAKIH</title><content type='html'>Pada umumnya memang yang lebih dikenal adalah keberadaan Pura Padharman yang berlokasi di kompleks Pura Besakih. Tetapi itu tidak berarti Pura Padharman hanya ada di kompleks Pura Besakih. Dibawah ini disajikan kutipan dari beberapa tulisan yang pada intinya menguraikan tentang keberadaan dan atau ketidak beradaan Pura Padharman dari suatu warga atau tokoh warga di kompleks Pura Besakih, yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Tulisan I Gusti Made Warsika, S.H., Pekandel Pedharman I Gusti Agung Petandakan Jalan Puputan No.6 Semarapura yang termuat dalam rubrik Surat Pembaca Harian Bali Post tanggal 16 september 1998, yang berjudul : “Padharman tidak harus di Besakih”, dalam butir 2 dan 3 diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;“2. …………&lt;i&gt;padharman&lt;/i&gt; tidak mesti di Besakih dan &lt;i&gt;padharman&lt;/i&gt; bisa dibangun dimana saja tergantung kejadian sejarah yang melatar-belakanginya. Tidak semua orang mesti mempunyai &lt;i&gt;padharman &lt;/i&gt;di Besakih. &lt;i&gt;Padharman&lt;/i&gt; yang ada di Besakih dibangun tahun 1840-an atas prakarsa leluhur saya Raja Puteri Dewa Agung Bale Mas yang ketika itu bersama-sama raja-raja Bali lainnya ngaturang Karya Manca Wali Krama menyusul selesainya &lt;i&gt;Karya Maligya&lt;/i&gt; di Puri Klungkung, walaupun ketika itu tidak semua raja-raja setuju atas prakarsa itu. Pernyataan ini dikuatkan Tjokorda Made Adnya di Puri Kaleran yang mengatakan pada awalnya hanya dua raja yang membuat &lt;i&gt;padharman &lt;/i&gt;di Besakih yakni Raja Klungkung dan Raja Mengwi. Amat sangat disayangkan suatu ide dan prakarsa yang bagus kurang mendapat dukungan pada hal tujuannya adalah untuk mempersatukan raja-raja di Bali dan menggalang kekuatan untuk melawan kolonialisme Belanda yang ketika itu sedang merambah Bali.&lt;br /&gt;3.Tanggal 14 Agustus 1975 penulis juga mendapat penjelasan dari Drs. Martinus Maria Sukarto Atmojo yang ketika itu sebagai Kepala Suaka Purbakala Bali berkedudukan di Bedulu yang juga membenarkan pernyataan tersebut dan memberikan contoh diantaranya Prabu Ugrasena Raja Bali pada abad X di &lt;i&gt;dhinarma&lt;/i&gt; di Er Madatu, Prabu Udayana &lt;i&gt;padharman &lt;/i&gt;beliau ada di Banyu Weka, Prabu Anak Wungsu di &lt;i&gt;dhinarma&lt;/i&gt; di Gunung Kawi.” &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2) T. M. Weda (pemerhati babad di Puri Anyar, Klungkung), dalam tulisannya yang termuat dalam rubrik Surat Pembaca Harian Bali Post tanggal 27 September 1998 antara lain mengatakan :&lt;br /&gt;“ …………… sependapat dengan penjelasan I Gusti Made Warsika S.H., …………….. Padharman tidak harus di Besakih. Contoh lain, &lt;i&gt;padharman &lt;/i&gt;Ida Dalem Tarukan tidak ada di Besakih. &lt;i&gt;Padharman &lt;/i&gt;beliau ada di desa Pulasari Bangli bernama Pura Dalem Tampuagan. Di pura inilah Ida Dalem Tarukan di &lt;i&gt;dhinarma&lt;/i&gt;. ……..”&lt;br /&gt;3) Made Kembar Kerepun, Penasehat Maha Semaya Warga Pande, dalam naskah yang diperluas dari naskah pidatonya yang disampaikan pada pertemuan Antar Warga se Bali yang berlangsung di STAH Denpasar, tanggal 14 Maret 1999, antara lain mengatakan :&lt;br /&gt;“…………….. di pura Besakih tidak terdapat &lt;i&gt;padharman&lt;/i&gt; untuk pratisentana Danghyang Nirartha, sebagai mana dimiliki warga/soroh lainnya di Bali. Apa yang sekarang diklaim sebagai &lt;i&gt;padharman&lt;/i&gt; keturunan beliau di Besakih adalah palinggih yang dikenal dengan sebutan palinggih &lt;i&gt;Ida Bathara Sakti&lt;/i&gt; yang secara turun temurun diemong oleh warga Pande Besakih, dengan biaya dari Panataran Agung. Jadi ada dua warga yang mengempon palinggih itu sekarang. Piodalan palinggih itu yang jatuh pada hari Raya Kuningan berlangsung dua kali, pagi hari oleh warga Pande dan sore harinya oleh warga keturunan beliau (Danghyang Nirartha).”&lt;br /&gt;4) Drs. K. M. Suhardana, dalam buku Seri Babad Bali : BABAD NYUHAYA, pada halaman 138 antara lain mengatakan :&lt;br /&gt;“………………… Padharman merupakan tempat disthanakannya Ida Bhatara Kawitan. Namun perlu diketahui bahwa sthana yang sesungguhnya Ida Bhatara Kawitan adalah di Pura Kawitan. Itulah sebabnya, maka Pura Padharman (yang berlokasi di kompleks Pura Besakih : penulis) dikatakan sebagai Pura Pasimpangan Ida Bhatara Kawitan. Dengan demikian fungsi Pura Kawitan dan Pura Padharman adalah sama, yaitu sebagai tempat untuk memuliakan dan menghaturkan sujud bhakti kehadapan Ida Bhatara Kawitan. Perbedaannya adalah letaknya. Pura Padharman pada umumnya terletak di kompleks Pura Besakih, sedangkan Pura Kawitan terletak di daerah tertentu, misalnya untuk Pura Kawitan Sri Nararya Kresna Kepakisan terletak di Banjar Dukuh, desa Gelgel Kabupaten Klungkung. Dikatakan pada umumnya ada di kompleks Pura Besakih, karena ada juga Pura Padharman yang tidak terletak di Besakih.”&lt;br /&gt;5) Ida Bagus Putu Purwita, dalam Skripsi Sarjana Lengkap Negara dalam Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma di Denpasar, 1980 yang berjudul PENGERTIAN PADHARMAN DI BALI, pada halaman 2 antara lain mengatakan :&lt;br /&gt;“……………………… sampai kini kami belum menemukan suatu karya sastra yang mengungkapkan secara mengkhusus mengenai padharman di Bali. Kalau toh ada keterangan-keterangan singkat yang terdapat dalam beberapa prasasti, rontal dan kitab-kitab hasil karya sarjana yang berkaitan dengan masalah padharman baik di Bali maupun di Jawa, namun hal itu masih merupakan tulisan-tulisan yang terpisah antara satu dengan yang lainnya.”&lt;br /&gt;Dari kutipan tulisan-tulisan pada butir 1) s/d 5) diatas dapat ditarik/dicatat simpulan-simpulan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1).Pura Padharman tidak harus berlokasi di kompleks Pura Besakih, dengan demikian Pura Padharman dapat dibangun dimana saja sesuai dengan kejadian sejarah yang melatar belakanginya. &lt;br /&gt;2).Pura Padharman (yang ada di kompleks Pura Besakih) berstatus sebagai &lt;i&gt;pasimpangan&lt;/i&gt; Ida Bhatra Kawitan karena sthana yang sesungguhnya dari Ida Bhatara Kawitan adalah di Pura Kawitan. Dengan demikian bagi warga yang tidak membangun Pura Padharman sebagai &lt;i&gt;pasimpangan&lt;/i&gt; seperti dimaksud diatas, berarti Pura Kawitannya juga berfungsi sebagai Pura Padharmannya karena memang dipura itulah leluhur &lt;i&gt;pangked &lt;/i&gt;yang paling diatas (Ida Bhatara Kawitan) &lt;i&gt;di-dhinarma&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;3).Pembangunan Pura Padharman di kompleks Pura Besakih memiliki latar belakang sosial-politik, yaitu untuk mempersatukan raja-raja di Bali dan menggalang kekuatan untuk melawan kolonialisme Belanda pada zamannya.&lt;br /&gt;4).Hingga kini belum diketemukan/diketahui adanya landasan sastra agama yang memberi petunjuk tentang pembangunan padharman sebagaimana halnya Lontar Siwagama memberi petunjuk tentang pembangunan Sanggah Kamulan, Pratiwi, Ibu dan Panti.&lt;br /&gt;5).Pratisentana Danghyang Nirartha seperti diuraikan dalam kutipan tulisan butir 3) diatas , ternyata juga tidak memiliki Pura Padharman di kompleks Pura Besakih.&lt;br /&gt;Demikianlah simpulan-simpulan yang dapat ditarik dari kutipan tulisan-tulisan yang disajikan diatas.&lt;br /&gt;Sumber : Lampiran V Buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007, halaman 135-138.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; e&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; n&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; u&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; l&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; i&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/278/8AB017F69AED65E846D8A934566E512A.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-top-width: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-5300600405376563721?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/5300600405376563721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/10/keberadaan-pura-padharman-tidak-harus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/5300600405376563721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/5300600405376563721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/10/keberadaan-pura-padharman-tidak-harus.html' title='KEBERADAAN PURA PADHARMAN TIDAK HARUS DI BESAKIH'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-4887898049759254542</id><published>2011-09-04T23:09:00.000+08:00</published><updated>2011-09-04T23:09:54.805+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>PURA DALEM TUGU, PURA MRAJAN KAWITAN DAN PURA WARINGIN</title><content type='html'>Uraian dalam postingan ini dengan judul seperti tercantum diatas bersumber dari uraian dalam Lampiran V Buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007 yang berjudul : Pura-Pura Pusat Penyungsungan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin. Disamping itu perlu pula dipermaklumkan bahwa uraian tentang keberadaan &lt;em&gt;pura-pura&lt;/em&gt; seperti dimaksud pada judul postingan ini sudah pula disinggung dalam uraian beberapa postingan terdahulu yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Postingan tertanggal 17 Oktober 2010 yang berjudul : Peristiwa Sejarah dan Peranserta Sira Arya Kuthawaringin Beserta Keturunnannya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Postingan tertanggal 17 Oktober 2010 dengan judul : Peristiwa Sejarah dan Pura Yang Berdiri. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rangkaian Postingan-Postingan tentang Raja Purana Pura Dalem Tugu yang telah dipublis mulai dari postingan tertanggal 31 Oktober 2010 sampai dengan postingan tertanggal 29 Januari 2011. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Berbeda dengan uraian dalam postingan-postingan terdahulu seperti termaksud diatas, uraian yang disajikan dibawah ini terutama dimaksudkan untuk menunjukkan keterkaitan diantara ketiga pura yang dimaksud pada judul postingan ini.&lt;br /&gt;Dilihat dari tokoh pendiri masing-masing pura dari ketiga pura tersebut yaitu Pura Dalem Tugu di Gelgel, Klungkung yang didirikan oleh Sira Arya Kuthawaringin; Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh di Gelgel, Klungkung yang didirikan oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel dan Pura Waringin di Desa Waringin, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang didirikan oleh Kyayi Wayahan Kuthawaringin yaitu putera sulung Kyayi Gusti Parembu, adalah &lt;strong&gt;pura-pura yang secara geneologis terkait satu dengan lainnya, dengan Pura Dalem Tugu sebagai pusatnya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tentang sejarah pendirian, status, fungsi dan sebutan dari ketiga pura termaksud bagi &lt;em&gt;para sameton pratisentana &lt;/em&gt;Sira Arya Kuthawaringin diperlukan untuk lebih memantapkan hati dalam menentukan urutan prioritas pura yang akan dituju untuk melaksanakan kewajiban berbhakti kepada leluhur dalam kerangka konsep Tri Rna sesuai dengan inti tattwa Agama Hindu yang terhimpun dalam &lt;em&gt;Panca Srada.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu uraian selanjutnya akan berkisah tentang sejarah berdiri beserta pendirinya, status, fungsi dan sebutan masing-masing dari ketiga pura termaksud.&lt;br /&gt;1. &lt;b&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a.Sejarah berdirinya Pura&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;i&gt;Dalem Tugu.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalem&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari nama Pura Dalem Tugu berasal dari kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalem&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari &lt;i&gt;Kahyangan &lt;b&gt;Dalem Desa &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang juga disebut &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalem Jagat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan kemudian lumrah dikenal sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalem&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;b&gt;Suci&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Kahyangan termaksud merupakan sthana &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sang Hyang Amurwabhumi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan sudah ada sebelum munculnya Kahyangan Tiga. Sedangkan Dalem Pangulun Setra atau Dalem Cungkub yang merupakan salah satu unsur (pura) dari Kahyangan Tiga, merupakan sthana Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;Durga Bhairawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Dengan demikian Dalem Desa , Dalem Jagat atau Dalem Suci yang merupakan cikal-bakalnya pura yang kemudian dikenal dengan nama &lt;b&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/b&gt;, bukanlah Dalem Pangulun Setra.&lt;br /&gt;Sedangkan kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tugu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari nama Pura Dalem Tugu tersebut berasal dari Palinggih &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sang Hyang Tugu &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sang Hyang Ghanapati&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;) yang didirikan dibagian utara dalam palemahan &lt;i&gt;Pura Dalem Suci&lt;/i&gt; termaksud, dimana I Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama para arya lainnya berikrar (&lt;i&gt;madewasaksi&lt;/i&gt;) untuk membulatkan sikap dikalangan para pejabat kerajaan sebelum menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa Pandak untuk mohon kesediaan beliau dinobatkan menjadi Dalem pengganti Dalem Ile.&lt;br /&gt;Proses sejarah dari Kahyangan Dalem Desa, Dalem Jagat atau Dalem Suci menjadi Pura Dalem Tugu seperti dimaksud diatas, berjalan seiring dengan perjalanan hidup beserta kiprah peranan Sira Arya Kuthawaringin beserta putera-putera beliau dalam perjalanan sejarah pemerintahan Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel, seperti ilustrasi singkat dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pura Dalem Jagat tersebut didirikan oleh Sira Arya Kuthawaringin beberapa lama setelah beliau menjabat Penguasa Wilayah (&lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt;), Wilayah Tenggara Bali berkedudukan di Gelgel dengan rakyat 5.000 orang. Wilayah &lt;i&gt;Kemancaan Agung&lt;/i&gt; itu meliputi : Gelgel, Kamasan, Tojan hingga pantai Klotok, Dukuh Nyuhaya, Kacangpaos (Kacangdawa), Siku sampai Klungkung. Penugasan dengan jabatan&lt;i&gt; Amanca Agung&lt;/i&gt; tersebut diterima sesuai pembagian tugas kepada 15 orang Arya sebagai penguasa wilayah atas nama Kerajaan Majapahit. Pembagian tugas itu dilakukan oleh Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1343 M., yaitu setelah Bali takluk di bawah Kerajaan Majapahit yang merupakan buah kemenangan dari apa yang dikenal dengan peristiwa ekspedisi Gajah Mada ke Bali dimana Sira Arya Kuthawaringin merupakan salah seorang Arya dari 7 orang Arya yang mendampingi Maha Patih Gajah Mada dalam ekspedisi tersebut.&lt;br /&gt;Fungsi semula dari Kahyangan Dalem Jagat atau Dalem Suci tersebut adalah tempat pemujaan &lt;i&gt;Sang Amanca Agung&lt;/i&gt; di Gelgel, dimana beliau memuja &lt;i&gt;Sang Hyang Parama Wisesa&lt;/i&gt; dalam prabawanya sebagai &lt;i&gt;Sang Hyang Amurwabhumi&lt;/i&gt; yang bersthana di palinggih Gedong Bata.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Setelah Dalem Ketut Kresna Kepakisan bertakhta di Bali sejak tahun 1352 M., &lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt; Sira Arya Kuthawaringin, juga menjabat Adhi Patih dan merangkap kedudukan sebagai Tumenggung pula.&lt;br /&gt;Sira Arya Kuthawaringin menurunkan 4 orang putera, yaitu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel (kemudian juga bergelar I Gusti Kubontubuh dan/atau Kyayi Gusti Klapodhyana), Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin.&lt;br /&gt;Sira Arya Kuthawaringin lanjut usia, jabatannya digantikan oleh putera sulungnya, yaitu I Gusti Agung Bandhesa Gelegl dengan jabatan Patih Utama.&lt;br /&gt;Sira Arya Kuthawaringin wafat di Gelgel beberapa lama setelah putra sulung beliau sudah menggantikan jabatan beliau seperti telah diuraikan diatas. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun-tahun akhir dari periode pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1352-1380 M. Sebagai kelanjutan dari proses upacara “&lt;i&gt;Palebon &lt;/i&gt;lanjut dengan &lt;i&gt;Baligia &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Atma Pratista&lt;/i&gt;-nya yang diselenggarakan oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama seluruh saudara dan sanak keluarganya di Gelgel,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Roh Suci Sira Arya Kuthawaringin disthanakan (&lt;i&gt;dhinarmma&lt;/i&gt;) di Kahyangan Dalem Suci tersebut diatas, pada palinggih &lt;i&gt;babaturan&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Pembangunan palinggih Sang Hyang Tugu dalam Kahyangan Dalem Suci seperti telah diuraikan diatas dilakukan oleh I Gusti Agung Bandhesa Gelgel atas restu Dalem Ketut Smara Kepakisan beberapa lama setelah beliau dinobatkan pada tahun 1383 M. sebagai Raja (Dalem) kepertama dalam zaman Kerajaan Gelgel. Dengan demikian palinggih Tugu tersebut memiliki fungsi sebagai saksi dari peristiwa bersejarah yang atas inisiatip I Gusti Agung Bandhesa Gelgel akhirnya berhasil mengantarkan Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke takhta kerajaan sehingga dinobatkan dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan pada tahun 1383 Masehi.&lt;br /&gt;Setelah dibangunnya Tugu tersebut Kahyangan Dalem Desa, Dalem Jagat atau Dalem Suci termaksud kemudian lebih dikenal dengan nama &lt;b&gt;Kahyangan (Pura) Dalem Tugu&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;Setelah kembali dari menjalankan perintah Dalem, membunuh &lt;i&gt;macan selem&lt;/i&gt; di Blambangan, Kyayi Gusti Klapodhyana diingatkan dengan sangat (&lt;i&gt;winehan&lt;/i&gt;) oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan, agar memugar dan &lt;i&gt;mangupapira&lt;/i&gt; Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Pada saat pemugaran itulah Kyayi Gusti Klapodhyana memugar palinggih &lt;i&gt;padharman &lt;/i&gt;yang semula masih berbentuk &lt;i&gt;babaturan&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;Meru Tumpang Tiga&lt;/i&gt; yang dibangun di sebelah utara palinggih Gedong Bata, di sebelah selatan palinggih Sang Hyang Tugu.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b.&lt;em&gt;S&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;tatus&lt;/em&gt; Pura Dalem Tugu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Status Pura Dalem Tugu diyakini merupakan &lt;b&gt;Pura Kawitan/Padharman&lt;/b&gt;, berdasarkan historis dari proses berdirinya pura tersebut seperti diuraikan pada butir a diatas.&lt;br /&gt;Diyakini memiliki status &lt;b&gt;Pura Padharman&lt;/b&gt;, karena roh suci Sira Arya Kuthawaringin distanakan (kata “padharman” berasal dari kata &lt;i&gt;dhinarmma&lt;/i&gt; yang artinya distanakan atau dilinggihang) pada palinggih &lt;i&gt;Meru Tumpang Tiga&lt;/i&gt; yang dibangun di sebelah utara palinggih Gedong Bata, di sebelah selatan palinggih Tugu di Pura Dalem Tugu seperti diuraikan diatas. &lt;br /&gt;Diyakini memiliki status &lt;b&gt;Pura Kawitan&lt;/b&gt;, karena :&lt;br /&gt;1).Yang dilinggihang (&lt;i&gt;dhinarmma&lt;/i&gt;) di pura tersebut adalah roh suci Sira Arya Kuthawaringin yang merupakan leluhur (yang menurunkan Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin) &lt;i&gt;pangked &lt;/i&gt;yang paling atas yang datang dan &lt;i&gt;jenek &lt;/i&gt;di Bali. Kata “kawitan” berasal dari &lt;i&gt;wit &lt;/i&gt;yang artinya asal-usul, dalam konteks Pura Kawitan arti kata &lt;i&gt;wit&lt;/i&gt; adalah leluhur sehinga Pura Kawitan merupakan tempat pemujaan leluhur.&lt;br /&gt;2).Leluhur pangked berikutnya, diyakini &lt;i&gt;ngiring&lt;/i&gt; leluhur &lt;i&gt;pangked&lt;/i&gt; yang paling atas (Bhatara Kawitan) pada sthana beliau di palinggih &lt;i&gt;Meru Tumpang Tiga&lt;/i&gt; di Pura Dalem Tugu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c.&lt;em&gt;F&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;ungsi&lt;/em&gt; Pura Dalem Tugu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Pura Dalem Tugu adalah :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1).&lt;/b&gt;Pusat Penyungsungan bagi seluruh Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin, karena dalam Babad Arya Kuthawaringin terungkap bahwa upacara “&lt;i&gt;Palebon&lt;/i&gt; lanjut dengan &lt;i&gt;Baligia&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;Atma Pratista&lt;/i&gt;” Sira Arya Kuthawaringin di Gelgel, diselenggarakan oleh seluruh putra beliau, yaitu tidak hanya oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel (putra sulung yang selanjutnya menurunkan warga Kubontubuh-Kuthawaringin) tetapi bersama kedua adik beliau, yaitu Kyayi Gusti Parembu dan Kyayi Gusti Candi.&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2).&lt;/b&gt;Juga berfungsi sebagai saksi sejarah berdirinya Kerajaan Gelgel dengan adanya Palinggih &lt;i&gt;Sang Hyang Tugu &lt;/i&gt;(&lt;i&gt;Sang Hyang Ghanapati)&lt;/i&gt; yang dibangun dibagian utara dalam palemahan Pura Dalem Tugu tersebut.&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d.S&lt;/b&gt;&lt;b&gt;ebutan untuk Pura Dalem Tugu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejarah berdirinya, &lt;b&gt;status&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;fungsinya&lt;/b&gt; seperti diuraikan pada butir a, b dan c diatas , sesuai dengan isi Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004 beserta penyempurnaannya, maka sebutan yang tepat untuk dicantumkan pada papan nama Pura Dalem Tugu adalah :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" style="width: 360px;" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="358"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PURA DALEM TUGU&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PURA KAWITAN/PADHARMAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;2. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;PURA MRAJAN KAWITAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a.Sejarah berdirinya Pura Mrajan Kawitan.&lt;br /&gt;Kapan didirikan dan siapa pendiri dari Pura Mrajan Kawitan dapat disimak dari kutipan uraian yang tercantum dalam Lampiran IVB. Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;”Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan pada tahun saka 1305 (1383&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;M) dengan gelar Dalem Sri Smara Kepakisan, berkedudukan di &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Gelgel yang kemudian bernama Swechalinggarsapura.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Patih Utama, menyerahkan puri-&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; nya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel, kemudian beliau pindah/&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamrajan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;nya di sebelah barat daya Istana Kepatihan terdahulu yang sudah &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;menjadi Istana Dalem atau di sebelah utara Kahyangan Dalem Suci &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;tempat pemujaan beliau, yaitu di tegalan Abyan Kawan yang dita&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;nami pohon kelapa. Sejak itu beliau juga bergelar Kyayi (I Gusti)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Kubontubuh atau Kyayi (I Gusti) Klapodhyana.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Mrajan dari puri barunya ini diyakini merupakan Pura Mrajan yang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; diwariskan kepada pratisentananya hingga sekarang yang sesuai&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubon&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; tubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tgl. 25 Januari 2004 dise-&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; but Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh”.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.&lt;b&gt;&lt;i&gt;Status&lt;/i&gt; dari Pura Mrajan Kawitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Status dari pura ini yang dahulu sering pula disebut Pura Pesimpenan adalah &lt;b&gt;Pura Mrajan Kawitan&lt;/b&gt;, karena secara historis pura tersebut diyakini berasal dari mrajan pada puri (Istana Kepatihan) baru yang dibangun oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel di tegalan &lt;i&gt;Abian Kawan&lt;/i&gt; setelah purinya (Istana Kepatihan) yang lama diserahkan kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem (Keraton) di Gelgel.&lt;br /&gt;c.&lt;b&gt;Fungsi Pura Mrajan Kawitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Pura Mrajan Kawitan adalah Pusat Penyungsungan bagi Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin yaitu keturunan dari Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang juga bergelar Kyayi Gusti Klapodhyana atau I Gusti Kubontubuh.&lt;br /&gt;d.&lt;b&gt;Sebutan untuk Pura Mrajan Kawitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejarah berdirinya, status dan fungsinya seperti diuraikan dalam butir a, b dan c diatas, sesuai dengan isi Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004 beserta penyempurnaannya, maka sebutan yang tepat untuk dicantumkan pada papan nama Pura Mrajan Kawitan adalah :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" style="width: 334px;" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="332"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PURA MRAJAN KAWITAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PRATISENTANA SIRA ARYA KUBONTUBUH&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;3. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;PURA WARINGIN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a.Sejarah berdirinya Pura Waringin.&lt;br /&gt;Pura Waringin di Desa Waringin-Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem didirikan oleh Kyayi Wayahan Kuthawaringin, yaitu putera sulung Kyayi Gusti Parembu. Sedangkan Kyayi Gusti Parembu itu adalah adik kandung dari Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang juga bergelar I Gusti Kubontubuh atau Kyayi Gusti Klapodhyana yang menurunkan Warga Kubontubuh yang kini terhimpun dalam wadah organisasi yang bernama Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin.&lt;br /&gt;Pura ini didirikan setelah Kyayi Gusti Parembu wafat, sebagai kelanjutan dari proses upacara &lt;i&gt;plebon-baligia-atmapratista &lt;/i&gt;di Desa Waringin, dimana beliau bermukim sejak gagal menjalankan tugas untuk mengejar Dalem Tarukan atas perintah Dalem Ile. Berdasarkan proses pendirian pura tersebut, maka yang disthanakan di Pura Waringin itu tentunya roh suci almarhum Kyayi Gusti Parembu dan bukanlah roh suci Sira Arya Kuthawaringin (ayahandanya Kyayi Gusti Parembu). Kesimpulan ini lebih diperkuat dengan adanya kalimat dalam Babad Arya Kuthawaringin yang mengatakan bahwa di Pura Waringin itu “&lt;i&gt;tidak ketinggalan&lt;/i&gt;” juga dibangun palinggih untuk memuja arwah almarhum Sira Arya Kuthawaringin. Adanya kata-kata “&lt;i&gt;tidak ketinggalan&lt;/i&gt;” dalam kalimat tersebut menunjukkan pengertian bahwa palinggih yang dibangun untuk memuja arwah almarhum Sira Arya Kuthawaringin itu hanyalah merupakan palinggih &lt;i&gt;pasimpangan (pengayengan)&lt;/i&gt; dan bukan palinggih dimana secara historis roh suci beliau disthanakan dalam rangkaian proses upacara &lt;em&gt;palebon-baligia-atmapratistanya &lt;/em&gt;di Pura Dalem Tugu seperti yang sudah diuraikan pada butir 1 diatas.&lt;br /&gt;Kesimpulan tersebut akan menjadi lebih meyakinkan lagi bila dilihat dari periode peristiwanya, dimana wafatnya Kyayi Gusti Parembu beserta pendirian Pura Waringin itu diperkirakan baru terjadi pada akhir periode pemerintahan Dalem Ketut Smara Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1383-1460M. atau pada awal periode pemerintahan Dalem Waturenggong yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1460-1550M. Sedangkan wafatnya beserta proses mensthanakan roh suci Sira Arya Kuthawaringin di Pura Dalem Tugu telah terjadi lama sebelum Pura Waringin itu didirikan, yaitu pada tahun-tahun akhir dari periode pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1352-1380M. seperti sudah pula diuraikan pada butir 1 diatas.&lt;br /&gt;b.Status Pura Waringin.&lt;br /&gt;Sesuai dengan terminologi yang dipakai dalam sebutan pura ini oleh pengemponnya, status Pura Waringan adalah Pura Dalem Kawitan.&lt;br /&gt;c.Fungsi Pura Waringin.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal yang diuraikan diatas, menjadi jelas bahwa Pura Waringin itu memiliki fungsi sebagai &lt;b&gt;pura pusat penyungsungan bagi seluruh pratisentana Kyayi Gusti Parembu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;d.Sebutan Untuk Pura Waringin.&lt;br /&gt;Oleh pengemponnya sebutan yang diberikan untuk pura ini adalah : Pura Dalem Kawitan Sira Arya Kuthawaringin. Tetapi bila dilihat dari tokoh yang disthanakan di pura termaksud, lebih tepat kiranya bila sebutan untuk pura itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" style="width: 244px;" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="242"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PURA DALEM KAWITAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;KYAYI GUSTI PAREMBU&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;, &lt;/strong&gt;meskipun di pura tersebut memang ada palinggih &lt;i&gt;pasimpangan (pengayengan) &lt;/i&gt;untuk memuja roh suci Sira Arya Kuthawaringin seperti sudah diuraikan pada butir a. diatas.&lt;br /&gt;Demikianlah keberadaan dan keterkaitan antara ketiga pura yang telah diuraikan diatas.&lt;br /&gt;Semoga &lt;em&gt;para sameton pratisentana &lt;/em&gt;Sira Arya Kuthawaringin, baik yang merupakan &lt;em&gt;warih &lt;/em&gt;Kubontubuh-Kuthawaringin, &lt;em&gt;warih &lt;/em&gt;Parembu-Kuthawaringin maupun &lt;em&gt;warih &lt;/em&gt;Candhi-Kuthawaringin, setelah membaca uraian diatas mudah-mudahan dapat lebih memantapkan hati dalam melaksanakan kewajiban berbhakti kepada leluhur dalam kerangka konsep Tri Rna pada pura-pura termaksud.&lt;br /&gt;Terima kasih atas kunjungan Anda ke Blog-ku ini. Bila berkenan, komentar dan atau saran Anda dibutuhkan demi untuk penyempurnaan Blog yang saya kelola ini. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; e&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; n&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; u&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; l&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; i&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/278/8AB017F69AED65E846D8A934566E512A.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-top-width: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-4887898049759254542?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/4887898049759254542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/09/pura-dalem-tugu-pura-mrajan-kawitan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/4887898049759254542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/4887898049759254542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/09/pura-dalem-tugu-pura-mrajan-kawitan-dan.html' title='PURA DALEM TUGU, PURA MRAJAN KAWITAN DAN PURA WARINGIN'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-8866902297099648020</id><published>2011-04-25T05:23:00.000+08:00</published><updated>2011-04-25T05:23:15.202+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>KETURUNAN KYAYI MIBER</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Menanggapi komentar dalam Recent Comments tentang keturunan Kyayi Miber disampaikan hal-hal berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh yang dijadikan rujukan dalam penulisan postingan yang disajikan dalam Blog yang saya kelola ini memang tidak ada uraian yang mengungkap keturunan Kyayi Miber putera&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kyayi Lurah Tubuh alias Ki Nyapnyap.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Jika dalam kenyataannya, kini ada keturunan Kyayi Miber, memang menimbulkan pertanyaan. Mengapa dalam Babad termaksud tidak ada uraian tentang itu ?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Jawaban dari pertanyaan tersebut, menurut hemat saya,dapat didekati dengan menganalisis data yang terungkap dari rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah yang terrekam dalam Babad termaksud antara lain sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Tahun 1686: Ki Nyapnyap beserta puteranya (yaitu Kyayi Miber) yang masih kanak-kanak &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ngiring&lt;/i&gt; Dalem Dimade menyingkir ke Guliang, Bangli.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Tahun 1704: Kriyan Agung Maruti berhasil dikalahkan, lari dari Gelgel ke Jimbaran kemudian ke Kuramas. Sri Agung Gede Jambe menitahkan Kyayi Lurah Tubuh alias Ki Nyapnyap dengan pasukan mengejar ke Jimbaran lalu ke Kuramas dan akhirnya menetap di Kuramas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Data/peristiwa terakhir yang diungkap dalam Babad termaksud adalah peristiwa tahun 1704 tersebut diatas yang merupakan akhir dari Zaman Kerajaan Gelgel dan atau awal dari Zaman Kerajaan Klungkung karena pada tahun itu juga beliau Sri Agung Gede Jambe bertakhta menjadi raja berkedudukan di Smarajaya (Klungkung).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Rentang waktu antara tahun 1686 dengan 1704 seperti dimaksud pada butir 1 dan 2 diatas adalah 1704 – 1686 = 18 tahun. Kalau umur Kyayi Miber pada tahun 1686 yang dikatakan masih kanak-kanak kita asumsikan X tahun, maka umur Kyayi Miber pada tahun 1704 menjadi (18 + X) tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Pada umur seperti dimaksud pada butir 4 diatas, pada tahun 1704 Kyayi Miber mungkin belum kawin (mengingat pada zaman dahulu konon orang kawin pada usia yang relatif lebih lanjut dibandingkan dengan orang zaman sekarang) atau sudah kawin tetapi belum memiliki keturunan. Jika keturunannya baru ada sesudah tahun 1704 jelas tidak juga akan terrekam dalam Babad termaksud karena seperti diuraikan dalam butir 3 diatas, data/peristiwa terakhir yang diungkap dalam Babad termaksud adalah data/peristiwa tahun 1704.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Jika demikian halnya, menurut hemat saya, untuk mengetahui keturunan Kyayi Miber dapat ditempuh beberapa cara antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Telusuri Babad, Pamancangah atau dokumen-dokumen silsilah/keturunan lainnya yang mencakup data/peristiwa sesudah tahun 1704.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 1in; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Hubungi keluarga terdekat seperti tercantum dalam Bagan Silsilah (No.1.1.1.1.1 Bagan Silsilah Keturunan Kyayi Lurah Abian Tubuh) yang disajikan dalam Blog ini, kalau-kalau ada generasi yang rajin mencatat nama-nama generasi-generasi yang telah mendahului.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Demikianlah hal-hal yang bisa saya sampaikan, semoga ada manfaatnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Denpasar, 25 April 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Pengasuh Blog,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-8866902297099648020?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/8866902297099648020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/04/keturunan-kyayi-miber.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8866902297099648020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8866902297099648020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/04/keturunan-kyayi-miber.html' title='KETURUNAN KYAYI MIBER'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-8428717984856650058</id><published>2011-01-29T16:07:00.001+08:00</published><updated>2011-01-29T16:07:19.737+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peta denah palinggih dan bangunan'/><title type='text'>Peta Denah Palinggih dan Bangunan di Pura Dalem Tugu, Gelgel, Klungkung.</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TUPKrLYrHfI/AAAAAAAAAGs/dHny4ptLSvE/s1600-h/clip_image0021.jpg"&gt;&lt;img style="background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 0px 5px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px" title="clip_image002" border="0" alt="clip_image002" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TUPKtdfvHoI/AAAAAAAAAGw/CW1aflXSWOE/clip_image002_thumb.jpg?imgmax=800" width="424" height="309" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;Keterangan Peta&lt;/u&gt; :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;I. J e r o a n&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1.Padma Agung (Sanggar Agung Kembar)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2.Tugu (Linggih Sang Hyang Tugu)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3.Meru Tumpang Tiga (Padharman sang wus humoring Hyang&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&amp;#160; Sirarya Kuthawaringin) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4.Gedong Bata (Pajenengan Kawitan)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;5.Bale Pengaruman (Pesamuhan)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;6.Saptapatala&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;7.Ngrurah Agung&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;8.Piyasan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;9.Limascari&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;10.Limascatu&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;11.Manjangan Saluwang (Maspahit)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;12.Panyimpenan (tegeh)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;13.Tigaron&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;14.Panggungan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;15.Bale Pamujaan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;II. Jaba Tengah&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1.Bale Kulkul&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2.Taman/Beji&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3.Apit Lawang&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4.Bale Lantang&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;5.Bale Sakanem (serbaguna)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;III. Jaba Sisi&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1.Wantilan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2.Pangijeng Karang&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3.Lebuh&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh, Edisi II-2007, halaman 122-123).&lt;/p&gt;  &lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:ac048b7c-a61e-4de8-a880-31278a6aaa5f" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Peta+denah+palinggih+dan+bangunan" rel="tag"&gt;Peta denah palinggih dan bangunan&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-8428717984856650058?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/8428717984856650058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/peta-denah-palinggih-dan-bangunan-di.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8428717984856650058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8428717984856650058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/peta-denah-palinggih-dan-bangunan-di.html' title='Peta Denah Palinggih dan Bangunan di Pura Dalem Tugu, Gelgel, Klungkung.'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TUPKtdfvHoI/AAAAAAAAAGw/CW1aflXSWOE/s72-c/clip_image002_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-3296987561959865772</id><published>2011-01-29T16:01:00.000+08:00</published><updated>2011-01-29T16:01:29.220+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.8 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;GAGADHUHAN PURA DALEM TUGU&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ong Awignamastu&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini sebuah &lt;i&gt;gagadhuhan&lt;/i&gt; (catatan) tentang jajar bangunan/palinggih yang ada di Pura Dalem Tugu, yang telah disucikan dengan upacara yaitu anyapuh angenteg linggih, yang diwarisi sejak jaman dulu, tidak boleh ditambah dan atau dikurangi, sebab telah dipuja oleh para pendeta Siwa Budha dan Bhujangga, sebab kalau ditambah dan atau dikurangi jumlahnya, sangat berbahaya, akan berakibat tidak selamat, selalu bertengkar dengan keluarga, banyak pekerjaan tanpa hasil. Demikian juga upacara aci-acinya jangan sengaja mengurangi, jangan sampai tidak ada aci-aci yang seharusnya diselenggarakan, dalam ukuran nista, madya, utama, mengikuti kebiasaan terdahulu sesuai dengan sastra agama.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jajar palinggih diurut dari timur laut ke selatan, adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Padma Agung (Sanggar Agung Kêmbar), yang dikiri tempat memuja Sang Hyang Luhuringãkasa, yang dikanan tempat memuja Bhatãrì Saraswati; Jenis-jenis sajen masing-masing: pada hari piyodalan: suci 1 soroh, saji 1 soroh, sorohan 1 soroh, rayunan 1 pajêg dados 2 dulang, palinggih 1 soroh; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: Japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Tugu, disebelah selatan Padma Agung, palinggih untuk memuja Sang Hyang Tugu, atau Sang Hyang Ghanapati, sebagai saksi diatas dunia; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan : suci 1 soroh, sorohan 1 soroh, rayunan 1 pajêg, saji 1 soroh; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh; pada hari panglêmêk : japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Méru Tumpang Tiga, disebelah selatan Tugu disebelah utara Gêdong Bata, padharmman beliau mendiang Sirãrya Kuthawaringin; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: suci 1 soroh, sorohan 1 soroh, rayunan 1 pajêg, saji 1 soroh; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Gêdong Bata, disebelah selatan Méru Tumpang Tiga, tempat memuja Sang Hyang Amùrwa Bhumi, Pajênêngan Kawitan, Ida Sang Hyang Pitamãha; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: suci 1 soroh, sorohan 1 soroh, rayunan 1 pajêg, saji 1 soroh, palinggih 1 soroh; pada hari Umanis dan pahing: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Di depan Tugu dan Méru Tumpang Tiga, adalah Balé Pangaruman tempat pasamuhan Bhatãra Bhatãri, disana Bhatara-Bhatari menghisap sari-sari wédãsthawa; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: suci 1 soroh, rayunan 1 pajêg, sorohan 1 soroh, saji 1 soroh; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6. Disebelah selatan Gêdong Bata terletak palinggih Saptapatala, tempat memuja Sang Hyang Anantabhoga; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: suci sêlêm 1 soroh, sorohan sêlêm 1 soroh, saji sêlêm 1 soroh, rayunan 1 pajêg, baléyan 1 soroh (4), pangkonan miwah karangan, tadahan ke samar 1 soroh. Kalau nyatur, ditambah, Sor: guling babangkit 1 soroh, gulingé patut guling kucit. Pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7. Ngrurah Agung, letaknya disebelah selatan Saptapatala, tempat memuja Sang Hyang Indra; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan : japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh, tatumpuk 1 tanding. Pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh; Pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh, jahuman 1 tanding. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ulangi lagi diurut dari timur laut tetapi sekarang ke arah barat, terdapat jajar palinggih sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;8. Limassari, terletak disebelah barat Padma Agung, tempat memuja Sang Hyang Sri Sadana; Jenis-jenis sajen : pada hari piyodalan: sasayut pangambéyan 2 soroh, japitan 2 dulang, pajati 2 soroh, tatumpuk 2 tanding; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 2 dulang, sasayut pangambéyan 2 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 2 dulang, sasayut pangambéyan 2 dulang, jahuman 2 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;9. Limascatu, letaknya disebelah barat Limassari, tempat memuja Sang Hyang Srìdéwì atau Sang Hyang Manik Galih; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: sasayut pangambéyan 2 soroh, japitan 2 dulang, pajati 2 soroh, tatumpuk 2 tanding; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 2 dulang, sasayut pangambéyan 2 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 2 dulang, sasayut pangambéyan 2 soroh, jahuman 2 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;10. Mañjangan Saluwang, disebelah barat Limascatu, tempat memuja Bhatãra Maspahit, atau Sang Hyang Pañcarêsi; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: sasayut pangambéyan 1 soroh; japitan 1 dulang, pajati 1 soroh, tatumpuk 1 tanding; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh; pada hari panglêmêk: japitan 1 dulang, sasayut pangambéyan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada lagi bangunan/palinggih lain, seperti :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;11. Panyimpênan, tempat untuk menyimpan pralingga, prasasti dan lain-lain sejenisnya; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: pajati 1 soroh, tatumpuk 1 tanding; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: pakidêh 1 tanding; pada hari panglêmêk: pakidêh 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;12. Piyasan, tempat menghias pralingga Bhatãra Bhatãrì, disana dipuja Sang Hyang Wênang; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: pulagémbal 1 soroh, baléyan 1 balé utawi 1 soroh, datêngan 1 soroh, pamrêman tumpêng 22, rayunan 1 pajêg, jarimpên 1 pasang. Pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: japitan 1 dulang, sorohan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;13. Hapit Lawang, didepan pamedal uttama mandhala, dikiri dan dikanan, yang dikiri tempat memuja Sang Hyang Mahãkãla, sedangkan yang dikanan tempat memuja Sang Hyang Nandhìswara; Jenis-jenis sajen : pada hari piyodalan: pajati 1 soroh; pada Umanis dan Pahing piyodalan: pakidêh 1 tanding; pada hari panglêmêk: pakidêh 1 tanding, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;14. Balé Kulkul, disebelah barat daya pamedal utama mandala, disana disthanakan Sang Hyang Iswara; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: sorohan 1 soroh, tatumpuk 1 tanding; pada Umanis dan Pahing piyodalan: pakidêh 1 tanding; pada hari panglêmêk: pakidêh 1 tanding, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;15. Pangijêng Karang, terletak dipojok barat laut jaba sisi, disana disthanakan Sang Hyang Dùrgga Manik; jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: pajati 1 soroh; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: pakidêh 1 tanding; pada hari panglêmêk: pakidêh 1 tanding, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;16. L ê b u h, didepan pamedal nista mandhala, disana disthanakan Sang Pañca Kala; Jenis-jenis sajen: pada hari piyodalan: suci 1 soroh, sorohan 1 soroh, baléyan 1 soroh, datêngan 1 soroh; pada hari Umanis dan Pahing piyodalan : pakidêh 1 tanding; pada hari panglêmêk: pakidêh 1 tanding, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adapun jenis-jenis babantên diatas Panggungan, pada hari Piyodalan: suci 1 soroh, pulagémbal 1 soroh, babangkit 1 soroh, tatingkêb 1 soroh, sasantun gêdé soroh pat 1 soroh. Bantên sor, guling bawi, utuh utawi songo, saté kuhung, têgên-têgênan. Pada hari Umanis dan Pahing piyodalan: sasayut pangambéyan 1 soroh; pada hari panglêmêk: sasayut pangambéyan 1 soroh, jahuman 1 tanding.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengenai sajen-sajen selain yang tersebut didepan sesuaikan dengan tempatnya masing-masing menurut sajen yang diperlukan, jangan menyalahi kebiasaan yang telah diwarisi sejak jaman dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikian letak jajar palinggih pura dan upacara aci-aci di Pura Dalem Tugu, tentang pacaruan dan upacara-upacara lainnya bisa juga diadakan sesuai dengan desa kala patra tidak menyimpang dari dresta serta sastra agama.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;S E L E S A I&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam Postingan IV.8 ini disajikan &lt;em&gt;Gagadhuhan &lt;/em&gt;Pura Dalem Tugu yang merupakan lampiran tak terpisahkan dari Raja Purana Pura Dalem Tugu. Dilihat dari struktur isi suatu purana pura, isi &lt;em&gt;Gagadhuhan&lt;/em&gt; ini merupakan Bagian Penutup. Sesuai pakemnya Bagian Penutup suatu purana pura berisi &lt;em&gt;pakeling&lt;/em&gt; tentang hal-hal penting yang dilarang dan yang dibolehkan dan atau yang seharusnya diselenggarakan dan harus diingat/ditaati secara turun-temurun. Oleh karena itu berdasarkan isinya, &lt;em&gt;pakeling&lt;/em&gt; yang terkandung dalam uraian &lt;em&gt;Gagadhuhan &lt;/em&gt;termaksud diatas, pada hakekatnya merupakan suatu &lt;em&gt;Bhisama &lt;/em&gt;yang wajib &lt;em&gt;disungkemin&lt;/em&gt; secara turun-temurun. Kandungan &lt;em&gt;Bhisama &lt;/em&gt;dalam &lt;em&gt;Gagadhuhan&lt;/em&gt; Pura Dalem Tugu tersebut ternyata terdiri dari :&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;A. Teks &lt;em&gt;Bhisama&lt;/em&gt; yang mengandung &lt;em&gt;pakeling &lt;/em&gt;tentang hal-hal yang &lt;strong&gt;dilarang&lt;/strong&gt; dan yang &lt;strong&gt;seharusnya diselenggarakan&lt;/strong&gt; adalah seperti kutipan dibawah ini :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ini sebuah &lt;i&gt;gagadhuhan&lt;/i&gt; (catatan) tentang jajar bangunan/palinggih yang ada di Pura Dalem Tugu, yang telah disucikan dengan upacara yaitu anyapuh angenteg linggih, yang diwarisi sejak jaman dulu, tidak boleh ditambah dan atau dikurangi, sebab telah dipuja oleh para pendeta Siwa Budha dan Bhujangga, sebab kalau ditambah dan atau dikurangi jumlahnya, sangat berbahaya, akan berakibat tidak selamat, selalu bertengkar dengan keluarga, banyak pekerjaan tanpa hasil. Demikian juga upacara aci-acinya jangan sengaja mengurangi, jangan sampai tidak ada aci-aci yang seharusnya diselenggarakan, dalam ukuran nista, madya, utama, mengikuti kebiasaan terdahulu sesuai dengan sastra agama.”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teks &lt;em&gt;Bhisama &lt;/em&gt;dalam Bahasa Indonesia tersebut diatas merupakan terjemahan dari Teks &lt;em&gt;Bhisama &lt;/em&gt;berbahasa Kawi berikut :&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Nihan gagadhuhan kandhaning pajajar pura haneng Dalem Tugu, kang wus sinangaskara pinula-pali, ananapuh angenteg linggih, tinama saking kuna-kuna, tan wenang inguwah-uwuhi, apan wus pinastika de sang sadhaka Siwa Buddha mwang Bhujangga. Apan yan inguwah-uwuhi kwehnya, hila-hila dahat, phalanya apwara tan rahayu, tan surud patukar lawan kadang, wibhuh gawe kurang bhukti. Samangkana juga pangaci-acinya, haywa angurangi, haywa kapegatan aci-aci, den gawenen, nista, madhya, utama, hanuti dresta kuna, mwang sastra agama.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Teks &lt;em&gt;Bhisama&lt;/em&gt; dalam aksara latin berbahasa Kawi tersebut diatas merupakan alih aksara dari Teks &lt;em&gt;Bhisama&lt;/em&gt; dalam aksara Bali berbahasa Kawi).&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;B. Teks &lt;em&gt;Bhisama &lt;/em&gt;yang mengandung &lt;em&gt;pakeling&lt;/em&gt; tentang struktur &lt;em&gt;palinggih&lt;/em&gt;, nama &lt;em&gt;palinggih&lt;/em&gt; besera yang &lt;em&gt;malinggih&lt;/em&gt; dan upakara yang patut disajikan pada hari &lt;em&gt;piyodalan&lt;/em&gt; seperti tercantum pada uraian :&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Jajar &lt;em&gt;palinggih&lt;/em&gt; diurut dari timur-laut ke selatan (&lt;em&gt;Palinggih&lt;/em&gt; nomor 1 s/d 7);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jajar &lt;em&gt;palinggih&lt;/em&gt; diurut dari timur-laut ke barat (&lt;em&gt;Palinggih&lt;/em&gt; nomor 8 s/d 16 beserta uraian selanjutnya sampai selesai).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Untuk melengkapi uraian tentang jajar palinggih seperti dimaksud&amp;nbsp;pada butir 1 dan 2 diatas, pada postingan&amp;nbsp;selanjutnya akan&amp;nbsp;disajikan &lt;strong&gt;Peta Denah Palinggih dan Bangunan di Pura Dalem Tugu, Gelgel, Klungkung.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum mengakhiri catatan tambahan/ulasan tentang postingan IV.8 ini, perlu dipermaklumkan bahwa dalam acara &lt;em&gt;Ngewacen&lt;/em&gt; Raja Purana Pura Dalem Tugu pada tanggal 19 Pebruari 2006, yang dibaca hanya Bagian Manggala dan Bagian Isi. Sedangan Bagian Penutup yang berwujud &lt;em&gt;Gagadhuhan &lt;/em&gt;(yang merupakan lampiran tak terpisahkan dari Raja Purana&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Pura Dalem Tugu) tidak ikut dibaca dalam acara termaksud. Oleh karena itu substansi postingan IV.8 ini tidak terdapat dalam Video Raja Purana PDT-01 s/d 07.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan IV.8 ini mengakhiri uraian beserta catata-catatan tambahan/ulasan dari penulis tentang Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia Dari Teks Raja Purana Pura Dalem Tugu. Postingan IV.1 s/d Postingan IV.8 bersumber dari Buku Alih Aksara Dan Terjemahan Raja Purana Pura Dalem Tugu, Pura Kawitan/Padharman Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh halaman 39-52.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan Anda ke Blog-ku ini. Bila berkenan, jangan lupa berkomentar untuk penyempurnaan Blog yang saya kelola ini. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:27579f3a-e775-4ee0-9687-ebdf7fc1a5af" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-10" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-10&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-3296987561959865772?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/3296987561959865772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/iv8-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/3296987561959865772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/3296987561959865772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/iv8-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.8 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-360628850741601256</id><published>2011-01-19T22:15:00.000+08:00</published><updated>2011-01-19T22:15:27.134+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.7 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Setelah lama waktu berlalu, tidak diketahui waktunya yang pasti, beliau Kyayi Agung Bandhesa Gelgel Kubontubuh yang dikenal juga bernama Kyayi Klapodhyana, diuji kesetiaannya, keperwiraannya serta ketangkasannya, oleh Sri Smara Kepakisan, untuk melawan (membunuh) macan hitam di daerah Blangbangan atas permintaan raja di sana, karena macan itu tiada hentinya membuat keonaran negeri itu. Setelah mendengar perintah raja, bangkitlah keberaniannya, karena beliau memang mumpuni dan beliau selalu setia dan bijaksana. Dengan sopan dan santun beliau menyatakan tidak menolak perintah Dalem sungguh-sungguh niat beliau untuk mengabdi pada tuannya. Keesokan harinya dengan segera beliau berangkat menaiki perahu, diikuti oleh prajurit yang telah dipilih, beliau juga tidak lupa bersembahyang di Pura Dalem Tugu mohon anugrah kehadapan leluhur yang di“dharmma”kan (disthanakan) di sana. Beliau diberi senjata oleh Dalem, berupa tulup (sumpitan) yang tombaknya berbentuk &lt;i&gt;biring agung,&lt;/i&gt; kemudian bernama Macan Guguh. Tidak diceritakan dalam perjalanan disebutkan beliau telah sampai di sebuah hutan tempat harimau itu. Dijumpainyalah harimau hitam itu mengendap-endap dibawah pohon yang besar. Dengan segera bersiap Kyayi Klapodhyana untuk memerangi harimau hitam besar itu, tidak gentar Kyayi Bandesa, akhirnya harimau itu lari. Saat itu Kyayi Klapodhyana memusatkan pikiran (&lt;i&gt;hangregep&lt;/i&gt;), dihembuskan &lt;i&gt;punglu batur bhumi&lt;/i&gt; (peluru sumpitan) disertai penunggalan pikiran mengucapkan mantra untuk membunuh musuh. Beliau membidik dengan sumpitan pemberian Dalem sekali kena tembus lambung harimau itu dan akhirnya mati tanpa perlawanan. Setelah harimau itu mati, Kyayi Klapodhyana dengan bala prajuritnya kembali ke Bali langsung menghadap Dalem di Gelgel, dengan mempersembahkan kulit macan itu sebagai tanda bukti keberhasilannya.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sangat senang hati Dalem, beliau makin yakin, bahwa Kyayi Gusti Klapodhyana benar-benar keturunan ksatria Deha dari Sri Hairlanggya seperti tersurat dalam prasasti (Candri Sawalan) yang dahulu dibaca pada waktu Kyayi Klapodhyana berselisih paham dengan Pangeran Nyuhaya yang tidak berkenan bila anaknya yaitu I Gusti Ayu Adhi diambil (dinikahi). Sekarang Kyayi Klapohyana telah berhasil mengalahkan musuh di Blangbangan, berupa macan hitam. Oleh karena itu sekarang ada anugerah Dalem Sri Smara Kepakisan, demikian bunyi anugrahnya, ”Anugerahku Dalem Ketut, kepada Patih Klapodhyana dan seketurunan Arya Kuthawaringin berupa Aji Purana ini. Dimanapun berada tidak dikenai &lt;i&gt;pikul-pikulan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;tategenan&lt;/i&gt;, seluruh keturunannya patut mengabdi pada raja, berhak menjabat untuk mewakili negeri, ditegaskan lagi tidak dikenai &lt;i&gt;tategenan,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;cacangkingan, ambeng-ambengan, sasaradan, papilyan, pacatuan,&lt;/i&gt; dan tidak dapat dikenakan &lt;i&gt;dhadhawuhan, atag-atagan,&lt;/i&gt; dan tidak kena &lt;i&gt;pejah punjang panjing.&lt;/i&gt; Jika ada kesalahan yang harus dijatuhi hukuman mati oleh Dalem, patut diusir dari kerajaan selama satu bulan. Jika kesalahannya harus dijatuhi hukuman “diusir”, diberi ampun oleh yang berkuasa untuk seluruh keturunan Kyayi Kuthawaringin Klapodhyana. Dan jika ada yang meninggal dunia pada waktu melaksanakan upacara &lt;i&gt;atiwa-tiwa&lt;/i&gt; (ngaben) untuk usungan jenazah boleh memakai dasar badhe, badhe tumpang tujuh, &lt;i&gt;mataman&lt;/i&gt; &lt;i&gt;punggel, kapas maturut, utama turut 9, madhya turut 7, nista turut 5, mahuncal, mapering sidapur, wesma silunglung, makajang, makalasa, tatak beha 9 tebih, bale tegeh mahundag 3, patulangan macan selem, &lt;/i&gt;memakai &lt;i&gt;tirtha pangentas, utama &lt;/i&gt;dengan sesari 16.000 (kepeng), &lt;i&gt;madhya &lt;/i&gt;dengan sesari 8.000 (kepeng) dan &lt;i&gt;nista&lt;/i&gt; dengan sesari 4.000 (kepeng). Dan apabila yang meninggal menjadi pendeta, melaksanakan pemujaan upacara ritual, berhak menggunakan tata aturan selengkapnya, seperti yang dipergunakan untuk pendeta Brahmana, &lt;i&gt;mapatrang,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;upadesa,&lt;/i&gt; jenazahnya dibungkus dengan daun pisang &lt;i&gt;kahikik&lt;/i&gt;, lengkap menurut tata upacaranya. Demikian ketegasan anugerahku Dalem Ketut kepadamu Patih Klapodhyana dan seluruh anak keturunan Arya Kuthawaringin. Janganlan melanggar siapapun memegang kekuasaan negeri ini atas anugerahku, dan demikian pula semua keturunan Klapodhyana. Jika melanggar kamu akan kena kutuk Dewa Brahma dan surutlah kesaktian dan wibawamu.” Poma. Demikianlah anugerah beliau Sri Smara Kepakisan.-&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam postingan IV.7 ini diuraikan kisah Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel-Kubontubuh, atas perintah Dalem Ketut Smara Kepakisan ke Blambangan untuk membunuh &lt;em&gt;Macan Selem. &lt;/em&gt;Perintah Dalem berhasil dilaksanakan, Dalem Ketut Smara kepakisan menganugrahkan Aji Purana kepada Patih Klapodyana dan saudara-saudaranya semua saketurunan Sirarya Kuthawaringin. Dalam panugrahan Dalem Ketut Smara Kepakisan termaksudlah tercantum ketentuan-ketentuan antara lain tentang kewenangan untuk menggunakan unsur-unsur kelengkapan upacara pada waktu melaksanakan upacara &lt;i&gt;atiwa-tiwa&lt;/i&gt; (ngaben). Diantara unsur-unsur termaksud yang sifatnya sangat spesifik adalah &lt;i&gt;petulangan&lt;/i&gt; yang berwujud &lt;i&gt;Macan Selem &lt;/i&gt;(Harimau Hitam).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum mengakhiri catatan tentang postingan IV.7 ini dapat dipermakluman bahwa Video Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-07 sudah berhasil ditayangkan dalam Blog-ku ini sejak hari ini tanggal 19 Januari 2011. Untk dimaklumi substansi postingan IV.7 bagian awal ada di Video Raja Purana PDT-06 sedangkan sisanya ada di Video Raja Purana PDT-07. Dengan ditayangkannya Video Raja Purana PDT-07 ini, lengkaplah sudah video dokumentasi rekaman acara &lt;i&gt;ngewacen &lt;/i&gt;Raja Purana Pura Dalem Tugu yang diselenggarakan dalam suatu pesamuan-pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin di Wantilan Pura Dalem Tugu pada tanggal 19 Pebruari 2006, kini seluruhnya sudah bisa diakses di Blog-ku ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah yang dapat disajikan dalam postingan kali ini, semoga ada manfaatnya. Postingan berikut yang akan menyusul masih tetap memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.8.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Bila berkenan, jangan lupa berkomentar untuk penyempurnaan. Sampai jumpa pada postingan berikut.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:aafccefc-2cd9-4085-80b2-59887cdbf767" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-09" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-09&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-360628850741601256?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/360628850741601256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/iv7-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/360628850741601256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/360628850741601256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/iv7-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.7 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-8025688678952414947</id><published>2011-01-06T22:03:00.001+08:00</published><updated>2011-01-06T22:21:49.877+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.6 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Adapun Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, berpindah tempat tinggal membangun istana kepatihan yang baru di sebelah baratdaya istana beliau terdahulu, di sebidang tegalan (Abyan Kawan) yang ditanami pohon kelapa di sebelah utara Pura Dalem Jagat kahyangan tempat pemujaan beliau. Dalam waktu singkat selesai pembangunan istananya yang dibangun menurut tata aturan istana yang disebut Istana Kepatihan, beserta &lt;i&gt;Pamrajan&lt;/i&gt;, tidak ada kekurangannya lengkap dengan tata upacara menurut &lt;i&gt;widhi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;widhana&lt;/i&gt; untuk upacara sebuah kahyangan. Mulai saat itu Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel diberi nama &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kubontubuh atau Klapodhyana&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sehingga di masyarakat lebih dikenal dengan nama &lt;b&gt;I Gusti Kubontubuh&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;Kyayi Gusti Klapodhyana&lt;/b&gt; semenjak beliau pindah istana yang berlokasi di &lt;i&gt;abian kawuhan&lt;/i&gt; (Abian Kawan). Kemudian atas restu Dalem Smara Kepakisan, dan didukung para arya semua dibangunlah “&lt;i&gt;Tugu&lt;/i&gt;” sebagai sthana Sang Hyang Tugu, beliaulah Sang Hyang Ghanapati, sebagai saksi dunia ini, karena berhasil mendapat kesepakatan disertai “Dewasaksi” kesetiaan akan janji membela negeri bila ditimpa mara bahaya pada saat menjelang pengangkatan Ida I Dewa Ketut Ngulesir sebagai pelindung rakyat Bali yang bergelar Dalem Ketut Smara Kepakisan. Adapun Tugu itu dibangun di sebelah utara Gedong Bata, di Pura Dalem Jagat. Di Pura Dalem Jagat itu pula, tempat “&lt;i&gt;Dhinarmma&lt;/i&gt;” roh suci almarhum Siraryya Kuthawaringin, yaitu di pura yang dibangun oleh almarhum dahulu. Oleh karena itu Dalem Ketut Smara Kepakisan menekankan (mengingatkan dengan sangat) supaya Kyayi Klapodhyana beserta saudaranya semua agar me- &lt;i&gt;ngupapir&lt;/i&gt;a Pura Dalem Jagat tersebut dengan segala upacaranya. Semenjak dibangunnya palinggih Tugu itulah yang menyebabkan Kahyangan Dalem Jagat itu disebut &lt;i&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/i&gt; untuk selanjutnya. Kemudian akhirnya dibangun pula sebuah &lt;i&gt;meru tumpang tiga&lt;/i&gt; oleh Kyayi Klapodhyana, di sebelah utara Gedong Bata, di sebelah selatan Tugu, sebagai “&lt;i&gt;Padharmman&lt;/i&gt;” Siraryya Kuthawaringin.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diceritakan Dalem Ketut Smara Kepakisan teringat pada anak-anaknya Dalem Tarukan, beliau berkeinginan agar mereka berkenan menghadap Dalem. Beberapa kali telah dikirim utusan pada mereka, namun tidak berhasil. Pendekatan kekeluargaan sudah diupayakan tetapi tidak pula berhasil sehingga akhirnya timbul peperangan sengit. Pada akhirnya Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel Kubontubuh, bersama prajurit dan tandamanteri menyerang desa-desa dan dusun tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim. Semua desa tersebut akhirnya takluk dan putera-putera Dalem Tarukan tunduk kepada titah Dalem untuk datang menghadap Dalem di Gelgel. Mulai saat itu Sirarya Parembhu yang bertempat tinggal di Bubungtegeh, setiap saat pulang ke Gelgel bersama-sama ikut memelihara kahyangan tempat pemujaannya sejak dahulu yaitu Pura Dalem Tugu. Tidak diceritakan lagi hal itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Butir-butir peristiwa sejarah yang perlu disimak dari uraian dalam postingan IV.6 diatas beserta makna yang terkandung didalamnya terutama yang terkait dengan unsur-unsur bagian isi suatu purana pura, pada intinya adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena Istana Kepatihannya diserahkan kepada Dalem, Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamerajan di Tegalan yang ditanami banyak pohon kelapa, disebelah utara Kahyangan Dalem Jagat &lt;em&gt;panyiwian &lt;/em&gt;beliau. Kini Pamerajan ini, sesuai status dan fungsinya pesamuan pusat khusus menetapkan sebutannya menjadi : Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh. Lokasinya disebelah utara Pura Dalem Tugu di Gelgel-Klungkung.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena istana Kepatihan yang baru itu berlokasi ditegalan yang ditanami banyak pohon kelapa, semenjak itu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel juga bergelar I Gusti Kubontubuh dan atau Kyayi Gusti Klapodhyana. Perlu dicatat bahwa penulisan nama-nama atau gelar-gelar : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi (Gusti) Klapodhyana atau I Gusti Kubontubuh dalam teks Raja Purana Pura Dalem Tugu dilakukan secara runut-kronologis sesuai dengan tahapan waktu (sejarah) munculnya nama/gelar termaksud. Sedangkan penulisan nama-nama atau gelar-gelar tersebut dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007 tidaklah runut-kronologis seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan restu Dalem Ketut Smara Kepakisan serta dukungan para arya semua, Kyayi Gusti Klapodhyana membangun Palinggih Tugu (sthana Sang Hyang Tugu atau Sang Hyang Ghanapai, sebagai saksi diatas dunia) di sebelah utara palinggih Gedong Bata atau di sebelah selatan palinggih Padma Agung di Kahyangan Dalem Jagat dimana sebelum berangkat ke Desa Pandak dilakukan upacara &lt;em&gt;pedewasaksian &lt;/em&gt;(ikrar atas kesepakatan) untuk memjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Semenjak dibangunnya palinggih Tugu itulah Kahyangan Dalem Jagat yang didirikan oleh Almarhum Sirarya Kuthawaringin itu lalu disebut Pura Dalem Tugu hingga kini. Pada zamannya Palinggih Tugu termaksud &lt;em&gt;disungkemin&lt;/em&gt; oleh para Arya yang ikut berikrar (&lt;em&gt;medewasaksi&lt;/em&gt;) seperti diuraikan diatas sehingga sampai kini masih ada pratisentana dari Arya selain Arya Kuthawaringin yang masih &lt;em&gt;ngelungsur Tirtha&lt;/em&gt; di Pura (Dalem) Tugu pada saat menyelenggarakan upacara tertentu di Pamerajannya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalem Ketut Smara kepakisan mengingatkan Kyayi Gusti Klapodhyana beserta saudara-saudaranya semua supaya me-&lt;em&gt;ngupapira &lt;/em&gt;Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Beberapa lama kemudian Kyayi Gusti Klapodhyana mamugar palinggih yang sebelumnya masih berbentuk &lt;em&gt;bebaturan &lt;/em&gt;menjadi palinggih Meru Tumpang Tiga sebagai Padharman Sirarya Kuthawaringin.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;I Gusti Kubontubuh bersama prajurit dan tanda mantrinya berhasil menundukkan desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim sehingga akhirnya mereka tunduk pada &lt;em&gt;titah &lt;/em&gt;Dalem untuk datang menghadap Dalem di Gelgel. Keberhasilan dimaksud memungkinkan Kyayi Gusti Parembu (adik Kyayi Gusti Klapodhyana) yang sebelumnya bermukim di Bubungtegeh(termasuk desa yang ditundukkan seperti dimaksud diatas), setiap saat pulang ke Gelgel ikut &lt;em&gt;ngupapira &lt;/em&gt;kahyangan pemujaannya sejak dahulu yaitu Pura Dalem Tugu. Sebagaimana dikisahkan dalam Babad, Kyayi Gusti Parembu dua kali diperintahkan (oleh Dalem Ile) mengejar Dalem Tarukan tetapi tidak berhasil sehingga oleh karena itu beliau bermukim di Bubungtegeh.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum mengakhiri beberapa catatan tambahan/penegasan dalam postingan IV.6 ini dapat diinformasikan bahwa Video Ngewacen Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-05 sudah berhasil ditayangkan dalam Blog-ku ini sejak tanggal 5 Januari 2011. Sedangkan Video Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-06 telah pula berhasil ditayangkan sejak hari ini tanggal 6 Januari 2011. Untk dimaklumi substansi postingan IV.6 bagian awal ada di Video Raja Purana PDT-05, sedangkan bagian akhirnya ada di Video Raja Purana PDT-06.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah yang dapat disajikan dalam postingan kali ini, semoga ada manfaatnya. Postingan berikut yang akan menyusul masih tetap memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.7.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Bila berkenan, jangan lupa berkomentar untuk penyempurnaan. Sampai jumpa pada postingan berikut.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:9436353e-464c-450a-871f-5224088332e1" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-08" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-08&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-8025688678952414947?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/8025688678952414947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/adapun-kyayi-gusti-agung-bandesa-gelgel.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8025688678952414947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8025688678952414947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2011/01/adapun-kyayi-gusti-agung-bandesa-gelgel.html' title='IV.6 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-392318942492799830</id><published>2010-12-23T07:13:00.000+08:00</published><updated>2010-12-23T07:13:16.517+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.5 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekarang diceritakan di Samprangan, Sri Aghra Samprangan (Dalem Ile), beliau tidak cakap mengurus negara, tidak memperhatikan prilaku sebagai seorang pemimpin, karena sifat beliau yang suka bersolek, bisa-bisa akan hancur negerinya, para menteri dan pejabat negara tidak mampu menyadarkan beliau Dalem. Akhirnya berpikir-pikir Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, sangat keras keinginannya untuk mensejahterakan negaranya segeralah beliau mohon restu dewata (&lt;i&gt;handewasraya&lt;/i&gt;) di Pura Dalem Jagat tempat pemujaan beliau.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba beliau mendengar sabda angkasa yang menyuruh beliau menghadap I Dewa Ketut Ngulesir. Atas kejadian itu akhirnya beliau mengundang para menteri dan pejabat istana, &lt;i&gt;bahudanda&lt;/i&gt;, pemuka masarakat yang sehaluan dengan beliau lalu bermusawarah di Pura Dalem Jagat dimana sebelumnya beliau memuja. Dalam pertemuan itu dijelaskan mengenai sabda dari langit yang didengar oleh beliau. Pada waktu itu terjadi permusawaratan yang menghasilkan permufakatan yang secara aklamasi mendukung keinginan Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel. Saat itu dilakukan upacara &lt;i&gt;Padewasaksian&lt;/i&gt;, setelah itu langsung menuju desa Pandak. Tidak diceritakan dalam perjalanan, beliau telah sampai disana, bertemu dengan Ida I Dewa Ketut Ngulesir yang sedang dihadap oleh orang-orang Pandak sama-sama penggemar judi. Tidak ada rasa ragu dalam hati, dengan hati tulus ikhlas mengabdi, dan senantiasa memikirkan ketenteraman serta kesejahteraan rakyat, dengan sangat Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel memohon agar Ida I Dewa Ketut Ngulesir bersedia menjadi raja. Banyak hal-hal yang disampaikan oleh Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, akhirnya tidak kuasa beliau menolak, dan akhirnya beliau bersedia bersama-sama kembali ke Gelgel. Pada waktu itu I Gusti Agung Bandesa Gelgel menyerahkan istana kepatihannya untuk dipakai menjadi istana Dalem. Sejak itulah Dalem bertakhta di Gelgel, yang kemudian bernama &lt;i&gt;Swecalinggarsapura&lt;/i&gt;, beliau dinobatkan dengan gelar Dalem Ketut Sri Smara Kapakisan pada tahun Saka 1305 (&lt;i&gt;panca windu&lt;/i&gt; &lt;i&gt;pramananing jagat)&lt;/i&gt; atau tahun 1383 Masehi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan IV.5 ini, seperti dapat disimak pada uraian diatas, intinya menceriterakan tentang peran Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel (sebagai Patih Uttama yang telah menggantikan ayahanda beliau yaitu Sirarya Kuthawaringin karena telah lanjut usia) dalam mengambil inisiatif untuk menyelamatkan kerajaan (Samprangan) karena ketika itu bertakhta Dalem Ile (setelah ayahanda beliau yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat pada tahun Saka 1302 atau 1380 Masehi) yang tidak cakap mengurus negara.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau secara ringkas dirunut rangkaian langkah penyelamatan negara yang dilakukan adalah : &lt;em&gt;ndewasraya &lt;/em&gt;di Kahyangan Dalem Jagat &amp;gt; mendengar &lt;em&gt;pawisik &lt;/em&gt;supaya menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa Pandak &amp;gt; menyelenggarakan permusyawaratan dengan pejabat-pejabat kerajaan di Kahyangan Dalem Jagat &amp;gt; permusyawaratan aklamasi sepakat untuk menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir untuk dinobatkan sebagai Dalem pengganti Dalem Ile &amp;gt; melakukan upacara &lt;em&gt;padewasaksian&lt;/em&gt; (ikrar) atas kesepakatan termaksud bertempat di Kahyangan Dalem Jagat &amp;gt; berangkat menuju Desa Pandak &amp;gt; kembali ke Gelgel bersama Ida I Dewa Ketut Ngulesir &amp;gt; Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel menyerahkan Istana Kepatihannya untuk dipakai menjadi istana Dalem &amp;gt; Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan pada tahun Saka 1305 atau 1383 Masehi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena peristiwa sejarah inilah Kahyangan Dalem Jagat yang kemudian bernama Pura Dalem Tugu juga memiliki fungsi sebagai saksi sejarah berdirinya Kerajaan Gelgel. Oleh karena itulah &lt;em&gt;pangelingsir &lt;/em&gt;Puri Agung Klungkung ikut berpartisipasi manakala &lt;em&gt;karya &lt;/em&gt;diselenggarakan di Pura Dalem Tugu seperti yang penulis alami/saksikan ketika penyelenggaraan Karya Pamungkah, Pangenteg Linggih Lan Mapeselang dengan puncak karya pada tanggal 29 Juni 1999.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Video dokumentasi penyelenggaraan karya termaksud dengan judul Movie Video-01, Movie Video-02 dan Movie Video-03 Cuplikan Karya di Pura Dalem Tugu, 29 Juni 1999 disajikan dalam Blog-ku ini. Anda setiap saat akan bisa mengaksesnya. Dalam Movie Video-01 Anda akan dapat menyaksikan &lt;em&gt;pangelingsir &lt;/em&gt;Puri Agung Klungkung ketika itu, Dokter Ida Tjokorda Rai, memanjat palinggih Padma Agung di Pura Dalem Tugu, &lt;em&gt;nyarengin mendem pedagingan&lt;/em&gt; dalam rangkaian &lt;em&gt;eed Karya Pamungkah &lt;/em&gt;pada tanggal 25 Juni 1999.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum mengakhiri uraian dalam postingan IV.5 ini, ijinkanlah penulis mempermaklumkan kepada para pengunjung setia dan para pengunjung baru Blog-ku ini bahwa untuk melengkapi sajian Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia Dari Teks Raja Purana Pura Dalem Tugu ini, sejak tanggal 15 bulan ini telah ditayangkan Video Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-01 s/d 04. Video tersebut merupakan hasil editing ulang dari video dokumentasi dari kegiatan/acara &lt;em&gt;Ngewacen &lt;/em&gt;Raja Purana Pura Dalem Tugu yang telah diselenggarakan dalam Pesamuan Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin pada hari &lt;em&gt;Banyupinaruh,&lt;/em&gt; 19 Pebruari 2006 bertempat di Wantilan Pura Dalem Tugu. Seperti tampak dalam video tersebut yang dimohoni bantuan untuk&amp;nbsp;&lt;em&gt;ngewacen&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;negesin&lt;/em&gt; dalam acara termaksud adalah Ida I Dewa Gde Catra Cs.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk memenuhi persyaratan dari hosting website video termaksud yang membatasi durasi video yang dapat diupload&amp;nbsp;maksimum 15 menit, maka video dokumentasi yang terrekam dalam 2 keping CD diedit ulang menjadi 7 video klip dengan durasi maksimum 15 menit. Seperti sudah diuraikan diatas dari 7 video klip itu baru berhasil ditayangkan dalam Blog-ku ini 4 buah. Video Raja Purana PDT-01 mengandung substansi yang sama dengan postingan IV.1. Video Raja Purana PDT-02 mengandung substansi postingan IV.2 awal. Dalam Video Raja Purana PDT-03 dapat dijumpai substansi postingan IV.2 akhir dan IV.3 awal. Dalam Video Raja Purana PDT-04 dapat ditemui substansi postingan IV.3 akhir dan IV.4 awal. Sedangkan substansi&amp;nbsp;postingan IV.5 ini dan substansi postingan IV.4 akhir, baru akan dijumpui dalam Video Raja Purana PDT-05 yang akan ditayangkan menyusul.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harap dimaklumi bahwa teks dalam lontar yang dibaca dalam video tersebut berbahasa kawi dan &lt;em&gt;ditegesin&lt;/em&gt; dalam Bahasa Bali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah yang dapat disajikan dalam postingan kali ini, semoga ada manfaatnya. Postingan berikut yang akan menyusul masih tetap memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.6.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Bila berkenan, jangan lupa berkomentar untuk penyempurnaan. Sampai jumpa pada postingan berikut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:e354edf3-ea88-4050-afcd-5966084d85de" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-07" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-07&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penulis,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-392318942492799830?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/392318942492799830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/12/iv5-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/392318942492799830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/392318942492799830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/12/iv5-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.5 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-5061315169566388856</id><published>2010-12-05T05:56:00.000+08:00</published><updated>2010-12-05T05:56:41.416+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.4 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa lama setelah Bali takluk ada pembicaraan antara Patih Gajah Mada dan Arya Dhamar atas saran Kryan Pasunggrigis, lalu dikumpulkan para Arya itu, masing-masing ditugaskan sebagai penguasa wilayah di tempat yang berbeda-beda. Sirarya Kuthawaringin bertugas di Gelgel; Sirarya Kenceng di Tabanan; Sirarya Belog di Kabakaba; Sirarya Dhalancang di Kapal; Sirarya Blentong di Pacung; Sirarya Sentong di Carangsari; Sirarya Kanuruhan Singhasardula di Tangkas. Setelah selesai memberikan tugas pada para Arya semua, Patih Gajah Mada bersama Arya Dhamar lalu kembali ke Jawa ikut serta Pasunggrigis yang telah menjadi tawanan. Kita lewati dulu hal itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diceritakan sekarang yang bernama Sirarya Kuthawaringin beliau keturunan utama, dari kesatria Deha, beliau putera Sirarya Kuthawandira, cucu dari Sri Jayawaringin. Adapun Sri Jayawaringin putera dari Sri Siwawandira cucu dari Sri Jayabhaya, dan sebagai buyut dari Sri Erlangga. Jadi masih satu turunan dengan Sri Ratna Bhumibanten yang menjadi raja di Bali, karena beliau keturunan Anak Wungsu adik Sri Hairlanggya (Erlangga) putera dari Sri Udayana Warmadewa.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengenai Sirarya Kuthawaringin beliau sangat pandai dan bijaksana, akhli dalam ilmu pemerintahan, sangat pintar memikat hati masarakat, teguh satu kata dengan perbuatan, tiada henti-hentinya mengusahakan kesejahteraan rakyat, tidaklah salah beliau diberi kedudukan sebagai &lt;b&gt;Manca Agung&lt;/b&gt;. Beliau dapat mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian di seluruh wilayah Kemancaan Agung yang meliputi desa-desa seperi Gelgel, Kamasan, Tojan sampai ke pesisir Klotok, Dukuh Nyuhaya, Kacangpawos, Siku sampai Klungkung. Setelah lama beliau di Gelgel lalu beliau membangun istana kepatihan, karena beliau seorang Amanca Agung merangkap Demung. Didirikan pula kahyangan tempat memuja Sang Hyang Amurwabhumi, di selatan desa yang disebut pula &lt;b&gt;Dalem Jagat&lt;/b&gt;. Disanalah beliau mensthanakan Sang Hyang Wisesa, dalam prabawanya sebagai Sang Hyang Amurwabhumi. Sirarya Kuthawaringin diberi tugas menjadi Adhipati, Amanca Agung merangkap Demung mendampingi Sri Aji Wawurawuh (Sri Kresna Kapakisan), juga merangkap sebagai Tumenggung. Beliau menurunkan putera empat orang yang tertua bernama I Gusti Agung Bandesa Gelgel, yang menggantikan ayahnya. Adiknya bernama Kyayi Gusti Parembhu, yang ketiga bernama Kyayi Gusti Candhi, dan yang paling bungsu bernama Ni Gusti Stri Waringin diperistri oleh Dalem Ketut Kresna Kapakisan. Dari perkawinan ini lahir anak laki-laki tunggal yang bernama Ida I Dewa Tegalbesung. Kita lewati dulu hal itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari uraian dalam postingan IV.4 diatas yang relevan untuk disimak lebih lanjut dalam rangka untuk memahami sejarah keberadaan pura yang kemudian dikenal dengan nama Pura Dalem Tugu adalah, kepertama : Jabatan Sirarya Kuthawaringin. Sepeti telah diuraikan diatas, sebelum ada Dalem bertakhta di Bali, beliau menjabat Amanca Agung berkedudukan di Gelgel. Setelah Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Kepertama) bertakhta di Bali (Samprangan), disamping sebagai Amanca Agung, Sirarya Kuthawaringin,&amp;nbsp;juga merangkap jabatan Demung, Tumenggung dan Adipati. Kedua, dalam jabatan seperti itulah setelah beberapa lama berkedudukan di Gelgel, Sirarya Kuthawaringin membangun Kahyangan Dalem Jagat (Dalem Suci) di Gelgel, sthana Sang Hyang Amurwa Bhumi. Dalam proses sejarah selanjutnya, melalui uraian pada postingan-postingan selanjutnya, akan terungkap bahwa Kahyangan Dalam Jagat (Dalem Suci) inilah yang merupakan cikal-bakalnya Pura Dalem Tugu. Dengan memahami hal-hal yang telah diuraikan didepan, kita akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siapa tokoh pendiri Pura Dalem Tugu ?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengapa Pura Dalem Tugu berlokasi di Gelgel ?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kapan Pura Dalem Tugu didirikan ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah yang bisa disajikan dalam postingan kali ini. Postingan berikut yang akan menyusul memakai judul yang sama tetapi dengan kode IV.5.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Bila berkenan, jangan lupa berkomentar untuk penyempurnaan. Sampai jumpa pada postingan berikut.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:4280f0a6-2a18-4f23-b7ba-2dc02e019d1e" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-06" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-06&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-5061315169566388856?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/5061315169566388856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/12/iv4-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/5061315169566388856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/5061315169566388856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/12/iv4-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.4 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-7057062756566043042</id><published>2010-11-28T05:29:00.000+08:00</published><updated>2010-11-28T05:29:19.810+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.3 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Lama-kelamaan waktu telah berlalu, bertakhtalah Sri Gajawahana yang bergelar Sri Ratna Bhumibanten dan Sri Tapolung yang disebut oleh rakyatnya, beliau sangat pandai, bijaksana, berwajah tampan, sangat susila dan dermawan seolah-olah Dewa Asmara menjelma. Beliau tidak pernah lupa melaksanakan &lt;i&gt;dewa yadnya&lt;/i&gt; memuja leluhur (&lt;i&gt;pitra yadnya&lt;/i&gt;) oleh karenanya sangat tenteramlah bumi Bali waktu itu. Adapun beliau didampingi seorang patih sebagai pemuka Bali yang bernama Ki Pasunggrigis, sangat cekatan dalam pemerintahan, sakti dan berbudi luhur, dan beliau Kebo Iwa, perawakan beliau tinggi besar tidak seperti orang kebanyakan, beliau akhli teknik pembangunan (&lt;i&gt;asta kosala kosali&lt;/i&gt;) sangat perwira, tidak dapat dilukai dengan senjata tajam buatan pandai besi. Beliau didukung juga oleh para tanda menteri yang memerintah di semua desa.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada masa pemerintahan Sri Ratna Bhumibanten di Bali, beliau tidak mau takluk pada raja Majapahit, hal ini menyebabkan tidak senang hati Sri Maharaja Patni (Baginda Raja Putri) di Majapahit. Beliau akhirnya memerintahkan patih Rakryan Madha, merancang tipu muslihat untuk menyerang kerajaan Bali. Patih Kryan Madha telah mengetahui kesaktian dari Ki Kebo Taruna (Kebo Iwa), itulah yang direncanakan daya upaya untuk memudahkan kematiannya. Setelah itu diseranglah Pulau Bali dari tiga penjuru, pada tahun Saka 1265 atau tahun 1343 Masehi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang menyerang dari utara adalah Sirarya Dhamar, Sirarya Kutawaringin, Sirarya Sentong, disertai prajurit pilihan semua. Yang menyerang dari arah baratdaya yaitu Sirarya Kenceng dan Sirarya Belog dan Sirarya Kanuruhan Singasardula serta Sirarya Panghalasan, diiringi prajurit semua. Setelah Bali bagian utara, baratdaya, serta sebelah timur Tolangkir dapat dikalahkan, sangat kesal hati Patih Gajahmada karena Pasunggrigis masih tetap mempertahankan kerajaan Bali. Saat itulah Patih Mada mengadakan pembicaraan mencari muslihat untuk dapat menundukkan Pasunggrigis tanpa menggunakan senjata. Setelah disepakati upaya yang akan dilaksanakan, pergilah mereka bersama-sama menghadap Pasunggrigis tanpa membawa senjata, dengan membawa bendera putih sebagai tanda tunduk (menyerah) karena demikianlah etika dalam peperangan. Tidak ragu-ragu Pasunggrigis, hal itu menyebabkan beliau dipenjara akibat kelicikan tipu muslihat musuh yang sangat licik. Akhirnya kalahlah kerajaan Bali kemudian dikuasai oleh Majapahit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan IV.3 ini, merupakan kelanjutan dari postingan IV.2 yang lalu, menyajikan uraian tentang peristiwa sejarah yang dikenal dengan nama : Ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang berhasil menaklukkan Bali pada tahun saka 1265 atau tahun 1343 Masehi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peristiwa sejarah inilah yang mengantarkan para arya yang ikut berperan dalam Ekspedisi Gajah Mada termaksud, termasuk Sirarya Kuthawaringin, akhirnya mendapat penugasan sebagai penguasa wilayah di Bali atas nama Kerajaan Majapahit. Di wilayah mana Sirarya Kuthawaringin ditugaskan sebagai penguasa wilayah dan kapan beliau membangun Dalem Jagat (Dalem Suci) yang ternyata merupakan cikal-bakal dari pura yang kemudian menjadi pura yang akhirnya di kenal dengan nama Pura Dalem Tugu, akan disajikan dalam postingan-postingan selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan berikutnya yang akan menyusul memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.4. Terimakasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Sampai jumpa pada postingan berikut.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:5fd5a8f8-f9a0-4d55-ade1-25bbcd451b99" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-05" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-05&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;( I Made Pageh Suardhana )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-7057062756566043042?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/7057062756566043042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/iv3-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/7057062756566043042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/7057062756566043042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/iv3-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.3 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-6471522721199320897</id><published>2010-11-21T07:10:00.000+08:00</published><updated>2010-11-21T07:10:11.295+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.2 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Diceritakan lagi pada masa dahulu kala, ada seorang raja dari pulau Jawa datang ke Bali, beliau bernama Sri Dalem Wirakesari Warmadewa. Beliau beristana di lereng Gunung Tolangkir. Istana beliau bernama Kahuripan sangat terkenal perbawanya di Bali dan Pamrajan beliau bernama Salonding sebagai tempat pemujaan, oleh karena itulah beliau juga diberi nama &lt;b&gt;Dalem Salonding&lt;/b&gt;. Beliau menjadi raja di Bali sangat disegani, tidak kurang apapun, berbudi luhur, beliau yang menata Sad Kahyangan di Bali seperti &lt;b&gt;Panataran Agung Besakih&lt;/b&gt;, Pucak Lempuyang, Huluwatu, Watukaru, Hairjeruk, Panataran Pejeng. Adapun Pura Besakih, sebagai Panataran Agung dikelilingi dengan Pura Gelap, Kiduling Kreteg, Hulun Kulkul, dan Pura Batumadeg. Ada lagi pura tempat pemujaan seluruh umat disebut &lt;b&gt;Pura Dalem Jagat&lt;/b&gt; yang juga disebut &lt;b&gt;Pura Dalem Puri&lt;/b&gt; sampai sekarang. Sangat banyak bila diceritakan semua.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selama pemerintahan beliau sangat makmur Pulau Bali ini, karena tiada hentinya upacara pemujaan di bumi, dan upacara pemujaan di kahyangan-kahyangan beliau lakukan. &lt;b&gt;Hal ini diikuti oleh orang-orang Bali di desa-desa, mereka membangun Kahyangan Penataran dan Kahyangan Dalem Jagat&lt;/b&gt; yang masing-masing diupacarai sebagaimana mestinya. Demikianlah yang menjadi raja, berganti-ganti dari keturunan Warmadewa, yaitu Sri Ugrasena Warmadewa, Sri Candrabhayasingha Warmadewa. Tidak diceriterakan lagi hal itu.-.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekarang diceritakan bahwa pada tahun Saka 913 (&lt;i&gt;agni jadma dwara&lt;/i&gt;) atau tahun 991 Masehi, Sri Udayana Warmadewa dengan permaisuri Dyah Gunapriya Dharmapatni beliau memerintah Bali. Beliau adalah raja yang berwibawa, sangat budiman dan susila, tidak ada rakyatnya yang berniat jahat, dipengaruhi oleh sifat-sifat bijak sang raja, sangat tenteram kerajaan Bali ini. Didatangkanlah pendeta dari Jawa, atas perkenan raja Sri Darmawangsa di Deha oleh karena itulah selama pemerintahan Sri Udayana Warmadewa bergantian para pendeta datang ke Bali mereka berada di Bali kadang-kadang juga berada di Jawa, yang dijadikan pendeta istana (&lt;i&gt;purohita&lt;/i&gt;). adalah lima bersaudara yang terkenal dengan sebutan Sang Panca-tirtha. Yang mula-mula datang adalah &lt;b&gt;Mpu Mahameru&lt;/b&gt;, beliau datang di Bali pada hari, KA, Su, wara Pujut (Jumat, Keliwon, wuku Pujut ) pada bulan terang kesepuluh sasih ka 5, (Nopember), rah 2, tenggek 1, tahun Saka 912 (&lt;i&gt;rudira netra, sirah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;tunggal, pada dewa sanga&lt;/i&gt;) atau tahun 990 Masehi, memuja &lt;b&gt;Bhatara Putrajaya&lt;/b&gt; yang bersthana di &lt;b&gt;Besakih&lt;/b&gt;. Tidak diceriterakan lagi.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah lama berlalu, sesudah Mpu Mahameru datanglah &lt;b&gt;Mpu Ghana&lt;/b&gt; ke Bali, pada hari Ka, Ca, (Senin, Keliwon) wuku Kuningan, bulan terang sasih ke 7, tahun Saka 919 (&lt;i&gt;lenging tunggal lawangan&lt;/i&gt;) atau tahun 997 Masehi, pada bulan terang ketujuh. Beliau berperhyangan di &lt;b&gt;Pura Dasar Gelgel&lt;/b&gt;, beliau senantiasa melaksanakan yoga semedi. Tidak diceritakan lagi hal itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah Mpu Ghana datang ke Bali kemudian menyusul &lt;b&gt;Mpu Kuturan&lt;/b&gt; turun ke Bali pada hari Rabu, Keliwon, wuku Pahang bulan terang keenam, sasih katiga, rah 3, tenggek 2, tahun Saka 923 ( &lt;i&gt;aghni ngapit lawang&lt;/i&gt;) atau tahun 1001 Masehi, beliau berlabuh di pesisir Padang, melakukan pemujaan dengan sikap &lt;i&gt;sila yukti&lt;/i&gt; itu menyebabkan tempat itu disebut Kahyangan Silayukti sampai sekarang. Kita hentikan cerita tentang beliau dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adapun Mpu Bharadah tinggal di Pulau Jawa menjadi pendeta istana sang raja, beliau mengadakan keturunan dan beliau berhasil mengalahkan Walunateng Dirah. Kita lewati cerita tentang Mpu Bharadah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengenai &lt;b&gt;Mpu Ghnijaya&lt;/b&gt;, sebagai tetua (&lt;i&gt;panglingsir&lt;/i&gt;) Sang Pancatirtha (lima pendeta) datang ke kerajaan Bali setelah beliau memberi pengarahan kepada puteranya semua. Beliau datang ke Bali pada hari Selasa Umanis wuku Wariga pda bulan terang ketujuh sasih Srawana (Sasih Kasa), rah 8, tenggek 3, tahun Saka 938 (&lt;i&gt;rudira hasti,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;tri sirah, taksaka dumilahing dwara&lt;/i&gt;) atau tahun 1016 Masehi, beliau beryoga di &lt;b&gt;Lempuyang&lt;/b&gt;. Tidak diceriterakan lagi..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali tentang Mpu Kuturan, beliau diangkat menjadi &lt;i&gt;Dharma dyaksa&lt;/i&gt; (jaksa) di istana raja Bali Sri Udayana Warmadewa. Beliau ber-pasraman di Silayukti, menciptakan konsep ajaran Siwa Buddha yaitu pengetahuan tentang &lt;i&gt;tri-murti&lt;/i&gt;, Brahma, Wisnu, Siwa, yang akhirnya muncul lagi Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, yang diyakini oleh umat semua. Dari konsep inilah kemudian muncul &lt;b&gt;Kahyangan Tiga&lt;/b&gt; yang ada diseluruh desa di Bali. Sebelum itu ada kahyangan yang disebut &lt;b&gt;Panataran, Dalem Desa &lt;/b&gt;yang juga disebut &lt;b&gt;Dalem Jagat&lt;/b&gt; dan ada Sad Kahyangan menurut tingkatan tempatnya. Ini yang dipelihara dengan baik senantiasa dilakukan upacara di semua kahyangan dan juga upacara untuk bumi Bali dengan Pura Besakih sebagai kahyangan yang utama. Juga telah dituliskan pustaka Purana tatwa, Dewa tatwa, Widitatwa, Kusumadewa, dan juga puja, mantra pemujaan. Sangat banyak jika diceritakan semua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengenai kahyangan tiga Dalem Pangulun Setra, Dalem Cungkub nama lainnya, tempat sthana Dewa Siwa yang berwujud Durga Bhairawi, Puseh sebagai sthana Dewa Wisnu, Desa Bale Agung sebagai sthana Dewa Brahma. Panataran sebagai sthana Dewa Mahadewa yang umum dikenal oleh umat dengan nama Bhatara Putrajaya bhatara yang bersthana di Gunung Tolangkir (Gunung Agung). Adapun &lt;b&gt;Kahyangan Dalem Desa&lt;/b&gt; yang juga disebut &lt;b&gt;Dalem Jagat &lt;/b&gt;dan kemudian lumrah disebut &lt;b&gt;Dalem Suci&lt;/b&gt; merupakan &lt;b&gt;sthana Sang Hyang Amurwabhumi&lt;/b&gt;. Oleh karena itu jelas kahyangan ini bukanlah Dalem Pangulun Setra dimana bersthana Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Durga Bhairawi. Kahyangan Dalam Jagat (Dalem Suci) ini merupakan tempat pemujaan bagi masarakat luas. Kemudian sesudah itu akhirnya dibangun pula &lt;i&gt;sanggah &lt;/i&gt;penghulu tegalan/sawah, penghulu bendungan, di pekarangan tempat tinggal dibuat sanggah pelindung/penghulun karang perumahan sebagai sthana Sang Hyang Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa yang berwujud Sang Hyang Guru, dan pasthanan para leluhur yang disebut Sanggah Kamimitan. Demikianlah yang ada dikerajaan Bali. Berganti-ganti yang bertakhta di Bali, sangat makmur dan tenteram masarakat Bali. Demikian kita lewatkan hal ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan IV.2 ini merupakan kelanjutan dari postingan IV.1 yang lalu yang menyajikan bagian &lt;em&gt;Manggala &lt;/em&gt;dan awal dari bagian &lt;em&gt;Isi &lt;/em&gt;dari struktur isi Raja Purana Pura Dalem Tugu. Postingan IV.2 diatas&amp;nbsp;melanjutkan sajian&amp;nbsp;bagian &lt;em&gt;Isi&lt;/em&gt; yang dalam postingan yang lalu telah diawali dengan uraian tentang keadaan Pulau Bali dizaman dahulu kala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inti dari uraian dalam&amp;nbsp;postingan IV.2&amp;nbsp;sekarang ini&amp;nbsp;adalah kisah&amp;nbsp;tentang Zaman Bali Purbakala ketika Sri Dalem Wirakesari Warmadewa bertakhta sebagai raja di Bali, beliau menata pura-pura antara lain Pura Panataran Agung dan Pura Dalem Jagat (Dalem Puri) di Besakih. Kemudian dilanjutkan dengan&amp;nbsp;periode pemerintahan Sri Udayana Warmadewa, beliau mendatangkan Sang Pancatirtha di Bali yaitu Mpu Semeru, Mpu Ghana, MpuKuturan, Mpu Bharadah dan Mpu Ghnijaya. Pada zaman itu, sebelum ada Kahyangan Tiga sudah ada Kahyangan Panataran dan &lt;strong&gt;Dalem Desa &lt;/strong&gt;yang juga disebut&lt;strong&gt; Dalem Jagat&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;atau &lt;strong&gt;Dalem Suci&lt;/strong&gt;. Dalem Desa (Dalem&amp;nbsp;Jagat atau Dalem Suci) linggih Ida Sang Hyang Amurwa Bhumi berbeda dengan Dalem Pangulun Setra (Kahyangan Tiga)&amp;nbsp;sthana Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Durga Bhairawi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keberadaan Dalem Suci&amp;nbsp;seperti dimaksud diatas&amp;nbsp;merupakan latar belakang sejarah dari&amp;nbsp;pendirian Pura Dalem Tugu, jelasnya kata “Dalem” dalam nama Pura Dalem Tugu itu berasal dari “Dalem” dalam pengertian Dalem Suci termaksud diatas.&lt;/div&gt;Postingan berikutnya yang akan menyusul memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.3. Terimakasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Sampai jumpa pada bostingan berikut.&lt;br /&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:5510c911-b992-4a9b-9156-c03c6c54ad4f" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-04" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-04&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(I Made Pageh Suardhana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-6471522721199320897?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/6471522721199320897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/iv2-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6471522721199320897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6471522721199320897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/iv2-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.2 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-6228171809152517825</id><published>2010-11-14T23:59:00.000+08:00</published><updated>2010-11-14T23:59:23.348+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>IV.1 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Om Awighnamãstu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai awal sembah sujud hamba kepada Paduka Bhatara junjungan kami, yaitu paduka Sang Hyang Pasupati, Sang Hyang Tripurusa, dan para Bhatara-bhatari semua, paduka sebagai penguasa tiga alam ini, yang telah meresap dalam Ongkara mantram. &lt;i&gt;ONG namasiwaya&lt;/i&gt; sembah hamba, semoga diberkahi untuk menceritakan tentang keadaan dahulu kala. Semoga hamba tidak kena kutukan, tidak kena dosa dan tidak kena marah dari para Bhatara yang hamba sembah, semoga berhasil sesuai dengan tujuan, sebagai pengetahuan seluruh keturunan kami, mudah-mudahan menemukan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. &lt;i&gt;ONG dirgghayur nirwighna suka wreddhi nugrahakam.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada diceriterakan dalam lembaran sejarah, dahulu kala konon tentang Pulau Bali ini, bagaikan perahu di tengah lautan, kadang-kadang menyatu, kadang-kadang berpisah dengan Pulau Lombok. Mengapa demikian, karena pada dahulu kala hanya ada empat gunung di empat penjuru yang diciptakan oleh Hyang Pasupati dari puncak Gunung Mahameru yang ditempatkan : di bagian timur Gunung Lempuyang, di bagian selatan Gunung Andakasa, di bagian barat Gunung Watukaru dan di utara Gunung Beratan, hal ini dirasakan sangat ringan oleh Hyang Haribhawana sehingga bumi ini masih goyang. Hal ini kemudian menyebabkan timbul niat Hyang Pasupati untuk memotong Gunung Semeru karena merasa kasihan melihat Pulau Bali dan Lombok. Akhirnya dipotong gunung tersebut, dan dengan segera diturunkan di Pulau Bali dan Lombok. Puncaknya ditempatkan di Bali, sedangkan bagian tengahnya ditempatkan di Lombok. Oleh Bhatara Pasupati diperintahkan si Bhadawangnala sebagai dasar bumi ini. Gunung ini kemudian dikenal dengan nama gunung Tolangkir (Gunung Agung) di Bali dan Gunung Rinjani di pulau Lombok.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lama-kelamaan meletuslah gunung Agung, keluar (lahir) Bhatara Putrajaya berikut adiknya Bhatari Dewi Danuh dan Bhatara Ghnijaya. Ketiganya telah menuju ke perhyangan masing-masing. Bhatara Putrajaya turun di Besakih dan berganti nama menjadi Bhatara Mahadewa. Bhatari Dewi Danuh berperhyangan di Gunung Lebah, adapun Bhatara Ghnijaya berperhyangan di puncak Gunung Lempuyang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dahulu kala ketika akan berangkat ketiga beliau itu diperintahkan oleh Bhatara Pasupati, sabda Bhatara Pasupati, pada ketiga putera beliau, “Hai anak-anakku Putrajaya, Ni Danuh dan Ghnijaya, tidak ada hal lain lagi perintahku kepadamu anak-anakku, sekarang kalian turun ke Bali karena sangat sepi dan kosong. Kalian juga yang berjodoh untuk menjadi penghulu Bali yang akan disembah oleh orang-orang Bali semuanya,” demikian sabda Sang Hyang Pasupati. Berdatang sembah bhatara tiga bersaudara, “Hormat hamba pada paduka bhatara, karena anakda masih kanak-kanak, tidak mengetahui jalannya, maafkanlan bukannya karena durhaka berani menolak sabda bhatara.” Bersabda pula Bhatara Pasupati, “Janganlah bersedih dan bimbang anakku, aku memberitahu sebagai jalanmu anak-anakku untuk segera disembah dan diabdi di Bali sebagai puteraku.” Setelah itu disembunyikan/ dirahasiakan bhatara ketiganya, dengan / di dalam &lt;i&gt;kelungah nyuh gading&lt;/i&gt; (kelapa muda kelapa gading) oleh Bhatara Pasupati, seraya direstui agar berwujud dalam filsafat pengetahuan utama. Demikianlah kisah kelahiran Bhatara Tiga di Bali dahulu kala. Tidak diceriterakan lagi hal itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan dengan kode judul IV.1 seperti tercantum diatas, mengawali postingan Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia Dari Teks Raja Purana Pura Dalem Tugu. Postingan ini merupakan bagian &lt;em&gt;Manggala&lt;/em&gt; dari struktur isi Raja Purana Pura Dalem Tugu yang dilanjutkan dengan uraian tentang keadaan Pulau Bali dizaman dahulu kala yang bersumber dari mitologi tentang kisah keberadaan Gunung Agung dan kemunculan Bhatara Tiga di Bali, yaitu Bhatara Putrajaya (Bhatara Mhadewa), Bhatari Dewi Danuh dan Bhatara Ghnijaya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Postingan berikutnya yang akan menyusul memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.2. Terimakasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Sampai jumpa pada bostingan berikut.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:64fa8aac-eda4-4faa-b2e2-60011fa31e33" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-03" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-03&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, 14 Nopember 2010&lt;br /&gt;P&amp;nbsp; e&amp;nbsp; n&amp;nbsp; u&amp;nbsp; l&amp;nbsp; i&amp;nbsp; s,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;I Made Pageh Suardhana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-6228171809152517825?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/6228171809152517825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/iv1-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6228171809152517825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6228171809152517825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/iv1-terjemahan-dalam-bahasa-indonesia.html' title='IV.1 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-6772242606468362664</id><published>2010-11-06T05:18:00.000+08:00</published><updated>2010-11-06T05:18:48.563+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>PENGERTIAN DAN STRUKTUR ISI PURANA PURA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mendahului penyajian postingan-postingan tentang Raja Purana Pura Dalem Tugu seperti dimaksud pada postingan yang lalu yang berjudul Buku Alih Aksara Dan Terjemahan RAJA PURANA PURA DALEM TUGU, dibawah ini disajikan pengertian dan struktur isi suatu purana pura dengan harapan kiranya dapat digunakan sebagai acuan dalam memahami postingan-postingan termaksud yang kalau tidak ada halangan segera akan menyusul dalam Blog-ku ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Arti pokok kata purana menurut kamus Jawa Kuno-Indonesia (oleh Zoetmulder, 1995) adalah cerita kuno. Disamping itu ada juga yang mengartikan kata purana dengan “riwayat tentang suatu pura” karena &lt;em&gt;na &lt;/em&gt;artinya riwayat. Raja Purana memiliki pengertian sebagai purana dari suatu pura yang memiliki kedudukan sebagai pusat atau induk, seperti halnya Raja Purana Pura Besakih. Untuk pura-pura lainnya, yang tidak memiliki kedudukan sebagai pusat atau induk, biasanya disebut &lt;em&gt;purana. &lt;/em&gt;Disamping dalam konteks pengertian diatas, kata &lt;em&gt;purana &lt;/em&gt;juga sudah dipakai sejak zaman dahulu kala di India dalam pengertian bahwa &lt;em&gt;purana &lt;/em&gt;merupakan penjabaran dari &lt;em&gt;ithihasa &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;ithihasa &lt;/em&gt;merupakan penjabaran dari &lt;em&gt;weda &lt;/em&gt;(Buku Alih Aksara Dan Terjemahan Raja Purana Pura Dalem Tugu, halaman 58).&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam kasus “Purana Pura Hulun Danu Batur Pradesa Songan Kintamani Bangli” terdapat uraian tentang Sejarah Singkat Pura, Struktur dan Bentuk Palinggih, Tatanan Upacara termasuk Bebantenan serta &lt;em&gt;Bhisama &lt;/em&gt;yang dikemas serta luluh menyatu dalam uraian unsur-unsur seperti dimaksud diatas (Buku Alih Aksara Dan Terjemahan Raja Purana Pura Dalem Tugu, halaman 59-60).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selanjutnya dalam suatu makalah (penulisnya menyebut: tulisan ringan) yang berjudul “Strategi Penelusuran Dan Rekonstruksi Purana Pura” yang ditulis oleh I Gusti Ngurah Tara Wiguna, Fakultas Sastra UNUD, bertahun 2006, yang disajikan dalam forum Pembinaan Kader Penyusunan Purana Pura Tingkat Kabupaten/Kota se-Bali di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada tahun 2006, pada halam 9-12 antara lain diuraian tentang Struktur Isi Purana Pura seperti kutipan dibawah ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“……… purana pura merupakan karya sastra yang berbentuk prosa, dirangkum dari berbagai sumber sastra kuna seperti : prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali dahulu, babad, pamancangah, purana dan sumber sastra lainnya. Secara keseluruhan isi purana terdiri atas tiga bagian yaitu a.manggala, b.isi dan c.penutup.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;a.Bagian manggala&lt;/strong&gt; adalah bagian pembukaan atau protokol yang berisi tentang pujian-pujian terhadap Tuhan dan manifestasiNya, karena berkat kemahakuasaanNyalah dunia dengan segala isinya diciptakan, dipelihara kelangsungan hidupnya dan suatu saat akan dikembalikan keasalnya dan juga Beliau merupakan sumber dari segala sumber sastra dan pengetahuan. Selain itu pada bagian ini juga dimuat permohonan maaf kepada Beliau dan para leluhur karena kita (dalam hal ini penulisnya) sebagai manusia yang serba kekurangan, berani menceriterakan keberadaan Beliau dan para leluhur yang telah mencapai kesempurnaan dan telah menyatu denganNya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;b.Bagian isi&lt;/strong&gt;, pada baian ini memuat tentang :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Latar belakang sejarah pendirian pura. Pada bagian ini berisi tentang latar sejarah pendirian pura (relative/absolute) dan tokoh pendiri serta pemelihara/penyelenggara kelanjutannya;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Manifestasi Tuhan dan/atau tokoh-tokoh yang dipuja;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Status dan juga dikaitkan dengan fungsi pura;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Struktur pura, pada bagian ini berisi uraian tentang wujud fisik dari pada pura mulai dari penataan halaman (&lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt;) sampai dengan tataletak &lt;em&gt;palinggih-palinggih&lt;/em&gt; dan bangunan yang ada pada setiap halaman. Termasuk juga yang ada di sekitarnya dan yang terkait dengan pura tersebut (pura prasanak).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tata cara upacara dan upakaranya serta perilaku kegamaan selama upacara berlangsung. Pada bagian ini berisi tentang : jenis upacara, waktu upacara berlangsung dan rangkaian upacara mulai dari persiapan sampai akhir proses upacara. Selanjutnya pada bagian ini juga memuat tentang jenis-jenis upakara yang dipersembahkan sesuai dengan jenis upacaranya dan tempat masing-masing upakara termasuk juga pelaksana (sang pamuput) upacaranya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perihal Penganceng, Pengempon, Pengemong dan Penyungsung serta kewajibannya masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;c.Penutup&lt;/strong&gt;, pada bagian ini merupakan &lt;em&gt;pakeling&lt;/em&gt; yaitu penegasan kembali dari hal-hal penting yang telah tertuang dalam purana dan harus diingat sampai dikemudian hari. Juga berisi tentang tradisi-tradisi yang dilarang dan dibolehkan yang telah dipercayai/ditaati secara turun-temurun.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah yang dapat disajikan dalam postingan kali ini, semoga ada manfaatnya. Sampai ketemu pada postingan berikut, menurut rencana akan disajikan bagian “Manggala” dari Raja Purana Pura Dalem Tugu. Terima kasih atas kunjungan anda di Blog-ku ini, komentar dan saran anda diharapkan !&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:7a8a3372-8df2-49ad-8712-9ae324f17327" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-02" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-02&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Denpasar, 6 Nopember 2010&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penulis,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Made Pageh Suardhana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-6772242606468362664?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/6772242606468362664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/pengertian-dan-struktur-isi-purana-pura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6772242606468362664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6772242606468362664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/11/pengertian-dan-struktur-isi-purana-pura.html' title='PENGERTIAN DAN STRUKTUR ISI PURANA PURA'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-2649802529438328779</id><published>2010-10-31T05:08:00.000+08:00</published><updated>2010-10-31T05:08:33.317+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Purana'/><title type='text'>Buku Alih Aksara Dan Terjemahan RAJA PURANA PURA DALEM TUGU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/TMyGMNfeerI/AAAAAAAAAGI/5i_3gMxi_ow/s1600/kulit+buku001+(2).jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" nx="true" src="http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/TMyGMNfeerI/AAAAAAAAAGI/5i_3gMxi_ow/s400/kulit+buku001+(2).jpg" width="307" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku Alih Aksara Dan Terjemahan RAJA PURANA PURA DALEM TUGU PURA KAWITAN/PADHARMAN SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH dengan wajah sampul depan seperti foto disebelah kiri&amp;nbsp;ini, telah diterbitkan dengan Kata Pengantar dari Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin tertanggal 23 Mei 2006. Ketika itu penulis masih menjabat sebagai Ketua Umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Kata Pengantar tersebut tercantum ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada Ida I Dewa Gdhe Catra atas bantuan dan kerjasama beliau dalam mengalih aksara-kan kedalam aksara latin berbahasa kawi dan selanjutnya menterjemahkannya kedalam Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia, Raja Purana Pura Dalem Tugu termaksud beserta &lt;em&gt;Gagadhuhan&lt;/em&gt;-nya yang merupakan lampirannya yang tak terpisahkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Butir selanjutnya dalam kata pengantar tersebut menyatakan bahwa inti uraian dalam Raja Purana Pura Dalem Tugu adalah uraian tentang sejarah berdirinya Pura Dalem Tugu. Siapa yang mendirikan, kapan didirikan dan bagaimana proses sejarah yang dilalui yang bermula dari kahyangan (pura) yang disebut Kahyangan Dalem Desa atau Dalem Jagat dan kemudian lumrah dikenal sebagai Dalem Suci pada zamannya, sampai akhirnya bernama &lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/strong&gt; hingga kini. Itulah isi atau substansi pokok dari buku tersebut.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sampul depan buku ini seperti terlihat pada foto diatas tercantun catatan:”Diterbitkan Untuk Intern Warga”. Pencantuman catatan tersebut didasari pertimbangan karena disamping isi pokok, buku ini dilampiri pula dengan sejumlah lampiran yang dilihat dari substansinya seyogianya hanya untuk konsumsi intern warga. Oleh karena itulah yang akan dipublis sebagai postingan dalam Blog-ku ini hanyalah yang menyangkut substansi pokok saja yang terdiri dari 4 Bagian. Urutan penyajian substansi pokok termaksud dalam buku ini ditata sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Bagian I&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt; : Ringkasan Isi Raja Purana Pura Dalem Tugu. Bagian ini pada hakekatnya merupakan rangkuman catatan dari alur peristiwa-peristiwa secara kronologis, baik yang merujuk kepada peristiwa-peristiwa kisah mitologi dalam Dewa Tattwa, maupun kepada peristiwa-peristiwa dalam sejarah perjalanan kehidupan para leluhur seperti terrekam dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Bagian II&lt;/u&gt; &lt;/strong&gt;: Teks Alih Aksara Berbahasa Kawi Dari Raja Purana Pura Dalem Tugu. Dokumen ini merupakan hasil alih aksara dari lontar Raja Purana yang disakralkan di Pura Dalem Tugu (yang ditulis dalam Aksara Bali berbahasa kawi), menjadi Teks Aksara (Huruf) Latin tetapi masih tetap berbahasa kawi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Bagian III&lt;/u&gt; &lt;/strong&gt;: Terjemahan Dalam Bahasa Bali Dari Teks Raja Purana Pura Dalem Tugu berbahasa kawi seperti dimaksud pada Bagian II diatas.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Bagian IV&lt;/u&gt; &lt;/strong&gt;: Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia Dari Teks Raja Purana Pura Dalem Tugu berbahasa kawi seperti dimaksud pada Bagian II diatas.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera setelah diterbitkan pada tahun 2006, buku ini sesungguhnya sudah pernah didistribusikan kepada para sameton warga melalui Pengurus Kabupaten/Kota Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin di Bali, tetapi dalam jumlah yang sangat terbatas. Dengan demikian sudah bisa dipastikan bahwa masih banyak sameton warga yang belum memiliki buku termaksud. Menurut hemat penulis, buku termaksud dan buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007 (yang substansinya sudah disajikan dalam postingan-postingan yang lalu dalam Bkog-ku ini), idealnya dimiliki oleh setiap sameton warga yang ingin memahami sejarah leluhur beserta sejarah pura kawitan/padharman yang kita warisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu pada postingan-postingan selanjutnya dalam Blog-ku ini, penulis akan berusaha menyajikan bagian per bagian dari isi pokok buku ini secara bersambung sehingga para sameton warga yang membutuhkannya bisa mengakses dan meng-copynya. Untuk memudahkan pemahamannya, penyajiannya akan diawali dari Bagian IV yaitu bagian (teks) yang berbahasa Indonesia. Setelah itu akan dilanjutkan berturut-turut dengan teks yang berbahasa Bali, teks yang berbahasa kawi dan terakhir rangkuman atau ringkasannya. Pada bagian-bagian tertentu, bilamana dipandang perlu, akan disertai catatan atau komentar dari penulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti sudah dijelaskan pada uraian diatas, lampiran-lampiran dalam buku ini tidak akan disajikan dalam bentuk postingan yang bersifat public dalam Blog-ku ini. Tetapi bagi sameton warga yang ingin memiliki copy dari lampiran-lampiran termaksud penulis sarankan agar meng-copy lampiran buku termaksud dari buku yang sudah ada ditangan (melalui distribusi 2006) Ketua Pengurus Kabupaten/Kota Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin di Kabupaten/Kota dimana anda berada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terima kasih atas kunjungan anda ke Blog-ku ini. Sampai jumpa lagi pada postingan berikutnya !&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:a9475606-1264-4b4f-b810-87e87f8ca32f" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Purana-01" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Purana-01&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Denpasar, 31 Oktober 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;P e n u l i s,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-2649802529438328779?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/2649802529438328779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/buku-alih-aksara-dan-terjemahan-raja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/2649802529438328779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/2649802529438328779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/buku-alih-aksara-dan-terjemahan-raja.html' title='Buku Alih Aksara Dan Terjemahan RAJA PURANA PURA DALEM TUGU'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/TMyGMNfeerI/AAAAAAAAAGI/5i_3gMxi_ow/s72-c/kulit+buku001+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-7748693769257998721</id><published>2010-10-17T08:18:00.000+08:00</published><updated>2010-10-17T08:18:27.219+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>PERISTIWA SEJARAH DAN PURA YANG BERDIRI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kronologi peristiwa-peristiwa ssejarah yang melatar belakangi berdirinya Pura-Pura Pusat Penyungsungan Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin, seperti tersurat/tersirat dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh dan dokumen-dokumen terkait, adalah seperti yang disajikan dalam tabel dibawah ini.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" style="width: 425px;" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;div align="center"&gt;PERIODE PEMERINTAHAN DAN RAJA YANG MEMERINTAH&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="center"&gt;RANGKAIAN PERISTIWA YANG MELATAR BELAKANGI BERDIRINYA PURA-PURA&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;div align="center"&gt;PURA-PURA YANG BERDIRI&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;u&gt;1343&lt;/u&gt; : &lt;br /&gt;Belum ada Raja yang memerintah setelah Bali takluk&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ekspedisi Gajah Mada menaklukkan Bali. Bali diserbu dari pesisir timur, utara dan selatan. Sira Arya Damar bersama Sira Arya Kuthawaringin dan Sira Arya Sentong menyerbu Bali dari pesisir utara, mendarat di Ularan. Bali takluk dibawah Kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;u&gt;1343 – 1352&lt;/u&gt; : &lt;br /&gt;Belum ada Raja yang memerintah, 15 Arya ditugaskan sebagai Penguasa Wilayah atas nama Kerajaan Majapahit&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maha Patih Gajah Mada mengatur penugasan kepada 15 Arya sebagai Penguasa Wilayah atas nama Kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin dikukuhkan sebagai &lt;em&gt;Amanca Agung &lt;/em&gt;(Penguasa Wilayah Tenggara Bali) berkedudukan di Gelgel dengan rakyat 5000 orang. Wilayah Kemancaan Agung itu meliputi: Gelgel, Kamasan, Tojan hingga pantai Klotok, Dukuh Nyuh-aya, Kacangpaos (Kacangda-wa), Siku sampai Klungkung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa lama setelah menjabat &lt;em&gt;Amanca Agung&lt;/em&gt;, Sira Arya Kuthawaringin membangun istana di Gelgel. Di selatan Desa Gelgel beliau juga mendirikan tempat pemujaan yang pada zamannya disebut Kahyangan &lt;strong&gt;Dalem Desa&lt;/strong&gt; yang juga disebut &lt;strong&gt;Dalem Jagat&lt;/strong&gt; dan kemudian lumrah dikenal sebagai &lt;strong&gt;Dalem Suci.&lt;/strong&gt; Di palinggih &lt;strong&gt;Gedong Bata&lt;/strong&gt; pada Kahyangan &lt;strong&gt;Dalem Suci&lt;/strong&gt; yang merupakan tempat pemujaan &lt;em&gt;Sang Amanca Agung&lt;/em&gt; itu, beliau mensthanakan/memuja Sang Hyang Parama Wisesa dalam &lt;em&gt;prabawanya&lt;/em&gt; sebagai &lt;strong&gt;Sang Hyang Amurwabhumi. &lt;/strong&gt;Kahyangan Dalem Suci ini merupakan cikal-bakalnya pura yang kemudian akhirnya dikenal dengan nama &lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalem Suci : cikal-bakalnya Pura Dalem Tugu.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1352 – 1380&lt;/u&gt; : &lt;/strong&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan di Sam-prangan&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Amanca Agung &lt;/em&gt;Sira Arya Kuthawaringin juga menjabat Adhi Patih dan berkedudukan sebagai Tumenggung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin menurunkan 4 orang putera, yaitu I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin (diperistri oleh Dalem Ketut Kresna Kepakisan, melahirkan Ida Dewa Tegalbesung).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin lanjut usia, diganti oleh putera sulungnya yang bergelar I Gusti Agung Bandhesa Gelgel dengan jabatan Patih Utama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin wafat, I Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama seluruh saudara dan sanak keluarganya menyelenggara-kan upacara &lt;em&gt;Palebon &lt;/em&gt;lanjut dengan &lt;em&gt;Baligia &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Atmapratista&lt;/em&gt;-nya. Roh Sucinya disthanakan (&lt;em&gt;dhinarmma) &lt;/em&gt;pada palinggih babaturan di Kahyangan Dalem Suci tersebut sebagai &lt;strong&gt;Padharman Sira Arya Kuthawaringin.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalem Suci sebagai Padhar-man Sira Arya Kuthawaringin.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1380&lt;/u&gt; :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalem Ile di Samprangan.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat, diganti oleh Dalem Ile.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalem Ile lalai mengurus negara (Kerajaan).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kyayi Parembu dua kali diperintahkan oleh Dalem Ile untuk mengejar Dalem Tarukan, tetapi tidak berhasil sehingga malu kembali ke Gelgel/ Samprangan. Oleh karena itu beliau bermukim di Bubungtegeh bersama 20 prajuritnya, sedangkan 20 prajurit lainnya diperintahkan kembali ke Gelgel untuk melaporkan keberadaannya di Bubung-tegeh kepada (kakaknya) I Gusti Agung Bandhesa Gelgel.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang sejak Dalem sebelumnya sudah menjabat Patih Utama, kecewa dengan sikap Dalem Ile mengurus negara. Lalu beliau melakukan semadhi (&lt;em&gt;ndewasraya) &lt;/em&gt;di Kayangan Dalem Suci, tempat pemujaan beliau. Tiba-tiba mendengar &lt;em&gt;sabda angkasa &lt;/em&gt;yang menyuruh beliau menghadap Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Oleh karena itu beliau mengundang para menteri/pejabatkerajaan/bahudanda/pemuka masyara-kat yang sehaluan, lalu bermusyawarah di Kahyangan Dalem Suci, dimana sebelumnya beliau bersamadhi. Permusyawara-tan aklamasi mendukung langkah yang akan diambil sesuai &lt;em&gt;sabda angkasa&lt;/em&gt; itu, lalu disana mereka berikrar (&lt;em&gt;madewa saksi&lt;/em&gt;), setelah itu berangkat menuju Desa Pandak karena setelah diselidiki, diketahui Ida I Dewa Ketut Ngulesir berada disana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dialog di Desa Pandak : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel mohon kesediaan Ida I Dewa Ketut Ngulesir untuk menjadi raja menggantikan Dalem Ile dan mempersilahkan beliau mengambil Istana Kepatihan-nya untuk dijadikan Istana Dalem. Akhirnya beliau tidak kuasa menolak, lalu bersama-sama kembali ke Gelgel.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1383 – 1460&lt;/u&gt; : &lt;br /&gt;Dalem Ketut Smara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir).&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan pada tahun saka 1305 (1383M) dengan gelar Dalem Sri Smara Kepakisan, berkedudukan di Gelgel yang kemudian bernama Swecalinggarsapura.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Patih Utama, menyerahkan purinya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Smara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel. Kemudian beliau pindah/membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamerajannya di sebelah barat daya Istana Kepatihan terdahulu yang sudah menjadi Istana Dalem atau disebelah utara Kahyangan Dalem Suci tempat pemujaan beliau, yaitu di tegalan &lt;em&gt;Abyan Kawan &lt;/em&gt;yang ditanami pohon kelapa. Sejak itu beliau juga bergelar &lt;strong&gt;Kyayi (I Gusti) Kubontubuh &lt;/strong&gt;atau&lt;strong&gt; Kyayi (I Gusti) Klapodhyana.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mrajan dari purinya yang baru ini diyakini merupakan Pura Mrajan yang diwariskan kepada pratisentananya hingga sekarang yang sesuai Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tgl.25 Januari 2004 disebut &lt;strong&gt;Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Atas restu Dalem Ketut Smara Kepakisan dan didukung para Arya,&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;dibangunlah Palinggih Tugu sebagai sthana&lt;strong&gt; Sang Hyang Tugu&lt;/strong&gt;, beliaulah &lt;strong&gt;Sang Hyang Ghanapati&lt;/strong&gt;, sebagai saksi dunia. Tugu tersebut dibangun disebelah utara palinggih Gedong Bata di Kahyangan Dalem Suci dimana sebelumnya dilakukan ikrar (&lt;em&gt;madewa saksi&lt;/em&gt;) atas kemufakatan untuk menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa Pandak. Setelah dibangunnya Palinggih Tugu tersebut Kahyangan Dalem Suci itu hingga kini lebih dikenal dengan nama &lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel mengawini I Gusti Ayu Adhi (puteri Pangeran Nyuhaya) sehingga sempat menimbulkan perselisihan, diadili oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan. Dalam sidang pengadilan tersebut I Gusti Agung Bandhesa Gelgel menyuruh adiknya yaitu Kyayi Parembu untuk mengambil Candri Sawalan di rumahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan, Kyayi Klapodhyana diingatkan dengan sangat agar memugar dan &lt;em&gt;mangupapira&lt;/em&gt; Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Pada saat pemugaran itu Kyayi Gusti Klapodhyana memugar palinggih &lt;em&gt;padharman&lt;/em&gt; yang semula masih berbentuk &lt;em&gt;babaturan&lt;/em&gt; menjadi Meru Tumpang Tiga yang dibangun disebelah utara palinggih Gedong Bata, disebelan selatan Palinggih Tugu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah gagal upaya damai dan upaya penyerangan ke-1 yang berturut-turut telah dilakukan untuk membawa putera-putera Dalem Tarukan menghadap Dalem di Gelgel, Dalem Ketut Smara Kepakisan menugaskan I Gusti Kubontubuh memimpin laskar Gelgel menyerang desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim, perang seru terjadi, akhirnya putera-putera Dalem Tarukan menyerah dan tunduk kepada titah Dalem untuk menghadap Dalem di Gelgel (Dalem Tarukan, halaman 37-39).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mulai saat itu Kyayi Parembu yang bermukim di Desa Bubungtegeh yang termasuk salah satu dari desa-desa dimana putera-putera Dalem Tarukan bermukim, pada saat-saat tertentu pulang kembali ke Gelgel, ikut bersama-sama sanak keluarganya di Gelgel memelihara dan menyeleng-garakan upacara keagamaan sebagaimana mestinya di Kahyangan tempat pemujaan-nya dahulu yaitu Pura Dalem Tugu.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pura Mrajan Kawitan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1460 – 1550&lt;/u&gt; : &lt;/strong&gt;Dalem Watu Ra Enggong&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="177"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kyayi Klapodhyana lanjut usia, diganti oleh putranya yaitu Kyayi Lurah Abiantubuh dengan jabatan Patih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kyayi Abiantubuh wafat, diganti oleh puteranya yaitu Kyayi Lurah Kubonkalapa dengan jabatan Adhi Patih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kyayi Kubonkalapa memang-gil Kyayi Tabehan Waringin (cucu Kyayi Parembu) untuk datang dalam pertemuan keluarga di Gelgel.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam pertemuan keluarga tersebut dipermaklumkan oleh Kyayi Tabehan Waringin bahwa ayahandanya (yaitu Kyayi WayahanKuthawaringin = putera Kyayi Parembu) telah membangun &lt;strong&gt;Paryang-an di Waringin.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penjelasan lebih lanjut tentang Paryangan yang telah didirikan di Waringin seperti tercantum dalam Babad Arya Kuthawaringin halaman Lontar 64a dan 64b adalah :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Paryangan Waringin didirikan dilokasi tempat Kyayi Parembu melakukan “yoga dengan hati yang suci”.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wujudnya hanya &lt;em&gt;babaturan&lt;/em&gt; belum permanen.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fungsinya sebagai tempat pemujaan leluhur.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak ketinggalan sthana untuk memuja arwah almarhum Sirarya Kuthawaringin.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disebelah selatannya : Pura Dalem (belum permanen) itulah tempat jenazah Kyayi Parembu dibakar (&lt;em&gt;palebon&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari butir 1 s/d 5 diatas, jelas terungkap bahwa Pura Waringin didirikan sebagai kelanjutan dari proses &lt;em&gt;palebon&lt;/em&gt; Kyayi Parembu di Desa Waringin dan tentunya bukan kelanjutan dari proses &lt;em&gt;palebon-baligia-atmaprastita &lt;/em&gt;Sira Arya Kuthawaringin yang sudah diselenggarakan di Gelgel pada zaman pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan seperi telah diuraikan diatas. Kesimpulan ini sejalan pula dengan pernyataan pada butir 4 diatas yang maknanya bahwa disana “tidak ketinggalan” juga dibangun sthana sebagai pesimpangan atau pengayengan untuk memuja arwah almarhum Sirarya Kuthawaringin.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="106"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pura/Paryangan di Waringin&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari rangkaian kronologis peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi berdirinya &lt;em&gt;pura=pura&lt;/em&gt; seperti diuraikan dalam tabel diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kahyangan Dalem Suci, cikal-bakal Pura Dalem Tugu, dibangun beberapa tahun setelah tahun 1343 M. yaitu setelah Sira Arya Kuthawaringin dikukuhkan sebagai &lt;em&gt;Amanca Agung &lt;/em&gt;berkedudu-kan di Gelgel.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Palinggih Tugu di Pura Dalem Tugu, dibangun beberapa tahun setelah tahun 1383 M. Pada tahun tersebut Patih Utama Kyayi (I Gusti) Klapodhyana bersama para menteri/pejabat kerajaan/bahudanda/pemuka masyarakat yang sehaluan, berhasil menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir di Desa Pandak lanjut dinobatkan menjadi Dalem kepertama (sehingga merupakan pendiri) Kerajaan Gelgel dengan gelar Dalem Sri Smara Kepakisan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pura Mrajan Kawitan dibangun pada tahun 1383 M. yaitu setelah I Gusti Agung Bandhesa Gelgel menyerahkan purinya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Smara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel. Kemudian beliau pindah/membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamrajannya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pura/Paryangan di Waringin dibangun oleh &lt;strong&gt;Kyayi Wayahan Kuthawaringin&lt;/strong&gt;, yaitu putera Kyayi Parembu atau cucu dari &lt;strong&gt;Sira Arya Kuthawaringin&lt;/strong&gt;. Dengan demikian jelas sekali bahwa yang membangun pura ini bukan &lt;strong&gt;Sira Arya Kuthawari-ngin&lt;/strong&gt;. Periode pembangunan pura ini diperkirakan sekitar akhir masa pemerintahan Dalem Ketut Smara Kepakisan atau pada awal masa pemerintahan Dalem Watu Ra Enggong, mengingat pura ini didirikan sebagai kelanjutan dari proses upacara &lt;em&gt;palebon &lt;/em&gt;Kyayi Parembu di Waringin.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah hal-hal yang dapat disajikan tentang berdirinya pura-pura yang merupakan pusat penyungsungan bagi pratisentana &lt;strong&gt;Sira Arya Kuthawaringin&lt;/strong&gt; yang meliputi &lt;strong&gt;Kubontubuh-Kuthawaringin yang merupakan pratisentana Kyayi Klapodhyana&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Parembu-Kuthawaringin yang merupakan pratisentana Kyayi Parembu&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Candi-Kuthawaringin yang merupakan pratisentana Kyayi Candi&lt;/strong&gt;. &lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Lampiran IVB, halaman 90-98 Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga ada manfaatnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan anda ke BLOG yang saya asuh, saran dan komentar anda sangat dibutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Denpasar, 31 Juli 2010.&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:3cbacfcf-dfd7-44de-aa02-b7aca2bd4197" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Babad-06" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Babad-06&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-7748693769257998721?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/7748693769257998721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/peristiwa-sejarah-dan-pura-yang-berdiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/7748693769257998721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/7748693769257998721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/peristiwa-sejarah-dan-pura-yang-berdiri.html' title='PERISTIWA SEJARAH DAN PURA YANG BERDIRI'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-3699476301883415210</id><published>2010-10-17T06:47:00.000+08:00</published><updated>2010-10-17T06:47:45.885+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>PERISTIWA SEJARAH DAN PERANSERTA SIRA ARYA KUTHAWARINGIN BESERTA KETURUNANNYA</title><content type='html'>&lt;h3&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam Naskah Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh yang telah disajikan pada postingan yang lalu dapat disimak peristiwa-peristiwa sejarah beserta pelaku-pelakunya. Sedangkan&amp;nbsp; Bagan Silsilah (Palelintih) yang merupakan lampiran dari Naskah Babad termaksud yaitu Palelintih Sira Arya Kuthawaringin, Palelintih Dinasti Kresna Kepakisan dan Palelintih Dinasti Warmadewa di Bali yang telah berturut-turut disajikan pula pada psotingan-postingan yang lalu diharapkan dapat memperjelas kaitan/hubungan keturunan dari silsilah para pelaku sejarah termaksud.&lt;br /&gt;Supaya Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin pada khususnya dan para peminat sejarah/babad pada umumnya, lebih mudah dapat menyimpulkan kronologi dari peristiwa-peristiwa sejarah termaksud dan peranserta Sira Arya Kuthawaringin beserta keturunannya dari generasi ke generasi, dibawah ini disajikan tabel yang terdiri dari 2 kolom. Dalam kolom pertama disajikan “Periode Pemerintahan/Yang Memerintah”. Sedangkan dalam kolom yang kedua disajikan “Peristiwa-Peristiwa Penting dan Peranserta Sira Arya Kuthawaringin Beserta Keturunannya.” Uraian kronologis peristiwa-peristiwa termaksud diawali dari peristiwa sejarah yang dikenal dengan nama : &lt;strong&gt;ekspedisi Gajah Mada ke Bali&lt;/strong&gt;. Kemudian dilanjutkan ke &lt;strong&gt;zaman kerajaan Samprangan&lt;/strong&gt; sampai dengan &lt;strong&gt;zaman kerajaan Gelgel&lt;/strong&gt;, seperti tersurat dan tersirat dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh dan dokumen-dokumen lainnya yang terkait. Oleh karena itu apa yang disajikan dalam tabel dibawah ini pada hakekatnya merupakan ringkasan dan cuplikan dari dokumen-dokumen seperti dimaksud diatas.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;PERIODE PEMERINTAHAN/&lt;/b&gt;&lt;b&gt;YANG MEMERINTAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERISTIWA-PERISTIWA PENTING DAN PERANSERTA SIRA ARYA KUTHAWARINGIN BESERTA KETURUNANNYA&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;div align="center"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1324 - 1343&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;Sri Astasura Ratna Bhumi Banten = Sri Tapaulung = Gajah Waktera di Bedahulu, dengan Patih Ki Pasung Gerigis.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;div align="center"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1343 : Ekspedisi Gajah Mada bersama 7 Arya ke Bali dengan mengendarai perahu.&lt;br /&gt;· Gajah Mada mendarat di Toyanyar (Tianyar).&lt;br /&gt;· Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pengalasan, dan Arya Kanuruhan mendarat di Kutha.&lt;br /&gt;· Arya Kuthawaringin bersama Arya Damar dan Arya Sentong, mendarat di Ularan, dan Arya Kuthawaringin menaklukkan (membunuh) Ki Buah di Batur.&lt;br /&gt;· Bali takluk di bawah Kerajaan Majapahit. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1343 - 1352&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;Bali dibagi atas 15 wilayah, masing-masing dibawah pengawasan seorang Arya atas nama Kerajaan Majapahit.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bali ditaklukkan, Maha Patih Gajah Mada sebelum pulang kembali ke Majapahit, mengatur penugasan 15 Arya sebagai penguasa wilayah di Bali atas nama Kerajaan Majapahit. Penugasan tersebut adalah sbb : &lt;br /&gt;1. Arya Kuthawaringin dikukuhkan sebagai Penguasa Wilayah (&lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt;), Wilayah Tenggara Bali berkedudukan di Gelgel dengan rakyat 5.000 orang. Wilayah &lt;i&gt;Kemancaan Agung&lt;/i&gt; itu meliputi : Gelgel, Kamasan, Tojan hingga pantai Klotok, Dukuh Nyuhaya, Kacangpaos (Kacangdawa), Siku sampai Klungkung. Beberapa lama setelah menjabat &lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt;, Sira Arya Kuthawaringin membangun istana kepatihan di Gelgel. Diselatan desa Gelgel beliau juga mendirikan tempat pemujaan yang pada zaman itu disebut Kahyangan &lt;b&gt;Dalem Desa &lt;/b&gt;yang juga disebut &lt;b&gt;Dalem Jagat&lt;/b&gt; dan kemudian lumrah dikenal sebagai &lt;b&gt;Dalem Suci&lt;/b&gt;. Di palinggih Gedong Bata pada Kahyangan Dalem Suci yang merupakan tempat pemujaan bagi &lt;i&gt;Sang Amanca Agung &lt;/i&gt;itu beliau mensthanakan/memuja Sang Hyang Parama Wisesa dalam prabawanya sebagai &lt;b&gt;Sang Hyang Amurwabhumi&lt;/b&gt;. Kahyangan Dalem Suci ini merupakan cikal-bakalnya pura yang kemudian akhirnya dikenal dengan nama &lt;b&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;2. Arya Kenceng di Tabanan.&lt;br /&gt;3. Arya Belog di Kaba-kaba.&lt;br /&gt;4. Arya Delancang di Kapal.&lt;br /&gt;5. Arya Belentong di Pacung.&lt;br /&gt;6. Arya Sentong di Carangsari.&lt;br /&gt;7. Arya Kanuruhan di Tangkas.&lt;br /&gt;8. Keriyan Punta di Mambal.&lt;br /&gt;9. Keriyan Jerudeh di Tamukti.&lt;br /&gt;10. Keriyan Tumenggung di Patemon.&lt;br /&gt;11. Arya Demung Wangbang keturunan Kadiri di Kretelangu (Badung).&lt;br /&gt;12. Arya Sura Wangbang keturunan Lasem di Sukahet.&lt;br /&gt;13. Arya Wangbang keturunan Mataram boleh memilih tempat di mana saja.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;div align="center"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;div align="center"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;14. Arya Mekel Cengkerong di Jaranbana.&lt;br /&gt;15. Arya Pemacekan di Bondalem.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1352 -1380&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan di Samprangan.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan dibantu oleh :&lt;br /&gt;· Arya Kepakisan sebagai Patih Agung.&lt;br /&gt;· Arya Kanuruhan sebagai Penyarikan (Sekretaris).&lt;br /&gt;· &lt;b&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; disamping sebagai &lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt; di Gelgel juga &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1380&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;Dalem Samprangan (Dalem Ile) di Samprangan.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;merangkap sebagai Adhi Patih, Menteri/Pejabat Tinggi Pembantu Terdepan Dalem dan berkedudukan pula sebagai Tumenggung.&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; menurunkan 4 orang putera, yaitu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin (diperistri oleh Dalem Ketut Kresna Kepakisan, melahirkan anak laki tunggal : Ida I Dewa Tegalbesung).&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; lanjut usia, jabatannya diganti oleh putera sulungnya yang bergelar I Gusti Agung Bandhesa Gelgel dengan jabatan Patih Utama.&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; wafat, I Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama seluruh saudara dan sanak keluarganya menyelenggarakan upacara &lt;i&gt;Palebon&lt;/i&gt; lanjut dengan &lt;i&gt;Baligia&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Atmapratista&lt;/i&gt;-nya. Roh Sucinya disthanakan di palinggih &lt;i&gt;babaturan &lt;/i&gt;sebagai &lt;i&gt;Padharman &lt;/i&gt;Sira Arya Kuthawaringin di Kahyangan Dalem Suci tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat, diganti oleh Dalem Ile.&lt;br /&gt;· Dalem Ile lalai mengurus negara (kerajaan).&lt;br /&gt;· Untuk merealisir kaulnya, Dalem Tarukan memerintahkan untuk mencuri Sri Dewi Muter (putri Dalem Ile) untuk dinikahkan dengan Kudha Penandang Kajar (putra Raja Brambangan dari istri penawing, yang dianggap anak oleh Dalem Taruk), namun akhirnya mempelai meninggal akibat tertikam oleh keris Sitandalalang yang datang sendiri ke tempat peraduan penganten.&lt;br /&gt;· Dalem Ile marah dan memerintahkan untuk menghancurkan Puri Tarukan, namun Dalem Tarukan telah pergi meninggalkan purinya.&lt;br /&gt;· Kyayi Parembu dua kali diperintahkan untuk mengejar Dalem Tarukan. Pertama dilakukan dengan mengerahkan 200 prajurit, tetapi tidak berhasil. Beberapa tahun kemudian dilakukan pengejaran kedua dengan &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;mengerahkan 40 prajurit terpilih, juga tidak berhasil. Karena malu kembali ke Gelgel/Samprangan, maka beliau bermukim di Bubung Tegeh bersama 20 prajuritnya, sedangkan 20 prajurit lainnya diperintahkan kembali ke Gelgel untuk melaporkan keberadaannya di Bubung Tegeh kepada kakaknya yaityu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel.&lt;br /&gt;· Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang sejak Dalem sebelumnya sudah menjabat Patih Utama, kecewa dengan sikap Dalem Ile mengurus negara. Lalu beliau melakukan samadhi (&lt;i&gt;ndwewasraya&lt;/i&gt;) di Kahyangan Dalem Suci tempat pemujaan beliau. Tiba-tiba mendengar &lt;i&gt;sabda angkasa&lt;/i&gt; yang menyuruh beliau menghadap Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Oleh karena itu beliau mengundang para menteri/pejabat kerajaan/bahudanda/ pemuka masyarakat yang sehaluan, lalu bermusyawarah di Kahyangan Dalem Suci, dimana sebelumnya beliau bersamadhi. Permusyawaratan secara aklamasi mendukung langkah yang akan diambil sesuai dengan &lt;i&gt;sabda angkasa&lt;/i&gt; itu, lalu disana mereka berikrar (&lt;i&gt;madewasaksi&lt;/i&gt;), setelah itu berangkat menuju desa Pandak, karena setelah diselidiki diketahui Ida I Dewa Ketut Ngulesir berada disana.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;· Dialog di desa Pandak : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel mohon kesediaan Ida I Dewa Ketut Ngulesir untuk menjadi raja menggantikan Dalem Ile seraya mempersilahkan beliau mengambil Istana Kepatihan di Gelgel yang merupakan rumah kediamannya untuk dijadikan Istana Dalem. Akhirnya beliau tidak kuasa untuk menolak, lalu bersama-sama meninggalkan desa Pandak menuju Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1383 - 1460&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;Dalem Ketut Ngulesir&lt;br /&gt;(Dalem Ketut Semara &lt;br /&gt;Kepakisan) di Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan pada tahun Saka 1305 (1383 M.) dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan, berkedudukan di Gelgel yang kemudian bernama Swechalinggarsapura.&lt;br /&gt;· I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Patih Utama, menyerahkan purinya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Smara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel, kemudian beliau pindah/membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamrajannya yang berlokasi di sebelah selatan Istana Kepatihan terdahulu yang sudah menjadi Istana Dalem atau di sebelah utara Kahyangan Dalem Suci tempat pemujaan beliau, yaitu di tegalan &lt;i&gt;Abyan Kawan&lt;/i&gt; yang ditanami pohon kelapa. Sejak itu lalu beliau juga bergelar &lt;b&gt;Kyayi (I Gusti) Kubontubuh &lt;/b&gt;atau&lt;b&gt; Kyayi (I Gusti) Klapodhyana&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;· Pamrajan dari Istana Kepatihan yang baru ini diyakini merupakan Mrajan yang diwariskan kepada pratisentananya hingga sekarang yang sesuai Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No. I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004 disebut &lt;b&gt;Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;· Atas keinginan/restu Dalem Ketut Smara Kepakisan dan didukung oleh para arya, dibangunlah palinggih Tugu sebagai sthana Sang Hyang Tugu (Sang Hyang Ghanapati), sebagai saksi dunia. Tugu tersebut dibangun di sebelah utara palinggih Meru Tupang Tiga di Kahyangan Dalem Suci dimana sebelumnya dilakukan ikrar (&lt;i&gt;madewasaksi&lt;/i&gt;) atas kemufakatan untuk menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke desa Pandak. Setelah dibangunnya palinggih Tugu tersebut Kahyangan Dalem Suci itu hingga kini lebih dikenal dengan nama &lt;b&gt;Pura Dalem Tugu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;· Kiyai Klapodyana pernah berselisih dengan Pangeran Nyuh Aya, karena putrinya (I Gusti Ayu Adi) dikawini oleh Kyayi Klapodyana. Kaum bangsawan dan Warga Pasek memihak Kyayi Klapodyana, dan perselisihan berhasil didamaikan oleh Dalem setelah membaca Candri Sawalan (dua keping perunggu bertuliskan huruf Majapahit).&lt;br /&gt;· Atas perintah Dalem Ketut Semara Kepakisan, Kyayi Klapodhyana ke Brambangan untuk membunuh &lt;i&gt;macan selem&lt;/i&gt; (harimau hitam) yang menggangu disana dengan senjata tulup “Ki Macan Guguh” memakai peluru “Batur Gumi”.&lt;br /&gt;· Dalem Ketut Smara Kepakisan mengingatkan dengan sangat agar Kyayi Gusti Klapodhyana memugar dan &lt;i&gt;mangupapira&lt;/i&gt; Pura Dalem Tugu dengan segala upacara sebagaimana mestinya. Pada saat pemugaran itu, Kyayi Gusti Klapodyana memugar palinggih yang semula masih berbentuk babaturan menjadi &lt;i&gt;Meru tumpang Tiga&lt;/i&gt; yang dibangun di sebelah utara palinggih Gedong Bata, di sebelah selatan palinggih Tugu.&lt;br /&gt;· Kyayi Klapodyana mendapat anugrah Aji Purana dan ditugasi untuk memelihara (ngempon) serta menghaturkan Pujawali di Pura Tugu.&lt;br /&gt;· Kyayi Klapodhyana menyuruh Kyayi Nyuh Aya &lt;i&gt;nyungusung&lt;/i&gt; Aji Purana tersebut serta menyimpan di pamerajan rumahnya.&lt;br /&gt;· Kyayi Klapodyana berpesan kepada Kyayi Nyuh Aya dan semua keluarganya sbb : (1) setiap pujawali di Pura Tugu, Aji Purana agar diiring (tuwur) ke Pura Tugu, dan bila Pujawali telah berakhir agar kembali disimpan di Nyuh Aya; (2) dilarang mengingkari perjanjian, dan bila salah satu tidak menepati janji, maka seketurunan keluarga masing-masing akan dikutuk oleh Bathara Brahma dan tidak memperoleh keselamatan.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;· Setelah gagal upaya damai dan penyerangan ke-1 yang berturut-turut telah dilakukan untuk membawa putera-putera Dalem Tarukan menghadap Dalem di Gelgel, Dalem Ketut Smara Kepakisan menugaskan I Gusti Kubontubuh memimpin laskar Gelgel menyerang desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim, perang seru terjadi, akhirnya putera-putera Dalem Tarukan menyerah dan tunduk kepada titah Dalem untuk menghadap Dalem di Gelgel.&lt;br /&gt;· Sejak saat itu Kyayi Parembu, yang bermukim di desa Bubungtegeh yang termasuk salah satu dari desa-desa dimana putera-putera Dalem Tarukan bermukim, pada saat-saat tertentu pulang kembali ke Gelgel, ikut bersama-sama sanak keluarganya di Gelgel memelihara dan menyelenggarakan upacara keagamaan sebagaimana mestinya di Kahyangan tempat pemujaannya dahulu yaitu Pura Dalem Tugu.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1460 - 1550&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;br /&gt;Dalem Watu Ra Enggong, di Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat yang membantu adalah sbb :&lt;br /&gt;· Kyayi Batan Jeruk sebagai Perdana Menteri terkemuka.&lt;br /&gt;· Kyayi Pinatih sebagai Patih.&lt;br /&gt;· Kyayi Brangsingha sebagai sekretaris.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;· Kyayi Klapodyana karena sudah lanjut usia, maka digantikan oleh putranya yang bernama Kyayi Lurah Abian Tubuh dan menjabat sebagai patih, sedangkan adiknya Kyayi Lurah Karang Abiyan menjabat sebagai Bandhesa berpangkat Demung. &lt;br /&gt;· Kyayi Lurah Abian Tubuh wafat digantikan oleh putra satu-satunya bernama Kyayi Lurah Kubon Kelapa dengan jabatan Adhi Patih. Atas desakan Kyayi Poh Tegeh, Kyayi Lurah Kubon Kelapa memanggil Kyayi Tabehan Waringin (cucu Kyayi Parembu) yang menetap di Bubung Tegeh untuk mengadakan pertemuan kekeluargaan. Dalam pertemuan tersebut Kyayi Tabehan Waringin al. mempermaklumkan bahwa ayahandanya Kiyayi Wayahan Kuthawaringin telah membangun Parhyangan di Waringin sebagai tempat pemujaan leluhur. &lt;br /&gt;· Kyayi Wayahan Parembu putra sulung dari Kyayi Tabehan Waringin memperbaiki Pura Waringin tersebut.&lt;br /&gt;· Dalem Watu Ra Enggong sebelum moksa telah memberikan panugrahan kepada para Arya tentang tata cara pengabenan.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1550 - 1580&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;br /&gt;Dalem Pemayun Bekung, di Gelgel. &lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Kyayi Lurah Kubon Tubuh menjadi Patih Utama menggantikan ayahandanya yang sudah lanjut usia.&lt;br /&gt;· Kyayi Batan Jeruk bersama I Dewa Anggungan memberontak, dibantu oleh Kriyan Pande dan Kriyan Toh Jiwa pada tahun 1556, sehingga Dalem Pemayun Bekung dan adiknya (Ida I Dewa Anom Dimade Sagening) ditahan di dalam Keraton Gelgel. &lt;br /&gt;· Kyayi Kubon Kelapa dan Kyayi Lurah Kubon Tubuh (putranya) sebagai pelopor pembebasan Dalem Pemayun Bekung dan adiknya (Ida I Dewa Anom Dimade Sagening), dengan jalan menjebol tembok keraton melalui rumah Keriyan Penulisan, untuk selanjutnya dibawa ke rumah Keriyan Lurah Kubon Tubuh di Pekandelan, dibantu oleh Kriyan Dauh Nginte, Keriyan Pinatih, Keriyan Anglurah Tabanan, Keriyan Tegeh Kori, Kriyan Kabakaba, Kriyan Buringkit, Kriyan Pering, Kriyan Cagahan, Kriyan Sukahet, dan Kriyan Brangsinga. &lt;br /&gt;· Kyayi Batan Jeruk akhirnya kalah dikejar oleh para prajurit dan rakyat yang dipimpin oleh Kriyan Nginte dan Kyayi Lurah Kubon Tubuh dan dibunuh di Bungaya.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;· I Dewa Anggunan menyerah dan kastanya diturunkan menjadi Sang Anggunan.&lt;br /&gt;· Kriyan Pande menyerah, sedangkan Kriyan Toh Jiwa dibunuh oleh Kriyan Nginte.&lt;br /&gt;· Dalem Pemayun Bekung tetap menjadi raja dan Kriyan Nginte menggantikan jabatan Kyayi Batan Jeruk sebagai Patih.&lt;br /&gt;· Kriyan Pande memberontak terhadap Dalem Pemayun Bekung, akibat Dalem Pemayun Bekung lalai dalam memegang pemerintahan dan karena pemerintahan dikuasakan kepada Kriyan Nginte bersama-sama Kriyan Pinatih dan Kyayi Lurah Kobon Tubuh beserta Menteri-Menteri seluruhnya, sedangkan Ida I Dewa Anom Dimade diangkat sebagai Raja Muda.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1580 - 1665&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;br /&gt;Dalem Anom Dimade Sagening, di Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Putra Kriyan Nginte yang bernama Kriyan Agung Widya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pemuka Tanda Manteri, sedangkan adiknya Kriyan Kaler Pranawa menjabat sebagai Demung.&lt;br /&gt;· Kyayi Lurah Abiyan Tubuh dan Kyayi Lurah Madya Karang, keduanya menjabat Patih Muda menggantikan ayahnya Kyayi Lurah Kubon Tubuh yang sudah lanjut usia.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1665&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;br /&gt;Dalem Anom Pemayun, di Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Kyayi Lurah Madya Karang diangkat menjadi Maha Patih dan Kyayi Lurah Abiyan Tubuh diangkat sebagai Patih Utama.&lt;br /&gt;· Pejabat lainnya adalah : Kriyan Tangkas sebagai Patih Muda dan Kriyan Brangsinga sebagai Sekretaris.&lt;br /&gt;· Semua Catur Tanda Manteri dan seluruh Pasek Bandhesa dikembalikan kepada tugasnya semula. Akibat banyak orang yang kehilangan jabatan timbullah keresahan. &lt;br /&gt;· Beberapa bulan setelah Dalem Anom Pemayun bertahta, Kriyan Agung Maruti atas persetujuan adiknya Dalem (Ida I Dewa Dimade), memberontak kepada Dalem, yang dikenal dengan pemberontakan Maruti Ke-I.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1665&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;br /&gt;Dalem Anom Pemayun, di Purasi, kemudian pindah ke Tambega.Dari Purasi beliau memerintah Kerajaan Singharsa yang wilayahnya meliputi :&lt;br /&gt;-Timur : Tukad Telagawaja.&lt;br /&gt;- Utara : Ponjok Batu.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;1. Kriyan Madya Karang beserta putra-putranya semua, Kriyan Tangkas beserta keturunannya, dan Kriyan Brangsinga menjadi pelopor, pembela/pengawal perjalanan Dalem Anom Pemayun ke Purasi.&lt;br /&gt;2. Penugasan Dalem Anom Pemayun setelah berkedudukan di Purasi adalah sbb :&lt;br /&gt;· Kyayi Madya Karang tetap sebagai Kepala Para Menteri, dengan tugas : &lt;br /&gt;- Memikirkan pemerintahan Singharsa.&lt;br /&gt;- Menugaskan seluruh Pasek, Bendhesa untuk memimpin di desa-desa&lt;br /&gt;- Para Arya yang ikut akan diberi jabatan.&lt;br /&gt;· Menugaskan putra-putra Kyayi Madya Karang untuk mengatasi keamanan di desa-desa sbb :&lt;br /&gt;- I Gusti Wayan Tubuh di Bugbug.&lt;br /&gt;- I Gusti Gede Tubuh di Tulamben.&lt;br /&gt;- I Gusti Wayan Karang di Tianyar.&lt;br /&gt;- I Gusti Made Karang di Purasi.&lt;br /&gt;- I Gusti Abiyan Tubuh di Sengkidu.&lt;br /&gt;· Kyayi Madya Karang bersama putranya I Gusti Made Karang, mengikuti Dalem Anom Pemayun pindah dari Purasi ke Tambega.&lt;br /&gt;· Kyai Madya Karang lebih dahulu wafat dari Dalem Anom Pemayun dan dipelebon oleh putra-putranya yang dipimpin oleh I Gusti Gede Tubuh yang berkuasa di Tulamben. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1665 - 1686&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;a. Dalem Dimade, &lt;br /&gt;di Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Setelah Dalem Anom Pemayun pindah ke Purasi, Sri Agung Dimade (Ida I Dewa Dimade) bertahta dengan gelar Dalem Dimade. Kriyan Agung Maruti diangkat sebagai Patih.&lt;br /&gt;· Tidak diceritakan dimana Kyayi Lurah Abiyan Tubuh yang menjadi Patih Utama dalam pemerintahan Dalem Anom Pemayun, sedangkan beliau tidak termasuk yang mengikuti Dalem Anom Pemayun pindah ke Purasi.&lt;br /&gt;· Putra-putra dari Kyayi Lurah Abian Tubuh tidak memperoleh jabatan/kewibawaan sebab dianggap musuh oleh Kriyan Agung Maruti yang menjabat sebagai Patih, bahkan putra-putranya bercerai berai ke desa-desa karena hendak dibunuh oleh Kriyan Agung Maruti.&lt;br /&gt;· Setelah lama, Dalem Dimade sadar bahwa tidak boleh berpisah dengan keturunan Kyayi Kubon Tubuh, mengingat kesetiaannya sejak leluhurnya di zaman bahari, sehingga dikirimlah utusan untuk mencari putra-putra Kyayi Lurah Abiyan Tubuh yang akhirnya diketemukan dan diberi jabatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Kyayi Lurah Kubon Tubuh alias Ki Jumbuh, diangkat sebagai Demung di Pekandelan, Gelgel.&lt;br /&gt;- Kyayi Tubuh Guntang Gurna, sebagai Demung di Pekandelan Klungkung. &lt;br /&gt;- Kyayi Lurah Tubuh alias Ki Nyanyap, sebagai Bandhesa di Gelgel.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1686&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;b. Dalem Dimade, &lt;br /&gt;menyingkir ke Desa &lt;br /&gt;Guliang, Bangli.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Kriyan Agung Maruti, akhirnya memberontak terhadap Dalem Dimade, dikenal dengan Pemberontakan Maruti II.&lt;br /&gt;· Kyayi Madya Tubuh (putra II Kyayi Tubuh Guntang Gurna) dan Ki Nyanyap beserta putra-putranya yang masih kanak-kanak, ngiring Dalem Dimade ke Guliang.&lt;br /&gt;· Dalem Dimade wafat di Guliang (1686).&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1686 – 1704&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;c. Kriyan Agung Maruti, menjadi Raja di Gelgel. &lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Kriyan Agung Maruti berhasil dalam pemberontakannya dan bertahta menjadi Raja berkedudukan di Gelgel. Dukuh Kretha diangkat menjadi Patih, dan Keadaan di Bali menjadi tidak stabil.&lt;br /&gt;· Keturunan Kyayi Lurah Abiyan Tubuh lainnya menyebar ke seluruh Bali dan bermukim di beberapa tempat seperti : Gobleg, Tambahan, Pekandelan-Klungkung, Badung, Tabanan, Mengwi, Jemberana, Tamblang, Tuwakilang, Sibang, Tegaltamu, Abiansemal, Watubentar, Penarungan, Tengkulak, Sukawati, Tampaksiring, Kusamba, Pesaban, Antiga, Dawan, Bangli, Gianyar, Ubud, Karangasem, dan Kuramas.&lt;br /&gt;· Sri Anom Dimade (putra Dalem Anom Pemayun di Tembega), atas perintah ayahnya bertahta di Siddhemaan sebagai Raja Kerajaan Singharsa, kemudian mengorganisir penyerbuan terhadap Kriyan Agung Maruti, tetapi gagal.&lt;br /&gt;· Atas nasehat Pedanda Wayahan Burwan, Sri Anom Dimade mengirim utusan kepada sepupunya (putra Dalem Dimade) di Guliang untuk bersama-sama mengusahakan kembali penyerbuan terhadap Kriyan Agung Maruti di Gelgel. Penyerbuan belum terlaksana karena Sri Anom Dimade wafat terlebih dahulu pada tahun 1694.&lt;br /&gt;· I Gusti Made Karang (putera Kyayi Madya Karang), yang berada di Tembega bersama Dalem Anom Pemayun, bersama-sama Kriyan Tangkas Bias dan Brangsingha membawa pasukan dan Pajenengan Ki Begawan Canggu melewati Bukit Penyu untuk memperkuat pasukan Sri Anom Dimade untuk menyerang Kriyan Agung Maruti di Gelgel. Benteng pertahanan dibangun di Desa Tohjiwa. Penyerbuan gagal karena banjir sasih kapitu-kaulu. I Gusti Made Karang dan pasukannya diperintahkan untuk mempertahankan daerah perbatasan dan bermukim di Desa Lebu.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;· I Gusti Gede Tubuh yang berkuasa di Tulamben berputera tiga orang laki-laki, yang sulung Kyayi Karang Tubuh, kemudian pindah menuju desa Kubutambahan, menetap disana mengadakan keturunan. Putera yang kedua Kyayi Kubontubuh Culik, beliau juga bernama Kyayi Kubontubuh Tawing karena ibunya dari keluarga Ki Passek Tawing Culik, beliau menggantikan ayahandanya di Tulamben. Putera yang ketiga Kyayi Tubuh Tulamben, pindah menuju desa Ababi, menetap disana. &lt;br /&gt;· Kyayi Kubontubuh Culik (Kyayi Kubontubuh Tawing) berputera lima orang, yaitu berurut dari yang sulung sampai yang bungsu : 1.Kyayi Kubontubuh, 2.Kyayi Gede Bendesa Tubuh, 3.Kyayi Nyoman Tubuh, 4.Kyayi Gede Tubuh Tawing dan 5.Kyayi Tubuh Sibetan. Kelima orang putera Kyayi Kubontubuh Culik tersebut akhirnya terpencar mencari tempat tinggal, setelah terjadi peristiwa kekacauan di Tulamben pada tahun Saka 1617 atau 1695 M., yaitu yang tertua Kyayi Kubontubuh ke desa Pesangkan, Kyayi Gede Bendesa Tubuh ke desa Datah, Kyayi Nyoman Tubuh ke desa Sibetan, Kyayi Gede Tubuh Tawing ke desa Ngis-Tista dan Kyayi Tubuh Sibetan ke desa Kikiyan Rajagiri Abang.&lt;br /&gt;· Peristiwa kekacauan di Tulamben merupakan peristiwa perampokan. Pelakunya adalah sisa-sisa laskar Kerajaan Goa pada peristiwa Tulammben kepertama (1676M.) dan sisa-sisa laskar Kerajaan Bone pada peristiwa Tulamben kedua (1695M.). Sisa-sisa laskar tersebut mengembara di laut karena dikejar-kejar oleh pasukan KOOMPENI setelah kerajaan-kerajaan itu ditaklukkan oleh Belanda. Pada saat itu kebetulan Persekutuan Dagang Bangsa Inggris sedang berselisih dengan Persekutuan Dagang Balanda (VOC), sehingga perampok-perampok musuh Belanda itu berhasil mendapatkan bantuan berupa senjata api dari Persekutuan Dagang Bangsa Inggris. Dengan demikian mudah dipahami bahwa pada kedua peristiwa perampokan termaksud terjadilah pertempuran dengan persenjataan yang tidak seimbang. Penduduk desa Tulamben dibawah pimpinan Kyayi Kubontubuh Culik dengan senjata tradisional berhadapan dengan perampok yang bersenjata api, sehingga kekalahan tidak bisa dihindari. Kedua peristiwa perampokan desa Tulamben tersebut dapat terjadi, juga akibat kondisi Kerajaan Gelgel pada periode itu tidak memiliki cukup kemampuan untuk melindungi seluruh wilayahnya terhadap gangguan baik dari dalam maupun dari luar.&lt;br /&gt;· Sri Agung Gede Jambe (putra bungsu Dalem Dimade) di Guliang, datang ke Siddhemaan, berunding dengan Sri Agung Gede Ngurah (putra Sri Anom Dimade), Pedanda Wayan Burwan, Kyayi Jambe Pule, dan Kyayi Panji Sakti, dan memutuskan untuk mengadakan penyerbuan kembali ke Gelgel pada tahun 1704.&lt;br /&gt;· Kriyan Agung Maruti akhirnya kalah, dan lari dari Gelgel ke Jimbaran dan kemudian ke Kuramas.&lt;br /&gt;· Atas perintah Sri Agung Gede Jambe, Kyayi Lurah Tubuh alias Ki Nyapnyap mengejar Kriyan Agung Maruti ke Jimbaran dan Kuramas. Akhirnya Sri Agung Gede Jambe mengampuni Kriyan Agung Maruti dan diijinkan menetap di Kuramas. Demikian pula Ki Nyapnyap beserta anak istrinya diperintahkan menetap di Kuramas untuk mengawasi pikiran dan perbuatan Kriyan Agung Maruti.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1704&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;br /&gt;Sri Agung Gede Jambe, di Semarajaya.&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="435"&gt;&lt;br /&gt;· Sri Agung Gede Jambe menjadi Raja &lt;i&gt;abhiseka&lt;/i&gt; Ida Idewa Agung Jambe pada tahun 1710 dengan berkedudukan di Semarajaya, Klungkung.&lt;br /&gt;· Selanjutnya Zaman Kerajaan Klungkung&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ringkasan dan cuplikan dari dokumen-dokumen termaksud, semoga dapat mempermudah pemahaman peristiwa-peristiwa sejarah beserta para pelakunya, terutama bagi Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin pada khususnya dan para peminat sejarah/babad pada umumnya.&lt;br /&gt;Terima kasih atas kunjungan anda ke BLOG yang saya asuh, komentar dan saran-saran dari anda sangat diharapkan. Sampai ketemu pada postingan berikut. Kalau tidak ada halangan dalam postingan berikut saya bermaksud akan menyajikan uraian yang menjawab pertanyaan :”Mengapa Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin memakai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Petulangan Macan Selem&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ketika melaksanakan upacara &lt;strong&gt;&lt;em&gt;pengabenan.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, Juni 6, 2010.&lt;br /&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:89ef42e9-b1a2-4e6e-87c1-58b22a174d27" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Babad-04" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;Babad-04&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-3699476301883415210?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/3699476301883415210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/peristiwa-sejarah-dan-peranserta-sira_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/3699476301883415210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/3699476301883415210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/peristiwa-sejarah-dan-peranserta-sira_17.html' title='PERISTIWA SEJARAH DAN PERANSERTA SIRA ARYA KUTHAWARINGIN BESERTA KETURUNANNYA'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-6795595717962736077</id><published>2010-10-16T21:44:00.000+08:00</published><updated>2010-10-16T21:44:09.163+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>NASKAH BABAD SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Naskah Babad seperti dimaksud dalam judul diatas disajikan dibawah ini dengan penjelasan untuk dimaklumi bahwa kode “Hal. 1/b” s/d “Hal. 92/a” yang tercantum pada awal dari alinea-alinea tertentu dalam naskah dibawah ini merupakan nomor halaman lontar yang merujuk kepada lontar &lt;em&gt;babon&lt;/em&gt;-nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 1/b. Semoga tak terhalang. " Om pranamiyam sira sadiniyam, prawaksye tatwa widnyeyah, Siwa Ghrena stitya, swakyam, sawangsanira mangrajyam, bukti mukti itartatem, Wisnuwangsa pataye swaram, Rajarsi twam maha balam, Bupalakam patyam loke " — o — Om namo dewaya- Sembah sujud hamba kehadapan Yang Maha Kuasa, Kehadapan Paduka Bhatara Rahyang Manu, beliau mentakdirkan hidup dan mati, serta berhasilnya suatu tujuan. Setiap saat berada diatas ubun - ubun, yang pertama - tama disembah, sebelum sanak keluarga keturunan, memohon untuk menguraikan ceritera ini. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 2/a. yang termuat didalam "Purana Raja Sasana Candri Supralingga Buana" Kini teruraikanlah tentang asal-usul, oleh beliau yang telah bersatu dengan alam baka, pertama-tama memohon bantuan, semoga selamat dan sejahtera, terjauh dari segala kutukan, luput dari segala bencana yang dahsyat, moga-moga kekal abadi dihormati diatas dunia, Om Siddhi rastu swaha. — o —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Beginilah harapan pertama di dalam kata pembukaan. Agar diresapkan oleh mereka yang ingin mengetahui tentang ceritera "Manuwangsa". Pada tahun Caka 530, sasih kawolu, titi 12, tanggal bulan terang, —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 2/b. wara pujut, dikala itu Paduka Rahyang Dimaharaja Manu, turun dipulau Jawa, Medang Kemulan, ibarat keutamaan Dewata Dipuja disana, buat pertama sebagai raja di dunia. = Gurunem Sobitah siyotah = Makanya Sanghyang Manu turun kedunia, atas perintah ayahnda, beliau Bathara Guru, disuruh membangun Dharma disana di Medang Kemulan, selanjutnya mendirikan istana disana, serta bersemadilah beliau, memuja Sanghyang Surya dikala fajar menyingsing.—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 3/a. Akibat keberhasilan semadinya ibarat Dewata kenyataannya didunia, keadaannya tak ada bandingannya didunia, =Tanam lokastu rajnyitah, satyam wakbih kretam loke, srotawiyam dharmanam, bukta bhawanam wanycanam = Sesungguhnya sejahteralah keadaan dunia pada saat Sanghyang Manu menjadi raja, tidak ada kebenaran lebih dari beliau ( = yang beliau hayati ), sebab beliaulah yang berhasil semua perintahnya, mahir tentang keadaan masa lampau, kini dan yang akan datang, terutama termasuklah keadaan manusia, diwilayah pulau Jawa Medang Kemulan, semuanya tunduk menjunjung telapak kaki Paduka Bathara Ra Hyang Dimaharaja Manu. = Yawanam ma. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 3/b. ndhame dwiyah, tesanca yowanam prajah, dasantih Bujanggam tayah, Hewam santanam wijnyanah = Entah berapa lama Ra Hyang Dimaharaja Manu bertakhta menjadi junjungan disana, ibarat Dewata menjelma, selalu melaksanakan tapa beliau, memberikan pelajaran - pelajaran memenuhi dunia. Mengadakan keturunan, berkat jasa-jasanya dilahirkanlah keturunan Manu, disana di negara Medang Kemulan. = Awijam Ekam Sangstito = Mula-mula Ra Hyang Dimaharaja Manu, berputera laki-laki utama satu orang, bergelar Seri Jaya Langit, Adapun Sri Jaya. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 4/a. Langit, berputera seorang bernama Sri Wreti Kandhayun. Dan Sri Wreti Kandhayun, berputera Sri Kameswara Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, berputera seorang laki-laki utama, beliau bergelar Sri Dharma Wangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa, beliau sebagai pemimpin atas ketinggian ilmu bathinnya, menterjemahkan "Sapta sangkya Sangkrita" bersama delapan orang pendeta, karangan pujangga besar Baghawan Bhyasa, mengubah menjadi Palawakya, yang terkenal dengan nama Astadasa Parwa ( = Maha Bharatha). —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 4/b. Sebab beliaulah yang mendalami " Berata " berbudi dharma, sesungguhnya tugas seorang raja, menyelamatkan dan mengayomi negara dan rakyat, berlandaskan Satya-dharma, sebagai pelindung dunia, = Prawaktiyam Sri Gotrabih = Beliau Maharaja Besar, yang pertama, subur aman sentausa keadaan negara pada waktu beliau bertakhta menjadi raja, tak ada durjana yang berani durhaka kepada beliau. Demikianlah keutamaan beliau Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa. Entah berapa lama beliau bertakhta menjadi raja, selanjutnya mengadakan keturunan, beliau berputera dua orang putera-puteri. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 5/a. yang tertua laki-laki bergelar Sri Kameswara, sebagai nama datuk beliau, adiknya perempuan Sri Dewi Guna Priya Dharma Patni, menjadi permaisuri Sri Udayana Warmadewa, melahirkan Sri Erlanggia dan anak Wungsu. Dan Sri Kameswara berputera tiga orang laki-laki dan perempuan, yang sulung bergelar Sri Kertha Dharma, beliaulah yang wafat di Jirah, yang kedua Sri Tunggul Ametung, menjadi Bupati Tumapel, saudara perempuannya, Dewi Ghori namanya, diperisteri oleh Sang Empu Widha, yang berputera bernama Dyah Medhawati, bersatu dengan alam baka, bersemadhi. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 5/b. di pekuburan. Dan (=Sri Kameswara) mempunyai seorang anak angkat putera Sri Udayana Warmadewa, yang dilahirkan di pulau Bali, bergelar Sri Erlanggia, bertakhta menjadi raja, membangun istana di Negara Daha, dengan demikian empat orang putera Sri Kameswara, tiga orang laki-laki, perempuan hanya satu orang. Adapun Sri Erlanggia berputera dua orang yang terutama, tiga orang termasuk putera penawing, namanya satu persatu, ialah : yang sulung bergelar Sri Jayabhaya, adiknya bergelar Sri Jayasabha. Putera yang penawing bernama Sirarya Buru, beribu puteri desa (= gunung;). Dan — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 6/a. beliau mempunyai seorang puteri, bernama Sri Dewi Kili Endang Suci, Rake Kapucangan nama lainnya, tetapi hatinya tidak terpengaruh lagi untuk menjadi raja, sebab beliau seorang wanita yang taat kepada berata tidak bersuami, hanya melaksanakan tugas kependetaan, itulah sebabnya beliau hidup dipegunungan sebagai pertapa. Adapun Sri Jayabaya, dan Sri Jayasabha, tidak henti-hentinya bercekcok dengan saudara, mereka membagi Kerajaan Daha, Sang Empu Bharadhah sebagai penasehat ( = akhli pikir ), menjadilah negara Janggala dan Kediri = Sagara Ghanesiya warsaning ksiti ( = Candra sangkala yg mungkin berarti : Sagara = 4. Ghana = 6. Siya = 9. ) Tahun Caka 964 (= th. 1042 Masehi). – o - Pertama saya uraikan Sri Jaya Bhaya. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 6/b. Adapun Sri Jayabhaya berputera laki-laki sebanyak tiga orang, yang sulung bergelar Sri Haji Dangdang Gendis, yang Kedua Sri Siwa Wandhira, yang bungsu Sri Jaya Kusuma. Sekian putera-putera Sri Jayabhaya. Dan Sri Aji Dangdang Gendis, berputera Sri Jaya Katong, gugur di dalam pertempuran. Sri Jaya Katong berputera Sri Jaya Katha — o — Adapun Sri Siwa Wandhira, berputera Sri Jaya Waringin. — o — Dan Sri Jaya Kusuma, berputera Sri Wira Kusuma, mengadakan keturunan di pulau Jawa, mahir didalam Agama Islam, kemudian bergantilah gelarnya, ber— / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 7/a. gelar Rahaden Patah, tidak diceritakan. —o— Kembali ( = diceriterakan) Sri Jaya Waringin, dan Sri Jaya Katha, putera dari Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong, beliau berdua yang gugur di dalam peperangan; keduanya Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang tunduk pada raja Tumapel, waktu ayahnda gugur dalam pertempuran, dalam kekacauan di negara Daha, ternyata tembus sampai pada cucu menderita bencana, kutuk dari para pendheta Siwa Budha, bagaimanakah penyebab perang yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan, inilah dengarkan ceriteranya; dahulu pada tahun Caka 1144 (catur = 4. sagara = 4. eka = 1. tunggal = 1), tahun 1222 Masehi — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 7/b. bulan kedelapan, titi ketiga pada bulan mati, wuku Watugunung, pada saat itulah komando Sri Aji Ken Angrok, yang bertakhta di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, berkat desakan para pendeta Siwa dan Budha. Semula Sri Aji Dangdang Gendis durhaka terhadap para pendeta, menghinakan dharma sang pendeta, bagaikan Maharaja Nahusa, berkemauan menguasai Inderaloka, demikian perbuatan Sri Aji Dangdang Gendis. Itulah sebabnya para pendeta kesusahan. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 8/a. berpindah menuju Tumapel, memohon agar dibantu kepada Sri Aji Ken Angrok. Kini kerajaan Daha ibarat rumput yang kering sebesar gunung, keadaannya, terbakar hangus oleh segumpal cahaya api. Yang manakah apinya? Itulah kemarahan Sang Pendeta, yang menyala-nyala didalam hati beliau, dengan hembusan nafas laksana angin kencang, Sri Aji Ken Angrok menghancurkan, semakin menyala-nyala tanpa rintangan. Yang pada akhirnya Sri Aji Dangdang Gendis terkalahkan, mengertilah beliau bahwa ajalnya tiba, sebab Sri Aji Ken Angrok betul keturunan Brahma . — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 8/b. bergelar Sanghyang Guru. Itulah sebabnya Sri Aji Dangdang Gendis, menenangkan hati, menyatukan bathin, sekejap lenyap dan gaib tanpa jasad. — o — Kembali dikisahkan, para prajurit dan menteri dan lagi para sanak keluarga yang masih hidup, terpencar-pencar mencari tempat yang terlindung, untuk tempat bersembunyi, memerlukan agar terhindar, karena pimpinan perangnya Jaya Katong, Siwa Wandhira, telah hancur meninggal dunia, memenuhi tugas ksatriya uttama. Masih ada dua orang, pimpinan dari keluarga yang uttama, putera dari Jaya Katong. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 9/a. dan Siwa Wandhira, yang termashur bernama Jayakatha dan Jaya Waringin, mereka berdua sangat marah atas kematian ayahnya dimedan laga, bertindak maju menyerang bagaikan harimau yang garang. Lalu dikurung direbut oleh empat perwira, yang masing-masing namanya : Arya Wangbang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, disana Jayakatha dan Jaya Waringin keduanya ditangkap, tidak berdaya, ikut ditangkap isterinya Jayakatha, dilarikan ke Tumapel, kebetulan dalam keadaan sedang hamil dan. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 9/b. Jayawaringin masih jejaka, belum beristeri. Semua menteri, keempatnya belas kasihan hatinya, kepada Jayakatha dan Jayawaringin, itulah sebabnya selamat, tidak dibunuh. Dan sesampainya di Tumapel dijadikan anak oleh keluarga Gajah Para, keturunan keluarga isterinya Sira Endok, dan keluarga Kebo Ijo, disanalah dipelihara, tidak memperoleh kekuasaan, entah berapa lamanya bermukim di Tumapel, pada suatu saat, akhirnya Sri Jayakatha ber. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 10/a. putera tiga orang, yang sulung bernama Sirarya Wayahan Dalem Menyeneng; apa sebab diberi julukan "Dalem Manyeneng?" sebab hidup waras benih yang ada didalam rahim pada waktu ibunya dilarikan. Dan adiknya, bernama Arya Katanggaran, yang bungsu Arya Nudhata. Adapun Sirarya Wayahan Dalem Manyeneng, kemudian mempunyai putera dua orang laki-laki, bernama Sirarya Gajah Para, dan Sirarya Getas. Dan Sirarya Katanggaran, putera kedua dari Sri Jayakatha, beristerikan keturunan Kebo Ijo, di Tumapel. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.10/b. beliau berputera seorang laki-laki, bernama sira Kebo Anabrang, Sirarya Saberang dikenal oleh umum, sebab beliau diutus menggempur daerah seberang ( = Melayu ), oleh Prabu Kerthanegara, Raja Singasari, beliau berkemauan mempersunting puteri Raja negara seberang ( = Melayu ), yang bernama Diyah Dara Petak dan Diyah Dara Jingga. Adapun Sirarya Saberang berputera hanya seorang, ayahnda memberi nama Kebo Taruna, terkenal pada umum bernama Sirarya Singha Sardhula, kemudian beliau menyeberang ke nusa Bali, menjabat kenuruhan ( = suatu jabatan penting ) — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 11/a. tetaplah bergelar Sirarya Kanuruhan, hentikan penuturannya sedemikian. —o—. Kembali dikisahkan tentang Sri Jayawaringin, setelah tiba di Tumapel, dijadikan anak oleh para warga Kebo Ijo, kemudian diberikan isteri, puteri keturunan Kebo Ijo, yang bernama Ghandi Gari. Berapa lamanya mereka bersuami isteri, berputeralah seorang laki-laki, bernama Sirarya Kuthawandhira. Lama kelamaan Sirarya Kuthawandhira memperoleh keturunan seorang laki-laki, bernama Sirarya Kuthawaringin, itulah beliau Sirarya Kuthawaringin diperintahkan oleh. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 11/b. Maha Patih Gajah Mada, menyeberang ke Nusa Bali, demikian ceritera dijaman bahari, hentikan, —o—. Kini ulang ceriteranya, diganti dengan penuturan Sri Jaya Sabha, adik dari Sri Jayabhaya, beliau Sri Jayasabha menurunkan seorang putera laki-laki, bernama Siraryeng Kadiri, adapun Siraryeng Kadiri, berputera Sirarya Kepakisan, Itulah beliau Sirarya Kepakisan yang datang di nusa Bali atas perintah Maha Patih Gajah Mada, hentikan penceriteraannya. — o — Dikisahkan waktu bertakhta Prabu Siwabudha ( = Kerthanegara ) sebagai raja Kerajaan Singasari, terjadi kemelut dalam negaranya, tidak. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 12/a. ada kerja sama dengan raja-raja lainnya, bercekcok dengan raja negeri Cina, akibatnya terjadi peperangan yang dahsyat, hancur lebur negara Singasari, beserta rajanya, seolah-olah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi besarnya Raja Kerajaan Majapahit, karena kebijaksanaan beliau, Sri Harsa Wijaya ( = Raden Wijaya ), yang telah mengetahui tujuan musuh datang, selanjutnya musuh dapat dikalahkan, maka dari pada itu Singasari tunduk kepada Majapahit, dan negara-negara ( = daerah daerah ) jajahan Singasari dahulu dikuasai juga oleh Majapahit, tetapi daerah timur selat Bali ( = segara rupek) belum terkalahkan, yang terutama pulau Bali. —o— Dikisahkan. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 12/b. ketika menghancurkan kerajaan Bedhahulu, oleh raja Majapahit, dengan bermacam ragam oleh Maha Patih Gajah Mada melaksanakan kebijaksanaan dan usaha yang uttama, ilmu rahasia Kepemimpinannya Sanghyang Wisnu, dan kehancurannya Kebo Waruya Dahulu, namun tetap belum terkalahkan pulau Bali itu, karena amat saktinya Ki Pasung Grigis. Disana berundinglah sekalian menteri-menteri Majapahit, dengan dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada, diperbincangkan panjang lebar tentang penyerbuan pulau Bali. Setelah matang permufakatannya, semua bergegas mereka berangkat, — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 13/a. dengan perahu, menyerbu pulau Bali, terbagi menjadi tiga jurusan prajurit-prajurit itu bertempur. Beliau Maha Patih Gajah Mada menuju sebelah timur pulau Bali, yang dibantu oleh para menteri dan para Arya yang lain, mendarat di Toyanyar ( = Tiyanyar). Adapun yang dari Bali sebelah utara, Sirarya Damar, dibantu oleh Arya Sentong, dan Sirarya Kuthawaringin, mendarat di Ularan. Dan Sirarya Kenceng bersama dengan Sirarya Belog, Sirarya Penghalasan, Sirarya Kanuruhan, kesebelah selatan Bali, menuju pantai Kutha. Dalam keadaan demikian, terkejutlah — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 13/b. rakyat pulau Bali, bergegas-gegas para perwira Bali, berpasang-pasangan berangkat kearah tujuannya, dengan bersenjata lengkap, ada yang kearah timur, keutara, keselatan, menghadapi bala tentara Majapahit,. Tersebutlah penggempuran Maha Patih Gajah Mada dari sebelah timur, membakar hutan-hutan dan gunung, sehingga bernyala-nyala cahaya api, asap mengepul-ngepul, menjulang tinggi kelangit, tiba-tiba dilihat oleh para Arya dan rakyatnya dari utara dan selatan, saat itu serempaklah laskar Majapahit, berperang habis-habisan, sebab demikian, — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 14/a. perjanjiannya dulu. Tak terlukiskan dahsyatnya pertempuran pada ketiga jurusan, serang-menyerang, akhirnya terdesak rakyat Bali. Yang bergerak disebelah timur, terbunuh perwira Bali Ki Tunjung Tutur, di Toyanyar, dan Si Kopang yang berkuasa di Seraya, semua terkalahkan, oleh laskar Majapahit, berlari tunggang langgang rakyat yang masih hidup, ternyata tunduk daerah yang disebelah timur Gunung Agung. Adapun yang menyerang dipantai utara, dikalahkan si Girikmana, yang bermukim di Ularan, oleh Sirarya Damar. Dan Ki Buah yang berumah. —/ —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 14/b. di Batur, dibunuh oleh Sirarya Kuthawaringin. Setelah meninggal kedua orang menteri itu, semua rakyat berlari berusaha menyelinap ditempat-tempat terlindung, oleh karenanya berhasil dikalahkan daerah diutara Gunung ( = Gunung Agung ). Dikisahkan mereka yang menyerang dari selatan, dihadapi oleh laskar orang-orang Bali, yaitu Ki Gudug Basur, berpangkat Demung, dan Ki Tambiyak, yang berdiam di Jimbaran, bersama rakyat berbondong-bondong, amat hebatnya peperangan itu, riuh rendah suara gambelan berpadu dengan dentingan tombak, banyaklah rakyat yang mati dan menderita luka-luka, rakyat Bali menderita kekalahan, mundur. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 15/a. kebelakang. Tiba-tiba Ki Tambiyak dan Ki Gudug Basur, direbut oleh para Arya dan menteri Majapahit, tak terlukiskan sulitnya pertempuran sama-sama berusaha dengan beraneka ragam mendapatkan pengintaian, akhirnya tertangkap dia Ki Tambiyak, langsung dipenggal oleh Sirarya Kenceng, masih dia Ki Gudug Basur, dikurung bersama-sama, kuat kebal sehingga tak terlukai. Semakin lesu Perlawanannya, dan akibatnya menjadi payah tubuhnya, kemudian matilah dia telanjang bulat, disoraki oleh laskar Majapahit, selanjutnya tenggelam Sanghyang Surya ibarat meleraikan pertempuran itu. — o — Sesudah lama — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 15/b. peperangan tersebut, sesudahnya mati Ki Gudug Basur, dikisahkan setelah kalah pesisir pulau Bali, tinggallah Kriyan Pasung Grigis di Tengkulak, mempertahankan pulau Bali, sebab tidak goyah kesaktiannya, berani dan akhli dalam pertempuran, mahir dalam tangkis-menangkis, seolah-olah berganti wujud tampaknya, menjadi susahlah hati maha Patih Gajah Mada, karena kelicikan Ki Pasung Gerigis, didalam pertandingan tempur, sebab rencana Rakriyan Patih Gajah Mada dapat menundukkan tanpa membunuh ( = menangkap hidup ), sebab memang demikian permintaan Sang raja Majapahit dulu, Ketika terhentinya pertempuran pada malam hari, berundinglah beliau. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 16/a.Rakriyan patih Gajah Mada, bersama para Arya Majapahit, terutama Sirarya Damar, mereka membicarakan hingga berhasilnya permintaan Sang Raja Majapahit, yaitu tunduknya Ki Pasung Gerigis. Setelah dapat disimpulkan siasat yang licin ( = upaya sandhi ), semua para arya menyetujui keputusan Maha Patih Gajah Mada. Keesokan harinya, seluruh laskar Majapahit, membalik persenjataan ( = anungsang sanjata ), disertai tanda mengibarkan bendera putih, suatu tanda menyerah/tunduk, sebab memang demikianlah hukum ( = dharma sasananing) pertempuran. Dengan segera diketahui oleh Ki Pasung Gerigis, perilaku laskar Majapahit bermaksud untuk tunduk/ menyerah, amatlah girang. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 16/b. hati Ki Pasung Grigis. Oleh karena ditakdirkan oleh, Ida Sanghyang Widhi Wasa, lenyaplah kelicikan Ki Pasung Grigis, tidak sadar diperdayakan, terus lupa, bagaikan kelelapan dia, bagai diselimuti hatinya oleh rajah tamah, sehingga angkara dan berbangga maksud hatinya, melalaikan tipu muslihat, karena mengandalkan kesaktian dirinya, akhirnya laskar Majapahit disuruh menghadap. Pada saat tiba para menteri Majapahit, semua menundukkan kepala, ( = menghormat) seolah - olah tidak mempunyai suatu keberanian, serta menghadap dan berbakti ( = talangkup ) kepada Kriyan Pasung Grigis, menyatakan.— / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 17/a. "tunduk" berterima kasih Ki Pasung Gerigis, Tidak diceriterakan keputusan percakapannya/perundingannya, Ki Pasung Gerigis pulang ke istananya di Tengkulak, bergandengan tangan dengan Maha Patih Gajah Mada, diiringkan oleh para Arya sekalian; setelah tiba diistana, tak terkatakan penerimaannya, serta dengan senda gurau yang menyenangkan hati masing-masing. Pada waktu itulah Maha Patih Gajah Mada melaksanakan tipu muslihatnya, katanya : pertanyaan hamba Si Mada, kehadapan paduka Gusti, karena mulia tersohor dimana-mana, katanya paduka Gusti mempunyai anjing yang berwarna hitam, diperkirakan. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 17/b. mengetahui/pandai seperti sifatnya manusia, bila paduka Gusti kasih sayang kepada hamba saat ini, dipanggil anjing itu, agar supaya kami semua mengetahuinya. Demikianlah permintaan Maha Patih Gajah Mada, maka sangat bersuka cita Keriyan Pasung Gerigis, tidak disadari siasat yang membuat celaka, ujarnya : jangan curiga, segala kehendak adinda Patih kanda kabulkan. Disana tersenyum Ki Pasung Grigis, sambil memanggil anjingnya, olehnya dijanjikan akan diberi makanan, dengan segera datang anjing tersebut, tempurung yang bundar digigitnya ( = membawa dengan mulut ), tetapi tidak benar diberikan nasi, jelas dilihat oleh Maha Patih. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 18/a. Mada, serta para Arya dan prajurit seluruhnya tentang perbuatannya demikian, seketika berdiri tegak Maha Patih Mada, maju kedepan. menuding mukanya Pasung Grigis, serta senjata gemerlapan, AH... IH.... Pasung Grigis, jelas lenyap menghilang keutamaanmu, sebab engkau melakukan perbuatan jahat/bohong, tidak tepat pada kata-katamu, menjanjikan, tapi tidak benar, untuk seterusnya, musnahlah kepintaranmu, terbang melayang-layang, sebab sudah disaksikan oleh Sanghyang Trayodasasaksi, engkau tidak jujur. Kini bagaimana kehendakmu?. Niatmu akan mengadu. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.18/b. keberanian/ketangkasan/keperwiraan kepadaku? Ya.. tandingilah senjataku ini!. Dengan demikian ..... terdiam Ki Pasung Grigis, laksana hancur hatinya, bagaikan disapu keperwiraannya, bagaikan disambar petir budhinya, oleh Rakriyan Patih Mada , kemudian menjawab dengan sopan, bahwa ia mempersembahkan jiwanya, dan pulau Bali sampai kepelosokpelosok, dan mengakui bahwa Bali telah kalah oleh Majapahit, demikianlah katanya jalan penangkapan atas diri Ki Pasung Grigis, di Tengkulak, serta tunduknya para menteri Bali dengan rakyat yang masih hidup. — o — Diceriterakanlah Pararya Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.19/a. yang terkemuka Maha Patih Gajah Mada, serta laskar bawahannya semua bersenang-senang menghibur diri, sebab memang demikian kebiasaan apabila menang dalam peperangan. Pada suatu saat datanglah utusan Raja, Majapahit, putera Ki Patih Tuwa, yang bernama Ki Kudha Pangasih, adik dari &lt;u&gt;Ken Bebed isterinya Maha Patih Gajah Mada.&lt;/u&gt; Setibanya di Tengkulak, diterima oleh Rakriyan Gajah Mada, serta semua Para Arya, telah diberitahu ceritera sejak awal jalannya pertempuran, semua gembira ria, didalam lubuk hatinya. Disana berkata Ki Kudha Pengasih, kepada Rakriyan Patih Gajah Mada. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 19/b. Aturnya: Paduka Gusti Patih, berhubung telah berjasa ( = tugas telah selesai), paduka gusti segera dititahkan kembali ke Majapahit, sebab paduka Gusti telah lama meninggalkan kerajaan, Maha Patih Gajah Mada, bersabda, bahwa beliau tidak menolak, ( = hatinya setuju ). Pe-rintah raja, hanya saja sedang mengatur para Arya yang patut untuk mempertahankan pulau Bali. Lanjut dikumpulkan pararya selain dari Sirarya Damar. Berturut-turut semuanya disuruh ( = diperintahkan ) mengawasi wilayah kerajaan, ditetapkan tempatnya masing-masing, ialah : SIRARYA KUTHAWARINGIN di GELGEL, Sirarya Kenceng. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 20/a di Tabanan, Sirarya Belog di Kaba-kaba, Sirarya Delancang di Kapal, Sirarya Belentong di Pacung, Sirarya Sentong di Carangsari, Sirarya Kanuruhan Singha Sardula di Tangkas, Keriyan Punta di Mambal, Keriyan Jerudeh di Tamukti, Keriyan Tumenggung di Patemon, Arya Demung Wangbang turunan Kadiri di Kretelangu ( = Badung ), Arya Sura Wangbang turunan Lasem di Sukahet, Arya Wangbang turunan Mataram boleh memilih tempat dimana saja, Arya Mekel Cengkerong di Jaranbana ( = mungkin Jemberana), Arya Pamacekan. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 20/b. di Bondalem. Demikianlah pengaturannya Maha Patih Gajah Mada, agar supaya semua mempertahankan pulau Bali serta rakyatnya, sementara menunggu seorang raja untuk memimpin pulau Bali, dan semuanya diberikan kata-kata nasehat oleh Maha Patih Gajah Mada tentang bagaimana caranya mengatur negara, dan tentang raja sasana, sampai dengan niti praya, disana serempak menjawab -ya- mereka yang dinasehati, semua bersedia atas segala perintah Maha Patih Gajah Mada, masing-masing menempatkan dirinya menurut ketentuan. — o — Diceriterakan setelah hancurnya Bedahulu, tunduknya Pasung ; Gerigis, berkuasa Sri Aji Ka. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 21/a. la Gemet di Majapahit, sunyi senyap keadaan pulau Bali, sebab telah lama belum ada seorang raja yang memegang kekuasaan disana. Sehingga belas kasihan hati Maha Patih Gajah Mada, melihat pulau Bali hampir rnengalami kehancuran karena tiada pengaturan, sebab belum ada rajanya. Lebih-lebih telah didelegasi oleh keturunan tujuh orang Mpu (= Mpu Sanak Pitu), yaitu : Sira Patih Ulung, Kiyayi Pamacekan, Kiyayi Kapasekan, Kiyayi Padang Subadra, memohon ke-hadapan Raja Majapahit, dan Rakeriyan Mangku Negara ( = Gajah Mada), agar ada bertakhta menjadi raja sebagai Kepala Negara.— / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 21/b. Bali dengan segera, menjadi junjungan rakyat Bali. Kemudian pada waktu Mertha Masa, Purnama bulan ke empat (= Kapat), disana Maha Patih Gajah Mada melantik putera-puteranya Sri Kresna Wang Bang Kepakisan, setelah direstui oleh Maharaja Majapahit, diberangkatkan mereka masing-masing, adapun yang tertua dijadikan raja di Belambangan, putera yang kedua bertakhta di Pasuruhan, yang ketiga seorang puteri bertakhta di Sumbawa, yang bungsu bertakhta di Pulau BALI, bergelar Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan, pada tahun Saka. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 22/a. "Yogan muni rwaning bhwana" ( = th. 1274 C atau 1352 Masehi), jelas bagaikan Wisnu Narayana, menjelma mengayomi di ketiga alam, dipuja oleh para arya semua, tegaklah kedudukan beliau di Samperangan, di pesanggrahan Maha Patih Gajah Mada dahulu pada waktu merencanakan penyerangan pada kerajaan Bedahulu. Adapun yang menjadi Patih Agung adalah Sirarya Kepakisan, yang kedua Patih Sirarya Kuthawaringin, Sirarya Kanuruhan sebagai sekretaris Dalem. Sesudah itu datanglah dua orang Arya yang bersaudara, bernama Sirarya Gajah Para adiknya bernama Sirarya Getas, dititahkan untuk mempertahankan disebelah. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 22/b.timur Gunung ( = G. Agung), bermukim di Toyaanyar. —o— Diceriterakan kembali, Sirarya Kuthawaringin terutama dikisahkan, diberikan kedudukan Adhi-Patih, pejabat tinggi pembantu terdepan Dalem Ketut Kresna Kepakisan, juga berkedudukan sebagai tumenggung. Entah berapa lamanya Sirarya Kuthawaringin menjadi menterinya/pejabat terdepan Sri Aji Kudhawandhira di Samperangan, hanya ketentraman dan keamanan negara yang beliau perbuat selalu, oleh karenanya amatlah bahagia kehidupannya, sebagai kebesaran leluhurnya di Kadiri diwarisinya. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 23/a. memperoleh kepuasan atas jasa dan kewibawaan didunia, Adapun Sirarya Kuthawaringin sudah mempunyai keturunan, empat orang pria wanita, yang sulung bernama KIYAYI KLAPODHYANA, yang kedua bernama KIYAYI PAREMBU, putera yang ketiga bernama KIYAYI CANDHI, yang bungsu wanita bernama I Gusti Ayu Waringin, diambil dijadikan permaisuri oleh Sira Dalem Ketut Kresna Kepakisan. Sekian keturunan Sirarya Kuthawaringin, semua berkedudukan membuat rumah di Gelgel; dalam kehidupan yang penuh kewibawaan. Lama kelamaan Sira Kyayi Klapodhyana. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.23/b. menjadi patih uttama mengganti ayahnda Sirarya Kuthawaringin sebab beliau telah lanjut usia, beliau Kyayi Klapodhyana yang bergelar Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, yang pertama-tama pindah istana di perkebunan disebelah barat ( = Abiyan kawan), entah berapa pula lamanya Sirarya Kuthawaringin bermukim di Gelgel, berakhirlah waktunya untuk berkecimpung dalam kepuasan dunia, merasakan kesenangan indria Pada akhirnya wafat Sirarya Kuthawaringin, pulang ke alam baka, kembali keasalnya ( = windhu rupaka ), —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 24/a. menuju penciptanya, kembali bersatu dengan yang Maha Halus. Selesai sudah upacara "Palebon" yang diselenggarakan oleh seluruh putera-putera dan sanak keluarganya, lanjut dengan upacara "Baligia" dengan Atma Pratistha, demikian tata upacaranya, tidak dituturkan lagi. — o —. Adapun Sira Dalem Ketut Kresna Kepakisan, beliau telah kembali ke alam baka ( = wafat), terasa bimbang sunyi sepi ketiga alam itu (= kadi mangrwa suniya ikang tribuana) = mungkin candra sengkala; kadi mangrwa = 2. suniya = 0. ikang tri = 3. buana = 1. (= 1302 C). Digantikan oleh putera beliau yang sulung, bergelar Sira Dalem Samperangan, tersohor didunia beliau bernama Dalem Ile dan putera yang kedua bernama Dalem Taruk. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.24/b. bermukim dipuri Tarukan, namun tidak berminat/tidak tertarik oleh pemerintahan kerajaan ( = Kaprabon ), berkemauan melaksanakan Dharma seorang Pendheta, tetapi beliau belum dapat memahami rahasia menjadi manusia, sehingga beliau membuat wujud seperti orang gila ( = Brantadnyana). Putera Dalem yang bungsu bernama sira Dalem Ketut, amat gemar berjudi berkeliling (= angulesir), dimanapun tempat judian itu dikunjunginya, tak tertahan oleh beliau pengaruh wujud inderia itu, Ada lagi putera beliau ( = Dalem Ketut Kresna Kepakisan) satu orang dari lain ibu, bernama Ida Idewa Tegal Besung, lahir dari I Gusti Ayu Waringin, sebagai. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 25/a. berjarak amat jauh kelahirannya ( = anglangsut ). Beliau putera Dalem yang termuda, juga terhitung cucu dari wadu oleh Sirarya Kuthawaringin, Jadi empat orang jumlah putera Bathara Kresna Kepakisan yang pertama tiba di Bali ( = Bhurawuh ). —o—. Diceriterakan pada waktu Kiyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, bersama para arya tandha manteri yang lain menghadap Dalem Ile di Samprangan terlambat beliau keluar ke balai Penghadapan, asyik beliau menatap bayangan pada cermin ( = bercermin ), menyempurnakan gelung, mengulang - ulang berkain ( = wastra ), sehingga condong kebarat Sang Surya.—/— belum juga Dalem keluar kepenghadapan, akhirnya payah/gelisah olehnya menunggu di Balairung, demikian tingkah beliau berulang-dua, tiga kali, sehingga kecewa bercampur marah putus asa dan pergi ( = ngambul ) mereka yang menghadap. Kemudian didengar oleh Dalem Taruk tentang keadaan Maharaja Samperangan, oleh karena itu beliau mengutus Kudha Panandang Kajar untuk mencari adinda Dalem Taruk yang bergelar Dalem Ketut, namun ditolak olehnya, pendek jawaban beliau ( = Dalem Ketut ) tidak mau kembali pulang, sebab sedang diliputi kesenangan ( = inderia ) Dalam keadaan demikian, Kyayi Klapodhyana bermaksud hendak menghadap pada Dalem Ketut, tetapi. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.26/a. ada yang dikhawatirkannya kalau-kalau ditanggapi durhaka menentang, sebab keris pusaka Dalem yang termashur bernama Ki Tandhalanglang, sangat saktinya, mampu menyelidiki/mengontrol para menteri yang durhaka berani menentang Dalem, langsung dapat tertancap didada para menteri yang durhaka, tanpa diantar, bila mangsanya telah mati, kembali Ki Tandalanglang bertuliskan darah. Berpikir-pikir Kyayi Agung Bandhesa Gelgel ( = Klapodhyana), kuatlah kemauannya untuk menegakkan kesejahteraan Negara serta wilayahnya, berdengung bagaikan suara dari angkasa, didengar olehnya. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 26/b. menyuruh mengunjungi/menjunjung Dalem Ketut, sehingga terhindar kehancuran negara, tak terkatakan, lanjut Kyayi Klapodhyana dibarengi oleh para Bahudandha tandha manteri serempak menuju desa Pandak, hendak menghadap Dalem Ketut, telah diselidiki bahwa beliau berada disana, sebab kesayangannya ( = Klapodhyana), Ida Idewa Tegal Besung masih kanak - kanak, belum tahu untuk memerintah kerajaan. Tak tertuliskan dalam perjalanan, tiba mereka di Pandak, akhirnya diketemui beliau Dalem Ketut sedang berada dalam judian, tersipu-sipu sangat. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 27/a.malu, sering menderita kekalahan, tanpa ragu-ragu dalam hatinya. langsung dengan ramah tamah berkatalah Kyayi Klapodhyana : Singgih Cili, lihatlah kebaktian hamba sampai dengan hati tingkat ketujuh, kini .... Cili hamba jadikan Raja ( = junjungan), sehingga negara tidak hancur, rakanda cili Sri Aji Samprangan sulit untuk dihadap.- Lama tidak menjawab beliau yang dipuja ( = Dalem Ketut), karena sangat malunya, sambil berpikir-pikir, dengan berlinang-linang air mata beliau bersabda; apakah gunanya aku bertakhta menjadi Dalem sebagai rajamu, kau puja-puja. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.27/b.karena aku orang hina, miskin, kasar. Lagi berkata Kyayi Klapodhyana, yang mulia Cili, janganlah demikian, hanya cili juga yang hamba jadikan raja, .... ya .. itu... ambil rumah hamba untuk istana cili, hamba pindah rumah kekebun hamba yang berisi pohon kelapa ( = Tubuh ),. Demikian berkeras hati permohonan Kyayi Klapodhyana, berkenanlah beliau Dalem Ketut mengabulkan permohonannya Kyayi Bandhesa Gelgel, itulah alasan permulaan beliau Dalem Ketut beristana di Gelgel, serta diberi nama &lt;b&gt;SWECALINGGARSAPURA&lt;/b&gt;. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 28/a.Panca windhu pramananing rat, candrasengkala : Panca = 5. Windhu = 0. Pramana = 3. Rat. = 1. Isaka 1305 = 1383 Masehi, serta Dalem Ketut bergelar Sri Aji Semara Kepakisan, sebab awataranya Sanghyang Semara, karena cantik tampan penuh dengan sadguna, tempat berkumpulnya asta beratha, sukar dibedakan bila dibandingkan dengan Hyang Mahadewa, gambar CAWIRI pada paha pertanda jaya dalam pertempuran. Disana para menteri terbagi, ada yang ke Gelgel, ada yang tinggal di Samperangan, tetapi lebih banyak yang ke Gelgel. Ada yang melaporkan kepada Dalem Samperangan, bahwa Dalem Ketut di Gelgel, dipuja oleh Bandhesa Klapodhyana. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 28/b. serta menteri - menteri yang lain, Dalem ( = Dalem Samperangan ) terdiam. —o — Diceriterakan Kiyayi Klapodhyana, menjadi Patih terkemuka dari Sri Cili Ketut ( = Dalem Ketut Semara Kepakisan), Dalem yang beristana ( = berkedudukan) di Swecalinggarsapura ( = Gelgel). Beliau Kriyan Patih Klapodhyana dapat berselisih pendapat ( = bertengkar), dengan Kiyayi Nyuhaya, yang disebabkan ( = sebagai alasan ) Kriyan Patih Klapodhyana mengawini puterinya Kyayi Nyuhaya, yang bernama I Gusti Ayu Adhi, saudara dari Kriyan Petandhakan, dengan alasan yang demikian ternyata menimbulkan kemarahan dan kegelisahan hatinya Kyayi Nyuhaya. Tidak. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 29/a. rela diambil puterinya, serta ditolak semua perundingan melalui utusan ( = peradang ). Tersirat dalam hati Kyayi Nyuhaya, yaitu mengusahakan kematiannya Kyayi Klapodhyana, karena dia menyangka, besar dosanya ( = Kyayi Klapodhyana), orang rendahan mengambil isteri keturunan uttama, tidak ada lain penebusnya, selain dari kematian. Demikian keras kehendak Kyayi Nyuhaya, serta telah dirundingkan, pada sekalian putera-puteranya yaitu : Kriyan Petandhakan, Satra, Pelangan, Kaloping, Akah, Cacaran, Anggan, ikut serta para Pangeran semua saudara. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 29/b. sepupu, yang berkumpul menjadi satu. Setelah bulat perundingan mereka, segera datang menghadap kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan, di Swecapura, mempermaklumkan (= mengatakan) bahwa anaknya diambil ( = diperistri) oleh Kyayi Klapodhyana, memohon ijin untuk membunuh Kriyan Patih Klapodhyana, kesalahannya mempersunting puteri turunan uttama, karena tidak dikenal kebangsaannya (= kasta keturunannya) Demikian atur Kyayi Nyuhaya, Dalem Ketut Semara Kepakisan terdiam tanpa jawaban, karena muncul berjenis-jenis bisikan dalam hati beliau, yang menyebabkan beliau (= Dalem Ketut Semara Kepakisan) memperoleh kebesaran dan kewibawaan. — / — .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 30/a. Dipersembahkan kepadanya seorang permaisuri, hanyalah berkat dia Kriyan Patih Klapodhyana yang menyerahkan kerajaan, kini keadaannya terkena kesulitan hanya setitik, sekarang aku tak kuasa membantunya, ... aduhai .... besar sungguh hutang budiku bila tidak dibalas sama sekali, untuk selanjutnya tidak berguna benar hidupku. Selanjutnya Dalem bersabda kepada Kyayi Nyuhaya, sabdanya : hai kamu Punta Nyuhaya, terlanjur caramu berpikir, berikanlah waktu sebentar, sekurang – kurangnya dua hari, niatku untuk membuktikan wangsa kelahirannya Kyayi Klapodhyana, entah dari mana asal mulanya. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 30/b.sehingga tak terjadi kekalutan dalam negara kerajaan. Bila seperti katamu, memerlukan kematiannya, terang hancur lebur Swecapura ini, apa sebab demikian, karena Kyayi Klapodhyana banyak rakyatnya, yang berani membelanya, lagi pula sanak keluarga lebih-lebih lagi kaum bangsawan, ikut serta seluruh warga Pasek, semua dikuasai oleh Kyayi Klapodhyana, karena bijaksana membina masyarakat, serta cakap dan suka memberikan ampun dan bantuan berupa benda, manis tutur katanya, tegas, makanya disegani oleh bawahannya. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.31/a. Kamu Punta Nyuhaya, tunggu sebentar : menurut pula Kyayi Nyuhaya, tidak berani durhaka, lanjut bermohon diri untuk pulang dengan atur penganjali. Demikian tentang Kyayi Nyuhaya. — o —. Dikisahkan besoknya Dalem mengirim utusan untuk memanggil Kriyan Klapodhyana, panjang bila dilukiskan tingkah laku utusan didalam perjalanan, segera telah menghadap kepada Kyayi Patih Klapodhyana, kata utusan : Ki Gusti disuruh menghadap hari ini juga, atas perintah Sri Aji Ketut Semara Kepakisan, yang berkedudukan di istana. Menjawab Kriyan Patih. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 31/b. silahkan kamu berangkat kembali lebih dulu, permaklumkan bahwa saya akan menghadap esok hari. Adapun diceriterakan besoknya Kyayi Patih Klapodhyana langsung menghadap keistana, dan setibanya dalam istana, penuh sesak para tandha manteri, semuanya menghadap, misalnya Kyayi Nyuhaya serta saudara dan semua puteranya, sama-sama ingin mengetahui persidangan pengadilan oleh Dalem Ketut Semara Kepakisan.- Demikian pula keluarga, seluruh rakyat bawahannya, terutama pembela-pembela yang diandalkan, yang memihak kepada Kriyan Patih Klapodhyana, semua. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 32/a. sangat gembira hatinya, semua ingin melawan berperang, sebab telah jelas tersebar berita permohonan Kyayi Nyuhaya untuk menghancurkan Keriyan Patih Klapodhyana, itulah sebabnya para sanak keluarga seperti tertarik, mendukung Kryan Patih, semua hendak membelanya. Disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menanya Kriyan Patih Klapodhyana, sabda Dalem : Duh .... kanda Patih Klapodhyana, dengarkanlah tutur kata saya pada kanda, bahwa ada pemberitahuan Kyayi Nyuhaya, perihal kanda, mengambil ( = mengawini) anaknya, yang bernama. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 32/b. Ayu Adhi, tetapi Kyayi Nyuhaya amat keberatan anaknya diambil, sebab tidak tahu asal-usul kelahiran ( = kasta ) kanda. Keras kemauannya yaitu untuk membunuh kanda. Bagaimana oleh kanda Patih, silahkan pikirkan itu. Demikian sabda Dalem, menjawab Kriyan Patih Klapodhyana, dengan sopan santun serta panganjali, : Ampun tuanku yang maha mulia, segala titah tuanku telah hamba junjung, syukur sekali bila demikian kemauan Kyayi Nyuhaya. Makanya berani mengambil. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.33/a. anaknya, sebab hamba sebenarnya satu leluhur/kawitan dengan Kyayi Nyuhaya, Sayang .... kalau dia tidak mengetahui. Tinjaulah pada kekuasaan "CANDRI SAWALAN" yang dibawa dari Majapahit, keturunan keraton Negara Daha, jelas dirumah hamba disimpan dijadikan tunggul, kini hamba menyuruh si Parembu adik hamba untuk mengambilnya, untuk dipersembahkan kehadapan paduka Dalem. Tidak diceriterakan perjalanan dia yang disuruh mengambil, dengan segera tiba Kiyayi Parembu menghaturkan "Candri" —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.33/b. Sawalan" ternyata dua keping perunggu, bertuliskan huruf Majapahit. Sifatnya atau watak besar dan bercahaya Danghyang Sendhok. Dibaca oleh Dalem, dihadapan para Patih dan menteri, terutama Kyayi Nyuhaya, diucapkan keterangan tutur bahasanya. Mula-mula Ra Hyang Dimaharaja Manu, melahirkan keturunan beserta turun-turunannya, sampai dengan Sirarya Kuthawaringin, keturunan Sri Jayabhaya, dan Sirarya Kepakisan keturunan Sri Jayasabha. Setelah selesai uraian didepan, terbukalah hati Dalem, yakin dan percaya dengan tulisan — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 34/a. "Sanghyang Candri Supralingga" lalu diserahkan kepada Kyayi Parembu diterima olehnya. Disana Kyayi Nyuhaya, menghaturkan buah kelapa yang besar tak ada bandingannya didunia; ceriteranya; dulu pada waktu Kyayi Nyuhaya baru lahir, dibungkus ari-arinya didalam buah kelapa, kemudian tumbuh kelapa itu buahnya tak terpadai besarnya, itu sebabnya diberi nama NYUHAYA ( Aya = besar ). Aturnya : Ampun .... Paduka Dalem yang mulia, inilah suatu pertanda hamba keturunan Kepakisan, sekarang berkat paduka Dalem, hamba ini. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.34/b.memohon, agar supaya Si Klapodhyana besok menghaturkan buah kelapa yang sama besarnya, sebagai suatu tanda sama keturunannya ( = kula wangsa ), dengan hamba. Bimbang hati Dalem, teringat Dalem pada kesetiaan hati jiwa Klapodhyana, sehingga ( = Dalem ) memperoleh kebesaran kewibawaan. Kemudian entah bagaimana niat Dalem, sehingga bersabda kepada Kyayi Klapodhyana. Kanda .. Patih Klapodhyana, apakah kanda dapat kelapa sebegini besarnya, sampai besok, kalau dapat bawa kemari, itu sebagai. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 35/a. tanda seketurunan kanda dengan Kyayi Nyuhaya, berkat permintaan Kyayi Nyuhaya. Sembah Kyayi Klapodhyana : Segala titah yang mulia Dalem, hamba tidak durhaka, lalu bubarlah penghadapan itu; sesampainya dirumah, amat bingung pikiran Kyayi Klapodhyana, gelap gulita tak berkesudahan, maulah rasanya mati dalam ketiduran. Selanjutnya berunding bersama isterinya, dan adik-adiknya, Kyayi Parembu, Kyayi Candhi, dihadap oleh rakyat yang memihak kepada Kyayi Klapodhyana . — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 35/b. tidak diceriterakan perundingannya itu; karena belum ditakdirkan, maka ada karunia Ida Sanghyang Widhi atas dirinya, masuk Kyayi Klapodhyana ke Pamerajannya, akhirnya terlihat olehnya lembaga kelapa yang tumbuh didataran halamannya, disuruhnya menggali, kelihatan kelapa itu sama besarnya dibandingkan dengan kelapa yang dihaturkan kepada Dalem, oleh Kyayi Nyuhaya, Gembira hati Kyayi Klapodhyana, esok harinya disuruh rakyatnya membawa, lanjut dihaturkan kehadapan Dalem. Setibanya diistana, dilihat oleh Dalem, kelapa itu sama besarnya, heran.—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 36/a.Dalem atas keberhasilan Kyayi Klapodhyana, sabda Dalem, benar-benar kanda seketurunan dengan Si Nyuhaya, sama antara Kepakisan dan Kuthawaringin. Dalam keadaan demikian, segera Kyayi Patih Klapodhyana bersama saudara-saudaranya, Kyayi Parembu dan Kyayi Candhi, memohon ijin kehadapan Dalem, ingin mengucapkan sumpah, agar semakin jelas keluhuran budinya, tidak mempertahankan yang bukan leluhurnya, disaksikan oleh Dalem Semara Kepakisan, serta para tandha. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 36/b. manteri, para patih, pemuka-pemuka semuanya, segera mengepul asapnya pahoman ( = pasepan ). Disana Kriyan Patih Klapodhyana, serta kedua orang adiknya Kyayi Parembu dan Kyayi Candhi, berbakti kepada Sanghyang Brahma, mengucapkan sumpah, : Yang terhormat/tertinggi.... Sanghyang Brahma, hamba dan adik-adik hamba memohon sumpah kehadapan Bhatara, kalau tidak benar hamba keturunan Manu Wangsa, agar hamba ditimpa segala kutuk dari paduka Bathara, semoga hamba tidak memperoleh kabahagiaan, terjauh dari kebesaran dan kekayaan, hasil dan pangan, kesengsaraan yang paling berat hamba dapatkan. Demikian.—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 37/a. selesai.- Setelah selesai mengucapkan kata-kata sumpah, bersabda Dalem, pada Kyayi Nyuhaya sekeluarga, dan kepada Kyayi Klapodiyana sekeluarga, sabdanya : Duhai ..... kanda Patih berdua, Nyuhaya, Klapodhyana, serta sanak saudara kanda semua, betul satu/sama keturunanmu, Siwa Wandira dan Kepakisan. Mulai saat ini kanda berkeluarga yang rukun, saling asih, saling asah dan saling asuh, boleh diambil dan mengambil (= untuk isteri), serta saling sembah. Bersatu sidhikara kanda semua, demikian sabda Dalem, bersujud .. menurut Kyayi Nyuhaya dan Kyayi. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.37/b. Klapodhyana, selanjutnya bermohon diri pulang kerumahnya masing-masing, dengan hati yang suci murni. Dan kemudian, setelah waktu berjalan lama, akhirnya Kyayi Klapodhyana mengadakan keturunan, dia berputera uttama sebanyak empat orang, dua orang laki-laki, dua orang perempuan, yang sulung perempuan bernama I Gusti Ayu Midar, menjadi permaisuri Dalem Waturenggong, adiknya laki-laki bernama Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, yang muda ( = no. 3 ) Kyayi Lurah Karang Abiyan, yang bungsu perempuan I Gusti Ayu Abiyan.—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 38/a. namanya, kawin dengan Pangeran Kayu Mas, melahirkan Kyayi Bandhesa Mas. Adapun Kyayi Parembu adinda Kyayi Klapodhyana kini dikisahkan, dia Kyayi Parembu telah berputera, laki-laki tiga orang perempuan seorang, yang sulung laki-laki bernama Kyayi Wayahan Kuthawaringin, hampir sama dengan nama datuknya, kedua Kyayi Madya Kutaraksa adiknya Kyayi Lurah Wantilan yang bungsu perempuan bernama I Gusti Ayu Raresik. Sekian puteranya Kyayi. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.38/b Parembu sama-sama menetap membuat rumah di Swecapura, tersebut diselatan pasar. Adapun Kyayi Candhi, adik dari Kyayi Parembu, sudah mempunyai keturunan dua orang laki-laki, yang sulung bernama Kyayi Candhigara, adiknya bernama Kyayi Jaya Paguyangan, sama-sama menetap di Swecapura, membuat rumah tersebut di Jero Kawan, dihentikan sejenak. – o –. Tersebut suatu ceritera, pada suatu ketika, datang menghadap pada Dalem Ketut Semara Kepakisan di istana. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 39/a. Utusan dari raja Berangbangan, perlu bermohon agar dibantu, sebab timbul kerusuhan di kerajaan Berangbangan, hancur oleh keganasan si Harimau hitam. Setelah utusan itu memperoleh ijin untuk mengahadap, berkatalah utusan itu dengan sopan santun serta panganjali,: Yang mulia paduka Sri Maharaja bagaikan penjelmaan Sanghyang Manobu, hamba diutus untuk menghadap oleh rakanda paduka Dalem, beliau Maharaja Berangbangan, memohon keikhlasan paduka Dalem, sudilah kiranya membantu beliau rakanda paduka Dalem. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 39/b. Karena rusaknya kerajaan Berambangan oleh si harimau hitam, bercokol di hutan Berambangan, luar biasa ganasnya, setiap orang yang datang ke sana disergap, diterkam dengan ujung kukunya, dimakannya, semua takut orang-orang Berambangan, tidak berani lewat ke sana. Setelah demikian atur utusan itu, segera bersabda Dalem Ketut Semara Kepakisan, : Wahai kamu utusan, kembalilah kamu dengan segera, beritahukan kepada tuanmu, jangan beliau ragu-ragu/curiga, sekehendak beliau kukabulkan, hanya. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 40/a. menunggu saat yang baik untuk berangkat, utusan itu lalu mohon diri, Itulah sebabnya Dalem bermaksud membuktikan ketangkasannya Kerian Patih Klapodhyana, seketika diperintahkan oleh Dalem di hadapan para menteri semua, titah Dalem : Wahai ......Kanda Patih Klapodhyana, kanda kuperintahkan pergi ke Berambangan, untuk membunuh harimau hitam itu, yang berada dalam hutan di Berambangan, ini kuhadiahkan sebilah sumpitan (= tulup), sebab benar-benar turunan Wisnu Wangsa, pasti mati harimau hitam itu oleh kanda, demikian. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 40/b. titah Dalem tidak menolak beliau ( = Klapodhyana) diutus, taat pada perintah Dalem, gembira hatinya Kyayi Klapodhyana, dapat berkarya untuk Kerajaan, lalu mohon diri untuk berangkat, diiringkan oleh saudara-saudaranya serta rakyat serempak, tidak diceriterakan dalam perjalanan, sudah sampai mereka di Berambangan. Tersebutlah Kyayi Nyuhaya, mendengar ( = berita ) tentang keluarganya diadu, lalu ia mohon diri pada Dalem hendak menyusul perjalanannya Kyayi Klapodhyana, dikabulkan permohonanya, segera berangkat. Dikisahkan perjalanannya Kyayi Klapo.— /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.41/a. dhyana, banyaklah orang-orang Berambangan dijumpa, di sana Keriyan Patih Agung ( = Klapodhyana) menanyakan tempatnya si harimau hitam, menjawab mereka yang ditanya, : Ampun . . . tuan hamba, dekat tempatnya dibawah pohon kakacu. Di sana Keriyan Patih Klapodhyana dengan gagah perkasa menjelajah dalam hutan, banyak binatang yang dijumpa, semuanya lain, tidak berani berbuat ganas kepadanya ( = Klapodhyana ), semuanya seperti kalah dan takut, berlarian binatang - binatang itu, Jauh perginya di dalam hutan, tiba di bawah pohon kakacu, bertemu dengan si harimau hitam, amat keras mengaum. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.41/b. mengintai hendak menerkam, tiba-tiba melompat harimau itu, diterkam Kriyan Patih ( = Klapodhyana), bergulat, bertarung pukul memukul, tetapi Kriyan Patih Klapodhyana tidak bercacat ( = luka), kemudian kembali harimau tersebut, ditampar hidungnya, lari dengan terengah-engah, dikejar oleh Kyayi Klapodhyana, dibidik dengan sumpitan pemberian Dalem, dibarengi dengan kesaktiannya ( = kekuatan batin ), lalu ditiup ( = disumpit ), dilepaskan peluru "BATUR GUMI", kena lambungnya, gemetar harimau itu, tidak berdaya, ditikam lehernya dengan. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 42/a. sangkur sumpitan, remuk redam badan harimau itu direbut, rubuhlah si harimau terus mati. Disebutkan perjalanan Kyayi Nyuhaya, sudah tiba di dalam hutan, tidak berjumpa dengan keluarganya ( = Klapodhyana), karena lebih dulu, hanya terlihat olehnya jejak-jejak harimau ( = binatang ), itu diturutnya melanjutkan perjalanan. Setelah mati harimau itu oleh Kyayi Klapodhyana, datang / tiba Kyayi Nyuhaya, serta bertanya, : bagaimana dinda? sudah mati harimau itu,? sebab tampaknya seperti hidup. Yang ditanya ( = Klapodhyana ) menjawab, : ampun ..... kanda, sudah mati. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 42/b. harimau itu oleh dinda. Payah sungguh kanda menyusul perjalanan dinda. Jangan berkata demikian, sebab perjalanan cepat dan kesusu. Sebab sudah berhasil tujuan itu, bagaimana maksud dinda, kiranya baik bila kembali ke Bali, persembahkan kepada Dalem. Setelah demikian berangkatlah mereka ke Bali, amat panjang bila diceriterakan tingkah lakunya di tengah perjalanan, segera tiba di Linggarsapura ( = Gelgel), masuk menghadap kepada Dalem, kebetulan banyak para tandha manteri menghadap, disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menyapa Keriyan Patih. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 43/a. Klapodhyana, : Bagaimana perjalanan kanda, Patih Klapodhyana, dan Kanda Patih Nyuhaya, berhasilkah kanda dalam tugas?. Sembah Kriyan Patih Klapodhyana, : Ampun tuanku yang mulia, berhasil perjalanan hamba, telah mati si harimau hitam oleh hamba, inilah kulit si harimau hitam hamba persembahkan. Semua diutarakan Hal ihwal pertempuran melawan harimau, dipermaklumkan kepada Dalem, oleh Kyayi Klapodhyana, amat suka cita Dalem, serta beliau memuji-muji, sebab tak berubah. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 43/b. seperti sediakala mengabdikan dirinya kepada tugas. Teringatlah Dalem bahwa berhutang budhi, itulah sebabnya Dalem Ketut Semara Kepakisan menganugrahi Kyayi Klapodhyana, demikian isi karunianya, : Inilah karuniaku Cili Ketut kepada kanda puntha Klapodhyana, dan seketurunan almarhum Arya Kuthawaringin; Aji Purana, dan yang satu turunan denganmu, tidak dikenakan pikul-pikulan, tategenan, dimanapun tempatnya berada, semua anak cucu turunanmu disayangi oleh raja, menjadi wali negara ( = amanca negara ), jelasnya : tidak dikenakan tategenan. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 44/a. tidak dikenakan cecangkingan, tidak dikenai ambeng-ambengan, dan sasaradan, papiliyan, pacatuwan, dan tak dikenai oleh dedawuhan ( = panggilan), atag-atagan ( = siaran), dan lepas pejah punjang-panjing. Dan kalau ada kesalahan harus dengan hukum, mati, kepada Dalem, boleh diusir, kalau kesalahan dengan usir, harus diampuni oleh raja, pada keturunan-keturunan Sirarya Kuthawaringin Klapodhyana. Dan pada waktu kematian, pada waktu ngaben, sebagai alat pengusungan jenazah boleh memakai dasar bade, bade tumpang pitu ( = 7 ), taman punggel, kapasnya beraneka warna. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 44/b. Yang utama warna sembilan ( = 9 ), madya warna tujuh ( = 7 ), nista warna lima ( = 5 ), mauncal mapering sidapur, wesma silunglung, makajang ( = kemul ), kalasa, tatak beha ( = alas pembakaran ) papan sembilan keping, balai balai yang tinggi dengan tangga ( = undag ), peti Pembakaran berbentuk harimau hitam, memakai tirtha pengentas, uttama 16.000, madya 8.000, nista 4.000, dan bila ada menegakkan kabujanggan ( = menjadi bujangga/pendeta ), harus dengan upakara yang lengkap, menggunakan seperti yang dipergunakan oleh seorang pendeta, mapaterang, upadesa, jenazah dibungkus dengan daun pisang kaikik ( = sejenis pisang hutan ), lengkap dengan upacaranya — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 45/a. Demikian isi anugerahku Dalem Cili Ketut, kepada kanda Puntha Klapodhyana dan turunan Arya Kuthawaringin, jangan tidak yakin yang menjadi wali negara, terhadap anugerahku, dan terhadap anak cucu Kyayi Klapodhyana, dan saudara-saudaranya semua, bila kamu tidak percaya dikenakan oleh kutuknya Bathara Brahma, berkurang kesaktian mu, MOGA – MOGA. Lagi bersabda Dalem kepada Keriyan Patih Klapodhyana, aduhai ...... kanda puntha Klapodhyana, hendaklah diperbaiki paryangan/pura di Tugu, bila telah selesai oleh kanda saya berikan kanda untuk memimpin ( = angelingngana). — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 45/b. Kanda haturkan upacara pujawali, demikian perintah Dalem, diterima dengan baik oleh Kyayi Klapodhyana dan berjanji. Dengan cepat waktu berjalan, telah selesai diperbaiki, bagus kembali kahyangan/pura TUGU itu, dibantu pula oleh putera-putera Kyayi Nyuhaya, tak henti-hentinya mereka mendekatkan diri, kemanapun diajak tidak menolak, lama-kelamaan saling cinta-menyinta mereka semua bagaikan bersaudara, disuruh nyungsung AJI PURANA, serta menyimpan dirumahnya. Demikianlah keterangan tentang Kyayi Klapodhyana memimpin/memelihara. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 46/a. Paryangan TUGU, serta menghaturkan PUJAWALI, serta berpesan kepada Kyayi Nyuhaya, dan semua putera-puteranya, pada tiap-tiap pujawali di Tugu, agar dibawa/dituhur dan disimpan di pamerajan, janganlah mengingkari perjanjian seketurunan Nyuhaya, serta dengan turun-turunanku Klapodhyana, bila ada yang melanggar salah satu, tidak menepati perjanjian, untuk selanjutnya, dikutuk oleh — /— &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 46/b. Bathara Brahma, semua turunan, saudara-saudara, seluruh anak cucu keturunan tidak memperoleh keselamatan. Demikianlah pesan petuah Kyayi Klapodhyana kepada Kyayi Nyuhaya, dan keluarganya semua, dan sumpitan anugerah Dalem, yang dipergunakan membunuh si harimau hitam, selanjutnya dihadiahkan kepada Kyayi Klapodhyana, diberi nama KI MACAN GUGUH, demikianlah keterangannya pada jaman bahari —o— Hentikan sebentar penuturan mereka yang berada di Gelgel, kini mulai diceriterakan lagi beliau Dalem Taruk yang berada di puri Tarukan, amatlah sayangnya kepada Sira Kudha Panan — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 47/a. dang Kajar, dianggap sebagai anak oleh beliau, adalah putera raja Berambangan, tetapi lahir dari ibu panawing lahir dari Tumenggung Pasuruhan, tampan rupawan, cerdik dan bijaksana, berbudi luhur, tidak janggal perilakunya, selalu pantas dalam perbuatan, manis tutur bahasanya, tidak pernah bingung dalam akalnya, pandai memisahkan emas yang bercampur dalam tanah, sehingga tidak kurang emas, semakin mendalamlah kasih sayang Dalem Taruk, mengakui putera atas diri Sira Kudha Panandang Kajar. Dia diutus mencari Dalem Ketut ( = Ngulesir ). di — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 47/b. Pandak dahulu, sewaktu Dalem Ile (Samperangan) sulit untuk dihadap, setelah itu barulah dijemput oleh Kyayi Bandhesa Gelgel Klapodhyana. Tak tersangka-sangka datang akibat dari tanda-tanda yang buruk atas dirinya dahulu, terlepas destarnya ( = ikat kepala) disambar burung gagak waktu kembali dari Pandak, ia menderita penyakit yang sangat keras, berbagai obat-obatan semua tak mampu menyembuhkan, disanalah gelisah hati Dalem Taruk. Selanjutnya beliau berkaul, engkau anakku Panandang Kajar, jangan meninggal dunia, bila engkau sembuh. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 48/a. hidup seperti sedia kala, aku akan menyelenggarakan perkawinanmu dengan Sri Dewi Muter, Putri dari Dalem lie, Ternyata terlanjur sabda Dalem Taruk, lupa dengan kelahirannya Penandang Kajar dari ibu penawing. Kemudian semakin sembuh Kudha Penandang Kajar tanpa diobati, kembali sebagai semula. Disana dicuri Sang raja Puteri, dinikahkan dengan Kudha Panandang Kajar. Kini diceriterakan mereka dalam peraduan, datanglah si senjata Narayana, Keris Ki Tandalanglang, tertancap dipunggungnya Kudha Pa- — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 48/b. nandang Kajar, tembus ke dadanya Sri Dewi Muter, akhirnya meninggal beliau suami isteri, Ki Tandalanglang kembali ketempat asalnya. Dengan segera telah dipermaklumkan keadaan sedemikian, kehadapan Dalem Samperangan, tak terhingga kemarahan Dalem, merah mukanya bagaikan dicuci dengan darah, membelalak matanya ibarat keluar api, keluar menuju balairung, menitahkan untuk memukul kentongan, bergema suara kentongan besar si Tankober, datang para menteri beserta rakyatnya siap bersenjata, menghadap kepada Dalem, disana. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 49/a. diberikan perintah untuk menghancurkan puri Tarukan, riuh rendah sorak sorai ganti berganti, berlomba-lomba berangkat, terus dikurung dan dimasuki puri Tarukan itu. Adapun beliau Dalem Taruk telah mengundurkan diri arah keutara, tidak ada orang mengetahuinya. Diceriterakan rakyat Dalem (= Samperangan) sama-sama memasuki puri Tarukan, sebagai pelopor, para menteri yang dikuasakan untuk menghancurkan Dalem Taruk, ada yang memberitahukan bahwa Dalern Taruk telah pergi dari istana sebelum itu, karena itu rakyat dibagi-bagi. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 49/b. semua disuruh mengejarnya, ada yang ke utara, ada yang ke selatan, ada yang ke arah timur, ada yang ke barat, semua berlomba-lomba jalannya. Adapun beliau Dalem Taruk bersembunyi di kubu asramanya Ki Dukuh Pantunan. Kini dikisahkan Kyayi Parembu, adik dari Kyayi Klapodhyana, beliau diperintahkan untuk rnengejar larinya Dalem Taruk, diikuti oleh rakyat dua ratus orang, lengkap sampai dengan senjatanya, serempak dengan cepat jalannya, tanpa istirahat, banyak orang-orang. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 50/a. dusun ditanya tentang larinya Dalem Taruk, semua menjawab serempak : mengaku tidak tahu, sehingga sukar pengejarannya oleh Kyayi Parembu, lanjut pula mereka menyelusuri hutan gunung, lembah yang curam dijalani, guwa yang lebar dilewati, tidak ada bekas-bekas orang bersembunyi, yang didapatkan olehnya, terkatung-katung perjalannya menyelusuri hutan lebat, lapar dahaga dan payah tak terasa, siang dan malam mengembara, entah berapa lamanya didalam hutan gunung, tak bertemu dia yang dicari-cari, sebab beliau Dalem Taruk dirahasiakan. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 50/b. oleh orang-orang gunung, disana Kyayi Parembu beralih tujuan/ pendapat, kembali pulang ke Samperangan, lanjut pulang ke Gelgel, telah dilaporkan hal-ikhwal tidak berhasilnya diutus. Tak henti-hentinya Dalem Samperangan memerintahkan laskarnya untuk menggempur Dalem Taruk, namun tak ada yang berhasil memuaskan, karena amat setianya orang-orang desa dusun, kepada Dalem Taruk tidak ada yang durhaka memberitakan tempat beliau bersembunyi. Entah berapa tahun antaranya, ada. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.51/a. lagi perintah Dalem Samperangan pada Kyayi Parembu, maksud beliau merencanakan kehancurannya Dalem Taruk. Dititahkan agar Kyayi Parembu mengadu ketangkasan/keperwiraan, diberikannya rakyat yang telah terpilih, lengkap dengan senjata serta pakaian tempur, tidak kurang pula perbekalan, semua yang lezat cita rasanya, empat puluh orang jumlah laskarnya Saat itu sedang Dalem Taruk tidak berada di Bunga, sebab beliau telah pergi meninggalkan Poh Tegeh, menuju kesebelah timur Gunung Agung, menetap beliau didesa Sukadana. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.51/b. Dikisahkan Kyayi Parembu tidak membantah perintahnya Dalem, segera berangkat Kyayi Parembu, dengan gagah perkasa beliau bertindak, tujuannya hendak bertanam jasa, melalui pertempuran, bagaikan tak berkasih sayang tingkah lakunya akibat hendak mengabdi kepada raja, diiringkan beliau oleh puteranya yang tertua yang bernama Kyayi Wayahan Kuthawaringin, sedang muda remaja, menimbulkan rasa sayang siapa yang memandang. Riuh rendah sorak-sorai rakyat yang mengiringkan, semua berlomba-lomba menuju pedesaan, hendak mengalahkan. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.52/a. musuh, tak teruraikan didalam perjalanan, telah tiba Kyayi Parembu dicelah gunung Tulukbiyu, ditujunya tempat pertapaan Ki Dukuh Sekar, segera diketahui oleh Ki Dukuh tentang maksud tujuan Sirarya Parembu, selanjutnya Ki Dukuh menanya Sirarya Parembu, seolah-olah tercegat oleh pertanyaan yang menyenangkan, katanya; Ampun Kyayi Arya, apakah gerangan tujuan Sang Arya datang kemari, diiringkan oleh rakyat yang bersenjata, mungkinkah melakukan pengejaran terhadap musuh, silahkan ceriterakan kepada hamba; jawab Kyayi Parembu; Wahai kaki Dukuh...... — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.52/b.saya diperintah/dititahkan oleh Dalem Samperangan, untuk menyerang Dalem Taruk, dosanya menyebabkan wafatnya Raja Puteri: bagaimana Kaki Dukuh andaikata Dalem datang kemari bersembunyi? Segera menjawab Ki Dukuh Sekar : Ampun .... Kyayi, tidak ada Dalem disini, sebab lama sudah beliau berpindah tempat, tidak tahu hamba kemana perginya, dan dimana tempatnya. Setelah demikian aturnya Ki Dukuh Sekar, terus Kyayi Parembu meninggalkan Padukuhan, amat menyesal hatinya mengembara, tidak jelas yang dituju, diiringkan oleh. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 53/a. putera dan rakyatnya semua. Tiba-tiba sampai beliau di Bubung Tegeh, semua menderita kepayahan, akhirnya dihentikan perjalanannya dan beristirahat, disanalah Sirarya Parembu berpikirpikir dalam hatinya, teringatlah beliau akan kepayahan dalam perjalanannya mengembara berkeliling, jangankan ada hasilnya barang sedikit, sebab tidak berhasil Dalem Taruk dibunuh olehnya, itulah sebabnya sangat menyesali keadaan dirinya, karena tidak berjasa dirinya menjelma, bodoh, miskin, dan tak berguna, sebagai tak membalas suatu pemberian, kepada Dalem yang memberikan kesenangan.— / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;.Hal. 53/b. hati, tidak mampulah beliau membalas menyenangkan hati siapa yang memberikan kesenangan, demikian bisikan hati Kyayi Parembu, tiba-tiba menetes air matanya berhamburan, banyak pula rakyatnya ikut bersedih karena kesedihan Kyayi Parembu serta puteranya, lalu mereka berkata, : ampun Sang Arya, betapa tidak Sang Arya bersusah hati, kami semua mengetahuinya, berkat tujuan hati Sang Arya diiringkan oleh hamba, untuk mengejar perjalanan larinya Dalem Taruk, tetapi ternyata tidak berhasil dijumpa sampai sekarang, barangkali. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 54/a. Sanghyang Widhi menganugerahkan untuk hidup kepada beliau, sehingga beliau yang dicari tidak berjumpa; sebab kematian dan hidup tidak boleh diganggu gugat, bila tidak ditakdirkan untuk mati oleh Sang Hyang Tuduh, pasti akan hidup... tidak mudah untuk dibunuh, bila telah ditakdirkan untuk mati oleh Sanghyang Titah, pasti menemui ajalnya, tidak mungkin nyawa itu disambung, demikianlah hendaknya Kyayi Arya berpikir dalam hati. Tenangkanlah hati Paduka Kyayi Arya, : demikian sembah rakyatnya menghibur kesusahan hatinya, ( = Kyayi Parembu). Jawaban Kyayi Parembu, : hai... kamu rakyat semua... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 54/b. benar sungguh seperti katamu itu, tidak ada yang mampu mematahkan takdir Ida Sanghyang Widhi, hanya beliau yang mentakdirkan mati atau hidup, buruk dan baik, demikian pula ungkapan orang banyak, adapun sebagai kamu dan aku sekarang, pasti menderita malu dalam hati, itu yang meyakitkan hatiku, tak dapat dihiburkan, rasa malu yang berlebihan itu penyakit yang terkeras, itulah sebabnya aku, tidak hendak kembali pulang ke kota, lebih baik aku disini berdiam diri di pedesaan ( = gunung ), sampai mati ....... —/— &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 55/a. Demikian kata Kyayi Parembu, lalu dia menetap disana bersama anaknya, Kyayi Wayahan Kuthawaringin, berumah di Bubung Tegeh, ikut pula rakyatnya yang tinggal dua puluh orang sama-sama mendirikan rumah disitu. Adapun rakyatnya yang lain, disuruh kembali pulang ke kota, supaya ada yang mempermaklumkan kepada Kyayi Puntha Klapodhyana di Gelgel, semua keadaannya (= Kyayi Parembu) dihutan pegunungan. Tidak berselang lama, terdengar beritanya Kyayi Parembu oleh Kyayi Lurah Poh ..... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 55/b. Tegeh, dari sebab itu segera dikirim utusan untuk mengundang Kyayi Parembu, tidak diceriterakan dalam perjalanan dia yang diutus, sudah sampai dikediaman Kyayi Parembu, sedang dihadap oleh anaknda, lanjut berkata utusan itu, : Ampun .... Kyayi Arya, hamba disuruh untuk menghadap oleh Rakanda Kyayi Arya, Sira Kyayi Poh Tegeh, agar supaya Ki Gusti menghadap hari ini juga. Disana berpikir-pikir Kyayi Parembu, sebab tidak disangka-sangka kedatangan utusan ( = dipanggil), bingung olehnya berpikir, sebab didengar kabarnya... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 56/a. Kyayi Poh Tegeh memihak Dalem Taruk, lalu menjawab pada utusan, : hai kamu utusan, beritahukan kepada tuanmu, saya akan menghadap besok. Setelah kembali utusan itu, berundinglah Kyayi Parembu bersama anak dan rakyatnya, memikirkan ( = memperkirakan) kunjungannya besok, saling memberikan pertimbangan/persetujuan, tak terhitung panjang perundingannya, disela oleh suara ayam ditengah malam, tinggalkan mereka yang berunding —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.56/b. Dikisahkan Kyayi Wayahan Kuthawaringin, termangu-mangu ia dikala fajar hari,terkenang-kenang akan impiannya, sedang bercengkrama diatas gunung didatangi oleh seorang bidadari, cantik molek remaja, Hyang Saraswati menjelma, mungkin suatu tanda yang baik firasat impiannya. — o — Dikisahkan dia (= Kyayi Parembu) yang diundang agar menghadap, telah tiba dirumah Kyayi Poh Tegeh, sopan ramah dan manis sambutannya Kyayi ( = Poh Tegeh), : syukur sekali dinda datang memenuhi undangan kanda, demikian pula anakku Kuthawaringin, kini pertama kali anaknda mengetahui pamanmu, dan kakakmu Si Poh Landung. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.57/a. Terdiam semua, tidak seorangpun bercakap, terkenang-kenang pada leluhurnya dahulu JAYAKATHA dan JAYAWARINGIN, dilarikan ke daerah Tumapel, pada waktu kalahnya Jayakathong dalam pertempuran. Hanya tetesan air mata mengalir diatas pipi, sepi ..... tak ada yang bercakap. Beberapa saat antaranya kembali lagi mereka berbincang-bincang, disanalah Kyayi Parembu menceriterakan tentang kehinaan dirinya menjelma, bodoh, miskin, dan tak berguna, bagaikan tak membalas jasa ( = pemberian), tidak mampu menunaikan perintah Dalem Samperangan. Segera dicegah .... — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.57/b. oleh Kyayi Poh Tegeh, : Wahai ....... dinda, tidak ada jalan bagi dinda untuk menyesali diri, sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi, dan kejayaan serta kebahagiaan suatu negara tidak hanya ditempuh melalui pertumpahan darah, lebih bagus alihkan jalan pikiranmu, kenangkan dijaman yang silam, ayahmu datang ke Bali, tidak ada lain, kejayaan dan kebahagian negara melulu yang diciptakannya dengan jalan watak kepemimpinan yang dicintai rakyat, mendampingi Dalem yang baru tiba ( = Dalem Ketut Kresna Kepakisan), sekarang Dalem hanya bertengkar dengan saudara kandung, hendaknya sabar dan bijaksana juga olehmu berpikir, sehingga tidak. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 58/a. telanjur berbuat. Panjang sekali bila diceriterakan tentang wawancara mereka, serta jamuannya Kyayi Poh Tegeh, karena permulaan bersua, selanjutnya mohon diri pamitan Kkyayi Parembu, diiringkan oleh putera beserta rakyatnya, menuju tempat tinggalnya masing-masing, tinggallah Kyayi Wayahan Kuthawaringin tak terhiburkan hatinya, tidak berminat untuk makan dan minum, siang malam melamun (= menghayal), karena tertikam lubuk hatinya oleh panah utamanya Sanghyang Semara, yang dilepaskan dari relung kalbunya Winiayu Luh Toya, anaknda. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 58/b. Kyayi Poh Tegeh. Demikian pula yang tinggal di Poh Tegeh, sama-sama jatuh cinta, tak terkendalikan. Entah berapa bulan lamanya mereka yang ibarat Sanghyang Semara Ratih menanggung kerinduan dalam lubuk hatinya, akhirnya semufakat setuju kedua orang tua mereka, lalu dinikahkan mereka dengan segala tata upacara pernikahan. Setelah lama bersuami isteri, kemudian berputera dua orang laki-laki, yang sulung bernama Kyayi Panidha Waringin, mening-gal dunia semasih jejaka tanpa keturunan, adiknya bernama. — / — &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 59/a. Kyayi Tabehan Waringin, menetap diam di Bubung Tegeh bersama ayahndanya. – o – Tinggalkan ceritera mereka yang berada di Bubung Tegeh, kini ceriterakan mereka yang berada di Sweca-linggarsapura, beliau Sri Aji Semara Kepakisan, sudah datang waktu perjanjiannya (= ajal), berpulang ke alam baka, sapangrenga sang dwipak sumirat agni kadi surya : ( = sebuah candra sengkala yang mungkin artinya sebagai berikut : sapangrenga = 2, sang dwipak = 8, agni = 3, surya = 1), jadi Isaka 1382 = 1460 A.D. digantikan oleh Watur Ra Enggong putera mahkota beliau, yang telah dijadikan Rajamuda sejak; suniya menghalaning tri buana (=sebuah candra sengkala yang mungkin artinya sebagai berikut : suniya = 0, manghala = 8, tri = 3, buana = 1). Jadi Isaka 1380 = 1458 A.D. Selama Sri Aji Watur Ra Enggong menjadi raja. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 59/b. Bali, amat berwibawa beliau menjadi junjungan, benar-benar bagaikan keberanian singha, bijaksana menguasai kehendak rakyat, tak terkatakan kemakmuran kerajaan dan wilayahnya, ketularan oleh ketinggian dharma Sang Maharaja, semua memuji bahwa sangat bijaksana Dalem. Lebih-lebih beliau seorang pemberani, sakti dan unggul dalam peperangan. Harimurti perumpamaan diri beliau pada saat bertangan empat (=Catur Buja). Adapun para bahudandha dan perdana menteri dahulu semua telah lanjut usia, banyak pula yang telah meninggal dunia, itulah anak-anaknya semua yang mengganti, tetap kedudukannya seperti sediakala, diantaranya Kyayi Batan Jeruk, putera. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 60/a. dari Kriyan Petandhakan, dia perdana menteri yang terkemuka, juga Kyayi Lurah Abian Tubuh, putera dari Kyayi Klapodhyana, patih jabtannya, Kyayi Lurah Karang Abiyan, adik dari Kyayi Lurah Abian Tubuh, menjabat menjadi Bandhesa, berpangkat demung, Kyayi Brangsingha Pandita menjabat sekretaris. Para menteri semua selain dari pada itu, semua menetap pada kedudukannya, seperti dulu orang-orang tua kawitannya, taat olehnya mengukuhkan jabatan menteri. Dan sama-sama telah menghasilkan keturunan yang uttama : Kyayi Lurah Abiyan Tubuh berputera seorang — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 60/b. anak laki-laki, bernama KYAYI KUBON KELAPA. Kyayi Lurah Karang Abiyan, berputera laki-laki dua orang, yang sulung bernama KYAYI WAYAHAN SANGGARA, adiknya ( = putera no. 2 ) KYAYI ALIT NAGARA, keduanya mengikut orang tua berumah di Gelgel. Adapun putera Kyayi Parembu, yang tinggal yang tinggal di Gelgel, diantaranya Kyayi Madya Kutaraksa, dan Kyayi Lurah Wantilan, sama-sama telah berputera, berkediaman disebelah selatan pasar Gelgel, adiknya ber-nama I Gusti Ayu Raresik, diperistteri oleh Kyayi Lurah Abiyan. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 61/a.Tubuh. Adapun Kyayi Candhigara, yang berkediaman di Gelgel sebelah Barat, berputera dua orang laki-laki, Kyayi Bandhesa Candhi, Kyayi Candhi Wandhira, mereka keduanya dititahkan menjadi Bandhesa Tianyar, pada waktu terjadi perang saudara putera-putera Sirarya Gajah Para. Amat panjang kalau dikisahkan kemashuran yang menjadi wali Negara di Kerajaan Bali, Kyayi Pinatih, beliau keturunan Sira Wangbang, lagi Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, benar-benar beliau turunan Siwa Waringin. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 61/b. Tiga orang menjabat bahudandha raja, dibawah dari itu, Kyayi Tabanan, beliau turunan arya Kenceng; Kyayi Kabakaba, sebetulnya turunan Arya Belog, tidak memilih musuh; lagi Kyayi Kaphal, sebenarnya Sura Delancang; Kyayi Brangsingha, Tangkas, Pegatepan, sebetulnya Sura Kanuruhan, menjabat juru tulis. Pada masa yang silam waktu musuh dari luar daerah menyerbu Kelahan, tidak ada yang berani melawan kesaktiannya raja Dalem Watur Ra Enggong, sebab ketinggian Dharma beliau, beliau mampu menunggang pedati ditengah lautan mundur. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 62/a. ketakutan musuh itu, dan kaki lembu hanya tenggelam sepegelangan saja, tampak Dalem sayup-sayup ditengah samudera, yang hidup bergantungan dipedati/roda, kebingungan para menteri raja, karena tidak kuasa mengikuti jejak rajanya, antara lain Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Abiyan Tubuh, serta para menteri semua. Setelah musuh mengundurkan dirsi, kembali Dalem ke Kuta, diiringkan oleh para menteri semua, tak terhitung jumlah prajurit, berdatang sembah Kyayi Batan Jeruk, Pinatiyan Abiyan Tubuh, lebih-lebih para menteri semua...... —/—.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 62/b. Menyembah dibawah telapak kaki Dalem : Ampunilah hamba, tidak mampu mengiringkan Dalem, jelas tidak berguna patik ini, dan tak terbalas kasih sayang serta jasa-jasa Dalem. Sabda Dalem : janganlah demikian, aku bersenang, sebab kamu tidak dipaksakan untuk mendaki/mengarungi yang belum jelas. Gembira hati para menteri mendengar sabda Dalem, dengan sebenarnya, setelah demikian kembali kerumahnya/istananya. Sekarang dikisahkan Kriyan mereka Patih Lurah Abiyan Tubuh datang saat ajalnya, wafat, kembali ke alam baka ( = Wisnu Bhawana), meninggalkan seorang putera laki-laki. — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 63/a. Bernama Kyayi Lurah Kubon Kelapa, ia diminta / dipilih oleh Dalem untuk mengganti ayahnya menjabat adhi patih, karena setia bakti seperti leluhurnya, hanya kesentosaan negara yang diutamakannya, kuat mengukuhkan perilaku seorang menteri, tidak berbohong dan cemburu ( = iri hati ), tegas, setiap waktu perbuatannya memberikan maaf ( = ampun ). Pada masa Kyayi Lurah Kubon Kelapa menjabat Adhi patih dari Dalem Watu Ra Enggong, timbul niatnya untuk memanggil keluarganya yang berada dipegunungan bernama Bubung Tegeh, berkat. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.63/b. desakan Kyayi Poh Tegeh, cucu olehnya, agar bisa bersatu rukun berkeluarga, lalu Kyayi Kubon Kelapa mengutus pembantunya mencari keluarga beliau, cucu Kyayi Parembu, yang bernama Kyayi Tabehan Waringin, tak dikisahkan utusan dalam perjalanan, sudah datang menghadap Kyayi Tabehan Waringin pada Kyayi Patih Kubon Kelapa. Amat panjang senda gurau mereka, saling menyenangkan hati, disana Kyayi Tabehan Waringin mempermaklumkan, bahwa datuknya telah berpulang kealam baka .....—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 64/a. dan ayahandanya telah lanjut usia, berpanjang kalam dia berceritera, dituturkan perihal perhyangannya, yang didirikan oleh ayahndanya ( = Kyayi Wayahan Kuthawaringin ), di tempat beliau yang telah mendahului yaitu Kyayi Parembu melakukan yoga dengan hati yang suci, sebagai tempat pemujaan pada leluhur, hanya bebaturan belum permanen, tidak ketinggalan sthana untuk memuja arwah almarhum yang telah mencapai hasil terdahulu datang ke pulau Bali, yaitu SIRARYA KUTHAWARINGIN, dan di sebelah selatan yaitu Pura Dalem. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 64/b. belum permanen, itulah tempat janazah kompiyangnya dibakar, diupacara Palebon dahulu. Panjang bila dikisahkan percakapan mereka, datang masanya satu minggu Kyayi Tabehan Waringin berada di Gelgel bersama anak dan isterinya, disanalah dia menghadap kepada Sri Maharaja, tidak lain dari Kyayi Patih Kubon Kelapa, Kyayi Poh Landung, mereka sebagai pendampingnya menghadap raja. Amat kasih sayang Dalem, segera bersabdha beliau, memberikan restu agar berkeluarga rukun bersatu, saling asih, saling asah, dan saling asuh antara Kubon Kelapa dengan Tabeh. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 65/a. an Waringin, sampai dengan akhir jaman turun-temurun, tak boleh mengingkari. Demikian keadaan mereka yan menghadap, kemudian mohon diri mereka kembali ke Bubung Tegeh. Adapun anaknya Kyayi Tabehan Waringin yang nomor dua (= Made), Kyayi Wandhira Wira, tinggal menetap di Gelgel, dikawinkan dengan I Gusti Ayu Ktut Tubuh, adik Kyayi Lurah Kubontubuh, Puteri Kyayi Patih Lurah Kubon Kelapa, Adapun putera Kyayi Tabehan Waringin yang sulung bernama Kyayi Wayahan Parembu, seperti nama Kompiyangnya, beliau tinggal menetap. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 65/b. mengikuti ayahandanya, sebagai kepala desa dipegunungan yang dikuasai oleh I Gusti Poh Tegeh dahulu, membuat rumah di Waringin. Diperbaiki pura pemujaannya, dalam waktu singkat dapat selesai sampai dengan upacaranya, candri sawalan itu, keris pajenengan, alat-alat pemujaan (=pawedaan) yang dibawa oleh leluhurnya jaman dulu itu semua disimpan di paryangan Kuthawaringin. — o -. Hentikan ceritera itu sebentar, dikisahkan beliau Sri Maharaja Dalem Watur Ra Enggong memberi anugrah kepada para Arya sekalian, yang menyebabkan timbul anugrah —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 66/a. Dalem, kepada para Arya sekalian, karena Dalem segera akan kembali ke alam baka, dengan jalan moksa menuju surga yang amat tinggi, surganya wisnu ( = Wisnu Bhawana), makanya berpesan/berpetuah kepada sekalian sanak saudara, dan pada anak cucunya semua, pada saat beliau dihadap oleh Rakriyan Patih, catur tandha manterinya semua, serta para pendeta raja sekaliannya, nama-nama beliau sekalian, : Pedandha Kasuhun Ring Peling, Ida Nuabha, Ida ring Siku, Ida ring Sangsi, Ida Ring Padang Galak, Ida Ring Padang Ratha, Ida Ring Kacang Paos, Ida Kabetan, demikian semua. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 66/b. pendeta raja, serta Ki Gusti Agung Pinatih, beliau Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Manginte, Kyayi Lurah Kubon Kelapa, serta Arya yang menjabat menteri, Kyayi Kabakaba, Kyayi Buringkit, keturunan Arya Belog; Kyayi Kaphal, keturunan Arya Delancang; Kyayi Lurah Tabanan, Tegehkori, turunan Arya Kenceng; Kyayi Mandala, Kyayi Umbanan, Keturunan Arya Pamacekan; Kyayi Ularan, Kyayi Unggahan, keturunan Arya Tumenggung. Kyayi Lurah Kubontubuh, Kyayi Tabehan Waringin, keturunan Arya Kuthawaringin, —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 67/a. Kyayi Sukengeneb, Kyayi Toyaanyar, keturunan Arya Gajah Para, Kyayi, Poh Landung, keturunan Arya Getas, Kriyan Brangsingha Pandita, keturunan Arya Kenuruhan. Dan para Arya yang lain, yang mempertaruhkan dirinya masing-masing di pelosok-pelosok dahulu, penuh sesak penghadapan/persidangan Dalem Watur Ra Enggong, disana bersabdha Sri Maharaja, : Hai kamu rakriyan Patih, serta kamu para menteri sekalian, kini dengarkanlah sabdaku, kepadamu sekalian, ingatkanlah petuah ini, dulu ada nasehat Danghyang Nirartha Wawu Rauh, sudah ...... — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 67/b. tercatat dalam lembaran, berhubung kini daku segera akan kembali ke alam baka, kelak dikemudian hari anak cucu keturunanku, dan anak cucu keturunanmu sekalian, ganti berganti, menderita mala petaka yang besar, suatu sebab kamu menderita mala petaka dunia, sebab angkara murka hatinya semua, diselubungi oleh rajah dan tamah, diperbudak oleh dasendria, ( = sepuluh jenis kesenangan), dunia menjadi bohong, timbul kekacauan didunia, lenyap kemashurannya, bagaikan terkena racun berbisa, lambat laun lupa pada penjelmaannya (=keturunan), akibatnya pada waktu mengalami kematian tidaklah mampu kamu mencapai sorga yang tinggi ......... — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 68/a. tidak terwujud, sebab hatinya buta, sebab hina perbuatan pikirannya, akhirnya dilahirkan sebagai rakyat jelata diatas dunia, kemudian anak cucu keturunanku, serta para santanamu para Arya sekalian, bila mengalami kematian, tidak mampu atmamu kembali tanpa bekas, sebabnya demikian, sebab telah dikutuk oleh Bathara Mahadewa, Ini karuniaku, ucapan Widhisasteranya Dahyang Nirartha, tentang tata upacara sampai dengan kematian selengkapnya, yang harus dituruti, tentang filsafat kematian ucapan Bathara — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 68/b. nguni, janganlah kamu melanggarnya, ucapan beliau yang telah mencapai kebenaran tertinggi (= paramartha), beliau itulah sebagai Maha Gurumu, sampai dengan kelak dikemudian hari, karena beliau mahir dengan pilsafatnya jiwa uttama (=paraatma), tentang baik buruknya, jangan pula kamu membantah sabdaku, seperti yang diucapkan dalam Widhisastera, kalau kamu melanggarnya, tidak berhasil untuk mencapai kebahagiaan, ingatkan, dan kamu agar memberitahukan pada keturunanmu terus menerus, tiap-tiap orang, dan sabdanya Sahyang Purwa natha, masing-masing mengeluarkan dokterin, oleh Bathara Maha Dewa, serta Bathara Yamadipati ....— /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.69/a. dan Sang Druwa Resi, Sang Tugini, ternyata itulah diungkap oleh Danghyang Nirartha Wawu Rawuh, diucapkan dalam Widhisastera, dalam menyelenggarakan Upacara kematianmu Sang Tri Wangsa, selama-lamanya, nasehatku, : kepadamu para Arya sekalian, dan Sira Empu, Bujangga, Sang Brahmana, ini keterangan beliau sang Dwijendra, dikuatkan olehku sekarang, maka janganlah sang Berahmana, Empu, Bujangga, berbuat onar, sebab mengakibatkan negara kacau balau, dan bila menguburkan jenazah sang Tri Wangsa, hanya satu tahun saja mayat dikuburkan, tidak boleh ...... — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.69/b. lewat dari ketentuan itu, kamu mengupacaranya, sudah menyerupai butha, sengsara atmanya, bila sang Brahmana hanya satu tahun, bila sang Kesatriya dua tahun, Wesiya tiga tahun, Sudra empat tahun, itu tata cara bila meninggal secara benar/normal. Dan bila meninggal dunia, dengan mengandung suatu dosa/kesalahan, ini umpamanya : meninggal dunia sedang menderita wigna agung (= lepra), luka (= berung) menahun, bhuh, mening gal akibat jatuh, meninggal akibat ngamuk, membunuh diri, meninggal salah timpal, yang demikian disebut berdosa besar, keterangannya dahulu, ini juga karuniaku kepadamu para arya semua, karunia, — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 70/a. nya almarhum yang telah mendahului kita, tentang upacara ngaben, mengupacarai jenazah, segala upakaranya, janganlah kamu menyamai keturunanku yang uttama (= pingajeng), sampai kelak kemudian hari tentang tata cara mengupacarai jenazah, ingatkanlah sabdaku, buatlah juga catatan kata-kata anugerah junjungan yang sakti dahulu, tuliskan didalam lembaran (= catatan) masing-masing, sehingga berhasil langgeng anugerahku, diwarisi oleh turun-turunan semua, sampai kelak kemudian hari, bila ternyata keturunanmu menjadi banyak, ingin melanjutkan — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 70/b. sejarah/ceritera, hendaklah kamu menyambung penulisan tentang leluhurmu, sehingga tidak terputus-putus kisahnya, keturunan Majapahit, ingatlah selalu pada ucapan-ucapan titi gegaduhan, serta raja purana tentang upacara keturunan Arya, Sanghyang Kawitan yang disebut ’’Prasasti”. Ini tata upacara jenazah, untukmu para Arya sekalian, jangan hendak menyamai saya, kini saya menganugerahimu, untuk alat mengusung jenazahmu bade bertingkat (=tumpang) tujuh, simbar dengan kertas prasbahan berwarna-warni, dan magunung tajak, sudut-menyudut memakai —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 71/a. karang curing, memakai karang bhoma, memakai garuda membawa amerta menghadap kebelakang, serta alat pembasmiannya dengan Singhamara, Bhawisrenggi, Gajahmina Pulukan, dan tatak beha, menurut jenis papalihan, nista, madya, uttama, tangganya ( = undag ); tujuh, lima, tiga, tentang tingkat ( = tumpang ) bade, demikian tujuh, lima, tiga, itulah disebut nista, madya, uttama. Dan pelindung ( = kerebing ) pembasmiannya, bale lunjuk uttama untuk sang Brahmana, Satriya. Bale silunglung uttama untuk Arya. Bale buncal, uttama untuk orang tani, dan sudra, dan bila lebih rendah dari — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 71/b. Sudra, tidak diperkenankan melakukan upacara demikian, bukan asal keturunanmu semua itu masing-masing, demikian diingatkan tentang anugerahku, berkat petuah Sang Nirartha Wawu Rawuh, dan pa-asthi-annya ( = alat mengusung abu jenazah), harus juga memakai pepalihan, lengkap segala upacara untuk pengabenan, memakai kajang, ulon-ulon. Demikian sabda Dalem, disana menyembah para Arya sekalian, kehadapan paduka Maharaja Dalem Watur Ra Enggong, setelah demikian, bubar persidangan Dalem, dan para Arya sekalian — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 72/a. sama-sama menuju rumahnya masing - masing. — o — Lama kelamaan Sri Aji Watur Ra Enggong bertakhta sebagai raja Bali berhasil sebagai raja besar, memperoleh kemashuran Negara, semakin lanjut usia beliau, tibalah saatnya berpulang ke alam baka, terbit tak bercahaya bencana sanghyang candra (= candra sengkala) : Sapangrenga Sang Pandhita Mawang catur Janma : kira-kira artinya. 1. Setelah mendengar para pendeta dan keempat lapisan masyarakat.;2. Sapangrenga = 2. Sang Pandita = 7. Mwang catur = 4. Janma = 1. Jadi Isaka 1472 = 1550 Masehi, selanjutnya diberi gelar Dewateng Enggong –o– Tinggal putera-putera beliau dua orang, yang sulung Ida I Dewa Pemahyun Bekung, adiknya bernama — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 72/b. Ida I Dewa Anom Dimade Seganing. Itulah beliau Ida I Dewa Pemahyun Bekung menggantikan almarhum Dewateng Enggong, diasuh oleh para menteri sekalian, didampingi oleh paman-paman beliau yaitu putera-putera Ida Idewa Tegal Besung, satu persatu namanya : I Dewa Gedong Artha, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan; sebagai pemuka para Patih, dan tandha manteri, tetap beliau Keriyan Batan Jeruk. Kemudian datang saat - saat Kali Yuga, timbul tidak puasnya Keriyan Patih Batan Jeruk. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 73/a. kemasukan oleh trimedha, lobha, moha, murka, itu yang meliputi sanubarinya, ia bermaksud bertahta menjadi raja, sehingga kacau balau negara kerajaan. Adapun Ida I Dewa Pemahyun Bekkung yang bertakhta sebagai raja, sedang muda remaja, serta adinda beliau Ida I Dewa Dimade (= Seganing) tidak mengerti dengan datangnya musuh menyerbu, sehingga Keriyan patih Batan Jeruk, tidak lagi ragu-ragu, ( = curiga). Adapun Kyayi Batan Jeruk, telah dinasehati oleh Sira Asthapaka, sabda Sang pendeta Budha, jangan . — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.73/b. anaknda berbuat angkuh kepada Dalem, bila Dalem duduk diatas ranjang, anaknda harus duduk dilantai. Tidak diturut ucapan-ucapan nasehat itu, dia menghormati dengan mempersembahkan harta benda, kata Sang Guru Budha : "Masakan kamu akan menjadi manusia". Semakin runcing pertengkaran yang menghancurkan, selanjutnya Keriyan Patih Batan Jeruk durhaka berontak kehadapan Dalem, akhirnya keraton diserang, bersama-sama dengan I Dewa Anggungan, tujuan I Dewa Anggungan untuk menggantikan menjadi raja, dan diikuti oleh Keriyan Pandhe, Keriyan Tohjiwa, sebab Keriyan Pandhe . — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.74/a. satu keluarga dengan Batan Jeruk, terhitung kemenakan dari sepupu, putra sulung Keriyan Dawuh Baleagung, cucu Pangeran Akah. Timbullah pertempuran yang dahsyat di Gelgel, terkenal disebut berontaknya Batan Jeruk dan I Dewa Anggungan, Isaka 1478 (=candra sengkala . naga aswa yuganing rat = naga. 8, aswa 7, yuga 4, rat 1). Tak teruraikan hebatnya pertempuran, dan entah beberapa lama pertempuran itu, hampir mengalami kekalahan perlawanan Dalem. Karena para menteri dan bahu dandha banyak yang memihak Batan Jeruk. Hanya Kyayi Patih Kubon Kelapa, dan puteranya yang bernama Kyayi Lurah . —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 74/b. Kubontubuh, Putera-putera Kyayi Lurah Karang Abian, Kyayi Wandhira Wira yang kemudian berputera Kyayi Sura Wandhira ditempatkan didesa Dawan, masih tetap setia cinta pada Dalem, serta paman-paman Dalem yang empat orang, yaitu I Dewa Gedong Artha, I Dewa Pagedangan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli. Dikisahkan Keriyan Agung Nginte, yang bermukim di Kapal, mendengar berita bahwa Keriyan Batan Jeruk durhaka melawan Dalem, segera mohon diri berpamit kepada datuknya. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 75/a. hendak pergi ke Gelgel, membantu mempertahankan Dalem, diijinkan beliau, lanjut beliau berangkat, memimpin rakyat/prajuritnya kriyan Patih Tuwa beliau Pangeran Kaphal, oleh sebab itu beliau Kriyan Dawuh Nginte sebagai komandan dari sekalian tanda manteri, ikut serta dalam perjalanan/berangkatnya Kriyan Dawuh Nginte, puteranya Kriyan Patih Tuwa yaitu Kyayi Pandarungan. Tak terlukiskan dalam perjalanan, sekonyong-konyong telah tiba di Gelgel, tak tersangka-sangka kedua orang putera raja (= Dalem Bekung dan Dalem Sega ning), dapat tertipu, ditahan beliau di dalam keraton oleh Kriyan Batan Jeruk bersama dengan I Dewa .... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 75/b. Anggungan. Disana mereka yang melakukan penyerbuan berunding, dibalik/ditarik kembali para menteri yang memihak kepada Kriyan Batan Jeruk, semula, sehingga menimbulkan kebencian pada Batan Jeruk. Adapun Keriyan Lurah Kubontubuh, Keriyan Patih Kubon Kelapa tetap sebagai pelopor, dibantu oleh Keriyan Dawuh Nginte, diikuti oleh Keriyan Pinatih, Kyayi Anglurah Tabanan, Kyayi Tegeh Kori, Kyayi Kabakaba, Kyayi Buringkit, Kyayi Pering, Kyayi Cagahan, Kyayi Sukahet, Kyayi Brangsiha, semua setuju dengan keputusan perundingan, lalu....... — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 76/a. mereka serempak memasuki keraton, tujuan mereka mencari kedua putera raja, dilarikan oleh Kyayi Lurah Kubontubuh, melalui tembok bata yang dibongkar, kesebelah barat pasar, rumahnya Kriyan Panulisan, keluar dari sana, masuk ke Pikandhelan, dirumahnya Kriyan Lurah Kubontubuh. Tidak berselang lama datanglah Kriyan Batan Jeruk, I Dewa Anggungan, mengamuk di istana, diikuti oleh Kriyan Pandhe, serta Kriyan Tohjiwa, membabi butha Kriyan Batan Jeruk, di penggal sang raja Putri adik kedua putera raja ( = Dalem Bekung dan Dalem Seganing ). — / —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 76/b. yang berada dalam istana, tak dihiraukan, meratap meminta agar dihidupi, akhirnya wafatlah Sang Raja Puteri tak berdaya, dan tak berdosa. Dan Keriyan Pandhe hendak memarang (= ngandik) pintu gerbang, bersama Kriyan Tohjiwa, tetapi disanggah oleh Keriyan Nginte, lalu tunduk Keriyan Pandhe, hanya Keriyan Tohjiwa yang mati, dibunuh oleh Keriyan Nginte, tetapi tidak tembus, mati oleh sangkur yang bernama Barugudug, Pajenengan Keriyan Patih Tuwa. Akhirnya kalah Kyayi Batan Jeruk, melarikan diri dari Gelgel, menuju Bunghaya, dikejar oleh para prajurit, dikejar oleh rakyat . —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 77/a. nya Kriyan Nginte dan Kyayi Lurah Kubontubuh, dibunuh ia di Jungutan Bungahya. Sanak saudara, anak isterinya, semua bercerai berai mengungsi, takut mati, seperti kidang melihat harimau. Adapun I Dewa Anggungan, ia menyerah, ternyata dibuang oleh keempat orang saudaranya, dijatuhkan kastanya menjadi Sang Anggungan. Dan setelah kalahnya Kriyan Batan Jeruk, tetaplah Sri Aji Pemahyun Bekung menjadi raja Bali, Kriyan Nginte menjadi pemimpin para menteri/patih, bertempat tinggal di rumahnya Batan Jeruk, ya....Nginte,.... Ya Batan Jeruk. Dibagian kiri beliau Kiyayi Lurah Kubontubuh,. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.77/b. Patih Uttama jabatannya, mengganti ayahdanya, sebab Kyayi Lurah Kubon Kelapa sudah lanjut usianya. Adapun Kyayi Lurah Kubontubuh, sudah mempunyai keturunan laki-laki dua orang, perempuan seorang, namanya satu persatu, yang sulung bernama Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, adiknya bernama Kyayi Madya Karang, yang bungsu perem-puan, bernama Winiaayu Candhi Dyana, Lama kelamaan timbul pem-berontakan, Keriyan Pandhe terhadap Dalem Bekung, akibatnya Dalem Bekung melalaikan Pemerintahan, dikuasakan pada Kriyan Nginte untuk baik buruknya Negara, juga ikut Kyayi Pinatih, Kyayi. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 78/a. Lurah Kubontubuh, dan menteri-menteri seluruhnya, makanya beliau Dalem Anom Seganing, dijunjung di Bali, sebab juga telah menjabat RAJA-MUDA — o —. Setelah bertakhta Sri Aji Seganing sebagai Raja Bali, bercahaya terang perbawanya bertakhta, sebab beliau perwira/pemberani, bijaksana dan berakal, aman sentosa Nusa Bali, kembali pula keamanan pulau Bali, rakyat sentosa, gunung dan lautan tak ada kurangnya, jasa beliau memenuhi Tri Buana. Yang menyebabkan, adalah kebijaksanaan Dalem, menganugerahkan kedudukan kepada keturunan Para Arya yang dahulu, mengingat. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 78/b. jabatan leluhurnya, diantaranya Keriyan Agung Widya pemuka tandha-manteri. Keriyan Kaler Prandhawa menjabat Demung, keduanya putera Keriyan Nginte. Adapun Kyayi Lurah Abiyan Tubuh dan Kyayi Lurah Madya Karang, keduanya menjabat Patih muda, sebab ayahnda mereka Kyayi Lurah Kubontubuh, telah lanjut usia hampir berpulang ke alam baka. Pada saat saat itu dapat dikuasai oleh Dalem yaitu : pulau Lombok, Berangbangan sebelah timur Puger, Sumbawa, tidak ada yang mendurhakai segala perintah Sri Maharaja. Dikisahkan bahwa Dalem Seganing, banyak isteri, dan banyak — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.79/a. putera, satu persatu nama beliau : yang sulung laki-laki Ida I Dewa Anom Pemahyun, adiknya Ida I Dewa Dimade, perempuan seorang Ida I Dewa Rani Gwang, ketiga-tiganya adalah putera pingajeng (= pemahyun), lagi I Dewa Karangasem lahir dari babecik, Penawing : I Dewa Cawu, I Dewa Belayu, I Dewa Sumereta, I Dewa Pamregan, I Dewa Lebah, I Dewa Sidan, I Dewa Kabetan, I Dewa Pasawahan, I Dewa Kulit, I Dewa Bedahulu, baru sekian putera-putera Dalem. Dan Kyayi Lurah Abiyan Tubuh. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 79/b. berputera tiga orang laki - laki, yang sulung bernama Kyayi Lurah Kubontubuh, Ki Jumbuh alias namanya, adiknya Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, menetap membuat rumah di Klungkung, yang bungsu Kyayi Lurah Tubuh dengan julukan Ki Nyanyap. Adapun Kyayi Madya Karang, berputera lima orang, yang sulung Kyayi Wayan Tubuh, kedua (= Made) Kyayi Gede Tubuh, adiknya Kyayi Wayahan Karang, Kyayi Made Karang, bungsu Kyayi Abiyan Tubuh. Adapun Kyayi Wayahan Perembu, yang berdiam dipegunungan Bubung Tegeh, beliau telah berpulang ke alam baka, telah di ABEN . — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 80/a. sampai dengan pangroras ( = panileman ) oleh anak dan cucunya, menurut tata cara para Arya. Beliau meninggalkan putera empat orang, yang sulung bernama Kyayi Lurah Parembu menggantikan ayahndanya, berpindah tempat ke Rendang, adiknya Kyayi Dhanu, pergi merantau dan menetap bermukim di Jemberana, yang ketiga (= Nyoman), Kyayi Biyuh, sangat disayangi oleh Kyayi Panji Sakti, diberikan tempat di utara Gunung Agung (= Buleleng), yang bungsu Kyayi Warthaka, amat disayang oleh Dalem, kemudian dititahkan pergi ke Nusa, menjadi Bandhesa di pulau Nusa –o– Lama kelamaan . —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 80/b. tiba saatnya berpulang Sri Aji Seganing, mencapai Wisnu Bhawana, pada tahun Saka 1587, digantikan oleh puteranya yang sulung, bergelar Dalem Anom Pemahyun, sebab beliau putera tertua dan kelahiran uttama pula (= pemahyun), dan telah direstui oleh Dalem Bekung dan Dalem Seganing dahulu, dan beliau pula yang menguasai Singharsa, terakhir beliau menjabat Raja muda ketika ayahnda beliau telah lanjut umur. Dibiseka beliau Dalem Anom Pemahyun mengganti menjadi Raja lima hari setelah BALIGIA —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 81/a. Maharaja almarhum. Lalu beliau mengangkat Kyayi Madya Karang sebagai Maha Patih, Kyayi Lurah Abiyan Tubuh patih uttama, keduanya keturunan Kriyan Kubontubuh, sebab terus menerus kesetiaannya kepada Dalem dari leluhurnya semula, Keryan Tangkas sebagai Patih Muda dalam istana. Kriyan Brangsingha sebagai juru tulis/sekretaris; diganti semua catur tandha manterinya, pegawai seluruhnya; sekalian para Pasek, Bandhesa, dikembalikan pada tugas kewajibannya semula. Akhirnya timbul tidak puas dihati orang-orang yang seperti kehilangan penghidupan (= mata pencaharian). — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.81/b. terlihatlah keburukan orang-orang, terlibat perbuatan yang buruk, menimbulkan percekcokan, Kriyan Agung Maruti Dimade, yang mula-mula tidak cocok, membandel, akhirnya tegang. Seluruh keluarga Kriyan Agung Maruti ingin mengangkat Ida I Dewa Dimade, sebagai Raja Negara Bali, sebab beliau dapat dihasut, tidak mengerti tipu muslihat dalam hati, yang sebenarnya seperti api disisipkan diatap rumah, maksud tujuan Keriyan Maruti. Dan entah berapa bulan lamanya Dalem Anom Pemahyun bertakhta sebagai Raja Bali, akhirnya timbul pertengkaran yang menghancurkan, dari tidak . —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.82/a. baiknya niat orang-orang, dibuktikan dengan Kriyan Agung Maruti Dimade berontak kehadapan Dalem Anom Pemahyun. Dalam hal demikian, durhakanya Keriyan Agung Maruti Dimade, disetujui oleh I Dewa Dimade, akhirnya timbul perasaan sayang dalam sanubari Dalem Anom Pemahyun, pada kehancuran negara, dan tidak hendak beliau berebutan kekuasaan, tidak menginginkan kematian sanak saudara, dan rakyat seperti dahulu. Tetapi belum tentu kalah bila mau melawannya, hanya keamanan dan kesentosaan Negara yang dicita-citakan dalam hati. Beliau menempuh jalan lain, berunding bersama para menteri dan bahu dandha, me . —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 82/b. mohon anugerah/petuah kehadapan Maha Pendeta Raja Sira Sanging Peling, tentang beliau bermaksud pindah keraton. Setelah memperoleh keputusan dalam perundingan, maka serempak bersama putera beliau yang Made ( nomor dua ), serta pasukan berani mati ikut sebagai pembela/ pengawal tuannya, berangkat menuju arah ke timur keistana Bathara (= Dalem Bekung) dulu di desa Purasi. Keriyan Madya Karang dan putera-puteranya semua, keturunan Keriyan Tangkas, Keriyan Brangsinga, sebagai pelopor waktu berangkat. Beliau membawa keris Ki Bengawan Canggu, Ki Kidang Manolih dibawa oleh putera beliau ( = Noot : Keris tersebut kini disimpan di Pamerajan Dalem Anom Pemahyun, di Jero Gede Sidemen), tidak terlukiskan.........—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 83/a. dalam perjalanan Dalem tiba di desa Purasi pada waktu malam hari tahun Saka 1587. Besok-besok datang mengalir rakyatnya ketimur, bertujuan untuk membela, sampai-sampai penuh sesak di desa Purasi, itu , tiga ratus sepuluh jumlah pemimpin pasukannya. Tetap Kyayi Madya Karang sebagai Kepala para Menteri, ia disuruh oleh Dalem untuk memikirkan pemerintahan Kerajaan, menugaskan seluruh pasek, Bandhesa memimpin di desa-desa, serta para Arya yang ikut, diberikan tempat/jabatan masing-masing, di pelosok-pelosok kerajaan Singharsa, disebelah timur sungai Telagawaja, sebelah utaranya sampai Ponjok batu (= Kab. Buleleng). Adapun. —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.83/b. putera-putera Kyayi Madya Karang, dititahkan mengatasi keamanan di desa-desa, yang sulung bernama Kyayi Wayahan Tubuh. di Bugbug, yang kedua (= panghulu) Kiyayi Gede Tubuh di TULAMBEN, Kyayi Wayahan Karang memegang pimpinan di Tianyar, Kyayi Made Karang mengikut ayahnda nya, Kyayi Abiyan Tubuh di Sengkidu, tidak ikut serta putera-putera yang wanita. Kemudian Sri Anom Pemahyun pindah dari desa Purasi, menuju Tambega, menetap membangun istana disana, diiringkan oleh rakyat dan tandha menteri, terutama Kriyan Madya Karang dan puteranya yang namanya seperti nama ayahndanya. — o —&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 84/a. Tidak diceriterakan lagi mereka yang bermukin diistana Pemahyun raja Tambega, maka dikisahkan setelah berpindah Sri Aji Anom Pemahyun, diganti oleh Sri Agung Dimade, bertakhta menjadi raja berkedudukan di Swecalinggarsapura. Dipatihi oleh Kriyan Agung Maruti Dimade. Adapun para putera Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, tidak memperoleh jabatan/kewibawaan, sebab dianggap musuh oleh Kriyan Maruti, sebenarnya mereka tetap setia kepada Dalem. Setelah lama, Sri Agung (= Dalem) Dimade, berpikir-pikir dalam hati, sebab tidak boleh berpisah dengan putera - putera Kriyan Kubontubuh sebab benar-benar setia berani mempertahankan dengan mempertaruhkan jiwa sejak. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 84/b. leluhurnya di jaman bahari. Itulah sebabnya beliau (= Dalem Dimade) mengutus untuk mencari-cari putera-putera Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, yang berada di desa-desa tempatnya masing-masing, sebab mereka bercerai-berai dahulu, hendak dibunuh oleh Kriyan Maruti. Dijumpa Kyayi Lurah Kubontubuh yang diberi julukan Ki Jumbuh, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, Kyayi Lurah Tubuh yang diberi julukan Ki Nyanyap ada pula yang telah pergi ke desa-desa yang jauh, dan tak terlukiskan yang wanita. Disana Dalem Dimade mengaruniai sejenis anugerah jabatan, Kyayi Jumbuh diangkat sebagai Demung, bermukim di Pekandhelan Gelgel, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna Demung di Kelungkung, Kyayi —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 85/a.Nyanyap. Bandhesa di Gelgel, semuanya telah mempunyai banyak keturunan, Kyayi Jumbuh berputera tiga orang, yang sulung Kyayi Ngurah Kubontubuh, Kyayi Kubon Dawuh Wandhira, adiknya yang bungsu Kyayi Tubuh Dyana. Adapun Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, mempunyai dua orang putera, Kyayi Tubuh Dawuh Baingin, dan Kyayi Made Tubuh. Kyayi Nyanyap berputera hanya seorang bernama Kyayi Miber. Demikian anak cucunya Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, semuanya setia menghamba pada duli Sri Agung Dimade. Tetapi terseret oleh pengaruhnya Kali Yugga (= zaman tengkar )...... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 85/b. moha, murka, pikiran manusia, diselimuti oleh rajah dan tamah. Itu yang menguasai Keriyan Agung Maruti, akhirnya durhaka memberontak melawan Dalem Dimade. Kacau balau kerajaan Gelgel, lupa pada pemimpin dan kekeluargaan, para punggawa pergi dari Gelgel, semua menuju rakyatnya ke Desa-desa. Lalu Dalem diserbu/dikepung oleh Kriyan Agung Maruti, yang diam disebelah utara pasar di Karang Kepatihan, Keriyan Patih durhaka pada Dalem, ingin menjadi raja seorang diri. Para pungakan dan Punggawa, yang berada di ...... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 86/a. Swecapura, serta rakyat dapat ditahan, tidak bisa keluar membantu Dalem dalam bencana. Setelah demikian, kemudian Dalem sempat keluar, dijemput oleh rakyat disebelah barat sungai Bubuh, lanjut Dalem berpindah/menyingkir kedesa Guliang (= Kab. Bangli), serempak bersama permaisuri dan putera-putera beliau, menetap Dalem disana. Kriyan Agung Maruti bertakhta menjadi raja, dipatihi oleh Dukut Kretha, berakibat tidak setabilnya pulau Bali, — o — Adapun putera-putera/keturunan Kyayi Jumbuh, Kayayi Ngurah Kubontubuh, banyak keturunannya, ada di Gobleg, Tambahan, Kyayi Ngurah Tubuh ... — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 86/b. di Pekandhelan Klungkung, ada yang di Badung, Tabanan, Mengwi, dan Jemberana. Dan adinda Kyayi Ngurah Kubontubuh, yang bernama Kyayi Dawuh Wandhira, banyak keturunannya, ada di Tamlang, Tuakilang, Sibang, Tegaltamu. Kyayi Tubuh Dyana, putera Kyayi Jumbuh yang Bungsu, banyak keturunannya, ada di Pesaban, Kusamba, Antiga, Abiyansemal, Watubentar, Penarungan, Tangkulak, Sukawati, Tampaksiring, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, berputera dua orang, yang sulung Kyayi Tubuh ....... — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 87/a. Baingin bermukim di Dawan, mengadakan keturunan disana. Yang kedua Kyayi Madya Tubuh, mengikuti Dalem Di Made ke Guliyang, bermukim di Bangli, mengadakan keturunan, yang tertua menggantikan ayahndanya di Bangli, yang kedua berpindah ke Gianyar, yang ketiga pindah ke Ubud, yang bungsu Kyayi Ketut Abiyan Tubuh, pindah menuju Karangasem. Adapun Kyayi Nyanyap, serta puteranya yang masih kanak-kanak, masih berada di Guliyang, menghamba kepada Dalem Dimade, hentikan sebentar. —o—. Kembali dituturkan, Sri Agung Anom Pemahyun di..........—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 87/b. Pemahyun RajyaTambega, menitahkan putera beliau yang nomor dua (= Dimade), pergi ke Siddhemaan, bertakhta sebagai raja untuk menjadi junjungan Singharsa rajya, berkedudukan di Malayu (= Ulah), di pesanggra-hannya Dalem Anom Pemahyun dulu waktu beliau menjabat penguasa (= Punggawa) dari Singharsa, berdekatan dengan asrama Pendeta Baghawanthanya, yg mulia Pendandha Wayahan Burwan, yg berkedudukan di Sukaton, putera Pedandha Peling, seorang pendeta yang berbatin tinggi dan memegang jabatan penting dalam istana ( = tunten ring bangbatu) serta beliau pendeta yang tersohor. Tak terduga-duga terkejut beliau (= Sri Anom Dimade) mendengar berita (laporan) bahwa Kriyan Agung Dimade hendak menyerbu Singharsa, seketika beliau ........ — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 88/a. mempersiapkan rakyat dan pasukan berani mati, lalu mendahului menyerang, Cegeng, Temaga. Setelingnya bernama TOHJIWA, sehingga ada Desa Tohjiwa. Disana beliau bermaksud hendak menghancur leburkan Keriyan Agung di Gelgel, SAYANG ......... terhalang oleh derasnya banjir seperti bulan-bulan kapitu kawolu. Rakyat pasukannya menari-nari menjerit perkasa hendak bertempur. Dalam keadaan demikian, tepat datangnya rakyat pasukan sebelah timur Bukit ( = Bukit Penyu), membawa pejenengan Ki Bangawan Canggu, anugerah ayandanya, dipelopori oleh Kriyan Tangkas Biyas, Ki Brangsinga, Kyayi Made Karang putera Kyayi ...........—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 88/b. Madya Karang yang berada di Tambega, diiringkan oleh pasukan rakyat serempak. Penggempuran Sri Anom Dimade, batal, sehingga semua kembali menuju rumahnya masing-masing, setelah diatur pasukan tempurnya untuk mempertahankan daerah perbatasan yang terutama : Kyayi Madya Karang diberikan tempat didesa Lebu, Ki Brangsinga di wilayah Temaga untuk mempertahankan steling (= GELAR), serta pasukan lengkap. Tiba-tiba datanglah berita bahwa Sri Anom Pemahyun menderita sakit di Pemahyun rajya, sehingga pergilah Sri Anom Dimade ke Tambega. Didapatkan . — /— &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 89/a. ayahndanya telah berpulang ke alam baka, pada hari Budha, Umanis, hari ke 9, bulan Srawana (= Kasa) tahun Saka 1608. Lanjut jenazah almarhum di upacara "PALEBON" di Siddhemaan pada hari Sukra Paing Gumbreg pada bulan Badrawada (= Karo) dipuja oleh Pendeta Siwa dan Budha, Pedandha Gede Wayan Burwan, dan Pedandha Nengah Banjar Sogata – o –. Adapun Kyayi Madya Karang, menteri utama dari Sri Agung Anom Pemahyun, telah berpulang lebih dahulu, sudah pula diupacara oleh anak cucu almarhum, sebagai pelopor puteranya yang berada di Tulamben. Dan Kiyayi Gede Tubuh. — /—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 89/b. Tulamben, yang berkuasa di Tulamben berputera tiga orang laki-laki, yang sulung Kyayi Karang Tubuh, kemudian pindah menuju desa Kubu Tambahan, menetap disana mengadakan keturunan. Nomor dua (= pangulu) Kyayi Kubontubuh Culik, beliau juga bernama Kyayi Kubontubuh Tawing karena ibunya dari warga Ki Pasek Tawing Culik, beliau menggantikan ayahandanya di Tulamben. Yang nomor tiga, (= Nyoman), Kyayi Tubuh Tulamben, pindah menuju desa Ababi, menetap disana. Lagi pula lima putra Kyayi Kubontubuh Culik, terpencar-pencar mencari desa tempat tinggal, pada waktu terjadi kekacauan, perampokan bersenjata api oleh orang-orang Bajo di Tulamben pada tahun 1617 Saka (1695 M.). Yang tertua —/— &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 90/a. Kyayi Kubontubuh mengungsi ke Desa Pesangkan dan tinggal disana. Adiknya Kyayi Gede Bendesa Tubuh menuju Desa Datah, disana beliau dilindungi oleh Tangkas Jaya, Ki Gede Pasek memberi kewibawaan bersama-sama membangun ketertiban desa. Adapun putera ketiga yang bernama Kyayi Nyoman Tubuh menuju Desa Sibetan bersama anak dan isterinya, diterima oleh penguasa disana dan akhirnya menetap disana. Putera keempat yang bernama Kyayi Gede Tubuh Tawing mengungsi ke Desa Ngis Tista. Yang bungsu bernama Kyayi Tubuh Sibetan, menuju ke Kikiyan Rajagiri, Abang, tinggal menetap disana beliau menyembunyikan identitas diri. – o -- Kini kembali dituturkan, setelah wafat Sri Agung Anom Pemahyun, amat gelisah hati beliau raja Singharsa Sri Agung Anom Dimade, hendak menguasai kembali keraton kerajaan Gelgel, lebih-lebih pula Kriyan Maruti amat gigih niatnya menyerbu kerajaan Singharsa dahulu. Ternyata beliau menghadap keppada beliau Pendeta Agung Pedandha Wayahan Burwan di asramanya di Sukaton, memohon petuah/restu...... —/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 90/b. Beliau Sang Pendeta Agung memberikan pertimbangan/persetujuan, dan menyuruh pula agar beliau Sri Agung Anom Dimade mengundang/memanggil saudara sepupunya yang berada di Guliyang, agar supaya tidak kecewa didalam steling/pertahanan. Gembira hati Sri Anom dimade, lalu diutus/disuruh putera pingajeng Kriyan Lurah Sidemen Dimade, yang bernama Kriyan Lurah Sidemen Cerawis, mempermaklum kan pesan Sang Raja Putera yang berada di Guliyang, yang dalam keadaan amat berduka cita seperti beliau yang menderita dan dendam di Siddhemaan. Akhirnya sama-sama memberikan pertimbangan/persetujuan sehingga ke Guliyang ...... ke Sidemen (= pulang pergi sering-sering). Kyayi Lurah, Anglurah sebagai seorang utusan. Tetapi belum berhasil baik, tidak ...—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 91/a. disangka-sangka wafat Sri Anom Dimade, pada tahun Saka 1616 (= 1694 Masehi). Setelah berpulang Sri Anom Dimade, datang Sri Agung Jambe yang bermukim di Guliyang), menuju Singharsa Rajya benar-benar disambut baik oleh rakyat, berkedudukan di Melayu ( = ULAH ), bersama-sama dengan putera mahkota Sri Anom Dimade, sedang masa kanak-kanak, bernama Sri Agung Gede Ngurah, Disana beliau mencari akal/siasat, hendak menundukkan musuh-musuh yang durhaka kepada Dalem. Sebagai pemimpin perundingan adalah Sri Agung Gede Jambe, beliau Pedandha Wayahan Burwan sebagai dyaksa (= Dewan Pertimbangan Agung), diikuti oleh Kyayi Jambe Pule, Kyayi.....—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal. 91/b. Panji Sakti. Setelah memperoleh kebulatan tekad dalam perundingan, pada suatu hari yang baik, Selasa, Pahing, Bala, Isaka 1626, lalu Gelgel diserbu. Panjang sekali bila diuraikan jalan pertempuran itu, ternyata akhirnya kalah perlawanan Kriyan Maruti, lari dari Gelgel, menuju Jimbaran. Adapun setelah lari Kriyan Maruti, beliau Sri Agung Gede Jambe menitahkan Kyayi Lurah Tubuh yang diberi julukan Ki Nyanyap, mengejar perginya dengan pasukan, tujuannya untuk menyelidiki/mengawasi (memata-matai) pikiran dan perbuatannya Kriyan Agung Anom Dimade Maruti. Lama kelamaan, diampuni....—/—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hal.92/a. oleh Dalem, diberikan tempat di Kuramas, adapun Kyayi Nyanyap serta anak isterinya lalu menetap pula disana, karena dititahkan oleh Dalem. Beliau Sri Agung Gede Jambe, bertakhta menjadi raja berkedudukan di SEMARAJAYA (= Klungkung). Kemudian mengangkat dan membiseka raja putera yang berada di Siddhemaan sebagai raja Singharsa, bergelar Sira Sri Agung GEDE NGURAH, terhitung putera dari sepupu olehnya. Aman sentosalah KERAJAAN SEMARAJAYA DAN SINGHARSA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dari uraian Naskah Babad diatas dapat dipahami bahwa &lt;em&gt;babon&lt;/em&gt; babad tersebut tersurat dalam aksara Bali yang terdiri dari 92 lembar lontar. Sebagaimana pakemnya suatu babad, inti uraiannya berkisah tentang silsilah beserta peran-sertanya dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang dilalui dalam perjalanan hidupnya dari generasi ke generasi baik dari tokoh sentralnya dalam babad termaksud maupun dari raja-raja yang memegang tampuk pemerintahan dari generasi ke generasi pada zamannya. Supaya lebih mudah dapat dipahami silsilah yang telah diuraikan dalam naskah tersebut diatas, dalam postingan-postingan selanjutnya akan disajikan silsilah termaksud dalambentuk bagan-bagan. Sampai ketemu dalam postingan selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" contenteditable="false" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:984945be-9e81-44b1-a933-70454f42fddb" style="display: inline; float: none; margin: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/naskah" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;naskah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/babad" rel="tag"&gt;&lt;span style="color: #225588;"&gt;babad&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh, Edisi II – 2007, halaman 1 - 54)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-6795595717962736077?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/6795595717962736077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/naskah-babad-sira-arya-kuthawaringin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6795595717962736077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6795595717962736077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/naskah-babad-sira-arya-kuthawaringin.html' title='NASKAH BABAD SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-6778356359025983439</id><published>2010-10-16T06:53:00.000+08:00</published><updated>2010-10-16T06:53:27.770+08:00</updated><title type='text'>BUKU BABAD SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH</title><content type='html'>&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/TLjZuVOPl6I/AAAAAAAAAF0/5y3KxPhY5JI/s1600/cover+babad+ktw-ktb+(2)-33%25.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ex="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/TLjZuVOPl6I/AAAAAAAAAF0/5y3KxPhY5JI/s1600/cover+babad+ktw-ktb+(2)-33%25.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Beserta Lampiran-Lampirannya Edisi II-2007 ini penulis pergunakan sebagai sumber/acuan utama dari artikel-artikel yang telah dan akan diposting dalam Blog ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Naskah Buku Babad ini bersumber dari hasil terjemahan kedalam &lt;strong&gt;bahasa Indonesia dari &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;babon-&lt;/em&gt;nya yang berbahasa Bali-Kawi dan tertulis dalam aksara Bali pada lontar pusaka, milik/tersimpan di Pamerajan Dalem Anom Pemayun, Jro Gede Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten karangasem. Penerjemahnya adalah Cokorda Gede Catra. Sedangkan lampiran-lampiran dalam Buku Babad ini terutama bersumber dari hasil kajian-kajian yang telah dilakukan oleh Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin dalam kurun waktu mulai dari terbentuknya organisasi wadah pasemetonan termaksud pada tanggal 22 Mei 1983 sampai diterbitkannya Buku Babad termaksud pada tahun 2007.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Substansi yang dihimpun dari kedua sumber seperti dimaksud diatas kemudian dirangkum dan disunting oleh Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin menjadi buku babad dengan judul seperti tercantum pada cover depan buku tersebut seperti nampak pada foto diatas. Baik dalam melakukan kajian-kajian termaksud diatas maupun dalam merangkum dan menyunting Buku Babad ini penulis terlibat betul di dalamnya karena penulis duduk sebagai ketua I dalam Kepengurusan Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin dalam periode kepengurusan 1983-1988, 1988-1993, 1993-1998 dan selanjutnya sebagai Ketua Umum dalam periode kepengurusan 1998-2003, 2003-2008.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam “KATA PENGANTAR” penerbitan buku ini oleh Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin antara lain diuraikan hal-hal berikut :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku Babad ini diterbitkan untuk memenuhi kebutuhan sameton pratisentana Kubontubuh-Kuthawaringin, terutama generasi mudanya yang ingin meningkatkan pemahaman tentang sejarah leluhurnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemahaan tentang sejarah leluhur diharapkan dapat mengantarkan kearah pencapaian dua dimensi manfaat, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horisontal.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam konteks dimensi vertikal, peningkatan pemahaman tentang sejarah leluhur diharapkan secara religius dapat lebih memantapkan pelaksanaan kewajiban berbhakti kepada leluhur dalam kerangka konsep &lt;em&gt;Tri Rna&lt;/em&gt; sesuai dengan inti tattwa Agama Hindu yang terhimpun dalam &lt;em&gt;Panca Srada&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam konteks dimensi horisontal, peningkatan pemahaman tentang sejarah leluhur diharapkan secara sosial dapat mempereret ikatan rasa pertalian hubungan pasemetonan diantara sesama pratisentananya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan demikian pemahaman tentang sejarah leluhur, bukanlah dimaksudkan hanya untuk bernostalgia dan terpaku dengan kebanggaan akan kebesaran dan keberhasilan masa lalu yang pernah diraih oleh beberapa generasi pendahulu. Sebaliknya generasi penerus seyogianya bersifat arif agar dapat memetik manfaat dari hal-hal positip yang dapat diteladani dari kehidupan para leluhur di masa lalu untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini dan masa depan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Agar naskah babad termaksud lebih mudah dapat dipahami dan untuk melengkapi pemahaman tentang hal-hal yang terkait dengan isi naskah tersebut, babad ini dilengkapi dengan sejumlah lampiran.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas, apakah para sameton pratisentana Kubontubuh-Kuthawaringin pada khususnya dan para peminat sejarah pada umumnya, berminatkah untuk mengetahui isi Buku Babad termaksud ? Bagi yang berminat silahkan simak postingan-postingan selanjutnya yang akan menyajikan hal-hal yang terkait dengan isi naskah babad termaksud beserta lampiran-lampirannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Babad Kuthawaringin-Kubontubuh Beserta Lampiran-Lampirannya Edisi II-2007 halaman vii –xi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/187/0B9243EEA48B0310A416F738E8A95684.png" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; border-bottom: 0px; border-left: 0px; border-right: 0px; border-top: 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-6778356359025983439?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/6778356359025983439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/buku-babad-sira-arya-kuthawaringin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6778356359025983439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6778356359025983439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/10/buku-babad-sira-arya-kuthawaringin.html' title='BUKU BABAD SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/TLjZuVOPl6I/AAAAAAAAAF0/5y3KxPhY5JI/s72-c/cover+babad+ktw-ktb+(2)-33%25.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-8313555471301501795</id><published>2010-07-31T22:51:00.001+08:00</published><updated>2010-07-31T22:51:23.737+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>PERISTIWA SEJARAH DAN PURA YANG BERDIRI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kronologi peristiwa-peristiwa ssejarah yang melatar belakangi berdirinya Pura-Pura Pusat Penyungsungan Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin, seperti tersurat/tersirat dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh dan dokumen-dokumen terkait, adalah seperti yang disajikan dalam tabel dibawah ini.&lt;/p&gt;  &lt;table border="1" cellspacing="0" cellpadding="2" width="425"&gt;&lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;         &lt;p align="center"&gt;PERIODE PEMERINTAHAN DAN RAJA YANG MEMERINTAH&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="center"&gt;RANGKAIAN PERISTIWA YANG MELATAR BELAKANGI BERDIRINYA PURA-PURA&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;         &lt;p align="center"&gt;PURA-PURA YANG BERDIRI&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;u&gt;1343&lt;/u&gt; :             &lt;br /&gt;Belum ada Raja yang memerintah setelah Bali takluk&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;Ekspedisi Gajah Mada menaklukkan Bali. Bali diserbu dari pesisir timur, utara dan selatan. Sira Arya Damar bersama Sira Arya Kuthawaringin dan Sira Arya Sentong menyerbu Bali dari pesisir utara, mendarat di Ularan. Bali takluk dibawah Kerajaan Majapahit.&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;u&gt;1343 – 1352&lt;/u&gt; :             &lt;br /&gt;Belum ada Raja yang memerintah, 15 Arya ditugaskan sebagai Penguasa Wilayah atas nama Kerajaan Majapahit&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;Maha Patih Gajah Mada mengatur penugasan kepada 15 Arya sebagai Penguasa Wilayah atas nama Kerajaan Majapahit.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin dikukuhkan sebagai &lt;em&gt;Amanca Agung &lt;/em&gt;(Penguasa Wilayah Tenggara Bali) berkedudukan di Gelgel dengan rakyat 5000 orang. Wilayah Kemancaan Agung itu meliputi: Gelgel, Kamasan, Tojan hingga pantai Klotok, Dukuh Nyuh-aya, Kacangpaos (Kacangda-wa), Siku sampai Klungkung.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Beberapa lama setelah menjabat &lt;em&gt;Amanca Agung&lt;/em&gt;, Sira Arya Kuthawaringin membangun istana di Gelgel. Di selatan Desa Gelgel beliau juga mendirikan tempat pemujaan yang pada zamannya disebut Kahyangan &lt;strong&gt;Dalem Desa&lt;/strong&gt; yang juga disebut &lt;strong&gt;Dalem Jagat&lt;/strong&gt; dan kemudian lumrah dikenal sebagai &lt;strong&gt;Dalem Suci.&lt;/strong&gt; Di palinggih &lt;strong&gt;Gedong Bata&lt;/strong&gt; pada Kahyangan &lt;strong&gt;Dalem Suci&lt;/strong&gt; yang merupakan tempat pemujaan &lt;em&gt;Sang Amanca Agung&lt;/em&gt; itu, beliau mensthanakan/memuja Sang Hyang Parama Wisesa dalam &lt;em&gt;prabawanya&lt;/em&gt; sebagai &lt;strong&gt;Sang Hyang Amurwabhumi. &lt;/strong&gt;Kahyangan Dalem Suci ini merupakan cikal-bakalnya pura yang kemudian akhirnya dikenal dengan nama &lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Dalem Suci : cikal-bakalnya Pura Dalem Tugu.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1352 – 1380&lt;/u&gt; :               &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan di Sam-prangan&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Amanca Agung &lt;/em&gt;Sira Arya Kuthawaringin juga menjabat Adhi Patih dan berkedudukan sebagai Tumenggung.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin menurunkan 4 orang putera, yaitu I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin (diperistri oleh Dalem Ketut Kresna Kepakisan, melahirkan Ida Dewa Tegalbesung).&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin lanjut usia, diganti oleh putera sulungnya yang bergelar I Gusti Agung Bandhesa Gelgel dengan jabatan Patih Utama.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Sira Arya Kuthawaringin wafat, I Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama seluruh saudara dan sanak keluarganya menyelenggara-kan upacara &lt;em&gt;Palebon &lt;/em&gt;lanjut dengan &lt;em&gt;Baligia &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Atmapratista&lt;/em&gt;-nya. Roh Sucinya disthanakan (&lt;em&gt;dhinarmma) &lt;/em&gt;pada palinggih babaturan di Kahyangan Dalem Suci tersebut sebagai &lt;strong&gt;Padharman Sira Arya Kuthawaringin.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Dalem Suci sebagai Padhar-man Sira Arya Kuthawaringin.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1380&lt;/u&gt; :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Dalem Ile di Samprangan.&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat, diganti oleh Dalem Ile.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Dalem Ile lalai mengurus negara (Kerajaan).&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Kyayi Parembu dua kali diperintahkan oleh Dalem Ile untuk mengejar Dalem Tarukan, tetapi tidak berhasil sehingga malu kembali ke Gelgel/ Samprangan. Oleh karena itu beliau bermukim di Bubungtegeh bersama 20 prajuritnya, sedangkan 20 prajurit lainnya diperintahkan kembali ke Gelgel untuk melaporkan keberadaannya di Bubung-tegeh kepada (kakaknya) I Gusti Agung Bandhesa Gelgel.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang sejak Dalem sebelumnya sudah menjabat Patih Utama, kecewa dengan sikap Dalem Ile mengurus negara. Lalu beliau melakukan semadhi (&lt;em&gt;ndewasraya) &lt;/em&gt;di Kayangan Dalem Suci, tempat pemujaan beliau. Tiba-tiba mendengar &lt;em&gt;sabda angkasa &lt;/em&gt;yang menyuruh beliau menghadap Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Oleh karena itu beliau mengundang para menteri/pejabatkerajaan/bahudanda/pemuka masyara-kat yang sehaluan, lalu bermusyawarah di Kahyangan Dalem Suci, dimana sebelumnya beliau bersamadhi. Permusyawara-tan aklamasi mendukung langkah yang akan diambil sesuai &lt;em&gt;sabda angkasa&lt;/em&gt; itu, lalu disana mereka berikrar (&lt;em&gt;madewa saksi&lt;/em&gt;), setelah itu berangkat menuju Desa Pandak karena setelah diselidiki, diketahui Ida I Dewa Ketut Ngulesir berada disana. &lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Dialog di Desa Pandak : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel mohon kesediaan Ida I Dewa Ketut Ngulesir untuk menjadi raja menggantikan Dalem Ile dan mempersilahkan beliau mengambil Istana Kepatihan-nya untuk dijadikan Istana Dalem. Akhirnya beliau tidak kuasa menolak, lalu bersama-sama kembali ke Gelgel.&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1383 – 1460&lt;/u&gt; :               &lt;br /&gt;Dalem Ketut Smara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan pada tahun saka 1305 (1383M) dengan gelar Dalem Sri Smara Kepakisan, berkedudukan di Gelgel yang kemudian bernama Swecalinggarsapura.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Patih Utama, menyerahkan purinya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Smara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel. Kemudian beliau pindah/membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamerajannya di sebelah barat daya Istana Kepatihan terdahulu yang sudah menjadi Istana Dalem atau disebelah utara Kahyangan Dalem Suci tempat pemujaan beliau, yaitu di tegalan &lt;em&gt;Abyan Kawan &lt;/em&gt;yang ditanami pohon kelapa. Sejak itu beliau juga bergelar &lt;strong&gt;Kyayi (I Gusti) Kubontubuh &lt;/strong&gt;atau&lt;strong&gt; Kyayi (I Gusti) Klapodhyana.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Mrajan dari purinya yang baru ini diyakini merupakan Pura Mrajan yang diwariskan kepada pratisentananya hingga sekarang yang sesuai Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tgl.25 Januari 2004 disebut &lt;strong&gt;Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Atas restu Dalem Ketut Smara Kepakisan dan didukung para Arya,&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;dibangunlah Palinggih Tugu sebagai sthana&lt;strong&gt; Sang Hyang Tugu&lt;/strong&gt;, beliaulah &lt;strong&gt;Sang Hyang Ghanapati&lt;/strong&gt;, sebagai saksi dunia. Tugu tersebut dibangun disebelah utara palinggih Gedong Bata di Kahyangan Dalem Suci dimana sebelumnya dilakukan ikrar (&lt;em&gt;madewa saksi&lt;/em&gt;) atas kemufakatan untuk menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa Pandak. Setelah dibangunnya Palinggih Tugu tersebut Kahyangan Dalem Suci itu hingga kini lebih dikenal dengan nama &lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;I Gusti Agung Bandhesa Gelgel mengawini I Gusti Ayu Adhi (puteri Pangeran Nyuhaya) sehingga sempat menimbulkan perselisihan, diadili oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan. Dalam sidang pengadilan tersebut I Gusti Agung Bandhesa Gelgel menyuruh adiknya yaitu Kyayi Parembu untuk mengambil Candri Sawalan di rumahnya.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan, Kyayi Klapodhyana diingatkan dengan sangat agar memugar dan &lt;em&gt;mangupapira&lt;/em&gt; Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Pada saat pemugaran itu Kyayi Gusti Klapodhyana memugar palinggih &lt;em&gt;padharman&lt;/em&gt; yang semula masih berbentuk &lt;em&gt;babaturan&lt;/em&gt; menjadi Meru Tumpang Tiga yang dibangun disebelah utara palinggih Gedong Bata, disebelan selatan Palinggih Tugu.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Setelah gagal upaya damai dan upaya penyerangan ke-1 yang berturut-turut telah dilakukan untuk membawa putera-putera Dalem Tarukan menghadap Dalem di Gelgel, Dalem Ketut Smara Kepakisan menugaskan I Gusti Kubontubuh memimpin laskar Gelgel menyerang desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim, perang seru terjadi, akhirnya putera-putera Dalem Tarukan menyerah dan tunduk kepada titah Dalem untuk menghadap Dalem di Gelgel (Dalem Tarukan, halaman 37-39).&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Mulai saat itu Kyayi Parembu yang bermukim di Desa Bubungtegeh yang termasuk salah satu dari desa-desa dimana putera-putera Dalem Tarukan bermukim, pada saat-saat tertentu pulang kembali ke Gelgel, ikut bersama-sama sanak keluarganya di Gelgel memelihara dan menyeleng-garakan upacara keagamaan sebagaimana mestinya di Kahyangan tempat pemujaan-nya dahulu yaitu Pura Dalem Tugu.&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pura Mrajan Kawitan&lt;/strong&gt;           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;1460 – 1550&lt;/u&gt; :             &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalem Watu Ra Enggong&lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="177"&gt;         &lt;p align="justify"&gt;Kyayi Klapodhyana lanjut usia, diganti oleh putranya yaitu Kyayi Lurah Abiantubuh dengan jabatan Patih.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Kyayi Abiantubuh wafat, diganti oleh puteranya yaitu Kyayi Lurah Kubonkalapa dengan jabatan Adhi Patih.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Kyayi Kubonkalapa memang-gil Kyayi Tabehan Waringin (cucu Kyayi Parembu) untuk datang dalam pertemuan keluarga di Gelgel.&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Dalam pertemuan keluarga tersebut dipermaklumkan oleh Kyayi Tabehan Waringin bahwa ayahandanya (yaitu Kyayi WayahanKuthawaringin = putera Kyayi Parembu) telah membangun &lt;strong&gt;Paryang-an di Waringin.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Penjelasan lebih lanjut tentang Paryangan yang telah didirikan di Waringin seperti tercantum dalam Babad Arya Kuthawaringin halaman Lontar 64a dan 64b adalah :&lt;/p&gt;          &lt;ol&gt;           &lt;li&gt;             &lt;div align="justify"&gt;Paryangan Waringin didirikan dilokasi tempat Kyayi Parembu melakukan “yoga dengan hati yang suci”.&lt;/div&gt;           &lt;/li&gt;            &lt;li&gt;             &lt;div align="justify"&gt;Wujudnya hanya &lt;em&gt;babaturan&lt;/em&gt; belum permanen.&lt;/div&gt;           &lt;/li&gt;            &lt;li&gt;             &lt;div align="justify"&gt;Fungsinya sebagai tempat pemujaan leluhur.&lt;/div&gt;           &lt;/li&gt;            &lt;li&gt;             &lt;div align="justify"&gt;Tidak ketinggalan sthana untuk memuja arwah almarhum Sirarya Kuthawaringin.&lt;/div&gt;           &lt;/li&gt;            &lt;li&gt;             &lt;div align="justify"&gt;Disebelah selatannya : Pura Dalem (belum permanen) itulah tempat jenazah Kyayi Parembu dibakar (&lt;em&gt;palebon&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;           &lt;/li&gt;         &lt;/ol&gt;          &lt;p align="justify"&gt;Dari butir 1 s/d 5 diatas, jelas terungkap bahwa Pura Waringin didirikan sebagai kelanjutan dari proses &lt;em&gt;palebon&lt;/em&gt; Kyayi Parembu di Desa Waringin dan tentunya bukan kelanjutan dari proses &lt;em&gt;palebon-baligia-atmaprastita &lt;/em&gt;Sira Arya Kuthawaringin yang sudah diselenggarakan di Gelgel pada zaman pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan seperi telah diuraikan diatas. Kesimpulan ini sejalan pula dengan pernyataan pada butir 4 diatas yang maknanya bahwa disana “tidak ketinggalan” juga dibangun sthana sebagai pesimpangan atau pengayengan untuk memuja arwah almarhum Sirarya Kuthawaringin.&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top" width="106"&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pura/Paryangan di Waringin&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dari rangkaian kronologis peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi berdirinya &lt;em&gt;pura=pura&lt;/em&gt; seperti diuraikan dalam tabel diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;Kahyangan Dalem Suci, cikal-bakal Pura Dalem Tugu, dibangun beberapa tahun setelah tahun 1343 M. yaitu setelah Sira Arya Kuthawaringin dikukuhkan sebagai &lt;em&gt;Amanca Agung &lt;/em&gt;berkedudu-kan di Gelgel.&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;Palinggih Tugu di Pura Dalem Tugu, dibangun beberapa tahun setelah tahun 1383 M. Pada tahun tersebut Patih Utama Kyayi (I Gusti) Klapodhyana bersama para menteri/pejabat kerajaan/bahudanda/pemuka masyarakat yang sehaluan, berhasil menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir di Desa Pandak lanjut dinobatkan menjadi Dalem kepertama (sehingga merupakan pendiri) Kerajaan Gelgel dengan gelar Dalem Sri Smara Kepakisan.&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;Pura Mrajan Kawitan dibangun pada tahun 1383 M. yaitu setelah I Gusti Agung Bandhesa Gelgel menyerahkan purinya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Smara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel. Kemudian beliau pindah/membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamrajannya.&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;Pura/Paryangan di Waringin dibangun oleh &lt;strong&gt;Kyayi Wayahan Kuthawaringin&lt;/strong&gt;, yaitu putera Kyayi Parembu atau cucu dari &lt;strong&gt;Sira Arya Kuthawaringin&lt;/strong&gt;. Dengan demikian jelas sekali bahwa yang membangun pura ini bukan &lt;strong&gt;Sira Arya Kuthawari-ngin&lt;/strong&gt;. Periode pembangunan pura ini diperkirakan sekitar akhir masa pemerintahan Dalem Ketut Smara Kepakisan atau pada awal masa pemerintahan Dalem Watu Ra Enggong, mengingat pura ini didirikan sebagai kelanjutan dari proses upacara &lt;em&gt;palebon &lt;/em&gt;Kyayi Parembu di Waringin.&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Demikianlah hal-hal yang dapat disajikan tentang berdirinya pura-pura yang merupakan pusat penyungsungan bagi pratisentana &lt;strong&gt;Sira Arya Kuthawaringin&lt;/strong&gt; yang meliputi &lt;strong&gt;Kubontubuh-Kuthawaringin yang merupakan pratisentana Kyayi Klapodhyana&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Parembu-Kuthawaringin yang merupakan pratisentana Kyayi Parembu&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Candi-Kuthawaringin yang merupakan pratisentana Kyayi Candi&lt;/strong&gt;. &lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Lampiran IVB, halaman 90-98 Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Semoga ada manfaatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Terima kasih atas kunjungan anda ke BLOG yang saya asuh, saran dan komentar anda sangat dibutuhkan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Denpasar, 31 Juli 2010.&lt;/p&gt;  &lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:3cbacfcf-dfd7-44de-aa02-b7aca2bd4197" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Babad-06" rel="tag"&gt;Babad-06&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-8313555471301501795?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/8313555471301501795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/07/peristiwa-sejarah-dan-pura-yang-berdiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8313555471301501795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/8313555471301501795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/07/peristiwa-sejarah-dan-pura-yang-berdiri.html' title='PERISTIWA SEJARAH DAN PURA YANG BERDIRI'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-6283184978182860185</id><published>2010-07-26T00:56:00.001+08:00</published><updated>2010-07-26T00:56:13.969+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>MENGAPA WARGA KUBONTUBUH-KUTHAWARINGIN MEMAKAI PETULANGAN MACAN SELEM DALAM UPACARA PENGABENAN ?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketentuan tentang sarana dan simbul-simbul yang dipakai dalam upacara pengabenan bagi warga Kubontubuh-Kuthawaringin bersumber dari panugerahan Dalem pada zaman kerajaan dahulu. Dalam Babad Arya Kuthawaringin-Kubontubuh, pada halaman Lontar 44a-44b-45a tercantum panugerahan untuk itu dari Dalem Ketut Semara Kepakisan, seperti kutipan dibawah ini :&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;   &lt;li&gt;&amp;#160;&lt;u&gt;Panugerahan Dalem Ketut Semara Kepakisan kepada Kyayi Klapodhyana dan saudara-saudaranya semua keturunan Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; : “……..Dan pada waktu kematian, pada waktu ngaben, sebagai alat pengusungan jenazah boleh memakai dasar &lt;i&gt;bade, bade tumpang pitu (7), taman punggel, &lt;/i&gt;kapasnya beraneka warna; yang utama 9 warna, madya tujuh warna, nista 5 warna; &lt;i&gt;mauncal mapering sidapur, wesma silunglung, makajang (kemul), kalasa, tatak beha &lt;/i&gt;(alas pembakaran) papan 9 keping, balai-balai yang tinggi dengan 3 tangga (&lt;i&gt;undag&lt;/i&gt;), &lt;strong&gt;peti pembakaran berbentuk harimau hitam&lt;/strong&gt;, memakai &lt;i&gt;tirtha pengentas, uttama 16.000, madya 8.000, nista 4.000, dan bila ada menegakkan kabujanggan&lt;/i&gt; (menjadi bujangga/pendeta) harus dengan upakara yang lengkap, menggunakan seperti yang dipergunakan oleh seorang pendeta, &lt;i&gt;mapaterang, upadesa,&lt;/i&gt; jenazah dibungkus dengan daun pisang kaikik (sejenis pisang hutan), lengkap dengan upacaranya. Demikian isi anugerahku Dalem Cili Ketut, kepada kanda Puntha Klapodhyana dan turunan Arya Kuthawaringin, jangan tidak yakin yang menjadi wali negara terhadap anugerahku dan terhadap anak cucu Kyayi Klapoodhyana dan saudaranya semua, bila kamu tidak percaya dikenakan oleh kutuknya Bhatara Brahma, berkurang kesaktianmu, Moga-Moga”. &lt;/li&gt; &lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Contoh dari &lt;i&gt;Bade Tumpang Pitu&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Petulangan Macan Selem&lt;/i&gt; adalah seperti foto-foto dibawah ini :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. &lt;u&gt;Bade Tumpang Pitu&lt;/u&gt;     &lt;table cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td width="36"&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td width="247"&gt;           &lt;table cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td&gt;                   &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExsgJ3eK7I/AAAAAAAAAFI/QdZ5_ZSuf5M/s1600-h/clip_image0023.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image002" border="0" alt="clip_image002" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExshlWFgcI/AAAAAAAAAFM/JEHVPe74oz0/clip_image002_thumb.jpg?imgmax=800" width="158" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;                 &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;             &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. &lt;u&gt;Petulangan Macan Selem&lt;/u&gt;     &lt;table cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td width="582"&gt;           &lt;table cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td&gt;                   &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExskD6tYAI/AAAAAAAAAFQ/Nx_baQwPsvM/s1600-h/clip_image0043.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image004" border="0" alt="clip_image004" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExslHgnKtI/AAAAAAAAAFU/Z2fl4icpN8k/clip_image004_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" height="153" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;                 &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;             &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampak Samping&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExsm3rSTdI/AAAAAAAAAFY/sL9eQHPkh44/s1600-h/clip_image0063.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image006" border="0" alt="clip_image006" src="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExsoElRRYI/AAAAAAAAAFc/-N0IZO0VQYM/clip_image006_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" height="184" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampak Depan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExsphpBy4I/AAAAAAAAAFg/mPs2yrd6lXQ/s1600-h/clip_image0083.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image008" border="0" alt="clip_image008" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExsq6GM9gI/AAAAAAAAAFk/MZFxF0NN0pk/clip_image008_thumb.jpg?imgmax=800" width="218" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kepala ( &lt;i&gt;Punggalan &lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah acuan historis yang bersumber dari Babad Arya Kuthawaringin-Kubontubuh beserta foto-foto contoh &lt;em&gt;Bade Tumpang Pitu &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Petulangan Macan Selem&lt;/em&gt; seperti tercantum dalam Lampiran IV.C Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh halaman 99 s/d 103.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jawaban dari pertanyaan : mengapa Dalem &lt;em&gt;manganugerahkan Petulangan Macan Selem&lt;/em&gt;, ada dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh halaman 22 s/d 25 seperti kutipan berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tersebut suatu ceritera, pada suatu ketika, datang menghadap pada Dalem Ketut Semara Kepakisan di istana.Utusan dari raja Berangbangan, perlu bermohon agar dibantu, sebab timbul kerusuhan di kerajaan Berangbangan, hancur oleh keganasan si Harimau hitam. Setelah utusan itu memperoleh ijin untuk mengahadap, berkatalah utusan itu dengan sopan santun serta panganjali: Yang mulia paduka Sri Maharaja bagaikan penjelmaan Sanghyang Manobu, hamba diutus untuk menghadap oleh rakanda paduka Dalem, beliau Maharaja Berangbangan, memohon keikhlasan paduka Dalem, sudilah kiranya membantu beliau rakanda paduka Dalem. Karena rusaknya kerajaan Berambangan oleh si harimau hitam, bercokol dihutan Berambangan, luar biasa ganasnya, setiap orang yang datang ke sana disergap, diterkam dengan ujung kukunya, dimakannya, semua takut orang-orang Berambangan, tidak berani lewat ke sana. Setelah demikian atur utusan itu, segera bersabda Dalem Ketut Semara Kepakisan : Wahai kamu utusan, kembalilah kamu dengan segera, beritahukan kepada tuanmu, jangan beliau ragu-ragu/curiga, sekehendak beliau kukabulkan, hanya menunggu saat yang baik untuk berangkat, utusan itu lalu mohon diri. Itulah sebabnya Dalem bermaksud membuktikan ketangkasannya Kerian Patih Klapodhyana, seketika diperintahkan oleh Dalem di hadapan para menteri semua, titah Dalem : Wahai ......Kanda Patih Klapodhyana, kanda kuperintahkan pergi ke Berambangan, untuk membunuh harimau hitam itu, yang berada dalam hutan di Berambangan, ini kuhadiahkan sebilah sumpitan (= &lt;em&gt;tulup&lt;/em&gt;), sebab benar-benar turunan Wisnu Wangsa, pasti mati harimau hitam itu oleh kanda, demikian titah Dalem tidak menolak beliau ( = Klapodhyana) diutus, taat pada perintah Dalem, gembira hatinya Kyayi Klapodhyana, dapat berkarya untuk Kerajaan, lalu mohon diri untuk berangkat, diiringkan oleh saudara-saudaranya serta rakyat serempak, tidak diceriterakan dalam perjalanan, sudah sampai mereka di Berambangan. Tersebutlah Kyayi Nyuhaya, mendengar ( = berita ) tentang keluarganya diadu, lalu ia mohon diri pada Dalem hendak menyusul perjalanannya Kyayi Klapodhyana, dikabulkan permohonanya, segera berangkat. Dikisahkan perjalanannya Kyayi Klapodhyana, banyaklah orang-orang Berambangan dijumpa, di sana Keriyan Patih Agung ( = Klapodhyana) menanyakan tempatnya si harimau hitam, menjawab mereka yang ditanya, : Ampun . . . tuan hamba, dekat tempatnya dibawah pohon kakacu. Di sana Keriyan Patih Klapodhyana dengan gagah perkasa menjelajah dalam hutan, banyak binatang yang dijumpa, semuanya lari, tidak berani berbuat ganas kepadanya ( = Klapodhyana ), semuanya seperti kalah dan takut, berlarian binatang - binatang itu. Jauh perginya di dalam hutan, tiba di bawah pohon kakacu, bertemu dengan si harimau hitam, amat keras mengaum mengintai hendak menerkam, tiba-tiba melompat harimau itu, diterkam Kriyan Patih ( = Klapodhyana), bergulat, bertarung pukul memukul, tetapi Kriyan Patih Klapodhyana tidak bercacat ( = luka), kemudian kembali harimau tersebut, ditampar hidungnya, lari dengan terengah-engah, dikejar oleh Kyayi Klapodhyana, dibidik dengan sumpitan pemberian Dalem, dibarengi dengan kesaktiannya ( = kekuatan batin ), lalu ditiup ( = disumpit ), dilepaskan peluru &amp;quot;BATUR GUMI&amp;quot;, kena lambungnya, gemetar harimau itu, tidak berdaya, ditikam lehernya dengan sangkur sumpitan, remuk redam badan harimau itu direbut, rubuhlah si harimau terus mati. Disebutkan perjalanan Kyayi Nyuhaya, sudah tiba di dalam hutan, tidak berjumpa dengan keluarganya ( = Klapodhyana), karena lebih dulu, hanya terlihat olehnya jejak-jejak harimau ( = binatang ), itu diturutnya melanjutkan perjalanan. Setelah mati harimau itu oleh Kyayi Klapodhyana, datang / tiba Kyayi Nyuhaya, serta bertanya, : bagaimana dinda? Sudah mati harimau itu,? Sebab tampaknya seperti hidup. Yang ditanya ( = Klapodhyana ) menjawab, : ampun ..... kanda, sudah mati harimau itu oleh dinda. Payah sungguh kanda menyusul perjalanan dinda. Jangan berkata demikian, sebab perjalanan cepat dan kesusu. Sebab sudah berhasil tujuan itu, bagaimana maksud dinda, kiranya baik bila kembali ke Bali, persembahkan kepada Dalem. Setelah demikian berangkatlah mereka ke Bali, amat panjang bila diceriterakan tingkah lakunya di tengah perjalanan, segera tiba di Linggarsapura ( = Gelgel), masuk menghadap kepada Dalem, kebetulan banyak para tandha manteri menghadap, disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menyapa Keriyan Patih Klapodhyana : Bagaimana perjalanan kanda, Patih Klapodhyana, dan Kanda Patih Nyuhaya, berhasilkah kanda dalam tugas? Sembah Kriyan Patih Klapodhyana : Ampun tuanku yang mulia, berhasil perjalanan hamba, telah mati si harimau hitam oleh hamba, inilah kulit si harimau hitam hamba persembahkan. Semua diutarakan hal ihwal pertempuran melawan harimau, dipermaklumkan kepada Dalem, oleh Kyayi Klapodhyana, amat suka cita Dalem, serta beliau memuji-muji, sebab tak berubah seperti sediakala mengabdikan dirinya kepada tugas. Teringatlah Dalem bahwa berhutang budhi, itulah sebabnya Dalem Ketut Semara Kepakisan menganugrahi Kyayi Klapodhyana, demikian isi karunianya : Inilah &lt;strong&gt;karuniaku Cili Ketut&lt;/strong&gt; kepada kanda puntha Klapodhyana, dan seketurunan almarhum Arya Kuthawaringin ………………………….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam &lt;strong&gt;karunia Cili Ketut&lt;/strong&gt; termaksud diatas itulah terselip &lt;em&gt;panugerahan&lt;/em&gt; tentang &lt;em&gt;Petulangan Macan Selem &lt;/em&gt;dan atribut/kelengkapan upacara pengabenan lainnya seperti tercantum dalam &lt;em&gt;panugerahan &lt;/em&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang telah disajikan diatas, pada awal dari artikel ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah kisahnya, mengapa Dalem Ketut Kresna Kepakisan menganugerahkan pemakaian &lt;em&gt;Petulangan Macan Selem&lt;/em&gt; kepada Kyayi Klapodhyana dan saudara-saudaranya semua keturunan Arya Kuthawaringin ketika menyelenggarakan upacara pengabenan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terima kasih atas kunjungan anda ke BLOG yang saya asuh. Komentar dan saran-saran anda sangat saya harapkan. Sampai ketemu pada postingan berikutnya. Kalau tidak ada halangan dalam postingan berikut, saya bermaksud akan menyajikan kronologi peristiwa-peristiwa sejarah yang melatar belakangi berdirinya pura-pura yang merupakan pusat &lt;em&gt;penyungsungan &lt;/em&gt;Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Denpasar, 26 Juli 2010&lt;/p&gt;  &lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:6bce74b2-f4fe-46c8-b44c-fd4b3a3226c0" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Babad-05" rel="tag"&gt;Babad-05&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-6283184978182860185?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/6283184978182860185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/07/mengapa-warga-kubontubuh-kuthawaringin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6283184978182860185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/6283184978182860185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/07/mengapa-warga-kubontubuh-kuthawaringin.html' title='MENGAPA WARGA KUBONTUBUH-KUTHAWARINGIN MEMAKAI PETULANGAN MACAN SELEM DALAM UPACARA PENGABENAN ?'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/TExshlWFgcI/AAAAAAAAAFM/JEHVPe74oz0/s72-c/clip_image002_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-3095407386032484795</id><published>2010-06-06T20:00:00.000+08:00</published><updated>2010-06-06T20:09:21.757+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>PERISTIWA SEJARAH DAN PERANSERTA SIRA ARYA KUTHAWARINGIN BESERTA KETURUNANNYA</title><content type='html'>&lt;h3&gt;&amp;#160;&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam Naskah Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh yang telah disajikan pada postingan yang lalu dapat disimak peristiwa-peristiwa sejarah beserta pelaku-pelakunya. Sedangkan&amp;#160; Bagan Silsilah (Palelintih) yang merupakan lampiran dari Naskah Babad termaksud yaitu Palelintih Sira Arya Kuthawaringin, Palelintih Dinasti Kresna Kepakisan dan Palelintih Dinasti Warmadewa di Bali yang telah berturut-turut disajikan pula pada psotingan-postingan yang lalu diharapkan dapat memperjelas kaitan/hubungan keturunan dari silsilah para pelaku sejarah termaksud.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Supaya Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin pada khususnya dan para peminat sejarah/babad pada umumnya, lebih mudah dapat menyimpulkan kronologi dari peristiwa-peristiwa sejarah termaksud dan peranserta Sira Arya Kuthawaringin beserta keturunannya dari generasi ke generasi, dibawah ini disajikan tabel yang terdiri dari 2 kolom. Dalam kolom pertama disajikan “Periode Pemerintahan/Yang Memerintah”. Sedangkan dalam kolom yang kedua disajikan “Peristiwa-Peristiwa Penting dan Peranserta Sira Arya Kuthawaringin Beserta Keturunannya.” Uraian kronologis peristiwa-peristiwa termaksud diawali dari peristiwa sejarah yang dikenal dengan nama : &lt;strong&gt;ekspedisi Gajah Mada ke Bali&lt;/strong&gt;. Kemudian dilanjutkan ke &lt;strong&gt;zaman kerajaan Samprangan&lt;/strong&gt; sampai dengan &lt;strong&gt;zaman kerajaan Gelgel&lt;/strong&gt;, seperti tersurat dan tersirat dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh dan dokumen-dokumen lainnya yang terkait. Oleh karena itu apa yang disajikan dalam tabel dibawah ini pada hakekatnya merupakan ringkasan dan cuplikan dari dokumen-dokumen seperti dimaksud diatas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;   &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;PERIODE PEMERINTAHAN/&lt;/b&gt;&lt;b&gt;YANG MEMERINTAH&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERISTIWA-PERISTIWA PENTING DAN PERANSERTA SIRA ARYA KUTHAWARINGIN BESERTA KETURUNANNYA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p align="center"&gt;1&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1324 - 1343&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Sri Astasura Ratna Bhumi Banten = Sri Tapaulung = Gajah Waktera di Bedahulu, dengan Patih Ki Pasung Gerigis.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p align="center"&gt;2&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Tahun 1343 : Ekspedisi Gajah Mada bersama 7 Arya ke Bali dengan mengendarai perahu.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Gajah Mada mendarat di Toyanyar (Tianyar).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pengalasan, dan Arya Kanuruhan mendarat di Kutha.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Arya Kuthawaringin bersama Arya Damar dan Arya Sentong, mendarat di Ularan, dan Arya Kuthawaringin menaklukkan (membunuh) Ki Buah di Batur.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Bali takluk di bawah Kerajaan Majapahit. &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1343 - 1352&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Bali dibagi atas 15 wilayah, masing-masing dibawah pengawasan seorang Arya atas nama Kerajaan Majapahit.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Setelah Bali ditaklukkan, Maha Patih Gajah Mada sebelum pulang kembali ke Majapahit, mengatur penugasan 15 Arya sebagai penguasa wilayah di Bali atas nama Kerajaan Majapahit. Penugasan tersebut adalah sbb : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;1. Arya Kuthawaringin dikukuhkan sebagai Penguasa Wilayah (&lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt;), Wilayah Tenggara Bali berkedudukan di Gelgel dengan rakyat 5.000 orang. Wilayah &lt;i&gt;Kemancaan Agung&lt;/i&gt; itu meliputi : Gelgel, Kamasan, Tojan hingga pantai Klotok, Dukuh Nyuhaya, Kacangpaos (Kacangdawa), Siku sampai Klungkung. Beberapa lama setelah menjabat &lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt;, Sira Arya Kuthawaringin membangun istana kepatihan di Gelgel. Diselatan desa Gelgel beliau juga mendirikan tempat pemujaan yang pada zaman itu disebut Kahyangan &lt;b&gt;Dalem Desa &lt;/b&gt;yang juga disebut &lt;b&gt;Dalem Jagat&lt;/b&gt; dan kemudian lumrah dikenal sebagai &lt;b&gt;Dalem Suci&lt;/b&gt;. Di palinggih Gedong Bata pada Kahyangan Dalem Suci yang merupakan tempat pemujaan bagi &lt;i&gt;Sang Amanca Agung &lt;/i&gt;itu beliau mensthanakan/memuja Sang Hyang Parama Wisesa dalam prabawanya sebagai &lt;b&gt;Sang Hyang Amurwabhumi&lt;/b&gt;. Kahyangan Dalem Suci ini merupakan cikal-bakalnya pura yang kemudian akhirnya dikenal dengan nama &lt;b&gt;Pura Dalem Tugu&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;2. Arya Kenceng di Tabanan.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;3. Arya Belog di Kaba-kaba.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;4. Arya Delancang di Kapal.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;5. Arya Belentong di Pacung.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;6. Arya Sentong di Carangsari.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;7. Arya Kanuruhan di Tangkas.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;8. Keriyan Punta di Mambal.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;9. Keriyan Jerudeh di Tamukti.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;10. Keriyan Tumenggung di Patemon.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;11. Arya Demung Wangbang keturunan Kadiri di Kretelangu (Badung).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;12. Arya Sura Wangbang keturunan Lasem di Sukahet.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;13. Arya Wangbang keturunan Mataram boleh memilih tempat di mana saja.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p align="center"&gt;1&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p align="center"&gt;2&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;14. Arya Mekel Cengkerong di Jaranbana.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;15. Arya Pemacekan di Bondalem.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1352 -1380&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Ketut Kresna Kepakisan di Samprangan.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan dibantu oleh :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Arya Kepakisan sebagai Patih Agung.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Arya Kanuruhan sebagai Penyarikan (Sekretaris).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· &lt;b&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; disamping sebagai &lt;i&gt;Amanca Agung&lt;/i&gt; di Gelgel juga &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1380&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Samprangan (Dalem Ile) di Samprangan.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;merangkap sebagai Adhi Patih, Menteri/Pejabat Tinggi Pembantu Terdepan Dalem dan berkedudukan pula sebagai Tumenggung.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; menurunkan 4 orang putera, yaitu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin (diperistri oleh Dalem Ketut Kresna Kepakisan, melahirkan anak laki tunggal : Ida I Dewa Tegalbesung).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; lanjut usia, jabatannya diganti oleh putera sulungnya yang bergelar I Gusti Agung Bandhesa Gelgel dengan jabatan Patih Utama.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;u&gt;Arya Kuthawaringin&lt;/u&gt; wafat, I Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama seluruh saudara dan sanak keluarganya menyelenggarakan upacara &lt;i&gt;Palebon&lt;/i&gt; lanjut dengan &lt;i&gt;Baligia&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Atmapratista&lt;/i&gt;-nya. Roh Sucinya disthanakan di palinggih &lt;i&gt;babaturan &lt;/i&gt;sebagai &lt;i&gt;Padharman &lt;/i&gt;Sira Arya Kuthawaringin di Kahyangan Dalem Suci tersebut diatas.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat, diganti oleh Dalem Ile.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Ile lalai mengurus negara (kerajaan).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Untuk merealisir kaulnya, Dalem Tarukan memerintahkan untuk mencuri Sri Dewi Muter (putri Dalem Ile) untuk dinikahkan dengan Kudha Penandang Kajar (putra Raja Brambangan dari istri penawing, yang dianggap anak oleh Dalem Taruk), namun akhirnya mempelai meninggal akibat tertikam oleh keris Sitandalalang yang datang sendiri ke tempat peraduan penganten.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Ile marah dan memerintahkan untuk menghancurkan Puri Tarukan, namun Dalem Tarukan telah pergi meninggalkan purinya.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Parembu dua kali diperintahkan untuk mengejar Dalem Tarukan. Pertama dilakukan dengan mengerahkan 200 prajurit, tetapi tidak berhasil. Beberapa tahun kemudian dilakukan pengejaran kedua dengan &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;mengerahkan 40 prajurit terpilih, juga tidak berhasil. Karena malu kembali ke Gelgel/Samprangan, maka beliau bermukim di Bubung Tegeh bersama 20 prajuritnya, sedangkan 20 prajurit lainnya diperintahkan kembali ke Gelgel untuk melaporkan keberadaannya di Bubung Tegeh kepada kakaknya yaityu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang sejak Dalem sebelumnya sudah menjabat Patih Utama, kecewa dengan sikap Dalem Ile mengurus negara. Lalu beliau melakukan samadhi (&lt;i&gt;ndwewasraya&lt;/i&gt;) di Kahyangan Dalem Suci tempat pemujaan beliau. Tiba-tiba mendengar &lt;i&gt;sabda angkasa&lt;/i&gt; yang menyuruh beliau menghadap Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Oleh karena itu beliau mengundang para menteri/pejabat kerajaan/bahudanda/ pemuka masyarakat yang sehaluan, lalu bermusyawarah di Kahyangan Dalem Suci, dimana sebelumnya beliau bersamadhi. Permusyawaratan secara aklamasi mendukung langkah yang akan diambil sesuai dengan &lt;i&gt;sabda angkasa&lt;/i&gt; itu, lalu disana mereka berikrar (&lt;i&gt;madewasaksi&lt;/i&gt;), setelah itu berangkat menuju desa Pandak, karena setelah diselidiki diketahui Ida I Dewa Ketut Ngulesir berada disana.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;· Dialog di desa Pandak : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel mohon kesediaan Ida I Dewa Ketut Ngulesir untuk menjadi raja menggantikan Dalem Ile seraya mempersilahkan beliau mengambil Istana Kepatihan di Gelgel yang merupakan rumah kediamannya untuk dijadikan Istana Dalem. Akhirnya beliau tidak kuasa untuk menolak, lalu bersama-sama meninggalkan desa Pandak menuju Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1383 - 1460&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Ketut Ngulesir&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;(Dalem Ketut Semara &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Kepakisan) di Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan pada tahun Saka 1305 (1383 M.) dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan, berkedudukan di Gelgel yang kemudian bernama Swechalinggarsapura.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Patih Utama, menyerahkan purinya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Smara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel, kemudian beliau pindah/membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamrajannya yang berlokasi di sebelah selatan Istana Kepatihan terdahulu yang sudah menjadi Istana Dalem atau di sebelah utara Kahyangan Dalem Suci tempat pemujaan beliau, yaitu di tegalan &lt;i&gt;Abyan Kawan&lt;/i&gt; yang ditanami pohon kelapa. Sejak itu lalu beliau juga bergelar &lt;b&gt;Kyayi (I Gusti) Kubontubuh &lt;/b&gt;atau&lt;b&gt; Kyayi (I Gusti) Klapodhyana&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Pamrajan dari Istana Kepatihan yang baru ini diyakini merupakan Mrajan yang diwariskan kepada pratisentananya hingga sekarang yang sesuai Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No. I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004 disebut &lt;b&gt;Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Atas keinginan/restu Dalem Ketut Smara Kepakisan dan didukung oleh para arya, dibangunlah palinggih Tugu sebagai sthana Sang Hyang Tugu (Sang Hyang Ghanapati), sebagai saksi dunia. Tugu tersebut dibangun di sebelah utara palinggih Meru Tupang Tiga di Kahyangan Dalem Suci dimana sebelumnya dilakukan ikrar (&lt;i&gt;madewasaksi&lt;/i&gt;) atas kemufakatan untuk menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke desa Pandak. Setelah dibangunnya palinggih Tugu tersebut Kahyangan Dalem Suci itu hingga kini lebih dikenal dengan nama &lt;b&gt;Pura Dalem Tugu.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kiyai Klapodyana pernah berselisih dengan Pangeran Nyuh Aya, karena putrinya (I Gusti Ayu Adi) dikawini oleh Kyayi Klapodyana. Kaum bangsawan dan Warga Pasek memihak Kyayi Klapodyana, dan perselisihan berhasil didamaikan oleh Dalem setelah membaca Candri Sawalan (dua keping perunggu bertuliskan huruf Majapahit).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Atas perintah Dalem Ketut Semara Kepakisan, Kyayi Klapodhyana ke Brambangan untuk membunuh &lt;i&gt;macan selem&lt;/i&gt; (harimau hitam) yang menggangu disana dengan senjata tulup “Ki Macan Guguh” memakai peluru “Batur Gumi”.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Ketut Smara Kepakisan mengingatkan dengan sangat agar Kyayi Gusti Klapodhyana memugar dan &lt;i&gt;mangupapira&lt;/i&gt; Pura Dalem Tugu dengan segala upacara sebagaimana mestinya. Pada saat pemugaran itu, Kyayi Gusti Klapodyana memugar palinggih yang semula masih berbentuk babaturan menjadi &lt;i&gt;Meru tumpang Tiga&lt;/i&gt; yang dibangun di sebelah utara palinggih Gedong Bata, di sebelah selatan palinggih Tugu.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Klapodyana mendapat anugrah Aji Purana dan ditugasi untuk memelihara (ngempon) serta menghaturkan Pujawali di Pura Tugu.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Klapodhyana menyuruh Kyayi Nyuh Aya &lt;i&gt;nyungusung&lt;/i&gt; Aji Purana tersebut serta menyimpan di pamerajan rumahnya.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Klapodyana berpesan kepada Kyayi Nyuh Aya dan semua keluarganya sbb : (1) setiap pujawali di Pura Tugu, Aji Purana agar diiring (tuwur) ke Pura Tugu, dan bila Pujawali telah berakhir agar kembali disimpan di Nyuh Aya; (2) dilarang mengingkari perjanjian, dan bila salah satu tidak menepati janji, maka seketurunan keluarga masing-masing akan dikutuk oleh Bathara Brahma dan tidak memperoleh keselamatan.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;· Setelah gagal upaya damai dan penyerangan ke-1 yang berturut-turut telah dilakukan untuk membawa putera-putera Dalem Tarukan menghadap Dalem di Gelgel, Dalem Ketut Smara Kepakisan menugaskan I Gusti Kubontubuh memimpin laskar Gelgel menyerang desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim, perang seru terjadi, akhirnya putera-putera Dalem Tarukan menyerah dan tunduk kepada titah Dalem untuk menghadap Dalem di Gelgel.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Sejak saat itu Kyayi Parembu, yang bermukim di desa Bubungtegeh yang termasuk salah satu dari desa-desa dimana putera-putera Dalem Tarukan bermukim, pada saat-saat tertentu pulang kembali ke Gelgel, ikut bersama-sama sanak keluarganya di Gelgel memelihara dan menyelenggarakan upacara keagamaan sebagaimana mestinya di Kahyangan tempat pemujaannya dahulu yaitu Pura Dalem Tugu.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1460 - 1550&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Watu Ra Enggong, di Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Para pejabat yang membantu adalah sbb :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Batan Jeruk sebagai Perdana Menteri terkemuka.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Pinatih sebagai Patih.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Brangsingha sebagai sekretaris.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;· Kyayi Klapodyana karena sudah lanjut usia, maka digantikan oleh putranya yang bernama Kyayi Lurah Abian Tubuh dan menjabat sebagai patih, sedangkan adiknya Kyayi Lurah Karang Abiyan menjabat sebagai Bandhesa berpangkat Demung. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Lurah Abian Tubuh wafat digantikan oleh putra satu-satunya bernama Kyayi Lurah Kubon Kelapa dengan jabatan Adhi Patih. Atas desakan Kyayi Poh Tegeh, Kyayi Lurah Kubon Kelapa memanggil Kyayi Tabehan Waringin (cucu Kyayi Parembu) yang menetap di Bubung Tegeh untuk mengadakan pertemuan kekeluargaan. Dalam pertemuan tersebut Kyayi Tabehan Waringin al. mempermaklumkan bahwa ayahandanya Kiyayi Wayahan Kuthawaringin telah membangun Parhyangan di Waringin sebagai tempat pemujaan leluhur. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Wayahan Parembu putra sulung dari Kyayi Tabehan Waringin memperbaiki Pura Waringin tersebut.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Watu Ra Enggong sebelum moksa telah memberikan panugrahan kepada para Arya tentang tata cara pengabenan.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1550 - 1580&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Pemayun Bekung, di Gelgel. &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Lurah Kubon Tubuh menjadi Patih Utama menggantikan ayahandanya yang sudah lanjut usia.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Batan Jeruk bersama I Dewa Anggungan memberontak, dibantu oleh Kriyan Pande dan Kriyan Toh Jiwa pada tahun 1556, sehingga Dalem Pemayun Bekung dan adiknya (Ida I Dewa Anom Dimade Sagening) ditahan di dalam Keraton Gelgel. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Kubon Kelapa dan Kyayi Lurah Kubon Tubuh (putranya) sebagai pelopor pembebasan Dalem Pemayun Bekung dan adiknya (Ida I Dewa Anom Dimade Sagening), dengan jalan menjebol tembok keraton melalui rumah Keriyan Penulisan, untuk selanjutnya dibawa ke rumah Keriyan Lurah Kubon Tubuh di Pekandelan, dibantu oleh Kriyan Dauh Nginte, Keriyan Pinatih, Keriyan Anglurah Tabanan, Keriyan Tegeh Kori, Kriyan Kabakaba, Kriyan Buringkit, Kriyan Pering, Kriyan Cagahan, Kriyan Sukahet, dan Kriyan Brangsinga. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Batan Jeruk akhirnya kalah dikejar oleh para prajurit dan rakyat yang dipimpin oleh Kriyan Nginte dan Kyayi Lurah Kubon Tubuh dan dibunuh di Bungaya.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&amp;#160;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&amp;#160;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;· I Dewa Anggunan menyerah dan kastanya diturunkan menjadi Sang Anggunan.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kriyan Pande menyerah, sedangkan Kriyan Toh Jiwa dibunuh oleh Kriyan Nginte.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Pemayun Bekung tetap menjadi raja dan Kriyan Nginte menggantikan jabatan Kyayi Batan Jeruk sebagai Patih.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kriyan Pande memberontak terhadap Dalem Pemayun Bekung, akibat Dalem Pemayun Bekung lalai dalam memegang pemerintahan dan karena pemerintahan dikuasakan kepada Kriyan Nginte bersama-sama Kriyan Pinatih dan Kyayi Lurah Kobon Tubuh beserta Menteri-Menteri seluruhnya, sedangkan Ida I Dewa Anom Dimade diangkat sebagai Raja Muda.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1580 - 1665&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Anom Dimade Sagening, di Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Putra Kriyan Nginte yang bernama Kriyan Agung Widya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pemuka Tanda Manteri, sedangkan adiknya Kriyan Kaler Pranawa menjabat sebagai Demung.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Lurah Abiyan Tubuh dan Kyayi Lurah Madya Karang, keduanya menjabat Patih Muda menggantikan ayahnya Kyayi Lurah Kubon Tubuh yang sudah lanjut usia.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1665&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Anom Pemayun, di Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Lurah Madya Karang diangkat menjadi Maha Patih dan Kyayi Lurah Abiyan Tubuh diangkat sebagai Patih Utama.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Pejabat lainnya adalah : Kriyan Tangkas sebagai Patih Muda dan Kriyan Brangsinga sebagai Sekretaris.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Semua Catur Tanda Manteri dan seluruh Pasek Bandhesa dikembalikan kepada tugasnya semula. Akibat banyak orang yang kehilangan jabatan timbullah keresahan. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Beberapa bulan setelah Dalem Anom Pemayun bertahta, Kriyan Agung Maruti atas persetujuan adiknya Dalem (Ida I Dewa Dimade), memberontak kepada Dalem, yang dikenal dengan pemberontakan Maruti Ke-I.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1665&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Dalem Anom Pemayun, di Purasi, kemudian pindah ke Tambega.Dari Purasi beliau memerintah Kerajaan Singharsa yang wilayahnya meliputi :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;-Timur : Tukad Telagawaja.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Utara : Ponjok Batu.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;1. Kriyan Madya Karang beserta putra-putranya semua, Kriyan Tangkas beserta keturunannya, dan Kriyan Brangsinga menjadi pelopor, pembela/pengawal perjalanan Dalem Anom Pemayun ke Purasi.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;2. Penugasan Dalem Anom Pemayun setelah berkedudukan di Purasi adalah sbb :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Madya Karang tetap sebagai Kepala Para Menteri, dengan tugas : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Memikirkan pemerintahan Singharsa.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Menugaskan seluruh Pasek, Bendhesa untuk memimpin di desa-desa&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Para Arya yang ikut akan diberi jabatan.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Menugaskan putra-putra Kyayi Madya Karang untuk mengatasi keamanan di desa-desa sbb :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- I Gusti Wayan Tubuh di Bugbug.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- I Gusti Gede Tubuh di Tulamben.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- I Gusti Wayan Karang di Tianyar.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- I Gusti Made Karang di Purasi.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- I Gusti Abiyan Tubuh di Sengkidu.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Madya Karang bersama putranya I Gusti Made Karang, mengikuti Dalem Anom Pemayun pindah dari Purasi ke Tambega.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyai Madya Karang lebih dahulu wafat dari Dalem Anom Pemayun dan dipelebon oleh putra-putranya yang dipimpin oleh I Gusti Gede Tubuh yang berkuasa di Tulamben. &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;   &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1665 - 1686&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;a. Dalem Dimade, &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;di Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Setelah Dalem Anom Pemayun pindah ke Purasi, Sri Agung Dimade (Ida I Dewa Dimade) bertahta dengan gelar Dalem Dimade. Kriyan Agung Maruti diangkat sebagai Patih.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Tidak diceritakan dimana Kyayi Lurah Abiyan Tubuh yang menjadi Patih Utama dalam pemerintahan Dalem Anom Pemayun, sedangkan beliau tidak termasuk yang mengikuti Dalem Anom Pemayun pindah ke Purasi.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Putra-putra dari Kyayi Lurah Abian Tubuh tidak memperoleh jabatan/kewibawaan sebab dianggap musuh oleh Kriyan Agung Maruti yang menjabat sebagai Patih, bahkan putra-putranya bercerai berai ke desa-desa karena hendak dibunuh oleh Kriyan Agung Maruti.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Setelah lama, Dalem Dimade sadar bahwa tidak boleh berpisah dengan keturunan Kyayi Kubon Tubuh, mengingat kesetiaannya sejak leluhurnya di zaman bahari, sehingga dikirimlah utusan untuk mencari putra-putra Kyayi Lurah Abiyan Tubuh yang akhirnya diketemukan dan diberi jabatan sebagai berikut :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Kyayi Lurah Kubon Tubuh alias Ki Jumbuh, diangkat sebagai Demung di Pekandelan, Gelgel.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Kyayi Tubuh Guntang Gurna, sebagai Demung di Pekandelan Klungkung. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;- Kyayi Lurah Tubuh alias Ki Nyanyap, sebagai Bandhesa di Gelgel.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1686&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;b. Dalem Dimade, &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;menyingkir ke Desa &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Guliang, Bangli.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kriyan Agung Maruti, akhirnya memberontak terhadap Dalem Dimade, dikenal dengan Pemberontakan Maruti II.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Madya Tubuh (putra II Kyayi Tubuh Guntang Gurna) dan Ki Nyanyap beserta putra-putranya yang masih kanak-kanak, ngiring Dalem Dimade ke Guliang.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Dalem Dimade wafat di Guliang (1686).&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1686 – 1704&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; :&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;c. Kriyan Agung Maruti, menjadi Raja di Gelgel. &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kriyan Agung Maruti berhasil dalam pemberontakannya dan bertahta menjadi Raja berkedudukan di Gelgel. Dukuh Kretha diangkat menjadi Patih, dan Keadaan di Bali menjadi tidak stabil.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Keturunan Kyayi Lurah Abiyan Tubuh lainnya menyebar ke seluruh Bali dan bermukim di beberapa tempat seperti : Gobleg, Tambahan, Pekandelan-Klungkung, Badung, Tabanan, Mengwi, Jemberana, Tamblang, Tuwakilang, Sibang, Tegaltamu, Abiansemal, Watubentar, Penarungan, Tengkulak, Sukawati, Tampaksiring, Kusamba, Pesaban, Antiga, Dawan, Bangli, Gianyar, Ubud, Karangasem, dan Kuramas.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Sri Anom Dimade (putra Dalem Anom Pemayun di Tembega), atas perintah ayahnya bertahta di Siddhemaan sebagai Raja Kerajaan Singharsa, kemudian mengorganisir penyerbuan terhadap Kriyan Agung Maruti, tetapi gagal.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Atas nasehat Pedanda Wayahan Burwan, Sri Anom Dimade mengirim utusan kepada sepupunya (putra Dalem Dimade) di Guliang untuk bersama-sama mengusahakan kembali penyerbuan terhadap Kriyan Agung Maruti di Gelgel. Penyerbuan belum terlaksana karena Sri Anom Dimade wafat terlebih dahulu pada tahun 1694.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· I Gusti Made Karang (putera Kyayi Madya Karang), yang berada di Tembega bersama Dalem Anom Pemayun, bersama-sama Kriyan Tangkas Bias dan Brangsingha membawa pasukan dan Pajenengan Ki Begawan Canggu melewati Bukit Penyu untuk memperkuat pasukan Sri Anom Dimade untuk menyerang Kriyan Agung Maruti di Gelgel. Benteng pertahanan dibangun di Desa Tohjiwa. Penyerbuan gagal karena banjir sasih kapitu-kaulu. I Gusti Made Karang dan pasukannya diperintahkan untuk mempertahankan daerah perbatasan dan bermukim di Desa Lebu.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;   &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;· I Gusti Gede Tubuh yang berkuasa di Tulamben berputera tiga orang laki-laki, yang sulung Kyayi Karang Tubuh, kemudian pindah menuju desa Kubutambahan, menetap disana mengadakan keturunan. Putera yang kedua Kyayi Kubontubuh Culik, beliau juga bernama Kyayi Kubontubuh Tawing karena ibunya dari keluarga Ki Passek Tawing Culik, beliau menggantikan ayahandanya di Tulamben. Putera yang ketiga Kyayi Tubuh Tulamben, pindah menuju desa Ababi, menetap disana. &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kyayi Kubontubuh Culik (Kyayi Kubontubuh Tawing) berputera lima orang, yaitu berurut dari yang sulung sampai yang bungsu : 1.Kyayi Kubontubuh, 2.Kyayi Gede Bendesa Tubuh, 3.Kyayi Nyoman Tubuh, 4.Kyayi Gede Tubuh Tawing dan 5.Kyayi Tubuh Sibetan. Kelima orang putera Kyayi Kubontubuh Culik tersebut akhirnya terpencar mencari tempat tinggal, setelah terjadi peristiwa kekacauan di Tulamben pada tahun Saka 1617 atau 1695 M., yaitu yang tertua Kyayi Kubontubuh ke desa Pesangkan, Kyayi Gede Bendesa Tubuh ke desa Datah, Kyayi Nyoman Tubuh ke desa Sibetan, Kyayi Gede Tubuh Tawing ke desa Ngis-Tista dan Kyayi Tubuh Sibetan ke desa Kikiyan Rajagiri Abang.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Peristiwa kekacauan di Tulamben merupakan peristiwa perampokan. Pelakunya adalah sisa-sisa laskar Kerajaan Goa pada peristiwa Tulammben kepertama (1676M.) dan sisa-sisa laskar Kerajaan Bone pada peristiwa Tulamben kedua (1695M.). Sisa-sisa laskar tersebut mengembara di laut karena dikejar-kejar oleh pasukan KOOMPENI setelah kerajaan-kerajaan itu ditaklukkan oleh Belanda. Pada saat itu kebetulan Persekutuan Dagang Bangsa Inggris sedang berselisih dengan Persekutuan Dagang Balanda (VOC), sehingga perampok-perampok musuh Belanda itu berhasil mendapatkan bantuan berupa senjata api dari Persekutuan Dagang Bangsa Inggris. Dengan demikian mudah dipahami bahwa pada kedua peristiwa perampokan termaksud terjadilah pertempuran dengan persenjataan yang tidak seimbang. Penduduk desa Tulamben dibawah pimpinan Kyayi Kubontubuh Culik dengan senjata tradisional berhadapan dengan perampok yang bersenjata api, sehingga kekalahan tidak bisa dihindari. Kedua peristiwa perampokan desa Tulamben tersebut dapat terjadi, juga akibat kondisi Kerajaan Gelgel pada periode itu tidak memiliki cukup kemampuan untuk melindungi seluruh wilayahnya terhadap gangguan baik dari dalam maupun dari luar.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Sri Agung Gede Jambe (putra bungsu Dalem Dimade) di Guliang, datang ke Siddhemaan, berunding dengan Sri Agung Gede Ngurah (putra Sri Anom Dimade), Pedanda Wayan Burwan, Kyayi Jambe Pule, dan Kyayi Panji Sakti, dan memutuskan untuk mengadakan penyerbuan kembali ke Gelgel pada tahun 1704.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Kriyan Agung Maruti akhirnya kalah, dan lari dari Gelgel ke Jimbaran dan kemudian ke Kuramas.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Atas perintah Sri Agung Gede Jambe, Kyayi Lurah Tubuh alias Ki Nyapnyap mengejar Kriyan Agung Maruti ke Jimbaran dan Kuramas. Akhirnya Sri Agung Gede Jambe mengampuni Kriyan Agung Maruti dan diijinkan menetap di Kuramas. Demikian pula Ki Nyapnyap beserta anak istrinya diperintahkan menetap di Kuramas untuk mengawasi pikiran dan perbuatan Kriyan Agung Maruti.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="168"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;1704&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; : &lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Sri Agung Gede Jambe, di Semarajaya.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="435"&gt;           &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Sri Agung Gede Jambe menjadi Raja &lt;i&gt;abhiseka&lt;/i&gt; Ida Idewa Agung Jambe pada tahun 1710 dengan berkedudukan di Semarajaya, Klungkung.&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;· Selanjutnya Zaman Kerajaan Klungkung&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah ringkasan dan cuplikan dari dokumen-dokumen termaksud, semoga dapat mempermudah pemahaman peristiwa-peristiwa sejarah beserta para pelakunya, terutama bagi Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin pada khususnya dan para peminat sejarah/babad pada umumnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terima kasih atas kunjungan anda ke BLOG yang saya asuh, komentar dan saran-saran dari anda sangat diharapkan. Sampai ketemu pada postingan berikut. Kalau tidak ada halangan dalam postingan berikut saya bermaksud akan menyajikan uraian yang menjawab pertanyaan :”Mengapa Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin memakai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Petulangan Macan Selem&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ketika melaksanakan upacara &lt;strong&gt;&lt;em&gt;pengabenan.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Denpasar, Juni 6, 2010.&lt;/p&gt;  &lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:89ef42e9-b1a2-4e6e-87c1-58b22a174d27" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Babad-04" rel="tag"&gt;Babad-04&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-3095407386032484795?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/3095407386032484795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/06/peristiwa-sejarah-dan-peranserta-sira.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/3095407386032484795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/3095407386032484795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/06/peristiwa-sejarah-dan-peranserta-sira.html' title='PERISTIWA SEJARAH DAN PERANSERTA SIRA ARYA KUTHAWARINGIN BESERTA KETURUNANNYA'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-5668647103800647243</id><published>2010-05-28T07:32:00.001+08:00</published><updated>2010-05-28T07:32:38.907+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>PALELINTIH DINASTI WARMADEWA DI BALI</title><content type='html'>&lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:2709b7a4-244c-4a8c-afc1-4ac0dd8f85b9" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Bagan-03" rel="tag"&gt;Bagan-03&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_8AoSP6vgI/AAAAAAAAAE4/2lTIC57_b9A/s1600-h/image6.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_8A1KEEBMI/AAAAAAAAAE8/f31zaDlS_Ho/image_thumb4.png?imgmax=800" width="847" height="636" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_8A33e2B4I/AAAAAAAAAFA/tFdCuiohsCE/s1600-h/image14.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_8BFcXTNDI/AAAAAAAAAFE/-3Khr04zvqs/image_thumb10.png?imgmax=800" width="846" height="636" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;(&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Lampiran III Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh, Edisi II-2007, halaman 71-72)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-5668647103800647243?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/5668647103800647243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/05/palelintih-dinasti-warmadewa-di-bali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/5668647103800647243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/5668647103800647243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/05/palelintih-dinasti-warmadewa-di-bali.html' title='PALELINTIH DINASTI WARMADEWA DI BALI'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_8A1KEEBMI/AAAAAAAAAE8/f31zaDlS_Ho/s72-c/image_thumb4.png?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-1348156974029196144</id><published>2010-05-19T06:23:00.001+08:00</published><updated>2010-05-19T06:23:48.015+08:00</updated><title type='text'>PALELINTIH DINASTI KRESNA KEPAKISAN</title><content type='html'>&lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:93fecccc-f710-4fe4-a433-e4b618deced1" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Bagan-02" rel="tag"&gt;Bagan-02&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MRRUOB0RI/AAAAAAAAAEA/AbdQpTt4lDo/s1600-h/image6.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MRgra-PtI/AAAAAAAAAEE/whv9kWCbe78/image_thumb4.png?imgmax=800" width="855" height="643" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MRkdhLcNI/AAAAAAAAAEI/H3p41TI6GDk/s1600-h/image15.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MRx4TgoRI/AAAAAAAAAEM/vvkKsKoAZ58/image_thumb11.png?imgmax=800" width="858" height="644" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MR2BNX-YI/AAAAAAAAAEQ/xEYE7CYADEA/s1600-h/image23.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MSDtE2rjI/AAAAAAAAAEU/_3PWnEDVwXQ/image_thumb17.png?imgmax=800" width="861" height="647" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MSHfCiDVI/AAAAAAAAAEY/CDsPz7dD4Z8/s1600-h/image32.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MSUlFvNkI/AAAAAAAAAEc/7LBsgclXKhs/image_thumb24.png?imgmax=800" width="866" height="650" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MSYH9UNrI/AAAAAAAAAEg/qasu1BHoVXk/s1600-h/image41.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MSlseurEI/AAAAAAAAAEs/PHtx6IrYzAI/image_thumb31.png?imgmax=800" width="868" height="651" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MTPsAWODI/AAAAAAAAAEw/-XeQmZI0Mzk/s1600-h/image50.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MTcaHWTdI/AAAAAAAAAE0/aRGOkuiDOhM/image_thumb38.png?imgmax=800" width="867" height="653" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;(&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Lampiran II Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh, Edisi II-2007, halaman 65-70)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-1348156974029196144?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/1348156974029196144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/05/palelintih-dinasti-kresna-kepakisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/1348156974029196144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/1348156974029196144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/05/palelintih-dinasti-kresna-kepakisan.html' title='PALELINTIH DINASTI KRESNA KEPAKISAN'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S_MRgra-PtI/AAAAAAAAAEE/whv9kWCbe78/s72-c/image_thumb4.png?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-7104951873478766634</id><published>2010-04-12T06:10:00.001+08:00</published><updated>2010-04-12T06:10:22.259+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bagan Silsilah'/><title type='text'>PALELINTIH SIRA ARYA KUTHAWARINGIN</title><content type='html'>&lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:d82d8c2a-4a35-496e-9ec0-be1df589f037" class="wlWriterEditableSmartContent"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Bagan-01" rel="tag"&gt;Bagan-01&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JGRRU_ueI/AAAAAAAAACs/d2vv-bZVn5w/s1600-h/image5.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JGeantcuI/AAAAAAAAACw/rW4xwm8zjuc/image_thumb2.png?imgmax=800" width="858" height="644" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JGiOSmtjI/AAAAAAAAAC0/VgCb2F2wOt0/s1600-h/image8.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JGu14ZhMI/AAAAAAAAAC4/pI12kYRjX2o/image_thumb5.png?imgmax=800" width="863" height="648" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JGyvGYNJI/AAAAAAAAAC8/lr4sXjFyFPc/s1600-h/image19.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JG9gSTmsI/AAAAAAAAADA/biY0kHrDURA/image_thumb12.png?imgmax=800" width="866" height="651" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHA69o_6I/AAAAAAAAADE/wjaqMPe2hdg/s1600-h/image25.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHMfMOSKI/AAAAAAAAADI/pOmeYHzQK78/image_thumb16.png?imgmax=800" width="870" height="654" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHQETdYKI/AAAAAAAAADM/gK4DhfsxICc/s1600-h/image31.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHdfexlLI/AAAAAAAAADQ/8Mpgx5A1jac/image_thumb20.png?imgmax=800" width="873" height="657" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHgyms4cI/AAAAAAAAADU/2QLFm73IXww/s1600-h/image38.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh3.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHuBVITOI/AAAAAAAAADY/uueA0_oUKPo/image_thumb25.png?imgmax=800" width="876" height="659" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JHxLitcFI/AAAAAAAAADc/6siai6oaD94/s1600-h/image44.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JH_f96XdI/AAAAAAAAADg/zTM0SMs1r2c/image_thumb29.png?imgmax=800" width="880" height="661" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JIC_pkB5I/AAAAAAAAADo/zGH2cwYMTxg/s1600-h/image50.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JIRP-zXFI/AAAAAAAAADs/iBKn_HJL0Zo/image_thumb33.png?imgmax=800" width="886" height="666" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JIUQYpV0I/AAAAAAAAADw/nD2U5ZfDXUg/s1600-h/image56.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JIh9m0CeI/AAAAAAAAAD0/_kem2N2aDos/image_thumb37.png?imgmax=800" width="888" height="667" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JIlBUO1SI/AAAAAAAAAD4/nwUH8qY6m70/s1600-h/image62.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://lh6.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JIy3244yI/AAAAAAAAAD8/5WU9tUdmI3k/image_thumb41.png?imgmax=800" width="889" height="667" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;(&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt; : Lampiran I Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh, Edisi II–2007, halaman 55-64)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Ralat&lt;/u&gt; : &lt;/strong&gt;Bagan Silsilah No.8 (Kode : 1.1.1.1.2) pada G-9 kekurangan satu kotak lagi yang seharusnya memuat nama saudaranya yang ke-empat yaitu “4.Kyayi Gede Tubuh Tawing, ke Ngis-Tista”. Seharusnya sama seperti G-9 pada Bagan Silsilah No.10 (terakhir) pada baris terbawah dipojok kanan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5797680306899102590-7104951873478766634?l=kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/feeds/7104951873478766634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/04/palelintih-sira-arya-kuthawaringin.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/7104951873478766634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5797680306899102590/posts/default/7104951873478766634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com/2010/04/palelintih-sira-arya-kuthawaringin.html' title='PALELINTIH SIRA ARYA KUTHAWARINGIN'/><author><name>I Made Pageh Suardhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00272716745810090327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_9kWMNOzLUGg/S1U0xNzjybI/AAAAAAAAAAU/vaMWscJvGMM/S220/Drs.IM.P.Suardhana.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_9kWMNOzLUGg/S8JGeantcuI/AAAAAAAAACw/rW4xwm8zjuc/s72-c/image_thumb2.png?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5797680306899102590.post-7439607405260578227</id><published>2010-04-01T06:11:00.001+08:00</published><updated>2010-04-01T06:11:42.652+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title type='text'>NASKAH BABAD SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH Edisi II-2007</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;font color="#000000"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Naskah Babad seperti dimaksud dalam judul diatas disajikan dibawah ini dengan penjelasan untuk dimaklumi bahwa kode “Hal. 1/b” s/d “Hal. 92/a” yang tercantum pada awal dari alinea-alinea tertentu dalam naskah dibawah ini merupakan nomor halaman lontar yang merujuk kepada lontar &lt;em&gt;babon&lt;/em&gt;-nya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 1/b. Semoga tak terhalang. &amp;quot; Om pranamiyam sira sadiniyam, prawaksye tatwa widnyeyah, Siwa Ghrena stitya, swakyam, sawangsanira mangrajyam, bukti mukti itartatem, Wisnuwangsa pataye swaram, Rajarsi twam maha balam, Bupalakam patyam loke &amp;quot; — o — Om namo dewaya- Sembah sujud hamba kehadapan Yang Maha Kuasa, Kehadapan Paduka Bhatara Rahyang Manu, beliau mentakdirkan hidup dan mati, serta berhasilnya suatu tujuan. Setiap saat berada diatas ubun - ubun, yang pertama - tama disembah, sebelum sanak keluarga keturunan, memohon untuk menguraikan ceritera ini. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 2/a. yang termuat didalam &amp;quot;Purana Raja Sasana Candri Supralingga Buana&amp;quot; Kini teruraikanlah tentang asal-usul, oleh beliau yang telah bersatu dengan alam baka, pertama-tama memohon bantuan, semoga selamat dan sejahtera, terjauh dari segala kutukan, luput dari segala bencana yang dahsyat, moga-moga kekal abadi dihormati diatas dunia, Om Siddhi rastu swaha. — o —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Beginilah harapan pertama di dalam kata pembukaan. Agar diresapkan oleh mereka yang ingin mengetahui tentang ceritera &amp;quot;Manuwangsa&amp;quot;. Pada tahun Caka 530, sasih kawolu, titi 12, tanggal bulan terang, —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 2/b. wara pujut, dikala itu Paduka Rahyang Dimaharaja Manu, turun dipulau Jawa, Medang Kemulan, ibarat keutamaan Dewata Dipuja disana, buat pertama sebagai raja di dunia. = Gurunem Sobitah siyotah = Makanya Sanghyang Manu turun kedunia, atas perintah ayahnda, beliau Bathara Guru, disuruh membangun Dharma disana di Medang Kemulan, selanjutnya mendirikan istana disana, serta bersemadilah beliau, memuja Sanghyang Surya dikala fajar menyingsing.—/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 3/a. Akibat keberhasilan semadinya ibarat Dewata kenyataannya didunia, keadaannya tak ada bandingannya didunia, =Tanam lokastu rajnyitah, satyam wakbih kretam loke, srotawiyam dharmanam, bukta bhawanam wanycanam = Sesungguhnya sejahteralah keadaan dunia pada saat Sanghyang Manu menjadi raja, tidak ada kebenaran lebih dari beliau ( = yang beliau hayati ), sebab beliaulah yang berhasil semua perintahnya, mahir tentang keadaan masa lampau, kini dan yang akan datang, terutama termasuklah keadaan manusia, diwilayah pulau Jawa Medang Kemulan, semuanya tunduk menjunjung telapak kaki Paduka Bathara Ra Hyang Dimaharaja Manu. = Yawanam ma. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 3/b. ndhame dwiyah, tesanca yowanam prajah, dasantih Bujanggam tayah, Hewam santanam wijnyanah = Entah berapa lama Ra Hyang Dimaharaja Manu bertakhta menjadi junjungan disana, ibarat Dewata menjelma, selalu melaksanakan tapa beliau, memberikan pelajaran - pelajaran memenuhi dunia. Mengadakan keturunan, berkat jasa-jasanya dilahirkanlah keturunan Manu, disana di negara Medang Kemulan. = Awijam Ekam Sangstito = Mula-mula Ra Hyang Dimaharaja Manu, berputera laki-laki utama satu orang, bergelar Seri Jaya Langit, Adapun Sri Jaya. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 4/a. Langit, berputera seorang bernama Sri Wreti Kandhayun. Dan Sri Wreti Kandhayun, berputera Sri Kameswara Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, berputera seorang laki-laki utama, beliau bergelar Sri Dharma Wangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa, beliau sebagai pemimpin atas ketinggian ilmu bathinnya, menterjemahkan &amp;quot;Sapta sangkya Sangkrita&amp;quot; bersama delapan orang pendeta, karangan pujangga besar Baghawan Bhyasa, mengubah menjadi Palawakya, yang terkenal dengan nama Astadasa Parwa ( = Maha Bharatha). —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 4/b. Sebab beliaulah yang mendalami &amp;quot; Berata &amp;quot; berbudi dharma, sesungguhnya tugas seorang raja, menyelamatkan dan mengayomi negara dan rakyat, berlandaskan Satya-dharma, sebagai pelindung dunia, = Prawaktiyam Sri Gotrabih = Beliau Maharaja Besar, yang pertama, subur aman sentausa keadaan negara pada waktu beliau bertakhta menjadi raja, tak ada durjana yang berani durhaka kepada beliau. Demikianlah keutamaan beliau Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa. Entah berapa lama beliau bertakhta menjadi raja, selanjutnya mengadakan keturunan, beliau berputera dua orang putera-puteri. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 5/a. yang tertua laki-laki bergelar Sri Kameswara, sebagai nama datuk beliau, adiknya perempuan Sri Dewi Guna Priya Dharma Patni, menjadi permaisuri Sri Udayana Warmadewa, melahirkan Sri Erlanggia dan anak Wungsu. Dan Sri Kameswara berputera tiga orang laki-laki dan perempuan, yang sulung bergelar Sri Kertha Dharma, beliaulah yang wafat di Jirah, yang kedua Sri Tunggul Ametung, menjadi Bupati Tumapel, saudara perempuannya, Dewi Ghori namanya, diperisteri oleh Sang Empu Widha, yang berputera bernama Dyah Medhawati, bersatu dengan alam baka, bersemadhi. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 5/b. di pekuburan. Dan (=Sri Kameswara) mempunyai seorang anak angkat putera Sri Udayana Warmadewa, yang dilahirkan di pulau Bali, bergelar Sri Erlanggia, bertakhta menjadi raja, membangun istana di Negara Daha, dengan demikian empat orang putera Sri Kameswara, tiga orang laki-laki, perempuan hanya satu orang. Adapun Sri Erlanggia berputera dua orang yang terutama, tiga orang termasuk putera penawing, namanya satu persatu, ialah : yang sulung bergelar Sri Jayabhaya, adiknya bergelar Sri Jayasabha. Putera yang penawing bernama Sirarya Buru, beribu puteri desa (= gunung;). Dan — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 6/a. beliau mempunyai seorang puteri, bernama Sri Dewi Kili Endang Suci, Rake Kapucangan nama lainnya, tetapi hatinya tidak terpengaruh lagi untuk menjadi raja, sebab beliau seorang wanita yang taat kepada berata tidak bersuami, hanya melaksanakan tugas kependetaan, itulah sebabnya beliau hidup dipegunungan sebagai pertapa. Adapun Sri Jayabaya, dan Sri Jayasabha, tidak henti-hentinya bercekcok dengan saudara, mereka membagi Kerajaan Daha, Sang Empu Bharadhah sebagai penasehat ( = akhli pikir ), menjadilah negara Janggala dan Kediri = Sagara Ghanesiya warsaning ksiti ( = Candra sangkala yg mungkin berarti : Sagara = 4. Ghana = 6. Siya = 9. ) Tahun Caka 964 (= th. 1042 Masehi). – o - Pertama saya uraikan Sri Jaya Bhaya. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 6/b. Adapun Sri Jayabhaya berputera laki-laki sebanyak tiga orang, yang sulung bergelar Sri Haji Dangdang Gendis, yang Kedua Sri Siwa Wandhira, yang bungsu Sri Jaya Kusuma. Sekian putera-putera Sri Jayabhaya. Dan Sri Aji Dangdang Gendis, berputera Sri Jaya Katong, gugur di dalam pertempuran. Sri Jaya Katong berputera Sri Jaya Katha — o — Adapun Sri Siwa Wandhira, berputera Sri Jaya Waringin. — o — Dan Sri Jaya Kusuma, berputera Sri Wira Kusuma, mengadakan keturunan di pulau Jawa, mahir didalam Agama Islam, kemudian bergantilah gelarnya, ber— / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 7/a. gelar Rahaden Patah, tidak diceritakan. —o— Kembali ( = diceriterakan) Sri Jaya Waringin, dan Sri Jaya Katha, putera dari Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong, beliau berdua yang gugur di dalam peperangan; keduanya Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang tunduk pada raja Tumapel, waktu ayahnda gugur dalam pertempuran, dalam kekacauan di negara Daha, ternyata tembus sampai pada cucu menderita bencana, kutuk dari para pendheta Siwa Budha, bagaimanakah penyebab perang yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan, inilah dengarkan ceriteranya; dahulu pada tahun Caka 1144 (catur = 4. sagara = 4. eka = 1. tunggal = 1), tahun 1222 Masehi — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 7/b. bulan kedelapan, titi ketiga pada bulan mati, wuku Watugunung, pada saat itulah komando Sri Aji Ken Angrok, yang bertakhta di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, berkat desakan para pendeta Siwa dan Budha. Semula Sri Aji Dangdang Gendis durhaka terhadap para pendeta, menghinakan dharma sang pendeta, bagaikan Maharaja Nahusa, berkemauan menguasai Inderaloka, demikian perbuatan Sri Aji Dangdang Gendis. Itulah sebabnya para pendeta kesusahan. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 8/a. berpindah menuju Tumapel, memohon agar dibantu kepada Sri Aji Ken Angrok. Kini kerajaan Daha ibarat rumput yang kering sebesar gunung, keadaannya, terbakar hangus oleh segumpal cahaya api. Yang manakah apinya? Itulah kemarahan Sang Pendeta, yang menyala-nyala didalam hati beliau, dengan hembusan nafas laksana angin kencang, Sri Aji Ken Angrok menghancurkan, semakin menyala-nyala tanpa rintangan. Yang pada akhirnya Sri Aji Dangdang Gendis terkalahkan, mengertilah beliau bahwa ajalnya tiba, sebab Sri Aji Ken Angrok betul keturunan Brahma . — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 8/b. bergelar Sanghyang Guru. Itulah sebabnya Sri Aji Dangdang Gendis, menenangkan hati, menyatukan bathin, sekejap lenyap dan gaib tanpa jasad. — o — Kembali dikisahkan, para prajurit dan menteri dan lagi para sanak keluarga yang masih hidup, terpencar-pencar mencari tempat yang terlindung, untuk tempat bersembunyi, memerlukan agar terhindar, karena pimpinan perangnya Jaya Katong, Siwa Wandhira, telah hancur meninggal dunia, memenuhi tugas ksatriya uttama. Masih ada dua orang, pimpinan dari keluarga yang uttama, putera dari Jaya Katong. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 9/a. dan Siwa Wandhira, yang termashur bernama Jayakatha dan Jaya Waringin, mereka berdua sangat marah atas kematian ayahnya dimedan laga, bertindak maju menyerang bagaikan harimau yang garang. Lalu dikurung direbut oleh empat perwira, yang masing-masing namanya : Arya Wangbang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, disana Jayakatha dan Jaya Waringin keduanya ditangkap, tidak berdaya, ikut ditangkap isterinya Jayakatha, dilarikan ke Tumapel, kebetulan dalam keadaan sedang hamil dan. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 9/b. Jayawaringin masih jejaka, belum beristeri. Semua menteri, keempatnya belas kasihan hatinya, kepada Jayakatha dan Jayawaringin, itulah sebabnya selamat, tidak dibunuh. Dan sesampainya di Tumapel dijadikan anak oleh keluarga Gajah Para, keturunan keluarga isterinya Sira Endok, dan keluarga Kebo Ijo, disanalah dipelihara, tidak memperoleh kekuasaan, entah berapa lamanya bermukim di Tumapel, pada suatu saat, akhirnya Sri Jayakatha ber. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 10/a. putera tiga orang, yang sulung bernama Sirarya Wayahan Dalem Menyeneng; apa sebab diberi julukan &amp;quot;Dalem Manyeneng?&amp;quot; sebab hidup waras benih yang ada didalam rahim pada waktu ibunya dilarikan. Dan adiknya, bernama Arya Katanggaran, yang bungsu Arya Nudhata. Adapun Sirarya Wayahan Dalem Manyeneng, kemudian mempunyai putera dua orang laki-laki, bernama Sirarya Gajah Para, dan Sirarya Getas. Dan Sirarya Katanggaran, putera kedua dari Sri Jayakatha, beristerikan keturunan Kebo Ijo, di Tumapel. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.10/b. beliau berputera seorang laki-laki, bernama sira Kebo Anabrang, Sirarya Saberang dikenal oleh umum, sebab beliau diutus menggempur daerah seberang ( = Melayu ), oleh Prabu Kerthanegara, Raja Singasari, beliau berkemauan mempersunting puteri Raja negara seberang ( = Melayu ), yang bernama Diyah Dara Petak dan Diyah Dara Jingga. Adapun Sirarya Saberang berputera hanya seorang, ayahnda memberi nama Kebo Taruna, terkenal pada umum bernama Sirarya Singha Sardhula, kemudian beliau menyeberang ke nusa Bali, menjabat kenuruhan ( = suatu jabatan penting ) — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 11/a. tetaplah bergelar Sirarya Kanuruhan, hentikan penuturannya sedemikian. —o—. Kembali dikisahkan tentang Sri Jayawaringin, setelah tiba di Tumapel, dijadikan anak oleh para warga Kebo Ijo, kemudian diberikan isteri, puteri keturunan Kebo Ijo, yang bernama Ghandi Gari. Berapa lamanya mereka bersuami isteri, berputeralah seorang laki-laki, bernama Sirarya Kuthawandhira. Lama kelamaan Sirarya Kuthawandhira memperoleh keturunan seorang laki-laki, bernama Sirarya Kuthawaringin, itulah beliau Sirarya Kuthawaringin diperintahkan oleh. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 11/b. Maha Patih Gajah Mada, menyeberang ke Nusa Bali, demikian ceritera dijaman bahari, hentikan, —o—. Kini ulang ceriteranya, diganti dengan penuturan Sri Jaya Sabha, adik dari Sri Jayabhaya, beliau Sri Jayasabha menurunkan seorang putera laki-laki, bernama Siraryeng Kadiri, adapun Siraryeng Kadiri, berputera Sirarya Kepakisan, Itulah beliau Sirarya Kepakisan yang datang di nusa Bali atas perintah Maha Patih Gajah Mada, hentikan penceriteraannya. — o — Dikisahkan waktu bertakhta Prabu Siwabudha ( = Kerthanegara ) sebagai raja Kerajaan Singasari, terjadi kemelut dalam negaranya, tidak. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 12/a. ada kerja sama dengan raja-raja lainnya, bercekcok dengan raja negeri Cina, akibatnya terjadi peperangan yang dahsyat, hancur lebur negara Singasari, beserta rajanya, seolah-olah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi besarnya Raja Kerajaan Majapahit, karena kebijaksanaan beliau, Sri Harsa Wijaya ( = Raden Wijaya ), yang telah mengetahui tujuan musuh datang, selanjutnya musuh dapat dikalahkan, maka dari pada itu Singasari tunduk kepada Majapahit, dan negara-negara ( = daerah daerah ) jajahan Singasari dahulu dikuasai juga oleh Majapahit, tetapi daerah timur selat Bali ( = segara rupek) belum terkalahkan, yang terutama pulau Bali. —o— Dikisahkan. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 12/b. ketika menghancurkan kerajaan Bedhahulu, oleh raja Majapahit, dengan bermacam ragam oleh Maha Patih Gajah Mada melaksanakan kebijaksanaan dan usaha yang uttama, ilmu rahasia Kepemimpinannya Sanghyang Wisnu, dan kehancurannya Kebo Waruya Dahulu, namun tetap belum terkalahkan pulau Bali itu, karena amat saktinya Ki Pasung Grigis. Disana berundinglah sekalian menteri-menteri Majapahit, dengan dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada, diperbincangkan panjang lebar tentang penyerbuan pulau Bali. Setelah matang permufakatannya, semua bergegas mereka berangkat, — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 13/a. dengan perahu, menyerbu pulau Bali, terbagi menjadi tiga jurusan prajurit-prajurit itu bertempur. Beliau Maha Patih Gajah Mada menuju sebelah timur pulau Bali, yang dibantu oleh para menteri dan para Arya yang lain, mendarat di Toyanyar ( = Tiyanyar). Adapun yang dari Bali sebelah utara, Sirarya Damar, dibantu oleh Arya Sentong, dan Sirarya Kuthawaringin, mendarat di Ularan. Dan Sirarya Kenceng bersama dengan Sirarya Belog, Sirarya Penghalasan, Sirarya Kanuruhan, kesebelah selatan Bali, menuju pantai Kutha. Dalam keadaan demikian, terkejutlah — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 13/b. rakyat pulau Bali, bergegas-gegas para perwira Bali, berpasang-pasangan berangkat kearah tujuannya, dengan bersenjata lengkap, ada yang kearah timur, keutara, keselatan, menghadapi bala tentara Majapahit,. Tersebutlah penggempuran Maha Patih Gajah Mada dari sebelah timur, membakar hutan-hutan dan gunung, sehingga bernyala-nyala cahaya api, asap mengepul-ngepul, menjulang tinggi kelangit, tiba-tiba dilihat oleh para Arya dan rakyatnya dari utara dan selatan, saat itu serempaklah laskar Majapahit, berperang habis-habisan, sebab demikian, — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 14/a. perjanjiannya dulu. Tak terlukiskan dahsyatnya pertempuran pada ketiga jurusan, serang-menyerang, akhirnya terdesak rakyat Bali. Yang bergerak disebelah timur, terbunuh perwira Bali Ki Tunjung Tutur, di Toyanyar, dan Si Kopang yang berkuasa di Seraya, semua terkalahkan, oleh laskar Majapahit, berlari tunggang langgang rakyat yang masih hidup, ternyata tunduk daerah yang disebelah timur Gunung Agung. Adapun yang menyerang dipantai utara, dikalahkan si Girikmana, yang bermukim di Ularan, oleh Sirarya Damar. Dan Ki Buah yang berumah. —/ —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 14/b. di Batur, dibunuh oleh Sirarya Kuthawaringin. Setelah meninggal kedua orang menteri itu, semua rakyat berlari berusaha menyelinap ditempat-tempat terlindung, oleh karenanya berhasil dikalahkan daerah diutara Gunung ( = Gunung Agung ). Dikisahkan mereka yang menyerang dari selatan, dihadapi oleh laskar orang-orang Bali, yaitu Ki Gudug Basur, berpangkat Demung, dan Ki Tambiyak, yang berdiam di Jimbaran, bersama rakyat berbondong-bondong, amat hebatnya peperangan itu, riuh rendah suara gambelan berpadu dengan dentingan tombak, banyaklah rakyat yang mati dan menderita luka-luka, rakyat Bali menderita kekalahan, mundur. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 15/a. kebelakang. Tiba-tiba Ki Tambiyak dan Ki Gudug Basur, direbut oleh para Arya dan menteri Majapahit, tak terlukiskan sulitnya pertempuran sama-sama berusaha dengan beraneka ragam mendapatkan pengintaian, akhirnya tertangkap dia Ki Tambiyak, langsung dipenggal oleh Sirarya Kenceng, masih dia Ki Gudug Basur, dikurung bersama-sama, kuat kebal sehingga tak terlukai. Semakin lesu Perlawanannya, dan akibatnya menjadi payah tubuhnya, kemudian matilah dia telanjang bulat, disoraki oleh laskar Majapahit, selanjutnya tenggelam Sanghyang Surya ibarat meleraikan pertempuran itu. — o — Sesudah lama — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 15/b. peperangan tersebut, sesudahnya mati Ki Gudug Basur, dikisahkan setelah kalah pesisir pulau Bali, tinggallah Kriyan Pasung Grigis di Tengkulak, mempertahankan pulau Bali, sebab tidak goyah kesaktiannya, berani dan akhli dalam pertempuran, mahir dalam tangkis-menangkis, seolah-olah berganti wujud tampaknya, menjadi susahlah hati maha Patih Gajah Mada, karena kelicikan Ki Pasung Gerigis, didalam pertandingan tempur, sebab rencana Rakriyan Patih Gajah Mada dapat menundukkan tanpa membunuh ( = menangkap hidup ), sebab memang demikian permintaan Sang raja Majapahit dulu, Ketika terhentinya pertempuran pada malam hari, berundinglah beliau. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 16/a.Rakriyan patih Gajah Mada, bersama para Arya Majapahit, terutama Sirarya Damar, mereka membicarakan hingga berhasilnya permintaan Sang Raja Majapahit, yaitu tunduknya Ki Pasung Gerigis. Setelah dapat disimpulkan siasat yang licin ( = upaya sandhi ), semua para arya menyetujui keputusan Maha Patih Gajah Mada. Keesokan harinya, seluruh laskar Majapahit, membalik persenjataan ( = anungsang sanjata ), disertai tanda mengibarkan bendera putih, suatu tanda menyerah/tunduk, sebab memang demikianlah hukum ( = dharma sasananing) pertempuran. Dengan segera diketahui oleh Ki Pasung Gerigis, perilaku laskar Majapahit bermaksud untuk tunduk/ menyerah, amatlah girang. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 16/b. hati Ki Pasung Grigis. Oleh karena ditakdirkan oleh, Ida Sanghyang Widhi Wasa, lenyaplah kelicikan Ki Pasung Grigis, tidak sadar diperdayakan, terus lupa, bagaikan kelelapan dia, bagai diselimuti hatinya oleh rajah tamah, sehingga angkara dan berbangga maksud hatinya, melalaikan tipu muslihat, karena mengandalkan kesaktian dirinya, akhirnya laskar Majapahit disuruh menghadap. Pada saat tiba para menteri Majapahit, semua menundukkan kepala, ( = menghormat) seolah - olah tidak mempunyai suatu keberanian, serta menghadap dan berbakti ( = talangkup ) kepada Kriyan Pasung Grigis, menyatakan.— / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 17/a. &amp;quot;tunduk&amp;quot; berterima kasih Ki Pasung Gerigis, Tidak diceriterakan keputusan percakapannya/perundingannya, Ki Pasung Gerigis pulang ke istananya di Tengkulak, bergandengan tangan dengan Maha Patih Gajah Mada, diiringkan oleh para Arya sekalian; setelah tiba diistana, tak terkatakan penerimaannya, serta dengan senda gurau yang menyenangkan hati masing-masing. Pada waktu itulah Maha Patih Gajah Mada melaksanakan tipu muslihatnya, katanya : pertanyaan hamba Si Mada, kehadapan paduka Gusti, karena mulia tersohor dimana-mana, katanya paduka Gusti mempunyai anjing yang berwarna hitam, diperkirakan. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 17/b. mengetahui/pandai seperti sifatnya manusia, bila paduka Gusti kasih sayang kepada hamba saat ini, dipanggil anjing itu, agar supaya kami semua mengetahuinya. Demikianlah permintaan Maha Patih Gajah Mada, maka sangat bersuka cita Keriyan Pasung Gerigis, tidak disadari siasat yang membuat celaka, ujarnya : jangan curiga, segala kehendak adinda Patih kanda kabulkan. Disana tersenyum Ki Pasung Grigis, sambil memanggil anjingnya, olehnya dijanjikan akan diberi makanan, dengan segera datang anjing tersebut, tempurung yang bundar digigitnya ( = membawa dengan mulut ), tetapi tidak benar diberikan nasi, jelas dilihat oleh Maha Patih. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 18/a. Mada, serta para Arya dan prajurit seluruhnya tentang perbuatannya demikian, seketika berdiri tegak Maha Patih Mada, maju kedepan. menuding mukanya Pasung Grigis, serta senjata gemerlapan, AH... IH.... Pasung Grigis, jelas lenyap menghilang keutamaanmu, sebab engkau melakukan perbuatan jahat/bohong, tidak tepat pada kata-katamu, menjanjikan, tapi tidak benar, untuk seterusnya, musnahlah kepintaranmu, terbang melayang-layang, sebab sudah disaksikan oleh Sanghyang Trayodasasaksi, engkau tidak jujur. Kini bagaimana kehendakmu?. Niatmu akan mengadu. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.18/b. keberanian/ketangkasan/keperwiraan kepadaku? Ya.. tandingilah senjataku ini!. Dengan demikian ..... terdiam Ki Pasung Grigis, laksana hancur hatinya, bagaikan disapu keperwiraannya, bagaikan disambar petir budhinya, oleh Rakriyan Patih Mada , kemudian menjawab dengan sopan, bahwa ia mempersembahkan jiwanya, dan pulau Bali sampai kepelosokpelosok, dan mengakui bahwa Bali telah kalah oleh Majapahit, demikianlah katanya jalan penangkapan atas diri Ki Pasung Grigis, di Tengkulak, serta tunduknya para menteri Bali dengan rakyat yang masih hidup. — o — Diceriterakanlah Pararya Jawa.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.19/a. yang terkemuka Maha Patih Gajah Mada, serta laskar bawahannya semua bersenang-senang menghibur diri, sebab memang demikian kebiasaan apabila menang dalam peperangan. Pada suatu saat datanglah utusan Raja, Majapahit, putera Ki Patih Tuwa, yang bernama Ki Kudha Pangasih, adik dari &lt;u&gt;Ken Bebed isterinya Maha Patih Gajah Mada.&lt;/u&gt; Setibanya di Tengkulak, diterima oleh Rakriyan Gajah Mada, serta semua Para Arya, telah diberitahu ceritera sejak awal jalannya pertempuran, semua gembira ria, didalam lubuk hatinya. Disana berkata Ki Kudha Pengasih, kepada Rakriyan Patih Gajah Mada. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 19/b. Aturnya: Paduka Gusti Patih, berhubung telah berjasa ( = tugas telah selesai), paduka gusti segera dititahkan kembali ke Majapahit, sebab paduka Gusti telah lama meninggalkan kerajaan, Maha Patih Gajah Mada, bersabda, bahwa beliau tidak menolak, ( = hatinya setuju ). Pe-rintah raja, hanya saja sedang mengatur para Arya yang patut untuk mempertahankan pulau Bali. Lanjut dikumpulkan pararya selain dari Sirarya Damar. Berturut-turut semuanya disuruh ( = diperintahkan ) mengawasi wilayah kerajaan, ditetapkan tempatnya masing-masing, ialah : SIRARYA KUTHAWARINGIN di GELGEL, Sirarya Kenceng. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 20/a di Tabanan, Sirarya Belog di Kaba-kaba, Sirarya Delancang di Kapal, Sirarya Belentong di Pacung, Sirarya Sentong di Carangsari, Sirarya Kanuruhan Singha Sardula di Tangkas, Keriyan Punta di Mambal, Keriyan Jerudeh di Tamukti, Keriyan Tumenggung di Patemon, Arya Demung Wangbang turunan Kadiri di Kretelangu ( = Badung ), Arya Sura Wangbang turunan Lasem di Sukahet, Arya Wangbang turunan Mataram boleh memilih tempat dimana saja, Arya Mekel Cengkerong di Jaranbana ( = mungkin Jemberana), Arya Pamacekan. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 20/b. di Bondalem. Demikianlah pengaturannya Maha Patih Gajah Mada, agar supaya semua mempertahankan pulau Bali serta rakyatnya, sementara menunggu seorang raja untuk memimpin pulau Bali, dan semuanya diberikan kata-kata nasehat oleh Maha Patih Gajah Mada tentang bagaimana caranya mengatur negara, dan tentang raja sasana, sampai dengan niti praya, disana serempak menjawab -ya- mereka yang dinasehati, semua bersedia atas segala perintah Maha Patih Gajah Mada, masing-masing menempatkan dirinya menurut ketentuan. — o — Diceriterakan setelah hancurnya Bedahulu, tunduknya Pasung ; Gerigis, berkuasa Sri Aji Ka. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 21/a. la Gemet di Majapahit, sunyi senyap keadaan pulau Bali, sebab telah lama belum ada seorang raja yang memegang kekuasaan disana. Sehingga belas kasihan hati Maha Patih Gajah Mada, melihat pulau Bali hampir rnengalami kehancuran karena tiada pengaturan, sebab belum ada rajanya. Lebih-lebih telah didelegasi oleh keturunan tujuh orang Mpu (= Mpu Sanak Pitu), yaitu : Sira Patih Ulung, Kiyayi Pamacekan, Kiyayi Kapasekan, Kiyayi Padang Subadra, memohon ke-hadapan Raja Majapahit, dan Rakeriyan Mangku Negara ( = Gajah Mada), agar ada bertakhta menjadi raja sebagai Kepala Negara.— / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 21/b. Bali dengan segera, menjadi junjungan rakyat Bali. Kemudian pada waktu Mertha Masa, Purnama bulan ke empat (= Kapat), disana Maha Patih Gajah Mada melantik putera-puteranya Sri Kresna Wang Bang Kepakisan, setelah direstui oleh Maharaja Majapahit, diberangkatkan mereka masing-masing, adapun yang tertua dijadikan raja di Belambangan, putera yang kedua bertakhta di Pasuruhan, yang ketiga seorang puteri bertakhta di Sumbawa, yang bungsu bertakhta di Pulau BALI, bergelar Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan, pada tahun Saka. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 22/a. &amp;quot;Yogan muni rwaning bhwana&amp;quot; ( = th. 1274 C atau 1352 Masehi), jelas bagaikan Wisnu Narayana, menjelma mengayomi di ketiga alam, dipuja oleh para arya semua, tegaklah kedudukan beliau di Samperangan, di pesanggrahan Maha Patih Gajah Mada dahulu pada waktu merencanakan penyerangan pada kerajaan Bedahulu. Adapun yang menjadi Patih Agung adalah Sirarya Kepakisan, yang kedua Patih Sirarya Kuthawaringin, Sirarya Kanuruhan sebagai sekretaris Dalem. Sesudah itu datanglah dua orang Arya yang bersaudara, bernama Sirarya Gajah Para adiknya bernama Sirarya Getas, dititahkan untuk mempertahankan disebelah. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 22/b.timur Gunung ( = G. Agung), bermukim di Toyaanyar. —o— Diceriterakan kembali, Sirarya Kuthawaringin terutama dikisahkan, diberikan kedudukan Adhi-Patih, pejabat tinggi pembantu terdepan Dalem Ketut Kresna Kepakisan, juga berkedudukan sebagai tumenggung. Entah berapa lamanya Sirarya Kuthawaringin menjadi menterinya/pejabat terdepan Sri Aji Kudhawandhira di Samperangan, hanya ketentraman dan keamanan negara yang beliau perbuat selalu, oleh karenanya amatlah bahagia kehidupannya, sebagai kebesaran leluhurnya di Kadiri diwarisinya. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 23/a. memperoleh kepuasan atas jasa dan kewibawaan didunia, Adapun Sirarya Kuthawaringin sudah mempunyai keturunan, empat orang pria wanita, yang sulung bernama KIYAYI KLAPODHYANA, yang kedua bernama KIYAYI PAREMBU, putera yang ketiga bernama KIYAYI CANDHI, yang bungsu wanita bernama I Gusti Ayu Waringin, diambil dijadikan permaisuri oleh Sira Dalem Ketut Kresna Kepakisan. Sekian keturunan Sirarya Kuthawaringin, semua berkedudukan membuat rumah di Gelgel; dalam kehidupan yang penuh kewibawaan. Lama kelamaan Sira Kyayi Klapodhyana. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.23/b. menjadi patih uttama mengganti ayahnda Sirarya Kuthawaringin sebab beliau telah lanjut usia, beliau Kyayi Klapodhyana yang bergelar Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, yang pertama-tama pindah istana di perkebunan disebelah barat ( = Abiyan kawan), entah berapa pula lamanya Sirarya Kuthawaringin bermukim di Gelgel, berakhirlah waktunya untuk berkecimpung dalam kepuasan dunia, merasakan kesenangan indria Pada akhirnya wafat Sirarya Kuthawaringin, pulang ke alam baka, kembali keasalnya ( = windhu rupaka ), —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 24/a. menuju penciptanya, kembali bersatu dengan yang Maha Halus. Selesai sudah upacara &amp;quot;Palebon&amp;quot; yang diselenggarakan oleh seluruh putera-putera dan sanak keluarganya, lanjut dengan upacara &amp;quot;Baligia&amp;quot; dengan Atma Pratistha, demikian tata upacaranya, tidak dituturkan lagi. — o —. Adapun Sira Dalem Ketut Kresna Kepakisan, beliau telah kembali ke alam baka ( = wafat), terasa bimbang sunyi sepi ketiga alam itu (= kadi mangrwa suniya ikang tribuana) = mungkin candra sengkala; kadi mangrwa = 2. suniya = 0. ikang tri = 3. buana = 1. (= 1302 C). Digantikan oleh putera beliau yang sulung, bergelar Sira Dalem Samperangan, tersohor didunia beliau bernama Dalem Ile dan putera yang kedua bernama Dalem Taruk. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.24/b. bermukim dipuri Tarukan, namun tidak berminat/tidak tertarik oleh pemerintahan kerajaan ( = Kaprabon ), berkemauan melaksanakan Dharma seorang Pendheta, tetapi beliau belum dapat memahami rahasia menjadi manusia, sehingga beliau membuat wujud seperti orang gila ( = Brantadnyana). Putera Dalem yang bungsu bernama sira Dalem Ketut, amat gemar berjudi berkeliling (= angulesir), dimanapun tempat judian itu dikunjunginya, tak tertahan oleh beliau pengaruh wujud inderia itu, Ada lagi putera beliau ( = Dalem Ketut Kresna Kepakisan) satu orang dari lain ibu, bernama Ida Idewa Tegal Besung, lahir dari I Gusti Ayu Waringin, sebagai. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 25/a. berjarak amat jauh kelahirannya ( = anglangsut ). Beliau putera Dalem yang termuda, juga terhitung cucu dari wadu oleh Sirarya Kuthawaringin, Jadi empat orang jumlah putera Bathara Kresna Kepakisan yang pertama tiba di Bali ( = Bhurawuh ). —o—. Diceriterakan pada waktu Kiyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, bersama para arya tandha manteri yang lain menghadap Dalem Ile di Samprangan terlambat beliau keluar ke balai Penghadapan, asyik beliau menatap bayangan pada cermin ( = bercermin ), menyempurnakan gelung, mengulang - ulang berkain ( = wastra ), sehingga condong kebarat Sang Surya.—/— belum juga Dalem keluar kepenghadapan, akhirnya payah/gelisah olehnya menunggu di Balairung, demikian tingkah beliau berulang-dua, tiga kali, sehingga kecewa bercampur marah putus asa dan pergi ( = ngambul ) mereka yang menghadap. Kemudian didengar oleh Dalem Taruk tentang keadaan Maharaja Samperangan, oleh karena itu beliau mengutus Kudha Panandang Kajar untuk mencari adinda Dalem Taruk yang bergelar Dalem Ketut, namun ditolak olehnya, pendek jawaban beliau ( = Dalem Ketut ) tidak mau kembali pulang, sebab sedang diliputi kesenangan ( = inderia ) Dalam keadaan demikian, Kyayi Klapodhyana bermaksud hendak menghadap pada Dalem Ketut, tetapi. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.26/a. ada yang dikhawatirkannya kalau-kalau ditanggapi durhaka menentang, sebab keris pusaka Dalem yang termashur bernama Ki Tandhalanglang, sangat saktinya, mampu menyelidiki/mengontrol para menteri yang durhaka berani menentang Dalem, langsung dapat tertancap didada para menteri yang durhaka, tanpa diantar, bila mangsanya telah mati, kembali Ki Tandalanglang bertuliskan darah. Berpikir-pikir Kyayi Agung Bandhesa Gelgel ( = Klapodhyana), kuatlah kemauannya untuk menegakkan kesejahteraan Negara serta wilayahnya, berdengung bagaikan suara dari angkasa, didengar olehnya. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 26/b. menyuruh mengunjungi/menjunjung Dalem Ketut, sehingga terhindar kehancuran negara, tak terkatakan, lanjut Kyayi Klapodhyana dibarengi oleh para Bahudandha tandha manteri serempak menuju desa Pandak, hendak menghadap Dalem Ketut, telah diselidiki bahwa beliau berada disana, sebab kesayangannya ( = Klapodhyana), Ida Idewa Tegal Besung masih kanak - kanak, belum tahu untuk memerintah kerajaan. Tak tertuliskan dalam perjalanan, tiba mereka di Pandak, akhirnya diketemui beliau Dalem Ketut sedang berada dalam judian, tersipu-sipu sangat. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 27/a.malu, sering menderita kekalahan, tanpa ragu-ragu dalam hatinya. langsung dengan ramah tamah berkatalah Kyayi Klapodhyana : Singgih Cili, lihatlah kebaktian hamba sampai dengan hati tingkat ketujuh, kini .... Cili hamba jadikan Raja ( = junjungan), sehingga negara tidak hancur, rakanda cili Sri Aji Samprangan sulit untuk dihadap.- Lama tidak menjawab beliau yang dipuja ( = Dalem Ketut), karena sangat malunya, sambil berpikir-pikir, dengan berlinang-linang air mata beliau bersabda; apakah gunanya aku bertakhta menjadi Dalem sebagai rajamu, kau puja-puja. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.27/b.karena aku orang hina, miskin, kasar. Lagi berkata Kyayi Klapodhyana, yang mulia Cili, janganlah demikian, hanya cili juga yang hamba jadikan raja, .... ya .. itu... ambil rumah hamba untuk istana cili, hamba pindah rumah kekebun hamba yang berisi pohon kelapa ( = Tubuh ),. Demikian berkeras hati permohonan Kyayi Klapodhyana, berkenanlah beliau Dalem Ketut mengabulkan permohonannya Kyayi Bandhesa Gelgel, itulah alasan permulaan beliau Dalem Ketut beristana di Gelgel, serta diberi nama &lt;b&gt;SWECALINGGARSAPURA&lt;/b&gt;. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 28/a.Panca windhu pramananing rat, candrasengkala : Panca = 5. Windhu = 0. Pramana = 3. Rat. = 1. Isaka 1305 = 1383 Masehi, serta Dalem Ketut bergelar Sri Aji Semara Kepakisan, sebab awataranya Sanghyang Semara, karena cantik tampan penuh dengan sadguna, tempat berkumpulnya asta beratha, sukar dibedakan bila dibandingkan dengan Hyang Mahadewa, gambar CAWIRI pada paha pertanda jaya dalam pertempuran. Disana para menteri terbagi, ada yang ke Gelgel, ada yang tinggal di Samperangan, tetapi lebih banyak yang ke Gelgel. Ada yang melaporkan kepada Dalem Samperangan, bahwa Dalem Ketut di Gelgel, dipuja oleh Bandhesa Klapodhyana. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 28/b. serta menteri - menteri yang lain, Dalem ( = Dalem Samperangan ) terdiam. —o — Diceriterakan Kiyayi Klapodhyana, menjadi Patih terkemuka dari Sri Cili Ketut ( = Dalem Ketut Semara Kepakisan), Dalem yang beristana ( = berkedudukan) di Swecalinggarsapura ( = Gelgel). Beliau Kriyan Patih Klapodhyana dapat berselisih pendapat ( = bertengkar), dengan Kiyayi Nyuhaya, yang disebabkan ( = sebagai alasan ) Kriyan Patih Klapodhyana mengawini puterinya Kyayi Nyuhaya, yang bernama I Gusti Ayu Adhi, saudara dari Kriyan Petandhakan, dengan alasan yang demikian ternyata menimbulkan kemarahan dan kegelisahan hatinya Kyayi Nyuhaya. Tidak. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 29/a. rela diambil puterinya, serta ditolak semua perundingan melalui utusan ( = peradang ). Tersirat dalam hati Kyayi Nyuhaya, yaitu mengusahakan kematiannya Kyayi Klapodhyana, karena dia menyangka, besar dosanya ( = Kyayi Klapodhyana), orang rendahan mengambil isteri keturunan uttama, tidak ada lain penebusnya, selain dari kematian. Demikian keras kehendak Kyayi Nyuhaya, serta telah dirundingkan, pada sekalian putera-puteranya yaitu : Kriyan Petandhakan, Satra, Pelangan, Kaloping, Akah, Cacaran, Anggan, ikut serta para Pangeran semua saudara. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 29/b. sepupu, yang berkumpul menjadi satu. Setelah bulat perundingan mereka, segera datang menghadap kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan, di Swecapura, mempermaklumkan (= mengatakan) bahwa anaknya diambil ( = diperistri) oleh Kyayi Klapodhyana, memohon ijin untuk membunuh Kriyan Patih Klapodhyana, kesalahannya mempersunting puteri turunan uttama, karena tidak dikenal kebangsaannya (= kasta keturunannya) Demikian atur Kyayi Nyuhaya, Dalem Ketut Semara Kepakisan terdiam tanpa jawaban, karena muncul berjenis-jenis bisikan dalam hati beliau, yang menyebabkan beliau (= Dalem Ketut Semara Kepakisan) memperoleh kebesaran dan kewibawaan. — / — .&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 30/a. Dipersembahkan kepadanya seorang permaisuri, hanyalah berkat dia Kriyan Patih Klapodhyana yang menyerahkan kerajaan, kini keadaannya terkena kesulitan hanya setitik, sekarang aku tak kuasa membantunya, ... aduhai .... besar sungguh hutang budiku bila tidak dibalas sama sekali, untuk selanjutnya tidak berguna benar hidupku. Selanjutnya Dalem bersabda kepada Kyayi Nyuhaya, sabdanya : hai kamu Punta Nyuhaya, terlanjur caramu berpikir, berikanlah waktu sebentar, sekurang – kurangnya dua hari, niatku untuk membuktikan wangsa kelahirannya Kyayi Klapodhyana, entah dari mana asal mulanya. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 30/b.sehingga tak terjadi kekalutan dalam negara kerajaan. Bila seperti katamu, memerlukan kematiannya, terang hancur lebur Swecapura ini, apa sebab demikian, karena Kyayi Klapodhyana banyak rakyatnya, yang berani membelanya, lagi pula sanak keluarga lebih-lebih lagi kaum bangsawan, ikut serta seluruh warga Pasek, semua dikuasai oleh Kyayi Klapodhyana, karena bijaksana membina masyarakat, serta cakap dan suka memberikan ampun dan bantuan berupa benda, manis tutur katanya, tegas, makanya disegani oleh bawahannya. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.31/a. Kamu Punta Nyuhaya, tunggu sebentar : menurut pula Kyayi Nyuhaya, tidak berani durhaka, lanjut bermohon diri untuk pulang dengan atur penganjali. Demikian tentang Kyayi Nyuhaya. — o —. Dikisahkan besoknya Dalem mengirim utusan untuk memanggil Kriyan Klapodhyana, panjang bila dilukiskan tingkah laku utusan didalam perjalanan, segera telah menghadap kepada Kyayi Patih Klapodhyana, kata utusan : Ki Gusti disuruh menghadap hari ini juga, atas perintah Sri Aji Ketut Semara Kepakisan, yang berkedudukan di istana. Menjawab Kriyan Patih. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 31/b. silahkan kamu berangkat kembali lebih dulu, permaklumkan bahwa saya akan menghadap esok hari. Adapun diceriterakan besoknya Kyayi Patih Klapodhyana langsung menghadap keistana, dan setibanya dalam istana, penuh sesak para tandha manteri, semuanya menghadap, misalnya Kyayi Nyuhaya serta saudara dan semua puteranya, sama-sama ingin mengetahui persidangan pengadilan oleh Dalem Ketut Semara Kepakisan.- Demikian pula keluarga, seluruh rakyat bawahannya, terutama pembela-pembela yang diandalkan, yang memihak kepada Kriyan Patih Klapodhyana, semua. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 32/a. sangat gembira hatinya, semua ingin melawan berperang, sebab telah jelas tersebar berita permohonan Kyayi Nyuhaya untuk menghancurkan Keriyan Patih Klapodhyana, itulah sebabnya para sanak keluarga seperti tertarik, mendukung Kryan Patih, semua hendak membelanya. Disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menanya Kriyan Patih Klapodhyana, sabda Dalem : Duh .... kanda Patih Klapodhyana, dengarkanlah tutur kata saya pada kanda, bahwa ada pemberitahuan Kyayi Nyuhaya, perihal kanda, mengambil ( = mengawini) anaknya, yang bernama. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 32/b. Ayu Adhi, tetapi Kyayi Nyuhaya amat keberatan anaknya diambil, sebab tidak tahu asal-usul kelahiran ( = kasta ) kanda. Keras kemauannya yaitu untuk membunuh kanda. Bagaimana oleh kanda Patih, silahkan pikirkan itu. Demikian sabda Dalem, menjawab Kriyan Patih Klapodhyana, dengan sopan santun serta panganjali, : Ampun tuanku yang maha mulia, segala titah tuanku telah hamba junjung, syukur sekali bila demikian kemauan Kyayi Nyuhaya. Makanya berani mengambil. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.33/a. anaknya, sebab hamba sebenarnya satu leluhur/kawitan dengan Kyayi Nyuhaya, Sayang .... kalau dia tidak mengetahui. Tinjaulah pada kekuasaan &amp;quot;CANDRI SAWALAN&amp;quot; yang dibawa dari Majapahit, keturunan keraton Negara Daha, jelas dirumah hamba disimpan dijadikan tunggul, kini hamba menyuruh si Parembu adik hamba untuk mengambilnya, untuk dipersembahkan kehadapan paduka Dalem. Tidak diceriterakan perjalanan dia yang disuruh mengambil, dengan segera tiba Kiyayi Parembu menghaturkan &amp;quot;Candri&amp;quot; —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.33/b. Sawalan&amp;quot; ternyata dua keping perunggu, bertuliskan huruf Majapahit. Sifatnya atau watak besar dan bercahaya Danghyang Sendhok. Dibaca oleh Dalem, dihadapan para Patih dan menteri, terutama Kyayi Nyuhaya, diucapkan keterangan tutur bahasanya. Mula-mula Ra Hyang Dimaharaja Manu, melahirkan keturunan beserta turun-turunannya, sampai dengan Sirarya Kuthawaringin, keturunan Sri Jayabhaya, dan Sirarya Kepakisan keturunan Sri Jayasabha. Setelah selesai uraian didepan, terbukalah hati Dalem, yakin dan percaya dengan tulisan — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 34/a. &amp;quot;Sanghyang Candri Supralingga&amp;quot; lalu diserahkan kepada Kyayi Parembu diterima olehnya. Disana Kyayi Nyuhaya, menghaturkan buah kelapa yang besar tak ada bandingannya didunia; ceriteranya; dulu pada waktu Kyayi Nyuhaya baru lahir, dibungkus ari-arinya didalam buah kelapa, kemudian tumbuh kelapa itu buahnya tak terpadai besarnya, itu sebabnya diberi nama NYUHAYA ( Aya = besar ). Aturnya : Ampun .... Paduka Dalem yang mulia, inilah suatu pertanda hamba keturunan Kepakisan, sekarang berkat paduka Dalem, hamba ini. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.34/b.memohon, agar supaya Si Klapodhyana besok menghaturkan buah kelapa yang sama besarnya, sebagai suatu tanda sama keturunannya ( = kula wangsa ), dengan hamba. Bimbang hati Dalem, teringat Dalem pada kesetiaan hati jiwa Klapodhyana, sehingga ( = Dalem ) memperoleh kebesaran kewibawaan. Kemudian entah bagaimana niat Dalem, sehingga bersabda kepada Kyayi Klapodhyana. Kanda .. Patih Klapodhyana, apakah kanda dapat kelapa sebegini besarnya, sampai besok, kalau dapat bawa kemari, itu sebagai. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 35/a. tanda seketurunan kanda dengan Kyayi Nyuhaya, berkat permintaan Kyayi Nyuhaya. Sembah Kyayi Klapodhyana : Segala titah yang mulia Dalem, hamba tidak durhaka, lalu bubarlah penghadapan itu; sesampainya dirumah, amat bingung pikiran Kyayi Klapodhyana, gelap gulita tak berkesudahan, maulah rasanya mati dalam ketiduran. Selanjutnya berunding bersama isterinya, dan adik-adiknya, Kyayi Parembu, Kyayi Candhi, dihadap oleh rakyat yang memihak kepada Kyayi Klapodhyana . — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 35/b. tidak diceriterakan perundingannya itu; karena belum ditakdirkan, maka ada karunia Ida Sanghyang Widhi atas dirinya, masuk Kyayi Klapodhyana ke Pamerajannya, akhirnya terlihat olehnya lembaga kelapa yang tumbuh didataran halamannya, disuruhnya menggali, kelihatan kelapa itu sama besarnya dibandingkan dengan kelapa yang dihaturkan kepada Dalem, oleh Kyayi Nyuhaya, Gembira hati Kyayi Klapodhyana, esok harinya disuruh rakyatnya membawa, lanjut dihaturkan kehadapan Dalem. Setibanya diistana, dilihat oleh Dalem, kelapa itu sama besarnya, heran.—/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 36/a.Dalem atas keberhasilan Kyayi Klapodhyana, sabda Dalem, benar-benar kanda seketurunan dengan Si Nyuhaya, sama antara Kepakisan dan Kuthawaringin. Dalam keadaan demikian, segera Kyayi Patih Klapodhyana bersama saudara-saudaranya, Kyayi Parembu dan Kyayi Candhi, memohon ijin kehadapan Dalem, ingin mengucapkan sumpah, agar semakin jelas keluhuran budinya, tidak mempertahankan yang bukan leluhurnya, disaksikan oleh Dalem Semara Kepakisan, serta para tandha. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 36/b. manteri, para patih, pemuka-pemuka semuanya, segera mengepul asapnya pahoman ( = pasepan ). Disana Kriyan Patih Klapodhyana, serta kedua orang adiknya Kyayi Parembu dan Kyayi Candhi, berbakti kepada Sanghyang Brahma, mengucapkan sumpah, : Yang terhormat/tertinggi.... Sanghyang Brahma, hamba dan adik-adik hamba memohon sumpah kehadapan Bhatara, kalau tidak benar hamba keturunan Manu Wangsa, agar hamba ditimpa segala kutuk dari paduka Bathara, semoga hamba tidak memperoleh kabahagiaan, terjauh dari kebesaran dan kekayaan, hasil dan pangan, kesengsaraan yang paling berat hamba dapatkan. Demikian.—/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 37/a. selesai.- Setelah selesai mengucapkan kata-kata sumpah, bersabda Dalem, pada Kyayi Nyuhaya sekeluarga, dan kepada Kyayi Klapodiyana sekeluarga, sabdanya : Duhai ..... kanda Patih berdua, Nyuhaya, Klapodhyana, serta sanak saudara kanda semua, betul satu/sama keturunanmu, Siwa Wandira dan Kepakisan. Mulai saat ini kanda berkeluarga yang rukun, saling asih, saling asah dan saling asuh, boleh diambil dan mengambil (= untuk isteri), serta saling sembah. Bersatu sidhikara kanda semua, demikian sabda Dalem, bersujud .. menurut Kyayi Nyuhaya dan Kyayi. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.37/b. Klapodhyana, selanjutnya bermohon diri pulang kerumahnya masing-masing, dengan hati yang suci murni. Dan kemudian, setelah waktu berjalan lama, akhirnya Kyayi Klapodhyana mengadakan keturunan, dia berputera uttama sebanyak empat orang, dua orang laki-laki, dua orang perempuan, yang sulung perempuan bernama I Gusti Ayu Midar, menjadi permaisuri Dalem Waturenggong, adiknya laki-laki bernama Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, yang muda ( = no. 3 ) Kyayi Lurah Karang Abiyan, yang bungsu perempuan I Gusti Ayu Abiyan.—/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 38/a. namanya, kawin dengan Pangeran Kayu Mas, melahirkan Kyayi Bandhesa Mas. Adapun Kyayi Parembu adinda Kyayi Klapodhyana kini dikisahkan, dia Kyayi Parembu telah berputera, laki-laki tiga orang perempuan seorang, yang sulung laki-laki bernama Kyayi Wayahan Kuthawaringin, hampir sama dengan nama datuknya, kedua Kyayi Madya Kutaraksa adiknya Kyayi Lurah Wantilan yang bungsu perempuan bernama I Gusti Ayu Raresik. Sekian puteranya Kyayi. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.38/b Parembu sama-sama menetap membuat rumah di Swecapura, tersebut diselatan pasar. Adapun Kyayi Candhi, adik dari Kyayi Parembu, sudah mempunyai keturunan dua orang laki-laki, yang sulung bernama Kyayi Candhigara, adiknya bernama Kyayi Jaya Paguyangan, sama-sama menetap di Swecapura, membuat rumah tersebut di Jero Kawan, dihentikan sejenak. – o –. Tersebut suatu ceritera, pada suatu ketika, datang menghadap pada Dalem Ketut Semara Kepakisan di istana. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 39/a. Utusan dari raja Berangbangan, perlu bermohon agar dibantu, sebab timbul kerusuhan di kerajaan Berangbangan, hancur oleh keganasan si Harimau hitam. Setelah utusan itu memperoleh ijin untuk mengahadap, berkatalah utusan itu dengan sopan santun serta panganjali,: Yang mulia paduka Sri Maharaja bagaikan penjelmaan Sanghyang Manobu, hamba diutus untuk menghadap oleh rakanda paduka Dalem, beliau Maharaja Berangbangan, memohon keikhlasan paduka Dalem, sudilah kiranya membantu beliau rakanda paduka Dalem. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 39/b. Karena rusaknya kerajaan Berambangan oleh si harimau hitam, bercokol di hutan Berambangan, luar biasa ganasnya, setiap orang yang datang ke sana disergap, diterkam dengan ujung kukunya, dimakannya, semua takut orang-orang Berambangan, tidak berani lewat ke sana. Setelah demikian atur utusan itu, segera bersabda Dalem Ketut Semara Kepakisan, : Wahai kamu utusan, kembalilah kamu dengan segera, beritahukan kepada tuanmu, jangan beliau ragu-ragu/curiga, sekehendak beliau kukabulkan, hanya. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 40/a. menunggu saat yang baik untuk berangkat, utusan itu lalu mohon diri, Itulah sebabnya Dalem bermaksud membuktikan ketangkasannya Kerian Patih Klapodhyana, seketika diperintahkan oleh Dalem di hadapan para menteri semua, titah Dalem : Wahai ......Kanda Patih Klapodhyana, kanda kuperintahkan pergi ke Berambangan, untuk membunuh harimau hitam itu, yang berada dalam hutan di Berambangan, ini kuhadiahkan sebilah sumpitan (= tulup), sebab benar-benar turunan Wisnu Wangsa, pasti mati harimau hitam itu oleh kanda, demikian. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 40/b. titah Dalem tidak menolak beliau ( = Klapodhyana) diutus, taat pada perintah Dalem, gembira hatinya Kyayi Klapodhyana, dapat berkarya untuk Kerajaan, lalu mohon diri untuk berangkat, diiringkan oleh saudara-saudaranya serta rakyat serempak, tidak diceriterakan dalam perjalanan, sudah sampai mereka di Berambangan. Tersebutlah Kyayi Nyuhaya, mendengar ( = berita ) tentang keluarganya diadu, lalu ia mohon diri pada Dalem hendak menyusul perjalanannya Kyayi Klapodhyana, dikabulkan permohonanya, segera berangkat. Dikisahkan perjalanannya Kyayi Klapo.— /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.41/a. dhyana, banyaklah orang-orang Berambangan dijumpa, di sana Keriyan Patih Agung ( = Klapodhyana) menanyakan tempatnya si harimau hitam, menjawab mereka yang ditanya, : Ampun . . . tuan hamba, dekat tempatnya dibawah pohon kakacu. Di sana Keriyan Patih Klapodhyana dengan gagah perkasa menjelajah dalam hutan, banyak binatang yang dijumpa, semuanya lain, tidak berani berbuat ganas kepadanya ( = Klapodhyana ), semuanya seperti kalah dan takut, berlarian binatang - binatang itu, Jauh perginya di dalam hutan, tiba di bawah pohon kakacu, bertemu dengan si harimau hitam, amat keras mengaum. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.41/b. mengintai hendak menerkam, tiba-tiba melompat harimau itu, diterkam Kriyan Patih ( = Klapodhyana), bergulat, bertarung pukul memukul, tetapi Kriyan Patih Klapodhyana tidak bercacat ( = luka), kemudian kembali harimau tersebut, ditampar hidungnya, lari dengan terengah-engah, dikejar oleh Kyayi Klapodhyana, dibidik dengan sumpitan pemberian Dalem, dibarengi dengan kesaktiannya ( = kekuatan batin ), lalu ditiup ( = disumpit ), dilepaskan peluru &amp;quot;BATUR GUMI&amp;quot;, kena lambungnya, gemetar harimau itu, tidak berdaya, ditikam lehernya dengan. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 42/a. sangkur sumpitan, remuk redam badan harimau itu direbut, rubuhlah si harimau terus mati. Disebutkan perjalanan Kyayi Nyuhaya, sudah tiba di dalam hutan, tidak berjumpa dengan keluarganya ( = Klapodhyana), karena lebih dulu, hanya terlihat olehnya jejak-jejak harimau ( = binatang ), itu diturutnya melanjutkan perjalanan. Setelah mati harimau itu oleh Kyayi Klapodhyana, datang / tiba Kyayi Nyuhaya, serta bertanya, : bagaimana dinda? sudah mati harimau itu,? sebab tampaknya seperti hidup. Yang ditanya ( = Klapodhyana ) menjawab, : ampun ..... kanda, sudah mati. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 42/b. harimau itu oleh dinda. Payah sungguh kanda menyusul perjalanan dinda. Jangan berkata demikian, sebab perjalanan cepat dan kesusu. Sebab sudah berhasil tujuan itu, bagaimana maksud dinda, kiranya baik bila kembali ke Bali, persembahkan kepada Dalem. Setelah demikian berangkatlah mereka ke Bali, amat panjang bila diceriterakan tingkah lakunya di tengah perjalanan, segera tiba di Linggarsapura ( = Gelgel), masuk menghadap kepada Dalem, kebetulan banyak para tandha manteri menghadap, disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menyapa Keriyan Patih. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 43/a. Klapodhyana, : Bagaimana perjalanan kanda, Patih Klapodhyana, dan Kanda Patih Nyuhaya, berhasilkah kanda dalam tugas?. Sembah Kriyan Patih Klapodhyana, : Ampun tuanku yang mulia, berhasil perjalanan hamba, telah mati si harimau hitam oleh hamba, inilah kulit si harimau hitam hamba persembahkan. Semua diutarakan Hal ihwal pertempuran melawan harimau, dipermaklumkan kepada Dalem, oleh Kyayi Klapodhyana, amat suka cita Dalem, serta beliau memuji-muji, sebab tak berubah. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 43/b. seperti sediakala mengabdikan dirinya kepada tugas. Teringatlah Dalem bahwa berhutang budhi, itulah sebabnya Dalem Ketut Semara Kepakisan menganugrahi Kyayi Klapodhyana, demikian isi karunianya, : Inilah karuniaku Cili Ketut kepada kanda puntha Klapodhyana, dan seketurunan almarhum Arya Kuthawaringin; Aji Purana, dan yang satu turunan denganmu, tidak dikenakan pikul-pikulan, tategenan, dimanapun tempatnya berada, semua anak cucu turunanmu disayangi oleh raja, menjadi wali negara ( = amanca negara ), jelasnya : tidak dikenakan tategenan. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 44/a. tidak dikenakan cecangkingan, tidak dikenai ambeng-ambengan, dan sasaradan, papiliyan, pacatuwan, dan tak dikenai oleh dedawuhan ( = panggilan), atag-atagan ( = siaran), dan lepas pejah punjang-panjing. Dan kalau ada kesalahan harus dengan hukum, mati, kepada Dalem, boleh diusir, kalau kesalahan dengan usir, harus diampuni oleh raja, pada keturunan-keturunan Sirarya Kuthawaringin Klapodhyana. Dan pada waktu kematian, pada waktu ngaben, sebagai alat pengusungan jenazah boleh memakai dasar bade, bade tumpang pitu ( = 7 ), taman punggel, kapasnya beraneka warna. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 44/b. Yang utama warna sembilan ( = 9 ), madya warna tujuh ( = 7 ), nista warna lima ( = 5 ), mauncal mapering sidapur, wesma silunglung, makajang ( = kemul ), kalasa, tatak beha ( = alas pembakaran ) papan sembilan keping, balai balai yang tinggi dengan tangga ( = undag ), peti Pembakaran berbentuk harimau hitam, memakai tirtha pengentas, uttama 16.000, madya 8.000, nista 4.000, dan bila ada menegakkan kabujanggan ( = menjadi bujangga/pendeta ), harus dengan upakara yang lengkap, menggunakan seperti yang dipergunakan oleh seorang pendeta, mapaterang, upadesa, jenazah dibungkus dengan daun pisang kaikik ( = sejenis pisang hutan ), lengkap dengan upacaranya — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 45/a. Demikian isi anugerahku Dalem Cili Ketut, kepada kanda Puntha Klapodhyana dan turunan Arya Kuthawaringin, jangan tidak yakin yang menjadi wali negara, terhadap anugerahku, dan terhadap anak cucu Kyayi Klapodhyana, dan saudara-saudaranya semua, bila kamu tidak percaya dikenakan oleh kutuknya Bathara Brahma, berkurang kesaktian mu, MOGA – MOGA. Lagi bersabda Dalem kepada Keriyan Patih Klapodhyana, aduhai ...... kanda puntha Klapodhyana, hendaklah diperbaiki paryangan/pura di Tugu, bila telah selesai oleh kanda saya berikan kanda untuk memimpin ( = angelingngana). — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 45/b. Kanda haturkan upacara pujawali, demikian perintah Dalem, diterima dengan baik oleh Kyayi Klapodhyana dan berjanji. Dengan cepat waktu berjalan, telah selesai diperbaiki, bagus kembali kahyangan/pura TUGU itu, dibantu pula oleh putera-putera Kyayi Nyuhaya, tak henti-hentinya mereka mendekatkan diri, kemanapun diajak tidak menolak, lama-kelamaan saling cinta-menyinta mereka semua bagaikan bersaudara, disuruh nyungsung AJI PURANA, serta menyimpan dirumahnya. Demikianlah keterangan tentang Kyayi Klapodhyana memimpin/memelihara. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 46/a. Paryangan TUGU, serta menghaturkan PUJAWALI, serta berpesan kepada Kyayi Nyuhaya, dan semua putera-puteranya, pada tiap-tiap pujawali di Tugu, agar dibawa/dituhur dan disimpan di pamerajan, janganlah mengingkari perjanjian seketurunan Nyuhaya, serta dengan turun-turunanku Klapodhyana, bila ada yang melanggar salah satu, tidak menepati perjanjian, untuk selanjutnya, dikutuk oleh — /— &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 46/b. Bathara Brahma, semua turunan, saudara-saudara, seluruh anak cucu keturunan tidak memperoleh keselamatan. Demikianlah pesan petuah Kyayi Klapodhyana kepada Kyayi Nyuhaya, dan keluarganya semua, dan sumpitan anugerah Dalem, yang dipergunakan membunuh si harimau hitam, selanjutnya dihadiahkan kepada Kyayi Klapodhyana, diberi nama KI MACAN GUGUH, demikianlah keterangannya pada jaman bahari —o— Hentikan sebentar penuturan mereka yang berada di Gelgel, kini mulai diceriterakan lagi beliau Dalem Taruk yang berada di puri Tarukan, amatlah sayangnya kepada Sira Kudha Panan — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 47/a. dang Kajar, dianggap sebagai anak oleh beliau, adalah putera raja Berambangan, tetapi lahir dari ibu panawing lahir dari Tumenggung Pasuruhan, tampan rupawan, cerdik dan bijaksana, berbudi luhur, tidak janggal perilakunya, selalu pantas dalam perbuatan, manis tutur bahasanya, tidak pernah bingung dalam akalnya, pandai memisahkan emas yang bercampur dalam tanah, sehingga tidak kurang emas, semakin mendalamlah kasih sayang Dalem Taruk, mengakui putera atas diri Sira Kudha Panandang Kajar. Dia diutus mencari Dalem Ketut ( = Ngulesir ). di — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 47/b. Pandak dahulu, sewaktu Dalem Ile (Samperangan) sulit untuk dihadap, setelah itu barulah dijemput oleh Kyayi Bandhesa Gelgel Klapodhyana. Tak tersangka-sangka datang akibat dari tanda-tanda yang buruk atas dirinya dahulu, terlepas destarnya ( = ikat kepala) disambar burung gagak waktu kembali dari Pandak, ia menderita penyakit yang sangat keras, berbagai obat-obatan semua tak mampu menyembuhkan, disanalah gelisah hati Dalem Taruk. Selanjutnya beliau berkaul, engkau anakku Panandang Kajar, jangan meninggal dunia, bila engkau sembuh. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 48/a. hidup seperti sedia kala, aku akan menyelenggarakan perkawinanmu dengan Sri Dewi Muter, Putri dari Dalem lie, Ternyata terlanjur sabda Dalem Taruk, lupa dengan kelahirannya Penandang Kajar dari ibu penawing. Kemudian semakin sembuh Kudha Penandang Kajar tanpa diobati, kembali sebagai semula. Disana dicuri Sang raja Puteri, dinikahkan dengan Kudha Panandang Kajar. Kini diceriterakan mereka dalam peraduan, datanglah si senjata Narayana, Keris Ki Tandalanglang, tertancap dipunggungnya Kudha Pa- — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 48/b. nandang Kajar, tembus ke dadanya Sri Dewi Muter, akhirnya meninggal beliau suami isteri, Ki Tandalanglang kembali ketempat asalnya. Dengan segera telah dipermaklumkan keadaan sedemikian, kehadapan Dalem Samperangan, tak terhingga kemarahan Dalem, merah mukanya bagaikan dicuci dengan darah, membelalak matanya ibarat keluar api, keluar menuju balairung, menitahkan untuk memukul kentongan, bergema suara kentongan besar si Tankober, datang para menteri beserta rakyatnya siap bersenjata, menghadap kepada Dalem, disana. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 49/a. diberikan perintah untuk menghancurkan puri Tarukan, riuh rendah sorak sorai ganti berganti, berlomba-lomba berangkat, terus dikurung dan dimasuki puri Tarukan itu. Adapun beliau Dalem Taruk telah mengundurkan diri arah keutara, tidak ada orang mengetahuinya. Diceriterakan rakyat Dalem (= Samperangan) sama-sama memasuki puri Tarukan, sebagai pelopor, para menteri yang dikuasakan untuk menghancurkan Dalem Taruk, ada yang memberitahukan bahwa Dalern Taruk telah pergi dari istana sebelum itu, karena itu rakyat dibagi-bagi. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 49/b. semua disuruh mengejarnya, ada yang ke utara, ada yang ke selatan, ada yang ke arah timur, ada yang ke barat, semua berlomba-lomba jalannya. Adapun beliau Dalem Taruk bersembunyi di kubu asramanya Ki Dukuh Pantunan. Kini dikisahkan Kyayi Parembu, adik dari Kyayi Klapodhyana, beliau diperintahkan untuk rnengejar larinya Dalem Taruk, diikuti oleh rakyat dua ratus orang, lengkap sampai dengan senjatanya, serempak dengan cepat jalannya, tanpa istirahat, banyak orang-orang. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 50/a. dusun ditanya tentang larinya Dalem Taruk, semua menjawab serempak : mengaku tidak tahu, sehingga sukar pengejarannya oleh Kyayi Parembu, lanjut pula mereka menyelusuri hutan gunung, lembah yang curam dijalani, guwa yang lebar dilewati, tidak ada bekas-bekas orang bersembunyi, yang didapatkan olehnya, terkatung-katung perjalannya menyelusuri hutan lebat, lapar dahaga dan payah tak terasa, siang dan malam mengembara, entah berapa lamanya didalam hutan gunung, tak bertemu dia yang dicari-cari, sebab beliau Dalem Taruk dirahasiakan. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 50/b. oleh orang-orang gunung, disana Kyayi Parembu beralih tujuan/ pendapat, kembali pulang ke Samperangan, lanjut pulang ke Gelgel, telah dilaporkan hal-ikhwal tidak berhasilnya diutus. Tak henti-hentinya Dalem Samperangan memerintahkan laskarnya untuk menggempur Dalem Taruk, namun tak ada yang berhasil memuaskan, karena amat setianya orang-orang desa dusun, kepada Dalem Taruk tidak ada yang durhaka memberitakan tempat beliau bersembunyi. Entah berapa tahun antaranya, ada. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.51/a. lagi perintah Dalem Samperangan pada Kyayi Parembu, maksud beliau merencanakan kehancurannya Dalem Taruk. Dititahkan agar Kyayi Parembu mengadu ketangkasan/keperwiraan, diberikannya rakyat yang telah terpilih, lengkap dengan senjata serta pakaian tempur, tidak kurang pula perbekalan, semua yang lezat cita rasanya, empat puluh orang jumlah laskarnya Saat itu sedang Dalem Taruk tidak berada di Bunga, sebab beliau telah pergi meninggalkan Poh Tegeh, menuju kesebelah timur Gunung Agung, menetap beliau didesa Sukadana. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.51/b. Dikisahkan Kyayi Parembu tidak membantah perintahnya Dalem, segera berangkat Kyayi Parembu, dengan gagah perkasa beliau bertindak, tujuannya hendak bertanam jasa, melalui pertempuran, bagaikan tak berkasih sayang tingkah lakunya akibat hendak mengabdi kepada raja, diiringkan beliau oleh puteranya yang tertua yang bernama Kyayi Wayahan Kuthawaringin, sedang muda remaja, menimbulkan rasa sayang siapa yang memandang. Riuh rendah sorak-sorai rakyat yang mengiringkan, semua berlomba-lomba menuju pedesaan, hendak mengalahkan. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.52/a. musuh, tak teruraikan didalam perjalanan, telah tiba Kyayi Parembu dicelah gunung Tulukbiyu, ditujunya tempat pertapaan Ki Dukuh Sekar, segera diketahui oleh Ki Dukuh tentang maksud tujuan Sirarya Parembu, selanjutnya Ki Dukuh menanya Sirarya Parembu, seolah-olah tercegat oleh pertanyaan yang menyenangkan, katanya; Ampun Kyayi Arya, apakah gerangan tujuan Sang Arya datang kemari, diiringkan oleh rakyat yang bersenjata, mungkinkah melakukan pengejaran terhadap musuh, silahkan ceriterakan kepada hamba; jawab Kyayi Parembu; Wahai kaki Dukuh...... — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.52/b.saya diperintah/dititahkan oleh Dalem Samperangan, untuk menyerang Dalem Taruk, dosanya menyebabkan wafatnya Raja Puteri: bagaimana Kaki Dukuh andaikata Dalem datang kemari bersembunyi? Segera menjawab Ki Dukuh Sekar : Ampun .... Kyayi, tidak ada Dalem disini, sebab lama sudah beliau berpindah tempat, tidak tahu hamba kemana perginya, dan dimana tempatnya. Setelah demikian aturnya Ki Dukuh Sekar, terus Kyayi Parembu meninggalkan Padukuhan, amat menyesal hatinya mengembara, tidak jelas yang dituju, diiringkan oleh. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 53/a. putera dan rakyatnya semua. Tiba-tiba sampai beliau di Bubung Tegeh, semua menderita kepayahan, akhirnya dihentikan perjalanannya dan beristirahat, disanalah Sirarya Parembu berpikirpikir dalam hatinya, teringatlah beliau akan kepayahan dalam perjalanannya mengembara berkeliling, jangankan ada hasilnya barang sedikit, sebab tidak berhasil Dalem Taruk dibunuh olehnya, itulah sebabnya sangat menyesali keadaan dirinya, karena tidak berjasa dirinya menjelma, bodoh, miskin, dan tak berguna, sebagai tak membalas suatu pemberian, kepada Dalem yang memberikan kesenangan.— / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;.Hal. 53/b. hati, tidak mampulah beliau membalas menyenangkan hati siapa yang memberikan kesenangan, demikian bisikan hati Kyayi Parembu, tiba-tiba menetes air matanya berhamburan, banyak pula rakyatnya ikut bersedih karena kesedihan Kyayi Parembu serta puteranya, lalu mereka berkata, : ampun Sang Arya, betapa tidak Sang Arya bersusah hati, kami semua mengetahuinya, berkat tujuan hati Sang Arya diiringkan oleh hamba, untuk mengejar perjalanan larinya Dalem Taruk, tetapi ternyata tidak berhasil dijumpa sampai sekarang, barangkali. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 54/a. Sanghyang Widhi menganugerahkan untuk hidup kepada beliau, sehingga beliau yang dicari tidak berjumpa; sebab kematian dan hidup tidak boleh diganggu gugat, bila tidak ditakdirkan untuk mati oleh Sang Hyang Tuduh, pasti akan hidup... tidak mudah untuk dibunuh, bila telah ditakdirkan untuk mati oleh Sanghyang Titah, pasti menemui ajalnya, tidak mungkin nyawa itu disambung, demikianlah hendaknya Kyayi Arya berpikir dalam hati. Tenangkanlah hati Paduka Kyayi Arya, : demikian sembah rakyatnya menghibur kesusahan hatinya, ( = Kyayi Parembu). Jawaban Kyayi Parembu, : hai... kamu rakyat semua... —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 54/b. benar sungguh seperti katamu itu, tidak ada yang mampu mematahkan takdir Ida Sanghyang Widhi, hanya beliau yang mentakdirkan mati atau hidup, buruk dan baik, demikian pula ungkapan orang banyak, adapun sebagai kamu dan aku sekarang, pasti menderita malu dalam hati, itu yang meyakitkan hatiku, tak dapat dihiburkan, rasa malu yang berlebihan itu penyakit yang terkeras, itulah sebabnya aku, tidak hendak kembali pulang ke kota, lebih baik aku disini berdiam diri di pedesaan ( = gunung ), sampai mati ....... —/— &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 55/a. Demikian kata Kyayi Parembu, lalu dia menetap disana bersama anaknya, Kyayi Wayahan Kuthawaringin, berumah di Bubung Tegeh, ikut pula rakyatnya yang tinggal dua puluh orang sama-sama mendirikan rumah disitu. Adapun rakyatnya yang lain, disuruh kembali pulang ke kota, supaya ada yang mempermaklumkan kepada Kyayi Puntha Klapodhyana di Gelgel, semua keadaannya (= Kyayi Parembu) dihutan pegunungan. Tidak berselang lama, terdengar beritanya Kyayi Parembu oleh Kyayi Lurah Poh ..... —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 55/b. Tegeh, dari sebab itu segera dikirim utusan untuk mengundang Kyayi Parembu, tidak diceriterakan dalam perjalanan dia yang diutus, sudah sampai dikediaman Kyayi Parembu, sedang dihadap oleh anaknda, lanjut berkata utusan itu, : Ampun .... Kyayi Arya, hamba disuruh untuk menghadap oleh Rakanda Kyayi Arya, Sira Kyayi Poh Tegeh, agar supaya Ki Gusti menghadap hari ini juga. Disana berpikir-pikir Kyayi Parembu, sebab tidak disangka-sangka kedatangan utusan ( = dipanggil), bingung olehnya berpikir, sebab didengar kabarnya... —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 56/a. Kyayi Poh Tegeh memihak Dalem Taruk, lalu menjawab pada utusan, : hai kamu utusan, beritahukan kepada tuanmu, saya akan menghadap besok. Setelah kembali utusan itu, berundinglah Kyayi Parembu bersama anak dan rakyatnya, memikirkan ( = memperkirakan) kunjungannya besok, saling memberikan pertimbangan/persetujuan, tak terhitung panjang perundingannya, disela oleh suara ayam ditengah malam, tinggalkan mereka yang berunding —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.56/b. Dikisahkan Kyayi Wayahan Kuthawaringin, termangu-mangu ia dikala fajar hari,terkenang-kenang akan impiannya, sedang bercengkrama diatas gunung didatangi oleh seorang bidadari, cantik molek remaja, Hyang Saraswati menjelma, mungkin suatu tanda yang baik firasat impiannya. — o — Dikisahkan dia (= Kyayi Parembu) yang diundang agar menghadap, telah tiba dirumah Kyayi Poh Tegeh, sopan ramah dan manis sambutannya Kyayi ( = Poh Tegeh), : syukur sekali dinda datang memenuhi undangan kanda, demikian pula anakku Kuthawaringin, kini pertama kali anaknda mengetahui pamanmu, dan kakakmu Si Poh Landung. —/—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.57/a. Terdiam semua, tidak seorangpun bercakap, terkenang-kenang pada leluhurnya dahulu JAYAKATHA dan JAYAWARINGIN, dilarikan ke daerah Tumapel, pada waktu kalahnya Jayakathong dalam pertempuran. Hanya tetesan air mata mengalir diatas pipi, sepi ..... tak ada yang bercakap. Beberapa saat antaranya kembali lagi mereka berbincang-bincang, disanalah Kyayi Parembu menceriterakan tentang kehinaan dirinya menjelma, bodoh, miskin, dan tak berguna, bagaikan tak membalas jasa ( = pemberian), tidak mampu menunaikan perintah Dalem Samperangan. Segera dicegah .... — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal.57/b. oleh Kyayi Poh Tegeh, : Wahai ....... dinda, tidak ada jalan bagi dinda untuk menyesali diri, sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi, dan kejayaan serta kebahagiaan suatu negara tidak hanya ditempuh melalui pertumpahan darah, lebih bagus alihkan jalan pikiranmu, kenangkan dijaman yang silam, ayahmu datang ke Bali, tidak ada lain, kejayaan dan kebahagian negara melulu yang diciptakannya dengan jalan watak kepemimpinan yang dicintai rakyat, mendampingi Dalem yang baru tiba ( = Dalem Ketut Kresna Kepakisan), sekarang Dalem hanya bertengkar dengan saudara kandung, hendaknya sabar dan bijaksana juga olehmu berpikir, sehingga tidak. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 58/a. telanjur berbuat. Panjang sekali bila diceriterakan tentang wawancara mereka, serta jamuannya Kyayi Poh Tegeh, karena permulaan bersua, selanjutnya mohon diri pamitan Kkyayi Parembu, diiringkan oleh putera beserta rakyatnya, menuju tempat tinggalnya masing-masing, tinggallah Kyayi Wayahan Kuthawaringin tak terhiburkan hatinya, tidak berminat untuk makan dan minum, siang malam melamun (= menghayal), karena tertikam lubuk hatinya oleh panah utamanya Sanghyang Semara, yang dilepaskan dari relung kalbunya Winiayu Luh Toya, anaknda. — /—&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 58/b. Kyayi Poh Tegeh. Demikian pula yang tinggal di Poh Tegeh, sama-sama jatuh cinta, tak terkendalikan. Entah berapa bulan lamanya mereka yang ibarat Sanghyang Semara Ratih menanggung kerinduan dalam lubuk hatinya, akhirnya semufakat setuju kedua orang tua mereka, lalu dinikahkan mereka dengan segala tata upacara pernikahan. Setelah lama bersuami isteri, kemudian berputera dua orang laki-laki, yang sulung bernama Kyayi Panidha Waringin, mening-gal dunia semasih jejaka tanpa keturunan, adiknya bernama. — / — &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 59/a. Kyayi Tabehan Waringin, menetap diam di Bubung Tegeh bersama ayahndanya. – o – Tinggalkan ceritera mereka yang berada di Bubung Tegeh, kini ceriterakan mereka yang berada di Sweca-linggarsapura, beliau Sri Aji Semara Kepakisan, sudah datang waktu perjanjiannya (= ajal), berpulang ke alam baka, sapangrenga sang dwipak sumirat agni kadi surya : ( = sebuah candra sengkala yang mungkin artinya sebagai berikut : sapangrenga = 2, sang dwipak = 8, agni = 3, surya = 1), jadi Isaka 1382 = 1460 A.D. digantikan oleh Watur Ra Enggong putera mahkota beliau, yang telah dijadikan Rajamuda sejak; suniya menghalaning tri buana (=sebuah candra sengkala yang mungkin artinya sebagai berikut : suniya = 0, manghala = 8, tri = 3, buana = 1). Jadi Isaka 1380 = 1458 A.D. Selama Sri Aji Watur Ra Enggong menjadi raja. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 59/b. Bali, amat berwibawa beliau menjadi junjungan, benar-benar bagaikan keberanian singha, bijaksana menguasai kehendak rakyat, tak terkatakan kemakmuran kerajaan dan wilayahnya, ketularan oleh ketinggian dharma Sang Maharaja, semua memuji bahwa sangat bijaksana Dalem. Lebih-lebih beliau seorang pemberani, sakti dan unggul dalam peperangan. Harimurti perumpamaan diri beliau pada saat bertangan empat (=Catur Buja). Adapun para bahudandha dan perdana menteri dahulu semua telah lanjut usia, banyak pula yang telah meninggal dunia, itulah anak-anaknya semua yang mengganti, tetap kedudukannya seperti sediakala, diantaranya Kyayi Batan Jeruk, putera. — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 60/a. dari Kriyan Petandhakan, dia perdana menteri yang terkemuka, juga Kyayi Lurah Abian Tubuh, putera dari Kyayi Klapodhyana, patih jabtannya, Kyayi Lurah Karang Abiyan, adik dari Kyayi Lurah Abian Tubuh, menjabat menjadi Bandhesa, berpangkat demung, Kyayi Brangsingha Pandita menjabat sekretaris. Para menteri semua selain dari pada itu, semua menetap pada kedudukannya, seperti dulu orang-orang tua kawitannya, taat olehnya mengukuhkan jabatan menteri. Dan sama-sama telah menghasilkan keturunan yang uttama : Kyayi Lurah Abiyan Tubuh berputera seorang — / —&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000000"&gt;Hal. 60/b. anak laki-laki, bernama KYAYI KUBON KELAPA. Kyayi Lurah Karang Abiyan, berputera laki-laki dua orang, yang sulung bernama KYAYI WAYAHAN SANGGARA, adiknya ( = putera no. 2 ) KYAYI ALIT NAGARA, keduanya mengikut orang tua berumah di Gelgel. Adapun putera Kyayi
