Kamis, 06 Januari 2011

IV.6 TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA PURA DALEM TUGU

Adapun Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, berpindah tempat tinggal membangun istana kepatihan yang baru di sebelah baratdaya istana beliau terdahulu, di sebidang tegalan (Abyan Kawan) yang ditanami pohon kelapa di sebelah utara Pura Dalem Jagat kahyangan tempat pemujaan beliau. Dalam waktu singkat selesai pembangunan istananya yang dibangun menurut tata aturan istana yang disebut Istana Kepatihan, beserta Pamrajan, tidak ada kekurangannya lengkap dengan tata upacara menurut widhi widhana untuk upacara sebuah kahyangan. Mulai saat itu Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel diberi nama Kubontubuh atau Klapodhyana sehingga di masyarakat lebih dikenal dengan nama I Gusti Kubontubuh atau Kyayi Gusti Klapodhyana semenjak beliau pindah istana yang berlokasi di abian kawuhan (Abian Kawan). Kemudian atas restu Dalem Smara Kepakisan, dan didukung para arya semua dibangunlah “Tugu” sebagai sthana Sang Hyang Tugu, beliaulah Sang Hyang Ghanapati, sebagai saksi dunia ini, karena berhasil mendapat kesepakatan disertai “Dewasaksi” kesetiaan akan janji membela negeri bila ditimpa mara bahaya pada saat menjelang pengangkatan Ida I Dewa Ketut Ngulesir sebagai pelindung rakyat Bali yang bergelar Dalem Ketut Smara Kepakisan. Adapun Tugu itu dibangun di sebelah utara Gedong Bata, di Pura Dalem Jagat. Di Pura Dalem Jagat itu pula, tempat “Dhinarmma” roh suci almarhum Siraryya Kuthawaringin, yaitu di pura yang dibangun oleh almarhum dahulu. Oleh karena itu Dalem Ketut Smara Kepakisan menekankan (mengingatkan dengan sangat) supaya Kyayi Klapodhyana beserta saudaranya semua agar me- ngupapira Pura Dalem Jagat tersebut dengan segala upacaranya. Semenjak dibangunnya palinggih Tugu itulah yang menyebabkan Kahyangan Dalem Jagat itu disebut Pura Dalem Tugu untuk selanjutnya. Kemudian akhirnya dibangun pula sebuah meru tumpang tiga oleh Kyayi Klapodhyana, di sebelah utara Gedong Bata, di sebelah selatan Tugu, sebagai “Padharmman” Siraryya Kuthawaringin.

Diceritakan Dalem Ketut Smara Kepakisan teringat pada anak-anaknya Dalem Tarukan, beliau berkeinginan agar mereka berkenan menghadap Dalem. Beberapa kali telah dikirim utusan pada mereka, namun tidak berhasil. Pendekatan kekeluargaan sudah diupayakan tetapi tidak pula berhasil sehingga akhirnya timbul peperangan sengit. Pada akhirnya Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel Kubontubuh, bersama prajurit dan tandamanteri menyerang desa-desa dan dusun tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim. Semua desa tersebut akhirnya takluk dan putera-putera Dalem Tarukan tunduk kepada titah Dalem untuk datang menghadap Dalem di Gelgel. Mulai saat itu Sirarya Parembhu yang bertempat tinggal di Bubungtegeh, setiap saat pulang ke Gelgel bersama-sama ikut memelihara kahyangan tempat pemujaannya sejak dahulu yaitu Pura Dalem Tugu. Tidak diceritakan lagi hal itu.
Butir-butir peristiwa sejarah yang perlu disimak dari uraian dalam postingan IV.6 diatas beserta makna yang terkandung didalamnya terutama yang terkait dengan unsur-unsur bagian isi suatu purana pura, pada intinya adalah sebagai berikut :
  1. Karena Istana Kepatihannya diserahkan kepada Dalem, Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamerajan di Tegalan yang ditanami banyak pohon kelapa, disebelah utara Kahyangan Dalem Jagat panyiwian beliau. Kini Pamerajan ini, sesuai status dan fungsinya pesamuan pusat khusus menetapkan sebutannya menjadi : Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh. Lokasinya disebelah utara Pura Dalem Tugu di Gelgel-Klungkung.
  2. Karena istana Kepatihan yang baru itu berlokasi ditegalan yang ditanami banyak pohon kelapa, semenjak itu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel juga bergelar I Gusti Kubontubuh dan atau Kyayi Gusti Klapodhyana. Perlu dicatat bahwa penulisan nama-nama atau gelar-gelar : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi (Gusti) Klapodhyana atau I Gusti Kubontubuh dalam teks Raja Purana Pura Dalem Tugu dilakukan secara runut-kronologis sesuai dengan tahapan waktu (sejarah) munculnya nama/gelar termaksud. Sedangkan penulisan nama-nama atau gelar-gelar tersebut dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007 tidaklah runut-kronologis seperti itu.
  3. Dengan restu Dalem Ketut Smara Kepakisan serta dukungan para arya semua, Kyayi Gusti Klapodhyana membangun Palinggih Tugu (sthana Sang Hyang Tugu atau Sang Hyang Ghanapai, sebagai saksi diatas dunia) di sebelah utara palinggih Gedong Bata atau di sebelah selatan palinggih Padma Agung di Kahyangan Dalem Jagat dimana sebelum berangkat ke Desa Pandak dilakukan upacara pedewasaksian (ikrar atas kesepakatan) untuk memjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Semenjak dibangunnya palinggih Tugu itulah Kahyangan Dalem Jagat yang didirikan oleh Almarhum Sirarya Kuthawaringin itu lalu disebut Pura Dalem Tugu hingga kini. Pada zamannya Palinggih Tugu termaksud disungkemin oleh para Arya yang ikut berikrar (medewasaksi) seperti diuraikan diatas sehingga sampai kini masih ada pratisentana dari Arya selain Arya Kuthawaringin yang masih ngelungsur Tirtha di Pura (Dalem) Tugu pada saat menyelenggarakan upacara tertentu di Pamerajannya.
  4. Dalem Ketut Smara kepakisan mengingatkan Kyayi Gusti Klapodhyana beserta saudara-saudaranya semua supaya me-ngupapira Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Beberapa lama kemudian Kyayi Gusti Klapodhyana mamugar palinggih yang sebelumnya masih berbentuk bebaturan menjadi palinggih Meru Tumpang Tiga sebagai Padharman Sirarya Kuthawaringin.
  5. I Gusti Kubontubuh bersama prajurit dan tanda mantrinya berhasil menundukkan desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim sehingga akhirnya mereka tunduk pada titah Dalem untuk datang menghadap Dalem di Gelgel. Keberhasilan dimaksud memungkinkan Kyayi Gusti Parembu (adik Kyayi Gusti Klapodhyana) yang sebelumnya bermukim di Bubungtegeh(termasuk desa yang ditundukkan seperti dimaksud diatas), setiap saat pulang ke Gelgel ikut ngupapira kahyangan pemujaannya sejak dahulu yaitu Pura Dalem Tugu. Sebagaimana dikisahkan dalam Babad, Kyayi Gusti Parembu dua kali diperintahkan (oleh Dalem Ile) mengejar Dalem Tarukan tetapi tidak berhasil sehingga oleh karena itu beliau bermukim di Bubungtegeh.
Sebelum mengakhiri beberapa catatan tambahan/penegasan dalam postingan IV.6 ini dapat diinformasikan bahwa Video Ngewacen Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-05 sudah berhasil ditayangkan dalam Blog-ku ini sejak tanggal 5 Januari 2011. Sedangkan Video Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-06 telah pula berhasil ditayangkan sejak hari ini tanggal 6 Januari 2011. Untk dimaklumi substansi postingan IV.6 bagian awal ada di Video Raja Purana PDT-05, sedangkan bagian akhirnya ada di Video Raja Purana PDT-06.
Demikianlah yang dapat disajikan dalam postingan kali ini, semoga ada manfaatnya. Postingan berikut yang akan menyusul masih tetap memakai judul yang sama tetapi dengan kode judul IV.7.
Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog-ku ini. Bila berkenan, jangan lupa berkomentar untuk penyempurnaan. Sampai jumpa pada postingan berikut.
Technorati Tags:
P  e  n  u  l  i  s,
 
(I Made Pageh Suardhana)

2 komentar:

  1. Thanks pada admin,, yang sudah memberikan informasi yang sangat berguna bagi seluruh warga kubontubuh,,pencerahan sangat lah penting bagi semua krama,, teruskan update info2 terbarunya smoga bermaamfaat bagi kita semua
    hormat kami;
    warga kubontubuh desa sidatapa,banjar,buleleng
    tertanda
    wayan ariawan
    http://www.adjanibali.com
    email:bloger824@gmail.com

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak, saya ucapkan kepada KY SALMAN atas bantuannya yg telah memberikan saya angka jitunya yaitu dan alhamdulillah berhasil,berkat bantuan KY saya sudah bisa melunasi semua hutang2 saya di BANK BRI bahkan saya juga sudah punya modal usaha sendiri sekali lagi makasih yaa KY,anda mau bukti bukan kata2 silahkan hubungi KY SALMAN 082310623559.klik disini

    BalasHapus