Minggu, 04 September 2011

PURA DALEM TUGU, PURA MRAJAN KAWITAN DAN PURA WARINGIN

Uraian dalam postingan ini dengan judul seperti tercantum diatas bersumber dari uraian dalam Lampiran V Buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007 yang berjudul : Pura-Pura Pusat Penyungsungan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin. Disamping itu perlu pula dipermaklumkan bahwa uraian tentang keberadaan pura-pura seperti dimaksud pada judul postingan ini sudah pula disinggung dalam uraian beberapa postingan terdahulu yaitu :
  • Postingan tertanggal 17 Oktober 2010 yang berjudul : Peristiwa Sejarah dan Peranserta Sira Arya Kuthawaringin Beserta Keturunnannya.
  • Postingan tertanggal 17 Oktober 2010 dengan judul : Peristiwa Sejarah dan Pura Yang Berdiri.
  • Rangkaian Postingan-Postingan tentang Raja Purana Pura Dalem Tugu yang telah dipublis mulai dari postingan tertanggal 31 Oktober 2010 sampai dengan postingan tertanggal 29 Januari 2011.
Berbeda dengan uraian dalam postingan-postingan terdahulu seperti termaksud diatas, uraian yang disajikan dibawah ini terutama dimaksudkan untuk menunjukkan keterkaitan diantara ketiga pura yang dimaksud pada judul postingan ini.
Dilihat dari tokoh pendiri masing-masing pura dari ketiga pura tersebut yaitu Pura Dalem Tugu di Gelgel, Klungkung yang didirikan oleh Sira Arya Kuthawaringin; Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh di Gelgel, Klungkung yang didirikan oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel dan Pura Waringin di Desa Waringin, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang didirikan oleh Kyayi Wayahan Kuthawaringin yaitu putera sulung Kyayi Gusti Parembu, adalah pura-pura yang secara geneologis terkait satu dengan lainnya, dengan Pura Dalem Tugu sebagai pusatnya.
Pemahaman tentang sejarah pendirian, status, fungsi dan sebutan dari ketiga pura termaksud bagi para sameton pratisentana Sira Arya Kuthawaringin diperlukan untuk lebih memantapkan hati dalam menentukan urutan prioritas pura yang akan dituju untuk melaksanakan kewajiban berbhakti kepada leluhur dalam kerangka konsep Tri Rna sesuai dengan inti tattwa Agama Hindu yang terhimpun dalam Panca Srada.
Oleh karena itu uraian selanjutnya akan berkisah tentang sejarah berdiri beserta pendirinya, status, fungsi dan sebutan masing-masing dari ketiga pura termaksud.
1. Pura Dalem Tugu
a.Sejarah berdirinya Pura Dalem Tugu.
Kata Dalem dari nama Pura Dalem Tugu berasal dari kata Dalem dari Kahyangan Dalem Desa yang juga disebut Dalem Jagat dan kemudian lumrah dikenal sebagai Dalem Suci. Kahyangan termaksud merupakan sthana Sang Hyang Amurwabhumi dan sudah ada sebelum munculnya Kahyangan Tiga. Sedangkan Dalem Pangulun Setra atau Dalem Cungkub yang merupakan salah satu unsur (pura) dari Kahyangan Tiga, merupakan sthana Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Durga Bhairawi. Dengan demikian Dalem Desa , Dalem Jagat atau Dalem Suci yang merupakan cikal-bakalnya pura yang kemudian dikenal dengan nama Pura Dalem Tugu, bukanlah Dalem Pangulun Setra.
Sedangkan kata Tugu dari nama Pura Dalem Tugu tersebut berasal dari Palinggih Sang Hyang Tugu (Sang Hyang Ghanapati) yang didirikan dibagian utara dalam palemahan Pura Dalem Suci termaksud, dimana I Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama para arya lainnya berikrar (madewasaksi) untuk membulatkan sikap dikalangan para pejabat kerajaan sebelum menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa Pandak untuk mohon kesediaan beliau dinobatkan menjadi Dalem pengganti Dalem Ile.
Proses sejarah dari Kahyangan Dalem Desa, Dalem Jagat atau Dalem Suci menjadi Pura Dalem Tugu seperti dimaksud diatas, berjalan seiring dengan perjalanan hidup beserta kiprah peranan Sira Arya Kuthawaringin beserta putera-putera beliau dalam perjalanan sejarah pemerintahan Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel, seperti ilustrasi singkat dibawah ini.

Pura Dalem Jagat tersebut didirikan oleh Sira Arya Kuthawaringin beberapa lama setelah beliau menjabat Penguasa Wilayah (Amanca Agung), Wilayah Tenggara Bali berkedudukan di Gelgel dengan rakyat 5.000 orang. Wilayah Kemancaan Agung itu meliputi : Gelgel, Kamasan, Tojan hingga pantai Klotok, Dukuh Nyuhaya, Kacangpaos (Kacangdawa), Siku sampai Klungkung. Penugasan dengan jabatan Amanca Agung tersebut diterima sesuai pembagian tugas kepada 15 orang Arya sebagai penguasa wilayah atas nama Kerajaan Majapahit. Pembagian tugas itu dilakukan oleh Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1343 M., yaitu setelah Bali takluk di bawah Kerajaan Majapahit yang merupakan buah kemenangan dari apa yang dikenal dengan peristiwa ekspedisi Gajah Mada ke Bali dimana Sira Arya Kuthawaringin merupakan salah seorang Arya dari 7 orang Arya yang mendampingi Maha Patih Gajah Mada dalam ekspedisi tersebut.
Fungsi semula dari Kahyangan Dalem Jagat atau Dalem Suci tersebut adalah tempat pemujaan Sang Amanca Agung di Gelgel, dimana beliau memuja Sang Hyang Parama Wisesa dalam prabawanya sebagai Sang Hyang Amurwabhumi yang bersthana di palinggih Gedong Bata.
Setelah Dalem Ketut Kresna Kepakisan bertakhta di Bali sejak tahun 1352 M., Amanca Agung Sira Arya Kuthawaringin, juga menjabat Adhi Patih dan merangkap kedudukan sebagai Tumenggung pula.
Sira Arya Kuthawaringin menurunkan 4 orang putera, yaitu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel (kemudian juga bergelar I Gusti Kubontubuh dan/atau Kyayi Gusti Klapodhyana), Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin.
Sira Arya Kuthawaringin lanjut usia, jabatannya digantikan oleh putera sulungnya, yaitu I Gusti Agung Bandhesa Gelegl dengan jabatan Patih Utama.
Sira Arya Kuthawaringin wafat di Gelgel beberapa lama setelah putra sulung beliau sudah menggantikan jabatan beliau seperti telah diuraikan diatas. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun-tahun akhir dari periode pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1352-1380 M. Sebagai kelanjutan dari proses upacara “Palebon lanjut dengan Baligia dan Atma Pratista-nya yang diselenggarakan oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel bersama seluruh saudara dan sanak keluarganya di Gelgel, Roh Suci Sira Arya Kuthawaringin disthanakan (dhinarmma) di Kahyangan Dalem Suci tersebut diatas, pada palinggih babaturan.
Pembangunan palinggih Sang Hyang Tugu dalam Kahyangan Dalem Suci seperti telah diuraikan diatas dilakukan oleh I Gusti Agung Bandhesa Gelgel atas restu Dalem Ketut Smara Kepakisan beberapa lama setelah beliau dinobatkan pada tahun 1383 M. sebagai Raja (Dalem) kepertama dalam zaman Kerajaan Gelgel. Dengan demikian palinggih Tugu tersebut memiliki fungsi sebagai saksi dari peristiwa bersejarah yang atas inisiatip I Gusti Agung Bandhesa Gelgel akhirnya berhasil mengantarkan Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke takhta kerajaan sehingga dinobatkan dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan pada tahun 1383 Masehi.
Setelah dibangunnya Tugu tersebut Kahyangan Dalem Desa, Dalem Jagat atau Dalem Suci termaksud kemudian lebih dikenal dengan nama Kahyangan (Pura) Dalem Tugu.
Setelah kembali dari menjalankan perintah Dalem, membunuh macan selem di Blambangan, Kyayi Gusti Klapodhyana diingatkan dengan sangat (winehan) oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan, agar memugar dan mangupapira Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Pada saat pemugaran itulah Kyayi Gusti Klapodhyana memugar palinggih padharman yang semula masih berbentuk babaturan menjadi Meru Tumpang Tiga yang dibangun di sebelah utara palinggih Gedong Bata, di sebelah selatan palinggih Sang Hyang Tugu.
b.Status Pura Dalem Tugu.
Status Pura Dalem Tugu diyakini merupakan Pura Kawitan/Padharman, berdasarkan historis dari proses berdirinya pura tersebut seperti diuraikan pada butir a diatas.
Diyakini memiliki status Pura Padharman, karena roh suci Sira Arya Kuthawaringin distanakan (kata “padharman” berasal dari kata dhinarmma yang artinya distanakan atau dilinggihang) pada palinggih Meru Tumpang Tiga yang dibangun di sebelah utara palinggih Gedong Bata, di sebelah selatan palinggih Tugu di Pura Dalem Tugu seperti diuraikan diatas.
Diyakini memiliki status Pura Kawitan, karena :
1).Yang dilinggihang (dhinarmma) di pura tersebut adalah roh suci Sira Arya Kuthawaringin yang merupakan leluhur (yang menurunkan Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi Gusti Parembu, Kyayi Gusti Candi dan I Gusti Ayu Waringin) pangked yang paling atas yang datang dan jenek di Bali. Kata “kawitan” berasal dari wit yang artinya asal-usul, dalam konteks Pura Kawitan arti kata wit adalah leluhur sehinga Pura Kawitan merupakan tempat pemujaan leluhur.
2).Leluhur pangked berikutnya, diyakini ngiring leluhur pangked yang paling atas (Bhatara Kawitan) pada sthana beliau di palinggih Meru Tumpang Tiga di Pura Dalem Tugu.
c.Fungsi Pura Dalem Tugu.
Fungsi Pura Dalem Tugu adalah :
1).Pusat Penyungsungan bagi seluruh Pratisentana Sira Arya Kuthawaringin, karena dalam Babad Arya Kuthawaringin terungkap bahwa upacara “Palebon lanjut dengan Baligia dengan Atma Pratista” Sira Arya Kuthawaringin di Gelgel, diselenggarakan oleh seluruh putra beliau, yaitu tidak hanya oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel (putra sulung yang selanjutnya menurunkan warga Kubontubuh-Kuthawaringin) tetapi bersama kedua adik beliau, yaitu Kyayi Gusti Parembu dan Kyayi Gusti Candi.
2).Juga berfungsi sebagai saksi sejarah berdirinya Kerajaan Gelgel dengan adanya Palinggih Sang Hyang Tugu (Sang Hyang Ghanapati) yang dibangun dibagian utara dalam palemahan Pura Dalem Tugu tersebut.
d.Sebutan untuk Pura Dalem Tugu.
Berdasarkan sejarah berdirinya, status dan fungsinya seperti diuraikan pada butir a, b dan c diatas , sesuai dengan isi Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004 beserta penyempurnaannya, maka sebutan yang tepat untuk dicantumkan pada papan nama Pura Dalem Tugu adalah :
PURA DALEM TUGU
PURA KAWITAN/PADHARMAN
SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH
2. PURA MRAJAN KAWITAN
a.Sejarah berdirinya Pura Mrajan Kawitan.
Kapan didirikan dan siapa pendiri dari Pura Mrajan Kawitan dapat disimak dari kutipan uraian yang tercantum dalam Lampiran IVB. Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh seperti dibawah ini :
”Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan pada tahun saka 1305 (1383
M) dengan gelar Dalem Sri Smara Kepakisan, berkedudukan di
Gelgel yang kemudian bernama Swechalinggarsapura.

I Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Patih Utama, menyerahkan puri-
nya (Istana Kepatihan) kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan
untuk dijadikan Istana Dalem di Gelgel, kemudian beliau pindah/
membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamrajan
nya di sebelah barat daya Istana Kepatihan terdahulu yang sudah
menjadi Istana Dalem atau di sebelah utara Kahyangan Dalem Suci
tempat pemujaan beliau, yaitu di tegalan Abyan Kawan yang dita
nami pohon kelapa. Sejak itu beliau juga bergelar Kyayi (I Gusti)
Kubontubuh atau Kyayi (I Gusti) Klapodhyana.

Mrajan dari puri barunya ini diyakini merupakan Pura Mrajan yang
diwariskan kepada pratisentananya hingga sekarang yang sesuai
Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubon
tubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tgl. 25 Januari 2004 dise-
but Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh”.

b.Status dari Pura Mrajan Kawitan
Status dari pura ini yang dahulu sering pula disebut Pura Pesimpenan adalah Pura Mrajan Kawitan, karena secara historis pura tersebut diyakini berasal dari mrajan pada puri (Istana Kepatihan) baru yang dibangun oleh Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel di tegalan Abian Kawan setelah purinya (Istana Kepatihan) yang lama diserahkan kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan untuk dijadikan Istana Dalem (Keraton) di Gelgel.
c.Fungsi Pura Mrajan Kawitan
Fungsi Pura Mrajan Kawitan adalah Pusat Penyungsungan bagi Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin yaitu keturunan dari Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang juga bergelar Kyayi Gusti Klapodhyana atau I Gusti Kubontubuh.
d.Sebutan untuk Pura Mrajan Kawitan
Berdasarkan sejarah berdirinya, status dan fungsinya seperti diuraikan dalam butir a, b dan c diatas, sesuai dengan isi Ketetapan Pesamuan Pusat Khusus Pratisentana Sira Arya Kubontubuh Propinsi Bali No.I/PPK-PSAK/2004 tanggal 25 Januari 2004 beserta penyempurnaannya, maka sebutan yang tepat untuk dicantumkan pada papan nama Pura Mrajan Kawitan adalah :
PURA MRAJAN KAWITAN
PRATISENTANA SIRA ARYA KUBONTUBUH
3. PURA WARINGIN
a.Sejarah berdirinya Pura Waringin.
Pura Waringin di Desa Waringin-Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem didirikan oleh Kyayi Wayahan Kuthawaringin, yaitu putera sulung Kyayi Gusti Parembu. Sedangkan Kyayi Gusti Parembu itu adalah adik kandung dari Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel yang juga bergelar I Gusti Kubontubuh atau Kyayi Gusti Klapodhyana yang menurunkan Warga Kubontubuh yang kini terhimpun dalam wadah organisasi yang bernama Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin.
Pura ini didirikan setelah Kyayi Gusti Parembu wafat, sebagai kelanjutan dari proses upacara plebon-baligia-atmapratista di Desa Waringin, dimana beliau bermukim sejak gagal menjalankan tugas untuk mengejar Dalem Tarukan atas perintah Dalem Ile. Berdasarkan proses pendirian pura tersebut, maka yang disthanakan di Pura Waringin itu tentunya roh suci almarhum Kyayi Gusti Parembu dan bukanlah roh suci Sira Arya Kuthawaringin (ayahandanya Kyayi Gusti Parembu). Kesimpulan ini lebih diperkuat dengan adanya kalimat dalam Babad Arya Kuthawaringin yang mengatakan bahwa di Pura Waringin itu “tidak ketinggalan” juga dibangun palinggih untuk memuja arwah almarhum Sira Arya Kuthawaringin. Adanya kata-kata “tidak ketinggalan” dalam kalimat tersebut menunjukkan pengertian bahwa palinggih yang dibangun untuk memuja arwah almarhum Sira Arya Kuthawaringin itu hanyalah merupakan palinggih pasimpangan (pengayengan) dan bukan palinggih dimana secara historis roh suci beliau disthanakan dalam rangkaian proses upacara palebon-baligia-atmapratistanya di Pura Dalem Tugu seperti yang sudah diuraikan pada butir 1 diatas.
Kesimpulan tersebut akan menjadi lebih meyakinkan lagi bila dilihat dari periode peristiwanya, dimana wafatnya Kyayi Gusti Parembu beserta pendirian Pura Waringin itu diperkirakan baru terjadi pada akhir periode pemerintahan Dalem Ketut Smara Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1383-1460M. atau pada awal periode pemerintahan Dalem Waturenggong yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1460-1550M. Sedangkan wafatnya beserta proses mensthanakan roh suci Sira Arya Kuthawaringin di Pura Dalem Tugu telah terjadi lama sebelum Pura Waringin itu didirikan, yaitu pada tahun-tahun akhir dari periode pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang memerintah dalam kurun waktu tahun 1352-1380M. seperti sudah pula diuraikan pada butir 1 diatas.
b.Status Pura Waringin.
Sesuai dengan terminologi yang dipakai dalam sebutan pura ini oleh pengemponnya, status Pura Waringan adalah Pura Dalem Kawitan.
c.Fungsi Pura Waringin.
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan diatas, menjadi jelas bahwa Pura Waringin itu memiliki fungsi sebagai pura pusat penyungsungan bagi seluruh pratisentana Kyayi Gusti Parembu.
d.Sebutan Untuk Pura Waringin.
Oleh pengemponnya sebutan yang diberikan untuk pura ini adalah : Pura Dalem Kawitan Sira Arya Kuthawaringin. Tetapi bila dilihat dari tokoh yang disthanakan di pura termaksud, lebih tepat kiranya bila sebutan untuk pura itu adalah :
PURA DALEM KAWITAN
KYAYI GUSTI PAREMBU
, meskipun di pura tersebut memang ada palinggih pasimpangan (pengayengan) untuk memuja roh suci Sira Arya Kuthawaringin seperti sudah diuraikan pada butir a. diatas.
Demikianlah keberadaan dan keterkaitan antara ketiga pura yang telah diuraikan diatas.
Semoga para sameton pratisentana Sira Arya Kuthawaringin, baik yang merupakan warih Kubontubuh-Kuthawaringin, warih Parembu-Kuthawaringin maupun warih Candhi-Kuthawaringin, setelah membaca uraian diatas mudah-mudahan dapat lebih memantapkan hati dalam melaksanakan kewajiban berbhakti kepada leluhur dalam kerangka konsep Tri Rna pada pura-pura termaksud.
Terima kasih atas kunjungan Anda ke Blog-ku ini. Bila berkenan, komentar dan atau saran Anda dibutuhkan demi untuk penyempurnaan Blog yang saya kelola ini. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

P     e     n     u     l     i     s,

(I Made Pageh Suardhana)

9 komentar:

  1. Tabek pakulun para leluhur tyang..
    .Ampure png sire arya kuthwaringin siapa ayahnya?? Ketrunannya darimana?? Sekali lagi ampure

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arya kutawaringin ayah nya bernamA sri siwa wandira ayahnya bernama sri jaya baya dan sri jaya baya anaknya prabu airlangga dan dan airlangga ayahnya bernama udayana dan udayana anaknya sri kesari warma dewa dan sri kesari warma dewa anaknya mauli mulawarman dan mauli mulawarman anaknya maha raja manu kalau ga salah seperti nike yang tiyang tau,Ampure kalau tiyangπŸ™πŸ™

      Hapus
    2. Arya kutawaringin ayah nya bernamA sri siwa wandira ayahnya bernama sri jaya baya dan sri jaya baya anaknya prabu airlangga dan dan airlangga ayahnya bernama udayana dan udayana anaknya sri kesari warma dewa dan sri kesari warma dewa anaknya mauli mulawarman dan mauli mulawarman anaknya maha raja manu kalau ga salah seperti nike yang tiyang tau,Ampure kalau tiyang salah πŸ™πŸ™πŸ™

      Hapus
    3. Arya kutawaringin ayah nya bernamA sri siwa wandira ayahnya bernama sri jaya baya dan sri jaya baya anaknya prabu airlangga dan dan airlangga ayahnya bernama udayana dan udayana anaknya sri kesari warma dewa dan sri kesari warma dewa anaknya mauli mulawarman dan mauli mulawarman anaknya maha raja manu kalau ga salah seperti nike yang tiyang tau,Ampure kalau tiyang salah πŸ™πŸ™πŸ™

      Hapus
    4. Arya kutawaringin ayah nya bernamA sri siwa wandira ayahnya bernama sri jaya baya dan sri jaya baya anaknya prabu airlangga dan dan airlangga ayahnya bernama udayana dan udayana anaknya sri kesari warma dewa dan sri kesari warma dewa anaknya mauli mulawarman dan mauli mulawarman anaknya maha raja manu kalau ga salah seperti nike yang tiyang tau,Ampure kalau tiyang salah πŸ™πŸ™πŸ™

      Hapus
    5. Ayah dari sira arya kuthawaringin manut ring babad dalem dan babad arya kuthawaringin bernama sira arya kuthawandira. terus di atasnya bernama sri jaya waringin,sri siwa wandhira,sri jaya bhaya,sri erlangga,sri kameswara, sri dharmawangsa teguh ananta wikrama tungga dewa, srikameswara paradewasikan, sri werti kandayun, sri jaya langit, rahyang di maharaja manu ( era medangkemulan th 530 caka )
      dumogi bermanfaat ...

      Hapus
  2. Om Swastyastu, sampai saat ini tyang blum paham, kenapa pratisentana sira arya kubontubuh, ada yg tdk memakai nama gusti/gusti agung...??? Om Santih Santih Santih Om.

    BalasHapus
  3. Om Swastyastu, sampai saat ini tyang blum paham, kenapa pratisentana sira arya kubontubuh, ada yg tdk memakai nama gusti/gusti agung...??? Om Santih Santih Santih Om.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Om swastyastu...
      Nama Gusti/gusti agung bukanlah sebuah kasta
      Gusti /gusti agung dalam trah sira arya kuthawaringin hanyalah sebuah nama, dgn bukti ide lelangit kita yaitu sira arya kutha waringin tdk memakai nama gusti/gusti agung sampai diatas leluhur beliau satupun tdk memakai kata gusti, nama gusti baru ada setelah anak2 beliau ( pangked ke dua)yg perempuan bernama i gusti ayu Waringin yg di peristri oleh ide dalem kresna kepakisan, kemudian cucu beliau atau adik dari kyayi kelapodyana/sira arya kubontubuh yg bernama igusti ayu Midar ( pangked ke tiga ) selanjutnya pangked ke 4 dn sterusnya tdk ada yg memakai gusti tetapi lebih banyak memakai nama kyayi .
      Kalau trah Kuthawaringin di bilang nyineb wangsa secara mutlak sdh terpatahkan, krn sudah dari jawa majapahit beliau tdk memakai kasta gusti , sedangkan jaman pemberontakan ki agung maruti yg di bilang leluhur kita nyineb wangsa menurut babad dan prasasti yg tertulis di pekandelan terjadi pada generasi/pangked yg ke 7, yaitu jaman nya Kyayi Lurah Abian Tubuh atau Ki Jumbuh pada Th 1663 M.
      ampure yening tyg iwang....

      Hapus